
128
Sementara di atas, pengantin pria sedang mengoleskan pereda nyeri ke area pantatnya yang beberapa menit lalu mencium kerasnya permukaan lantai. Sammy kira rasa sakitnya akan hilang setelah beberapa saat. Ternyata malah semakin parah.
“Ya pasti sakit lah, kan kursinya tinggi.” Sammy bergumam sendiri di kamar mandi. “Mesti di apain ini, ya? Masa belum apa-apa udah masuk klinik pijat.”
“Sam, udah belum?” seru Mauza dari luar sehingga Sammy segera membukakan pintu, “udah.”
Pria itu keluar dengan bertelanjang dada. Dia hanya mengenakan celana pendek saja sekarang. Hmmm, belum apa-apa sudah membuat Mauza menelan ludah. Meski perawakan Sammy cenderung pas-pasan, tak kekar seperti orang binaragawan, tetapi bagi Mauza tetap terlihat 'wah', karena dia tak pernah melihat pemandangan ini secara langsung seumur hidupnya. Dia dapat membayangkan betapa ngerinya jika tubuh itu--
“Mauza!” panggil Sammy langsung membuyarkan lamunannya. “Ngelamunin apa, wey?”
Mauza menggelengkan kepala, kemudian menanyakan keadaan pria itu sekarang, “Apa masih sakit?”
“Ya iyalah! Pakai nanya lagi.”
Mauza tersenyum karena berarti, dia bisa lolos dari serangan maut malam ini. Selain lelah, dia masih menyiapkan mental agar bisa benar-benar ikhlas melepas mahkotanya yang dia jaga seumur hidupnya kepada Sammy.
Meski sah-sah saja karena Sammy sudah menjadi suaminya sekarang, akan tetapi Mauza masih membutuhkan waktu. Ya, setidaknya ... dia ingin berpacaran dulu seperti pasangan-pasangan lain pada umumnya.
“Tapi meskipun sakit, itu nggak membuatku mengurungkan niat. Membobol gawangmu malam ini juga,” ucap Sammy seolah mengerti isi hatinya.
Yah ... tamat sudah riwayatnya dari gelar gadis perawan.
“Oke, kita bisa mulai seka-”
Mauza langsung menyela, “Oh ... tidak, tidak, tidak. Nggak harus malam ini Sammy! Bisa besok, lusa, Minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan. Aku masih capek okay?”
“Tahun depan? Apa aku nggak salah dengar?” kata Sammy tak habis pikir. Bisa gila kalau dia harus menunggu sampai selama itu. “Aku nggak akan meloloskan mu!” seru Sammy mengejar Mauza yang tampak panik dan berlarian saat akan dia sentuh.
“Plis Sammy, aku maunya besok. Kalau kamu maksa berarti namanya pekermosaan!” entah kenapa lidah Mauza jadi belibet saat mengucapkannya.
Sammy semakin gencar untuk menakut-nakuti Mauza, tanpa ampun! Sehingga kamar yang awalnya rapi, kini berubah menjadi seperti kapal pecah. Bantal ada di mana-mana, selimut acak-acakan, hingga kursi yang biasanya tertata dipinggir, kini berserak di sembarang tempat. Astaga!
“Ampun, Sammy ... ampuun!” Mauza hampir menyerah. Wajahnya sudah merah sekarang, napasnya pun sesak ngos-ngosan. Namun, rupanya Sammy masih belum berhenti mengincarnya.
Justru kini pria itu menarik bedcover, lalu dia lempar ke tubuh Mauza untuk dia gulung dan angkat ke ranjang. “Ciiyaaat!”
Sammy membuka paksa kerudung Mauza yang sedari tadi terus dia pertahankan. Padahal, dia sudah begitu ingin melihat rambutnya yang indah.
Sementara di kamar bawah, Vita bertanya-tanya kepada suaminya. Dia heran, kenapa di lantai dua gaduh sekali sampai suara dag-dig-dug nya terdengar ke atap-atap kamar mereka.
“Lagi malam pertama kali,” jawab Yudha.
“Nggak percaya. Masa malam pertama sampai segitunya?” lantaran mustahil, Vita melempar lagi tanggapannya kepada sang suami, “lagian ini masih cukup sore.”
“Emangnya mau ibadah harus nunggu tengah malam dulu? Kita kalau mau sekarang juga bisa.”
__ADS_1
“Halah! Bukannya dilihat, ujung-ujungnya malah begitu.” Vita menilik Yudha yang tengah sibuk sendiri dengan layar laptopnya, sehingga dia tak terlalu peduli.“Ya udah, aku cek sendiri saja.”
“Mau ke mana?” Yudha meneriaki istrinya yang sudah melangkah keluar, kemudian ikut beranjak. “Tungguin, Moy. Ikut!”
“Tadi dikasih tahu aku dicuekin, sekarang aku pergi kamu ngejar. Dasar laki-laki, dari dulu nggak pernah berubah.” Vita menggerutu saat menaiki tangga.
“Ya maaf, Moy ....”
Keduanya lantas menuju ke kamar Mauza, kemudian Vita langsung mengetuk pintu. “Mauza! Mauza! Buka pintunya, Nak!”
Suara sontak berubah hening.
Tak berapa lama pintu kamar itu terbuka. Kepala Mauza menyembul dari sana.
“Ada apa, Ma?”
“Harusnya Mama yang tanya, ada apa sama kalian? Kenapa gaduh sekali di sini? Kedengaran sampai bawah, loh. Nggak enak sama orang ....”
Penasaran, Yudha pun mendorong pintu. Kedua orang itu terkejut melihat isi kamar mereka yang sudah demikian bentuknya. Amburadul.
Sedangkan Sammy sendiri memilih bersembunyi di gulungan selimut untuk menghindari kemarahan kedua mertuanya. Bisa gawat ini.
“Apa-apaan ini?” Yudha bertanya.
“Ya Allah ... kalian berantem?” sahut Vita.
“Haduh!” Vita lantas memegangi kepalanya yang langsung terasa berdenyut.
“Mana Si Semut itu? Berani berisik lagi auto duda besoknya!” kata Yudha tak sedang bersungguh-sungguh. “Ganggu telinga orang saja kalian!”
“Maap Pa, janji nggak berisik lagi,” balas Mauza.
“Sana masuk!” Yudha merangkul istrinya untuk kembali turun.
Tetapi saat Mauza kembali menutup pintu, mereka menghentikan langkahnya karena tiba-tiba teringat Si Bungsu. Mereka saja yang di bawah sangat terganggu oleh kegaduhan Mauza dan Sammy, apalagi Zunaira yang kamarnya berhadap-hadapan?
“Kita ke kamar Nai dulu,” ujar Yudha yang dianggukki oleh sang istri.
“Aku sampai lupa, dia juga butuh perhatian. Pasti dia sedih sekali hari ini meski nggak menunjukkannya ke kita.” suara Vita agak berbisik agar tak terdengar sampai ke sana.
“Anak kita itu hebat, dia sudah dewasa sekarang. Jadi kamu tidak perlu sekhawatir itu.”
Namun pada saat Yudha membuka pintu, mereka tak menemukan siapapun kecuali ranjang yang masih tertata rapi. Pun saat keduanya mencari di lantai bawah, lagi-lagi mereka tak menemukan Zunaira.
“Bi?” panggil Vita kepada perempuan tersebut yang kebetulan, masih berseliweran membereskan barang-barang. “Nai di mana? Lihat nggak tadi?”
“Waduh, saya lagi sibuk, Bu. Jadi nggak terlalu memperhatikan orang lewat.”
__ADS_1
Sebenarnya Bibi tahu Nai ada di mana, namun dia berusaha menutupinya karena tak ingin Nai dimarahi lagi seperti waktu itu. Beliau merasa kasihan padanya.
“Lha? Terus di mana anak kita, Mas?” Vita menatap bingung suaminya.
“Kita cari di luar, mungkin dia lagi pengen cari udara segar.”
Dan kekhawatiran mereka seketika sirna begitu membuka pintu samping rumah. Karena akhirnya, mereka menemukan anak bungsunya di sana tengah duduk menyendiri.
“Nai?”
Zunaira menoleh saat mendengar suara Mama. “Eh, Pa? Ma? Belum tidur?”
“Belum. Kamu sendiri ngapain di sini, hmm?”
Gadis itu memaksakan senyum. Memilih untuk tak menjawab daripada yang keluar dari mulutnya adalah sebuah kebohongan.
“Kami kira kamu lagi pergi ke mana,” Yudha menyahuti.
“Ngadem, Pa.”
“Kenapa? Di atas berisik?” tanya Yudha yang dia kira begitu dan berusaha untuk memakluminya.
“Masuk Sayang, udah malam...” Vita mengusap pipi Zunaira sebagai bentuk perhatiannya.
“Sebentar lagi, Ma.”
“Ya udah kalau kamu masih mau di sini, Mama sama Papa masuk duluan, ya!”
“Iya, Ma. Sebentar lagi Nai nyusul.”
Mereka berlalu setelah itu dan tak lupa menutup pintunya kembali.
Saat suasana kembali sepi, Zunaira mendongak ke atas pohon mangga besar yang ada di depannya. “Mas Andre udah bisa turun sekarang!”
Andrea meringis ketika sampai di bawah. Pria itu menggaruk kulit tangannya. Rupanya tubuhnya sudah bentol-bentol digigit semut gatal.
Sebenarnya Andrea sama sekali tidak takut andai kembali berhadapan dengan orang tua Zunaira dalam keadaan demikian. Toh, dia tak berbuat macam-macam kecuali mengambil dompetnya yang tertinggal. Lagi pula, ada beberapa saksi yang mengetahui kebenarannya, salah satunya Bibi.
Namun, ini demi Zunaira.
Gadis itu trauma dimarahi oleh kedua orang tuanya. Sebab terkadang, sebagai manusia biasa, ada saat-saat mereka berlaku egois dan tak mau mendengarkan penjelasan orang lain terlebih dahulu. Ini sudah pernah dialaminya dan Nai tidak mau kejadian itu terulang kembali.
“Apa aku bisa tidur malam ini?” tanya Andrea memperlihatkan hasil persembunyiannya dari atas pohon mangga barusan.
“Seharusnya sih bisa.”
“Denganmu?” tanya Andrea samar tersenyum, “aku menagih ucapanmu barusan. Membawamu pergi.”
__ADS_1
Eh, apa katanya? Pergi? Beneran?