Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Fasad Story


__ADS_3

Bab 29.


Adalah Ilham Nur Fasad. 29 tahun. Seorang anak yang lahir dari pasangan Tia Rumana dan Sanderson, seorang arsitektur yang berasal dari Kota Paris Prancis.


Tia adalah seorang pelayan di Bristo Kota Paris yang menarik hati Sanderson. Pertemuan pertama kali pada saat pria itu rapat di Bristo, membuat mereka terkesan sehingga keduanya saling berkenalan.   


Seperti pemuja cinta pada umumnya, mereka pun melakukan pertemuan demi pertemuan di setiap akhir pekan. Menara Eiffel adalah saksi bisu tempat mereka sering berkencan, hingga keduanya mantap memutuskan untuk menikah—tanpa memedulikan keyakinan mereka yang berbeda dan melawan restu orang tua.


Mereka adalah sebuah bukti, bahwa cinta itu memang buta. Sebab karena cinta itulah, Tia meninggalkan Tuhannya demi sang kekasih. Tia yang pada saat itu masih muda, tak mengetahui bahwa cinta itu tak selamanya indah.


Tahun-tahun pertama mereka menjalani pernikahannya dengan penuh kebahagiaan. Apalagi momen di saat bertambahnya anggota keluarga baru dalam keluarga kecil mereka, yaitu Fasad. Ya, hanya Fasad. Tak ada nama panjang dari nama itu. Apalah arti sebuah nama bagi mereka selain untuk menandai dan membedakan antara satu dan yang lainnya. Namun, nama itu kelak di tambah dua kata, setelah anak ini pindah ke Indonesia.


Fasad tumbuh menjadi anak laki-laki yang aktif dan pintar. Memiliki darah campuran Indonesia dan Prancis membuatnya menjadi seorang idola di kelasnya. Seperti halnya orang Indonesia yang gila mengagumi keturunan orang luar negeri.

__ADS_1


Fasad mempunyai kulit yang tak terlalu terang, mata yang hitam pekat dan rambut sedikit coklat. Ya, hanya sedikit. Rupanya keterlibatan Sanderson dalam membuatnya tak banyak menurun pada anak ini selain rambut dan tinggi badan.


Tidak ada yang terlihat aneh dalam diri anak tersebut, Fasad adalah anak laki-laki 100% dan menyukai mainan yang seharusnya. Tetapi lambat laun, semua itu berubah....


Tepatnya di saat melihat àpa dan ibunya sering bertengkar. Apà sering menampar, menjambak, membanting dan menendang ibunya di depan matanya. Membuat rumah yang sebelumnya penuh warna menjadi seperti bangunan neraka.


Ibu mengatakan bahwa Apà nya mengalami kebangkrutan parah sehingga terlilit banyak hutang. Celakanya, ibunyalah yang menjadi pelampiasan kemarahan pria itu.  Hal itu terjadi selama berulang-ulang, bertahun-tahun hingga Fasad merasa kondisi psikisnya telah terganggu karena dampak tersebut. Dia yang semula ceria, mendadak menjadi anak yang pemurung, tak percaya diri, banyak menangis dan sering mengalami mimpi buruk. Kekerasan demi kekerasan yang dia lihat, menjadi rasa trauma seumur hidup.


Tak ingin mati di tangan Sanderson, Tia Rumana memutuskan untuk kembali ke Indonesia bersama Fasad. Meski pada awalnya orang tuanya menolak, tapi lama-kelamaan, mereka luluh setelah melihat sang cucu.


Di negara ini, Tia kembali memeluk agama Islam karena dia merasa damai pada saat memasuki bulan suci Ramadan. Tia baru menyadari hidayah itu setelah beberapa waktu berlalu.


Di Indonesia Fasad tumbuh dan menjadi pemuda yang baik meski tanpa didikan seorang ayah. Namun rupanya, kesenjangan didikan antara seorang ibu dan ayah—serta trauma yang dialaminya selama bertahun-tahun, menjadi awal mula dirinya memiliki ketertarikan dan orientasi sek sual yang berbeda. Dia merasa lebih tertarik dengan laki-laki dibandingkan perempuan di masa remajanya.

__ADS_1


Gerak-geriknya pun mulai terlihat dan menjadi kekhawatiran sendiri bagi Tia Rumana. Sebab Fasad lebih suka dengan make up, fashion dan apa saja yang berhubungan dengan perempuan dibandingkan berkumpul dengan teman laki-lakinya. Sehingga dia mengabaikan gelar Sarjana Hukumnya dan lebih memilih masuk ke dalam dunia Event Organizer—yang lama-kelamaan bergabung dengan salah satu manajemen artis. Aneh, memang. Tetapi dari sinilah dia bisa lebih mudah mendapatkan rupiah di banding mencari prospek kerja dari gelar yang dimiliki.


Dari manajemen itulah, awal mula dia mengenal seorang Zara Angel Purnawirawan. Seorang artis cantik dan kaya, namun tak memiliki nasib yang beruntung. Cerita pahit yang kerap gadis ini ceritakan dengannya, membuat Fasad menempatkan diri di posisinya dan memahami apa yang dia rasakan. Rasa simpati berubah empati. Mungkin karena traumanya di masa kecil yang membuatnya demikian. Sebab ia tak mau Zara merasakan kesepian yang pernah dia rasakan.


Namun tanpa di sadari, karena peran itulah Fasad justru merasa kembali ke jati dirinya. Dia ingin dianggap lebih dari sekadar seorang teman dan sahabat. Merasa tak suka dan cemburu pada saat mengetahui Zara mencintai pria lain.


Rayyan, adalah orang ke sekian kalinya yang membuat Fasad patah hati.


Fasad sempat berpikir, ialah laki-laki paling beruntung karena bisa menjadi pria pilihan Zara di antara banyak laki-laki yang ingin mempersuntingnya. Meski awalnya hanya dianggap sebagai batu pijakan, namun lambat laun, ia yakin bisa mengambil hati wanita itu dengan sedikit kesabaran. Karena hanya Zara Angel lah, yang mampu menggetarkan jiwanya dan mampu mengembalikan jati dirinya.


Mungkin Fasad berlaku sedikit egois, memanfaatkan situasi juga kelemahan Zara yang sedang terdesak. Tapi ... ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan berusaha menjaga dia dan membahagiakannya seumur hidup.


Namun, takdir berkata lain. Di saat ia memiliki keyakinan tersebut, Miranda justru datang dan mengatakan, tak seharusnya dia memanfaatkan kesempatan ini. Wanita itu memintanya sadar diri dan kembali menekankan, tetaplah berada di dalam batasnya dan sesuai dengan kesepakatan yang pernah mereka buat. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah, saat dirinya di tawarkan sejumlah uang agar dia segera pergi dari rumah putrinya.

__ADS_1


Itulah yang membuat Fasad kesal, jengkel, dan tak punya harga diri lagi.


Bersambung.


__ADS_2