
Baca bab sebelumnya dulu sebelum bab ini, ya! Karena ada bagian akhir yg aku revisi.
157
“Apa Abang keberatan dengan panggilanku? Aku bisa menggantinya,” ucap Alma langsung peka begitu melihat perubahan raut wajah Umar yang mendadak.
“Ya iyalah! Masa keren begini di panggil abang tukang baso, mari-mari sini aku mau beli.” Umar malah menyanyi.
Tetapi dalam hati saja. Tak mungkin Umar mengatakannya secara langsung karena bisa menyinggung perasaannya juga.
“Terserah kamu saja, Al. Yang penting jangan panggil aku almarhum,” jawab Umar karena tak bisa menjawab dengan kata lain. Sebab lebih tak lazim lagi jika dia menyuruhnya memanggil Ayah bunda, mereka belum punya anak.
Alma tersenyum mendengar hal itu. Umar lucu juga, ya?
“Kamu mau minta mahar apa dariku?” Umar bertanya.
“Terserah Bang Umar aja. Yang penting nggak memberatkan mu, tapi juga nggak mempermalukan ku,” jawab Alma membuat Umar sontak membatin.
“Syukur kalau kamu pengertian. So, yang kaya itu bapakku. Aku cuma pekerja biasa yang nggak bisa berbuat apa-apa kalau atasan sudah menurunkan sebuah perintah.”
Umar mengangguk setuju.
Sebenarnya ada penasaran dalam hati Umar bagaimana pemandangan dari balik wajah itu. Tapi dia terlalu gengsi jika ingin melihatnya sekarang. Teringat beberapa hari lalu dia pernah menolaknya.
Ah, ya sudahlah. Toh, nanti juga bakalan lihat kalau sudah sah. Bahkan lebih dari sekadar melihat. Umar berharap, semoga Alma tidak mengecewakan nya. Abinya saja tampan, masa anaknya sebaliknya.
Mauza itu suka ngarang! Untung dia nggak percaya-percaya amat sama kata-kata kompor meleduk kembarannya yang terkadang bikin orang susah tidur. Dia memang suka sekali mengerjainya.
Namun begitu, Umar tetap sayang. Mauza itu adalah satu-satunya saudara yang paling dekat dengannya. Maklum, mereka adalah saudara kembar. Ada sebuah ikatan emosi yang sudah terjalin sejak mereka berada dalam kandungan yang hampir mustahil untuk diputuskan. Makanya, sesering apapun mereka berantem, pada akhirnya Umar nggak bakal tahan buat jauh darinya.
“Bang Umar!” panggil Alma kemudian.
Umar menaikkan kedua alisnya menatap gadis bercadar itu, lalu memintanya untuk meneruskan lebih lanjut.
“Bang Umar mau kita tinggal di mana setelah menikah?”
“Terserah kamu aja, Al. Kamu nyaman tinggal di mana. Aku ngikut aja. Toh, aku cuma numpang tidur. Siangnya aku kerja.”
Eh? Apa?
__ADS_1
Kok, Alma sangat mengganjal sama ucapan Umar barusan. Apa maksud Umar? Kok ada kata-kata numpang tidur segala? Setahunya, tidak ada istilah numpang tidur kalau mereka sudah menikah. Sebab menantu juga sama-sama anak orang tuanya.
“Kalau aku mau kita tinggal sendiri nggak papa?” pinta Alma hati-hati. “Kupikir selain lebih nyaman, kita jadi bisa mandiri dan punya privasi.”
“Begitu?” Umar menanggapi dan Alma mengangguk.
“Baiklah, aku persiapkan,” kata Umar kendatipun pada akhirnya pria itu menggerutu dalam hatinya. Pengeluaran lagi, pengeluaran lagi.
Dalam perjalan pulang, Umar pun berpikir keras. Bagaimana caranya mencari rumah dalam waktu yang cepat? Sebab beberapa unit rumah sewa milik papanya sudah dikontrakkan semua selama satu tahun ke depan.
“Minta tolong sama orang kaya malu, nggak?”
Umar mengetik pesan untuk Rayyan, kemudian di kirim. Tapi karena ragu, dia hapus lagi. Jeda beberapa menit, dia ketik lagi, lalu kirim lagi, kemudian di hapus lagi. Begitu seterusnya sampai dia kesal sendiri dan akhirnya melemparkan ponselnya ke lantai.
“Ngapain sih, aku minta tolong sama dia?!” makinya pada diri sendiri yang selalu mengedepankan gengsinya.
Namun, pada saat Umar menoleh lagi ke arah ponselnya, pria itu melihat layarnya menyala disusul dengan dering panggilan. Nama yang tertera di sana adalah nama Tukimin. Nama kontak ponsel kakaknya yang sengaja Umar namai demikian saat dia sedang kesal padanya. Wah, bahaya kalau sampai Rayyan tahu. Bisa-bisa dia digantung di pohon cabai.
“Kalau mau ngomong datang langsung aja ke sini. Kebetulan kami sudah pulang,” hanya itu ucapan Rayyan setelah panggilan di terimanya.
Mungkin Ray heran karena semenjak tadi, Umar terlihat mengetik pesan, tapi tak kunjung dikirimkan olehnya. Adapun satu pesan yang sempat masuk, tapi dihapus lagi. Kan, aneh.
Tak mau menunggu malam, Umar pun segera meluncur ke rumah kakak iparnya. Di sana, dia disambut baik oleh security karena mereka sudah mengenalinya, kecuali Si Devi yang hampir saja mengusirnya keluar sebab dikira dia sedang meminta sumbangan. Oh, sialan.
“Kamu nggak tahu siapa saya?” tanya Umar begitu Devi selesai bicara seenak jidatnya. “Saya Umar adik majikan mu. Anak Pak Yudha Al Fatir.” Umar memperjelas.
Membuat Devi terkesiap. Matanya melebar. Bibirnya melongo. Bahkan talenan masakan pun bisa masuk ke mulutnya.
“Hei, cepat sana panggilkan dia ke dalam!” titah Umar setengah kesal pada gadis sembarangan itu.
“Maaf, Mas. Sa-saya nggak tahu kalau situ adiknya. Nggak mirip,” Devi berterus-terang tak peduli jika demikian terdengar pahit di telinga Umar. “Sebentar, saya panggilin Ustaz dulu.”
Devi ngibrit ke dalam. Takut di apa-apain sama pria itu. Cuma lihat tangan berotot nya aja udah ngeri.
Umar memijat pelipisnya. Ya ampun, kenapa semua orang yang ditemuinya hari ini bikin geger otak?
Beberapa menit Umar menunggu di teras, akhirnya Rayyan pun keluar menemuinya dan menarik kursi untuk duduk di depannya. Pria itu hanya mengenakan sarung dan kaus putih saja saat ini. Rambutnya juga acak-acakan. Pasti habis hemmm....
Lha, kok jadi malah mikir ke sana? Astaga. Umar curiga, pasti otaknya sudah banyak kotorannya sekarang. Buktinya yang keluar yang ngeres-ngeres semua.
__ADS_1
Padahal, memang sudah menjadi kebiasaannya berpakaian seperti itu jika Ray sedang di rumah.
“Siapa yang datang, By?” tanya Zara dari dalam.
“Ada Umar ....” sahut Rayyan dari luar.
“Oh ... Si Umar.”
“Ada perlu apa?” tanya Rayyan pada adiknya yang hanya lebih muda darinya dua tahun tersebut. Usia yang sudah cukup dewasa sebetulnya. Tapi pola pikirnya masih seperti anak SMA yang masih suka bermain-main dan bersenang-senang. Padahal sudah bukan waktunya untuk seperti itu lagi.
“Alma minta tinggal sendiri setelah menikah. Tapi masalahnya, dananya belum ada sebanyak itu. Jadi aku mau pinjam dulu sama kamu,” jawab Umar langsung menjelaskan niat dan kepentingannya.
“Ke mana aja uangmu selama ini, Mar? Kamu itu diberi Papa kepercayaan untuk mengelola usaha dan beberapa unit rumah sewa.”
“Kak, plis!” sela Umar. “Aku sedang butuh bantuan mu. Bukan mau hitung-hitungan. Tentu saja aku masih punya. Tapi untuk keperluan lain yang lebih penting. Biaya pernikahan itu nggak murah. Ayolah, bantu aku. Kau sudah kaya raya sekarang. Masa bantu aku sedikit aja tidak mau?”
“Bukan begitu ....” ujar Rayyan menghela napas panjang.
“By!” panggil Zara dari dalam. Bukan tanpa sebab dia tak ikut keluar. Sebab dia tidak sedang menggunakan hijab sekarang. Ada di atas dan dia sedang malas mengambilnya karena terlalu jauh.
“Sebentar,” ujar Rayyan menuju ke dalam dan kembali setelah beberapa saat kemudian.
“Zara punya rumah kosong. Masih bagus. Sudah ada asisten rumah tangganya juga di sana. Tempati lah! Rawat rumah itu.”
Rayyan menyerahkan kartu alamat. Rumah itu adalah rumah yang dulu pernah Zara tinggali saat masih bertegang konflik dengan maminya. Zara memang tak mau melepasnya karena masih terlalu banyak kenang-kenangan yang tersimpan di sana.
“Berapa harga yang harus aku bayar?”
“Tidak perlu, kamu hanya perlu menjaga dirimu dari ulat gatal yang suka memelukmu di sembarang tempat. Berubah lah, Umar! Kasihan Alma dan hargailah pernikahanmu!”
Oh ... jadi Rayyan yang sudah mengadukannya kepada Papa? Oh ya ampun. Bikin tambah gedeg saja. Kalau saja tak ingat pria itu baru saja membantunya, pasti sudah Umar cekik lehernya saat ini juga.
Oke, tak masalah. Umar tak mau memperpanjang persoalan itu. Toh, Papa sudah terlanjur tahu. Tak bisa di urungkan apalagi dicabut dari ingatannya.
“Oke, makasih bantuannya, Kak. Sampaikan juga rasa terima kasihku pada istrimu. Aku pulang!” Umar nyengir lebar. Dia melenggang pergi.
Sedangkan yang ditinggal hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Umar oh, Umar. Kapan berubahnya?
Bersambung.
__ADS_1
Pada nungguin Umar bucin sama Alma nggak nih?