Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Sudah Berkeluarga?


__ADS_3

131


“Kenapa bajumu nggak nyambung hari ini?” Andrea berbisik kepada Zunaira saat mereka bertemu di ruang rapat. Blus warna hijau army ditabrak kerudung warna merah muda. Kacau sekali pikirnya.


Di meja persegi panjang itu telah duduk lima orang. Di antaranya: sekretaris, manajer pemasaran serta asistennya, manajer keuangan dan management gudang/warehouse.


“Aku pinjam teman,” jawab Zunaira.


“Kenapa?”


“Kena mimisan.”


“Udah biasa begitu?”


Zunaira mengangguk tanpa menjelaskan lebih lanjut lantaran kini datang dua orang kakak sekaligus atasannya.


Suasana berubah menjadi hening pada saat Zara dan Rayyan memasuki ruang rapat. Mereka memang kerap bersama akhir-akhir ini dan selalu ber genggaman tangan seolah enggan terlepas satu sama lain.


“Selamat siang semuanya,” sapa Zara dengan suara khas cerianya. “Lama nggak nungguinnya?”


“Lumayan, Bu,” jawab Belle.


“Lumayan bikin kram,” sahut sekretaris perempuan itu terkekeh.


“Maaf telat. Saya kesiangan. Ngantuk banget tadi pagi.”


“Kebanyakan makan nasi uduk, sih,” sahut Rayyan.


Semua jadi tertawa setelah mendengar penuturan mereka (terkecuali Andrea).


Ada-ada saja.


Zara meletakkan tasnya di atas meja, kemudian duduk di samping suaminya. Menunggu sekretarisnya membuka acara.


“Baik, karena semua peserta rapat sudah hadir, jadi saya mulai acaranya, ya.”


“Silakan, Bu Sekretaris ....” ucap Zara tersenyum.


“Terima kasih, Bu Zara ....”


Semenjak berbadan dua, wanita itu terlihat lebih ramah dan ceria kepada semua anak-anak kantor. Sehingga semua orang yang ada di dekatnya jadi ikut terbawa senang.


Dari sini mereka bisa menilai, Mood atasan memang sangat mempengaruhi semua bawahannya selama mereka bekerja.


Rapat berlangsung membahas keluaran produk terbaru mereka yang rencananya akan meluncur dalam waktu dekat.

__ADS_1


Selembaran kertas yang berisi agenda rapat kali ini dibagikan kepada semua pihak, yang kemudian di bahas bersama. Di pimpin oleh Zara sendiri.


Setelah mengucapkan rasa terima kasihnya kepada semua peserta rapat atas semua pencapaiannya selama ini, kini Zara melempar diskusinya kepada bagian produksi sekaligus pergudangan yaitu Andrea.


Pria itu menjelaskan dengan gamblang tentang produk tersebut, berikut kekurangan dan kelebihannya.


Kemudian diskusi di sambung oleh Belle yang menerangkan bahwa dia sudah menyiapkan slogan dan siapa saja artis yang akan mengiklankan produk itu. Sebab Zara tak sedang bersedia mengambil syuting ini karena berbagai alasan.


“Baik, terima kasih untuk penjelasannya Belle,” ucap Zara lalu mengalihkan pandangannya kepada adik iparnya Zunaira. “Untuk rincian pendanaan bagaimana, Manajer Keuangan?”


Zunaira mengangguk, dia terlebih dahulu meminta izin kepada semua orang yang hadir di sana, untuk memaparkan rincian pengeluaran yang akan dikucurkan. Mulai dari membayar iklan, membayar artis, kemudian kebutuhan sosial media.


“Baik, mungkin itu saja yang saya paparkan. Terima kasih dan sekian laporan dari saya. Selanjutnya saya kembalikan lagi kepada Ibu Zara.”


Walaupun Zara kakak iparnya, namun di sini, Zara adalah atasannya sehingga Zunaira menyebutnya dengan panggilan demikian.


Zara mengangguk, kemudian menanyakan apa saja yang tidak sependapat dengannya sebelum kemudian diskusi berlanjut.


“Berdasarkan data yang saya baca, kelihatannya sistem keuangan sudah diterapkan dengan baik dan manfaatnya jelas.” Zara mengarah ke Zunaira langsung sehingga semua orang bertepuk tangan.


Pun dengan Rayyan yang bangga dengan adik bungsunya sehingga dia tak bisa menahan diri untuk mengusap kepalanya. Untuk menunjukkan bahwa dia ikut bangga dengan prestasinya. “Kamu sudah dewasa sekarang.”


Rapat selesai dua jam kemudian setelah mencapai closure; mosi resmi yang bertujuan untuk menutup diskusi tersebut karena sudah mencapai kesepakatan bersama. Notulen pun sudah mereka dapatkan agar bisa dibaca lagi di lain hari.


Semuanya menghambur keluar dari ruangan itu, berganti cleaning service yang akan membersihkan sisa-sisa rapat.


“Ya, Kak?” Nai menoleh.


“Nggak usah lari-lari!” seru Rayyan karena wanita itu berjalan cepat, “nggak akan ditinggal juga.”


Zara hanya tersenyum dan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


“Aku ketinggalan info. Kata Mama kemarin, kamu mau nikah juga sama Andre? Apa itu bener?” Zara menyatukan alisnya. Percaya tak percaya pria beku yang selama ini tak pernah berbasa-basi dengan siapapun itu bisa mendekati seorang wanita.


“Ehm ... iya, insyaallah. Doain yang terbaik buat aku ya, Kak.” Zunaira tersenyum.


“Selalu, Kakak pasti doain yang terbaik buat kalian. Tapi emangnya kamu udah benar-benar yakin?”


“Yakin, Kak,” jawab Zunaira pasti.


Awalnya Andrea memang terkenal kaku karena jarang bicara dengan orang yang tak benar-benar dia kenal. Tetapi makin ke sini, ternyata Andrea tak sekaku yang dia bayangkan. Sebab, dia memang tipe pria yang lebih menunjukkan ekspresinya melalui tindakan daripada kata-kata. Demikian sudah dibuktikan dengan kedatangannya langsung ke rumah untuk menemui papanya.


“Kakak jadi penasaran, gimana cara dia deketin kamu, ya?”


“Nggak usah cari tahu urusan orang. Nggak boleh,” sela Rayyan.

__ADS_1


“Gitu aja nggak boleh, apa-apa nggak boleh. Bolehnya apa?” wanita itu menggerutu malas karena semuanya seakan dilarang oleh suaminya.


“Kan aku juga pengen tahu, Andrea itu jarang ngomong. Terus tiba-tiba udah pedekate aja sama adik kita. Bayangin, dari sekian banyak cewek di sini, dia cuma tertarik sama Nai yang tergolong anak baru. Wajar kan, kalau aku penasaran. Berarti Nai itu istimewa,” pujinya membuat Zunaira tersenyum lebar. Ada rasa bangga di hatinya karena Andrea lebih memilih dirinya daripada perempuan-perempuan di luar sana.


Dari rumor yang beredar, Andrea malah di duga sudah pernah berkeluarga. Entah benar atau tidak, namun Andrea sendiri tak pernah mengonfirmasi apalagi membuang-buang waktunya untuk mengurusi kabar miring tersebut.


Semua masalah pribadinya ditutup sangat rapat. Sebab Andrea jarang sekali mengobrol dengan orang-orang di sekitar. Pria itu lebih suka menyendiri, pun tidak ada pula yang berani mendekatinya karena sesulit itu hatinya ditembus oleh seseorang.


Hal itu pernah dibuktikan oleh tiga orang pegawai wanita yang begitu penasaran dengan sosok Andrea, yang mengira bahwa Andrea mempunyai kelainan.


Mereka adalah jiwa muda yang masih suka main-main dengan rintangan. Tujuannya hanya ingin menaklukkan. Itu saja.


Pembuktian ini bisa disebut dengan taruhan. Pasalnya jika menang, mereka akan mendapatkan sejumlah uang dari masing-masing yang kalah.


Namun, sayang sekali. Setelah berbagai cara ketiganya menggoda Andrea, tak ada satupun yang berhasil meluluhkan hati pria itu. Tak sampai satu bulan, mereka menyerah karena Andrea tak kunjung menunjukkan ekspresinya. Ya ampun, dia itu orang apa patung?


Dan di saat itulah, Andrea membuat mereka malu dengan mengatakan, “Murahan.”


Semenjak itulah, tidak ada yang berani main-main dengannya lagi. Bahkan termasuk lelaki juga. Ngeri katanya.


Kembali ke dunia mereka bertiga.


“Kasih tahu lah, Dek. Nanti kakak iparmu nggak bisa tidur,” ujar Ray kepada Si Bungsu.


“Andrea memang nggak pernah bilang dia suka sama aku, Kak. Tapi begitu kami dekat, dia langsung menemui Papa ...” terang Zunaira langsung ditanggapi oleh Zara.


“Oh ya ampun, manis sekali. Aku juga suka yang dingin-dingin.”


“Zara ...” panggil Rayyan di sampingnya, “kalau mau ngomong gitu tunggu aku pergi dulu.”


“Jangan tersinggung, Sayang. Yang dingin-dingin itu bukan cuma Andrea, tapi es batu yang biasa aku makan.”


“Ngeles.” Rayyan menahan tawa.


“Tapi tenang ... aku cintanya cuma sama kamu doang, kok.”


Zunaira menutup matanya saat Zara mencium pipi Rayyan di depan matanya. Lah, lah. Nggak pada lihat ada manusia segede ini apa? Jadi iri hehe....


“Nanti kita makan siang bareng, yuk!” ajak Zara kepada adik iparnya, “ajak Andrea sekalian, biar kita bisa makin deket. Toh, bentar lagi jadi keluarga. Boleh kan, By?” dia meminta pendapat pada pria itu yang ditanggapi dengan satu kata yang bernada panjang. “Ya ....”


Namun, pada saat jam makan siang tiba, Andrea tak bersedia hadir. Dia justru pamit pulang mendadak karena ada keluarganya yang sedang sakit.


Mendengar hal itu, Zunaira pun menghubungi nomor Andrea. Sayang, nomornya sedang tidak aktif. “Kenapa aku merasa dia menyembunyikan banyak sesuatu dariku?”


♧♧♧

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2