Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Jangan Sedih Lagi, Plis


__ADS_3

196


Mauza masih shock pasca mengetahui bahwa janinnya tak bisa berkembang. Semalaman, dia hampir tak tidur karena terus menangisi keadaannya. Hatinya terlalu rapuh untuk menghadapi kenyataan, jika dia harus kehilangan janin yang sudah sangat dia harapkan selama ini.


Semalam, Mauza sempat pingsan dan ditolong oleh beberapa petugas medis di rumah sakit. Lantas dibawanya ke IGD. Namun begitu sadar, Mauza langsung meminta pulang karena dia merasa lebih nyaman beristirahat di rumah.


“Sabar ya, Sayang. Kamu harus kuat, ini cobaan pernikahan yang harus kalian lewati. Jangan putus asa. Harimu masih panjang,” ucap Vita yang senantiasa mendampingi sang anak. Wanita itu benar-benar tak tega melihat anaknya yang sedemikian menderitanya karena ujian yang diterimanya bertubi-tubi.


Sementara yang lain, Alma-Umar, Zara-Rayyan, serta Andre dan Zunai hanya berada di luar. Khawatir bakal mengganggu mood Mauza saat ini.


“Doakan yang terbaik. Dia hanya butuh doa kita aja sekarang,” ujar Rayyan kepada semua adik-adiknya.


“Kasihan kalian, baru aja happy.”


Alma langsung menyenggol lengan suaminya yang bicaranya kadang tanpa filter. Bahkan di saat-saat seperti ini pun.


Mungkin orang lain yang belum mereka kenal, akan menganggap Umar tengah mencibir atau parahnya, dianggap tak memiliki empati. Sebenarnya Umar tak bermaksud demikian, tetapi memang sudah menjadi gaya bicaranya seperti itu.


Pukul sembilan, mereka pun bubar karena Mauza sedang tak ingin diganggu. Semua kembali beraktivitas masing-masing sambil menunggu kabar Mauza selanjutnya.


Namun hingga saat sore hari, Mauza justru mengalami sakit perut hingga flek darah.


Dalam keadaan demikian, Mauza masih kekeh untuk mempertahankan kandungannya karena dia yakin, dia hanya sedang kontraksi saja.


Sampai pada keesokan harinya, pendarahan malah semakin banyak disertai gumpalan berwarna merah pekat.


Tak mau terjadi apa-apa pada Mauza, Sammy lantas membawanya ke rumah sakit. Khawatir istrinya bakal kehilangan banyak darah atau kekurangan cairan.


Akan tetapi nasib baik tak berpihak pada mereka karena pada saat dilakukan kembali pemeriksaan USG, dokter menyatakan kantung janin sudah tidak ada.


“Sebaiknya di kuretase saja, Pak. Lebih minim risiko,” dr. Farel menyarankan Sammy. Dia juga menjelaskan kenapa harus di kuret?


Bahwasannya, kuretase dilakukan adalah untuk membersihkan sisa jaringan janin yang masih tertinggal di dalam rahim, supaya perdarahan bisa berhenti.


“Kapan waktunya, Dok?” Sammy bertanya.


“Malam ini.”


Dengan berat hati, Sammy pun mengangguk. Ada setitik air yang keluar dari sudut matanya. Semua laki-laki segarang dan sebandel apapun, akan lemah pada akhirnya jika dihadapkan dengan kondisi semacam ini. Keputusan sudah final. Janin akan dikeluarkan.


“Baik, silakan ikut suster untuk menandatangani surat persetujuannya.”

__ADS_1


Dan malamnya, proses kuretase pun dilakukan.


♧♧♧


Mauza mengerjapkan matanya pada saat dia tersadar dari tidur panjangnya. Kepalanya terasa berputar-putar sehingga dia tak kunjung bisa melihat dengan jelas.


Ada rasa yang amat mengaduk dan mendesaknya untuk keluar, sehinga detik berikutnya, Mauza pun mengeluarkan mengeluarkan isi perut melalui mulut secara terpaksa.


Sammy yang ada di dekatnya langsung beringsut menyodorkan plastik untuk menampung. Membantu memijat kening dan anggota tubuh lainnya sampai Mauza merasa lebih baik.


“Ini efek bius, nanti berhenti sendiri,” kata seorang Suster yang mendekat. “Saya bantu, ya?”


Setelah di antar ke kamar mandu dan bersihkan, Mauza tergugu. Tangisnya pecah dan mengiris. Mauza dan Sammy berpelukan dan menangis bersama.


“Dia udah dikeluarin, Sam. Rahim aku udah kosong ...” lirihnya.


“Iya. Belum rezeki kita ....”


Tak berapa lama Mauza sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Sementara Sammy membawa janin itu pulang untuk dikuburkan di pemakaman seperti manusia pada umumnya.


Vita dan Utami terus mendampingi anak mereka. Memberikannya semangat bahwa musibah ini bukanlah hari terakhir untuk keduanya. Masih banyak hari lain untuk mereka yang lebih indah dan harus mereka sambut dengan keikhlasan. Yakin, bahwa Tuhan punya rencana yang lebih baik.


“Menangislah, Nak. Kamu boleh nangis sepuasmu.” Vita membiarkan Mauza membasahi dadanya.


“Dah, jangan sedih. Kata bini ku kalau habis kuretase bakalan cepet dapet lagi. Aku doain dapet dua sekaligus!” Umar memberikannya semangat dengan caranya sendiri.


“Thanks, Mar.” Sammy tersenyum.


“Omong-omong, aku pengen kasih hadiah buat Mauza, Mar,” ucap Sammy saat mereka di perjalanan.


“Kasihlah, cewek emang suka dikasih hadiah.”


“Iya, kayaknya aku kurang peka orangnya. Soalnya aku hampir nggak pernah ngasih dia kado atau hal-hal romantis. Pasti kalau dapet hadiah dari aku, dia bakalan senang,” kata Sammy lagi, bertujuan agar Mauza bisa kembali terhibur. Dia rindu kekonyolannya, mulut berisiknya, cerianya, semua tentang Mauza yang tak Sammy lihat selama dua hari ini.


“Tapi kira-kira barangnya apa ya, Mar?” lanjut Sammy meminta pendapat.


Umar sejenak terdiam untuk berpikir. Dan tak berapa lama, ide terlintas dalam benaknya manakala dia melihat toko bunga di seberang mereka.


“Kasih itu aja, Sam!” tunjuk Umar meminta Sammy untuk berhenti.


“Oh iya, ide bagus itu, Mar. Aku turun, ya!”

__ADS_1


“Jangan lama-lama,” balas Umar.


Sammy pun turun untuk menyeberang jalan karena mobilnya dia parkirkan di depan toko. Sebab tukang bunga itu tidak mempunyai lahan parkir yang luas.


“Silakan, Mas. Mau beli bunga untuk acara apa?” tanya Si Penjual berjenis kelamin wanita itu.


“Beli satu hand buoquet yang premium Mba. Bunganya mawar putih.”


“Oke, tunggu sebentar, ya. Silakan duduk!”


Sammy menunggu di sana selama beberapa menit sambil mencatat pesannya di kartu ucapan. Yang rencananya, akan dia selipkan di tengah-tengah rangkaian bunganya. Hingga akhirnya, pesanannya pun selesai dibuat.


Sammy berlalu dari sana setelah membayar, sambil menyeru, “Makasih, Mba!”


“Sama-sama, Mas!”


Namun pada saat dia menyebrang. Sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi dan langsung menabrak tubuh Sammy, sebelum dia benar-benar bisa menghindarinya.


BRAKK!


Satu bulet bunga yang baru saja di dapatkannya melayang tinggi, terhempas dan berserak di atas aspal yang kering.


Umar berteriak dan langsung keluar dari mobil itu saat tabrakan terjadi. Nahasnya, Sammy sudah tergeletak di pinggir jalan dengan kondisi mengenaskan. Darah mengucur dari hidungnya, kepala dan bagian lainnya. Matanya terbuka. Dia mengerang saat merasakan sakit yang luar biasa di bagian kaki kirinya. Mungkinkah kakinya patah?


Sebab dia tak bisa menggerakkannya lagi.


(Kartu ucapan Sammy)


To Mauza, my chubby:


“Mauza, jangan sedih lagi, ya. Aku tahu ini berat buat kita, terutama buat kamu, ibunya.


“Tapi, Za ... ada satu hal yang harus kamu tahu. Sesungguhnya yang paling sedih di sini adalah aku. Karena kamu mungkin hanya akan merasa kehilangan 'dia' aja.


“Sedangkan aku?


“Aku bahkan kehilangan dua dua hal dalam satu waktu sekaligus. Yaitu anak kita dan kebahagiaan kamu. Namun lihatlah, aku masih tetep bisa senyum kan? ;-)


“Jadi, kamu harus tetap kuat seperti aku, ya! Janji nggak akan nangis lagi, okay? Senyum, plis ... love you.”


Bersambung.

__ADS_1


Up dikit, ya. Insyaallah besok lagi. Lagi ada kendala.


__ADS_2