Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Jangan Mengaturku!


__ADS_3

Bab 33


Pukul dua belas malam lewat beberapa menit, Zara keluar dari unit apartemen Fasad yang sementara ini digunakannya untuk menetap.


Kendatipun tangis sudah hampir meledak, Zara berusaha menahan diri untuk terlihat baik-baik saja agar tak menyita perhatian orang-orang yang masih ditugaskan untuk berjaga. Namun begitu masuk ke dalam mobilnya, gadis itu langsung tergugu. Tangisannya terdengar amat mengiris. Sakitnya kehilangan nama baik tak seberapa dibandingkan kehilangan teman baik. Hilang sudah semua pengharapan dan cita-citanya.


“Entah kali ke berapa aku mengalami hal seperti ini....”


Zara sempat berpikir, apakah ia masih sanggup berdiri tegak setelah ia kehilangan setengah tiangnya.


Zara meraih tisu untuk mengusap matanya yang basah. Selama beberapa detik, kedua bola mata sendu itu bisa mengering. Namun tatkala kembali teringat ucapan talak Fasad padanya beberapa saat lalu, Zara kembali menangis tersedu. Wajahnya kembali basah dan tubuhnya terguncang-guncang.


“Ya, Tuhan ....” dia tak lagi dapat mengeluh selain menumpahkan kesakitannya dengan air mata.


🌺🌺🌺


Beberapa puluh menit berlalu. Setelah Zara bisa kembali menguasai diri, dia meneruskan perjalanannya untuk pulang. Malam itu, ia tak dapat memejamkan matanya sedetik pun karena terlalu memikirkan apa yang baru saja terjadi. Hingga keesokan harinya, ia tak bisa menyembunyikan mata bengkaknya kepada Miranda yang sengaja datang untuk membawakan sarapan untuknya.


“Ya ampun, kenapa matamu bengkak seperti ini, Sayang?” Miranda menyentuh bagian yang membengkak tersebut. Tanpa menanggapi apa pun, Zara menghamburkan diri ke dalam pelukan maminya dan kembali menangis di sana. Sehingga membuat Miranda mengerti bahwa putrinya sedang berada dalam masalah. “Ada masalah apa? Cerita sama Mami ....”


“Dia menceraikanku, Mam,” jawab Zara pasrah. Dia mencoba rela meskipun pada awalnya membenci Miranda—sebab orang inilah yang mempunyai peranan paling besar di dalam kehancuran rumah tangganya. Fasad minder dan rendah diri karena ucapan wanita ini. Entah karena kondisi Fasad yang gampang terbawa perasaan sebab ‘sakitnya’ atau memang ucapan Miranda yang terlalu menusuk? Ia tak tahu pasti. Tetapi yang jelas, jika dilihat dari perspektif yang berbeda, perpisahan itu tidak akan pernah terjadi apabila keduanya memang ditakdirkan untuk bersama. Pernikahan adalah dua orang yang saling berjuang, bukan hanya salah satunya saja.


Miranda semakin mengeratkan pelukan untuk menambah kekuatan pada putrinya. Sebagai bentuk penghiburan, hari itu Mike juga tidur di rumah Zara dan memanjakannya laksana seorang putri agar dia tak merasa sendirian.


Tak bisa menjalani kehidupan seorang diri lagi, Zara resmi pindah ke rumah orang tuanya beberapa hari setelah kejadian itu.


🌺🌺🌺


“Gimana pendapat Mami kalau aku mau membekukan sel telur?” ucap Zara membuat Miranda dan dua orang lainnya yang tengah melakukan sarapan sontak melebarkan mata. Masih pagi-pagi seperti ini, sudah diajak bahas masalah perteluran.

__ADS_1


“Kenapa? Takut busuk? Perasaan lemari pendingin Mami masih oke, buat naruh sayuran juga masih tahan lama,” Miranda berkata seperti itu karena belum tahu dari mana cerita ini berawal.


“Bukan telur ayam, Mam. Sel telur aku,” Zara memperjelas.


“Uhuk!” seketika Miranda yang tengah minum langsung tersedak, “lah, kenapa kok mau dibekuin?”


“Zara ....” namun ucapan Zara terpotong sebelum ia menjelaskannya lebih lanjut.


“Ayo, kita bicara di dalam.” Wanita paruh baya itu mengajak Zara pergi dari meja sarapan lantaran tak ingin Michael mendengar pembicaraan mereka yang mengarah ke hal-hal sensitif. Sebab bocah itu rasa keingintahuannya masih sangat besar dan Miranda tak ingin anak ini jadi banyak bertanya. Bisa bikin pusing.


“Ayoloh ... Mami sama Kakak mau ngomongin apa? Pakai rahasia-rahasiaan segala,” ucap Mike yang langsung disela oleh papinya, Ruben.


“Ssst! Nggak usah nanya-nanya kalau nggak di izinkan mendengar pembicaraan mereka. Cepat habiskan sarapanmu, kita berangkat!”


“Papi, mereka omongin apa, sih?” tak bisa. Michael masih saja penasaran.


“Jangan kepo, itu urusan perempuan.”


“Tanya sana sama Mami,” jawab Ruben tak mau ambil pusing. Melempar jawaban adalah solusi paling tepat, agar ia tak pusing tujuh keliling menjadi mesin google untuk anaknya tersebut.


Sementara di tempat lain, Miranda kembali memperjelas apa yang baru saja dikatakan oleh anak pertamanya tersebut. “Nah, sekarang kita dah aman. Apa penyebab kamu mau membekukan sel telur, Sayang?”


“Sorry, Mam... Zara pikir, usia Zara sudah cukup banyak. Takutnya, kalau menikahnya masih lama, nanti sel telur yang dihasilkan udah nggak bagus lagi. Zara khawatir nggak bisa ngasih keturunan buat suami Zara nanti. Jadi itu alasannya.”


“Sudah jauh rupanya pemikiranmu, Nak....”


“Ini naluri alamiah seorang perempuan, Mam. Untuk jaga-jaga saja takut yang dikhawatirkan terjadi.”


“Mami aja waktu itu masih bisa hamil di usia 45 tahun, kok. Asalkan kita mau jaga pola hidup sehat, kamu pasti juga bisa. Lagi pula kamu ini masih umur 30 tahun ... nantilah, minimal umur 35 ke dokternya. Tapi Mami tebak, sih, kamu nikahnya nggak akan sampai setua itu,” ujarnya mempunyai pendapat yang berbeda, “atau mau Mami bantu carikan suami lagi? Lewat jalur taaruf.”

__ADS_1


“Tapi Zara belum mau nikah sekarang, Mam. Selain masih menjalani masa idah, Zara juga mau belajar agama dulu. Pengen jadi orang lebih baik supaya dapat pasangan yang baik juga.”


Miranda tersenyum dan mengusap-usap pipi anaknya pelan, “Mami dukung apa pun keputusan kamu, Sayang. Nanti kalau kamu dah siap, kasih tahu Mami, ya?”


Zara mengangguk. Berjanji kepada Tuhan dan diri sendiri untuk tak lagi melakukan hal-hal yang tidak terpuji seperti kemarin. Ya, harapannya demikian.


🌺🌺🌺


“Masih negatif, Kak,” ujar Hamidah begitu melakukan tes kehamilan di kamar mandi. Ini biasa dilakukannya menjelang hari bulanannya datang—dan Rayyan selalu mendapati wajah istrinya itu murung dan kecewa setelah itu.


“Mungkin belum,” balas Rayyan menanggapi, “lagian kita baru nikah beberapa bulan, dibawa santai aja ... jangan terlalu dipikirkan, nanti malah jadi stres.”


“Aku dah minum obat dari dokter secara rutin, lho. Menstruasi aku juga normal. Berarti kamu yang nggak sehat, seharusnya kamu juga perlu diperiksakan, Kak.” Hamidah membaca-baca tips seputar program hamil di internet dan menunjukkannya ke Rayyan agar lelaki itu mengerti apa-apa saja yang menjadi kendala mereka sulit dikaruniai anak.


“Ini, apa kamu termasuk yang seperti ini juga?” Hamidah menunjukkan ciri-ciri ketidaksuburan seorang pria. Yakni *********


“Belum tahu,” jawabnya.


“Tapi artikel ini menyarankan orang-orang seperti kita supaya minum obat ini, untuk mengatasi berbagai macam masalah yang ada dalam tubuh kita.”


“Jangan suruh aku minum obat macam-macam tanpa resep dokter....” Wajah Rayyan berubah tak suka, “Kemarin kamu seperti ini juga dan aku sudah menurutinya. Tapi sekarang aku nggak mau lagi.”


Rayyan merasa jantungnya berdebar-debar dan berdetak lebih cepat setelah minum obat-obatan yang Hamidah berikan sebelum ini. Itulah alasan sebenarnya.


“Ini herbal, Kak. Nggak akan bahaya.”


“Nggak mau!” tolaknya tegas, “kamu minum saja sendiri.”


“Apa gunanya kalau aku ikhtiar sendiri, percuma,” isak Hamidah lirih.

__ADS_1


“Jangan memaksaku untuk selalu menuruti jalan pikiranmu itu, Hamidah. Aku kepala keluarga di sini, jadi tolong hargai aku!”


__ADS_2