Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Si Semut Nyebelin


__ADS_3

130


Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka berdua semenjak Mauza mengatakan bahwa ia malas berdebat dengan Sammy.


Pun dengan pria itu, dia juga tak lagi berbicara hingga keduanya tiba di pengisian bahan bakar yang kebetulan sudah memasuki kota Bogor.


Meskipun dalam keadaan marah, mereka tetap melanjutkan perjalanannya ke Puncak.


Habis mau bagaimana lagi?


Putar arah untuk kembali ke rumah juga tak mungkin. Cukup memalukan apabila kedua orang tua mereka tahu, secepat ini mereka bertengkar akibat persoalan sepele.


Mau ditaruh di mana muka mereka nanti?


Baru sehari jadi pengantin sudah ribut. Bagaimana seterusnya?


Apa yang akan dipikirkan oleh orang-orang jelas hanyalah keburukan.


Setelah mengisi bahan bakarnya, Sammy berhenti sejenak di sana. Dia ingin mencairkan kembali suasana dengan cara iseng. Meremat-remat pipi Mauza yang sedari tadi di buang ke samping.


“Udahan marahnya, Miauw. Jangan kelamaan, ntar habis pahalanya. Nggak mau kan, pahalanya habis? Dah capek bangun malem-malem, belum lagi nahan kantuk. Pahalanya malah kabur di makan setan.”


Mauza diam saja. Dengan segera ia menyingkirkan tangan Sammy yang lumayan mengganggu. Sebab tangan itu kini tak hanya menyentuh pipi, tetapi juga mengusap-usap bibirnya sehingga membuatnya merasakan getaran yang aneh dan terbayang semalam. Ketika mereka melebur bersama.


Awalnya, Mauza memang menolak. Tetapi dia tak bisa berkutik saat Sammy mengeluarkan kata-kata senjatanya. Bahwa malaikat akan melaknatnya sampai pagi jika seorang istri menolak ajakan suaminya.


Alhasil, pergu mulan itu pun mau tak mau akhirnya terjadi. Dan membuat keduanya tak bisa tidur sepanjang malam.


“Mauza ....” panggil Sammy dengan suara dibuat-buat. “Ayo bicara Mauza ....”


“Apa?”


Sebenarnya Mauza sudah tidak sekesal tadi. Dia hanya butuh waktu beberapa saat saja untuk meredakan amarahnya. Hanya saja, Mauza terlalu gengsi jika secepat itu mereka harus berbaikan.


Mauza ingin Sammy merayunya dulu sampai dia luluh dengan sendirinya. Namun apakah Sammy mengerti?


Maunya setiap perempuan memang begitu setiap kali mereka sedang marah. Namun terkadang, tak semua lelaki bisa peka apa yang menjadi keinginan si wanita. Kebanyakan, perempuan yang lagi ngambek malah ditinggal pergi atau lebih parahnya, ditinggal tidur ngorok.

__ADS_1


Lalu dengan santainya, mereka datang menemui istrinya lagi di saat mereka butuh. Menyuruhnya atau sekadar mengajaknya bicara seakan tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Menyebalkan sekali.


Alhasil, pertengkaran pun akhirnya berlanjut. Bahkan lebih dahsyat. Kesalahan-kesalahan seperti inilah yang sering terjadi. Tetapi juga tak dijadikan pelajaran bagi mereka: para suami.


“Miauw ....” panggil Sammy sambil meneguk minumnya yang baru saja dia beli sendiri di pedagang asongan. “Minum dulu nih, biar nggak haus. Ngambek juga butuh energi loh.”


Mauza hanya melirik sekilas. Sebenarnya dia juga haus. Apalagi saat melihat titik-titik embun di botol minuman itu. Ugh, rasa hausnya malah bertambah berkali-kali lipat. Pasti segar sekali jika minuman dingin dan manis itu membasahi kerongkongannya, setelah tadi mengering karena di ajak berdebat.


Tetapi gimana cara memintanya?


“Jangan lama-lama ngambeknya Miauw ... kita kan mau liburan.” Sammy mengulurkan minumnya. Namun karena tak kunjung diterima, dia lantas meletakkannya di tengah-tengah.


Sammy menghela napas panjang. “Oke, kamu maunya aku gimana supaya kamu happy lagi?”


“Nggak perlu,” jawab Mauza ketus.


“Yakin?” Sammy menatap Mauza dengan pandangan yang sulit diartikan.


“Nggak usah liat-liat!”


“Galak banget ya ampun, istriku.... Tapi kok, semakin kamu marah kamu malah semakin cantik, ya? Jadi gemes.”


“Aku mau lagi yang semalem, Za. Candu banget rasanya. Kebayang-bayang terus sampai sekarang. Nggak bisa lupa sedikit pun,” ucap Sammy sontak membuat Mauza membulatkan mata. Dia melihat wajah Sammy yang seperti menahan gairahnya.


“Di sini bisa nggak yah? Kayaknya menantang, nih.”


“Jangan macem-macem!” ancam Mauza kepada suami tidak tahu dirinya.


“Cuma satu macem aja.” Sammy mengerling. Dia tak sedang bersungguh-sungguh dengan ucapannya selain hanya ingin menggodanya saja. “Biar viral gitu.”


“Viral apa?” tanya Mauza segera.


“Mobil bergoyang di SPBU.”


“Izh!” Mauza mencubit Sammy sekeras mungkin sampai pria itu mengaduh.


Ini kedua kalinya Mauza melalukan kekerasan, tetapi tak apa bagi Sammy karena dia telah berhasil memancing senyum Mauza yang terlihat puas dengan apa yang baru saja dilakukannya.

__ADS_1


“Kamu itu vulgar banget.”


“Nggak lah. Itu pembicaraan umum suami istri. Kecuali kalau masih pacaran, nah itu baru nggak boleh.”


“Gara-gara kamu pipisku jadi sakit ...” keluh Mauza.


“Masa sampai gitu, Za?” Sammy baru tahu sekarang, “mau mampir ke dokter dulu nggak? Infeksi nggak nanti?”


“Apaan sih, kayak nggak pernah tahu aja. Bukannya pernah?”


Sammy merasa dipancing. Oleh karenanya dia segera menyanggah, “Eh, jangan sembarangan. Aku nggak seliar yang kamu bayangin. Senakal-nakalnya aku, aku nggak pernah melebihi batas kecuali sama kamu, Za. Istriku sendiri.”


Mauza memutar bola matanya. Perempuan itu terlihat kurang percaya dengan pengakuan Sammy barusan.


Melihat dari casing nya sih sepertinya nggak mungkin. Tapi entahlah. Mauza tak sedang ingin memikirkan apalagi mempermasalahkannya.


Dia hidup di masa depan, bukan di masa lalu. Siapapun Sammy dan bagaimana pun masa lalunya dia tak peduli. Karena apa yang dia miliki sekarang adalah rezekinya.


“Kalau nggak percaya ya, udah. Nggak masalah. Siapa juga yang nyuruh kamu percaya. Yang penting aku nggak bohong.”


Dari kaca mata Mauza, sepertinya tak tampak kebohongan pada ucapan Sammy kali ini hingga ia bernapas lega.


“Syukurlah kalau aku nggak dapat barang bekas, mungkin cuma kulitnya doang yang sobek-sobek.”


“Za?” panggil Sammy. “Jangan diem aja dong, Za.”


“Terus aku harus apa? Joget-joget gitu?”


“Ya nggak gitu juga. Ngobrol apa, kek.”


“Lagi nggak punya topik.” Mauza kembali membuang pandangannya ke samping.


Mengerti Mauza sedang lengah, Sammy menggunakan kesempatan itu untuk menyentuh dadanya, sehingga wanita itu refleks mencubitnya lagi. Dengan lebih keras.


“Ihhhh! Semuuut!”


Bersambung...

__ADS_1


Maaf cuma dikit guys. Besok lagi ya.


__ADS_2