Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Aku Hanya Korban


__ADS_3

57.


Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Sesuai rencana mereka beberapa waktu yang lalu, hari ini adalah acara lamaran Rayyan Eshan Altair dan Zara Angel Purnawirawan.


Semua keluarga Al Fatir sudah bersiap, baik penampilan mau pun seserahan yang akan mereka bawa.


“Cincin udah, Kak?” tanya Vita kepada anak sulungnya yang pakaiannya tengah ia rapikan agar keren maksimal, “nanti yang paling penting malah kelupaan.”


“Nggak, Ma. Ada di kantong saku.” Rayan menunjukkkan sedikit tonjolan di saku kirinya.


“Mama yang pegang, ya? Kan, Mama yang mau ngasih,” pintanya.


“Nggak aku aja?” kekeh Rayyan.


“Boleh ... tapi nanti malam tidur di luar.”


“Emangnya Papa di becandai kayak gitu?” sahut Umar menjulurkan lidahnya.


“Awas, awas... nanti kena tulah,” kata Mauza dengan tatapan sengit.


“Tahu, ini anak kok, ngeselin. Hih!” akhirnya Umar kena jewer mamanya lagi. Ternyata Vita suka membuat anak laki-lakinya itu berteriak. Namun setelahnya, wanita itu memeluk anaknya untuk memberikannya nasihat. Tentu tanpa ingin membuat anak itu berkecil hati, “Anakku ... anakku ... jangan bandel-bandel, ya. Omongnya sama orang tua harus baik, ya. Kamu sudah hampir 26 tahun, yang artinya sudah menjadi laki-laki dewasa, jadi jangan terlalu banyak bercanda lagi....”


“Iya Mamaku ... Mamaku ... Umar sedang khilaf,” balasnya membuat semua orang tertawa.


“Halah, khilaf kok tiap menit sih, Kak,” Zunaira menyahuti.


Vita menepuk-nepuk pungggung anak lelaki yang masih berada di pelukannya, dan belum berhenti mencibir sang adik.


“Namamu itu Umar. Nama yang sangat bagus yang diberikan oleh Papa. Berharap agar kamu bisa seperti Umar bin khatab. Sahabat Rasulullah, seorang Khalifah sekaligus pemimpin yang salih dan adil dalam menegakkan keadilan. Bukan malah jadi nakal begini, paham, Nak?”


“Nah, iya... denger tuh kata Mama. Namanya Umar kelakuannya kayak Umelet.”


“Omelet, Zaaaa....” teriak semuanya ikut meralat ucapan Mauza.


Tak berapa lama, setelah Yudha keluar dari kamar, lelaki itu langsung mengajak semua anak-anaknya untuk masuk ke dalam mobil.


Yudha menyetir sendiri, duduk dengan istrinya di depan. Sedangkan semua anak-anaknya di belakang. Ada pun saudara dan teman-teman yang ikut, namun mereka berada di mobil masing-masing. Konvoi menuju ke kediaman Ibu Miranda Haucun.


Untuk menghilangkan penat, di dalam mobil, Umar memeriahkan suasana dengan memetik gitar. Ketiga anak-anak Vita dan Yudha bernyanyi bersama.


Sungguh bahagia hidup mereka. Tak ada beban dalam pikirannya seolah-olah dunia ini sangat indah tanpa masalah. Mereka belum tahu, bagaimana takdir dan segala ujiannya menunggu mereka di masa yang akan datang.


Namun berbeda dengan Rayyan. Kepalanya justru sakit mendengar musik dan nyanyian itu. Lantaran mengingatkannya peristiwa 20 tahun yang lalu. Pada saat umurnya kurang lebih 5/6 tahunan.


Dia pernah dinyanyikan oleh Opa Haikal di dalam perjalanan menuju ke Bogor. Bersama dengan Oma, Mama, papa, Om Alif, Dara, dan semua adik-adiknya. Mereka berlibur di suatu tempat yang sangat menyenangkan.


“Kakak kenapa?” tanya Zunaira mendapati Rayyan diam saja sembari memegangi kepala.

__ADS_1


“Nggak papa, cuma lagi ingat sesuatu ....” Rayyan menyebutkan apa yang dia ingat barusan.


Pengakuan itu membuat semua orang yang ada di dalam mobil mengucap hamdalah. Mereka juga mengira, mungkin tak lama lagi, Ray akan bisa mengingat semuanya.


▪▪▪


Sesampainya keluarga Al Fatir di kediaman Zara, mereka langsung disambut oleh keluarga besar Tuan Rumah. Semua pakaian mereka seragam, berwarna putih.


Ruangan yang tadinya sesak penuh hiasan dan guci, kini disulap menjadi dekorasi lamaran yang sangat indah. Dengan backdrop yang menawan dan modern karya dari Sammy dan kawan-kawannya.


Setelah menempati tempat duduknya masing-masing, kini acara-acara sambutan pun dimulai.


Semua begitu khidmat mendengarkan Tuan Rumah; Om Ruben yang membuka percakapan, kemudian dibalas oleh perwakilan dari keluarga Rayyan untuk mengatakan maksud dan tujuan kedatangannya.


Seserahan cantik nan elegan berderet di meja. Sementara acara sedang berlangsung, Sammy dan teamnya justru sibuk mengabadikan momen ini. Membidik antara satu dan yang lainnya, mencari angel yang menurutnya paling bagus.


Bergeser ke dalam, Zara tengah berdebar menunggu gilirannya dipanggil keluar. Dia memakai abaya berwarna putih dan hijab dengan warna senada. Tangan dingin seorang MUA ternama mengubah wajah Zara menjadi lebih flawless, namun tetap tak meninggalkan kesan naturalnya.


Ditemani oleh Mike dan Andini di kanan kirinya. Zara dituntun keluar untuk menampilkan diri setelah tiba gilirannya dipanggil oleh Sang MC.


Deg!


Semua mata tertuju kepadanya. Beberapa orang juga menodongkan kameranya masing-masing untuk mengabadikan momen ini.


Sudah sedari tadi, jantung Zara berdegup kencang. Apalagi saat ini, tepatnya pada saat Andini dan Mike meninggalkannya di satu titik. Dia berdiri di depan backdrop yang di sampingnya sudah berdiri seorang pria, tengah memandangnya dengan tatapan memuja.


“Cantik sekali calon istrinya ya, Mas?” tanya Belle Zahir sang MC kepada Ray.


Jawaban singkat nan penuh makna tersebut membuat semua orang tertawa dan menyorakinya.


“Yuk, semuanya bantu doakan mereka semoga dilancarkan sampai ke pelaminan, ya!”


Semua orang yang ada di sana mengaminkan kata-kata MC barusan.


Melewati serangkaian acara, kini tiba saatnya orang tua mempelai laki-laki (Vita) menyematkan cincin lamaran tersebut ke jari manis mempelai perempuan. Mereka saling bersalam-salaman dan berpeluk-pelukan setelah itu. Miranda yang awalnya sakit mendadak sehat hari ini.


Benar kata orang, rasa cinta dan bahagia bisa menghilangkan rasa sakit.


Acara berlanjut foto-foto meski tanpa bersentuhan. Baik berdua maupun dengan keluarga dan saudara. Tak hanya di satu tempat, Sammy juga memanfaatkan lokasi lain di rumah ini yang menurutnya juga tak kalah apik.


Kala hari mulai sore, acara berlanjut makan bersama sambil berbincang di ruang acara tersebut untuk menentukan tanggal pernikahan.


Pun dengan Rayyan dan Zara yang juga butuh waktu berdua untuk membicarakan rencana mereka ke depan. Tentu bukan di tempat yang sepi agar tak menjadi sebuah fitnah.


“Sepuluh hari lagi dari sekarang,” ujar Rayyan kepada wanita yang duduk di sampingnya. Tepatnya di taman belakang rumah. “Aku sudah banyak belajar dari pernikahanku sebelumnya. Semoga kali ini aku nggak jadi suami yang gagal lagi.” Dia selalu menganggap semua kerusakan ini dari dirinya.


Zara menoleh, “Memangnya kamu masih ingat tentang itu?”

__ADS_1


“Sedikit.”


“Kapan kalian bercerai?”


“Mungkin enam bulan lalu.”


“Siapa yang menggugat?”


“Yang pasti bukan aku.”


“Kamu masih cinta sama dia?”


Rayyan menggaruk belakang kepalanya, terus terang. Dia agak keberatan dengan pertanyaan ini karena bisa menjadi buntut-buntut masalah. Dijawab salah, tidak dijawab apalagi.


“Hmm... masih cinta berarti.”


Nah, kan!


Wanita itu lantas bersedekap dan memalingkan muka karena Ray sangat lama sekali menjawab pertanyaannya.


“Perempuan memang suka cari perkara dengan cara tanya yang aneh-aneh.” Rayyan meminta Zara untuk kembali menghadap, “Aku nggak mau bahas mantan. Lagi pula aku nggak ingat dia....”


“Bukannya kamu juga nggak ingat aku?”


“Tapi cuma kamu yang aku cinta.”


“Kamu sama buaya nggak ada bedanya. Pandai sekali membual dan merayu.”


“Kalau nggak percaya belahlah dadaku.”


Kesal, Zara pun mencubit lengannya keras-keras. Sebab lagi-lagi dia harus mendengar kalimat menyebalkan itu.


Ray mengaduh kesakitan. Tangan Zara memang kecil, tapi jangan salah, cubitannya bisa bikin orang kelabakan.


“Kita mau tinggal di mana setelah menikah, Ra?” tanya Ray beberapa saat kemudian.


“Untuk sementara di sini dulu, baru setelah itu kita bicarakan lagi bagaimana baiknya. Soalnya aku nggak bisa terlalu jauh dari rumah ini. Selain karena orang tua, ada pekerjaan yang memang nggak bisa aku tinggalin.”


“Baiklah kalau begitu.” Rayyan mencoba memahami keputusan ini walau dia sedikit kurang setuju untuk tinggal bersama mertua. Semoga saja Ibu Miranda atau Pak Ruben tidak segalak dan secerewet yang dia bayangkan.


“Kamu masih terapi okupasi kah?” Zara bertanya lagi.


Rayyan geleng kepala, “Sudah nggak perlu.” Dia menoleh ke belakang seperti tengah memastikan sesuatu. Tapi entah apa. “Sebentar lagi mungkin aku pulang...” ujarnya lagi dengan agak berbisik.


“Terus?” tanya Zara tidak mengetahui maksudnya. Sampai kemudian Ray membungkuk lalu mencium tangannya singkat tanpa di duga.


“Ray?” Zara memelototkan mata dan menuntut jawaban atas perlakuan ini. “Kalau ada yang ngeliat gimana? Kamu nggak ingat statusmu yang sebelumnya?”

__ADS_1


“Aku akan selalu merindukanmu, Ra.” Hanya itu yang dia katakan sebelum akhirnya pria itu melintas pergi. Menyisakan Zara yang tertegun sendiri. Ya Allah, ini bukan aku yang mau. Aku hanya korban. Jangan hukum aku, plis.


Bersambung.....


__ADS_2