
191
“Tidak perlu sedih. Pernikahan bukan hanya sekadar untuk berlomba-lomba mendapatkan keturunan. Tetapi tak lain adalah untuk beribadah dan menyempurnakan separuh agama, agar keduanya bisa menuju ke surga bersama-sama.
“Bunda tahu ini berat untuk kalian. Tapi bersyukurlah, karena kalian tetap orang yang paling beruntung di dunia ini. Bukalah jendela kalian lebih lebar lagi, hidup kalian termasuk enak. Bisa menikah muda, bisa merasakan romansa, tinggal di rumah mewah, punya orang tua dan saudara-saudara yang juga baik.
“Coba kalau yang lain? Bahkan masih banyak orang yang hidupnya lebih suram. Sudah miskin, sebatang kara, rumah pun mereka nggak punya. Ada lagi yang rambutnya sudah ubanan, tapi masih juga belum kelihatan jodohnya. Nggak perlu ditanya lagi gimana nasibnya nanti, karena itu sangat menyedihkan.
“Jadi bersyukurlah kalian. Nikmat yang kalian rasakan lebih banyak daripada kesakitan yang satu itu,” papar Utami dengan uraian panjangnya, dan mereka pun menyimak dengan baik.
“Eh iya, Bun. Omong-omong kayak gitu, ada lho, teman Papaku yang sampai sekarang belum juga menikah,” Mauza menimpali diskusi dari sedikit yang dia ketahui. “Setiap beliau mau nikah, pasti selalu gagal. Entah apa aja penyebabnya. Kasihan. Padahal Papa aja cucunya udah mau empat sekarang.” Pikiran Mauza sudah mulai terbuka.
“Tuh kan, lebih ngeri lagi.”
“Terus kalau lagi kepengen gimana?” sahut Sammy malah berpikir ke sana.
Bantal sofa melayang di kepala Sammy dari tangan Mauza. “Itu mulu yang di ingat!”
“Lho, realistis kan, Bun? Sebagai laki-laki normal, masa nggak punya hawa naf su?” dia malah membuka dengan gamblang.
Sammy memang seterbuka itu dengan bundanya. Karena beliau lah yang mengajarkannya demikian, agar Sammy tak kehilangan seorang teman.
“Anak Bunda ini emang nakal nih, Bun,” Mauza mengadu. Dia bergelayut di mertuanya itu layaknya ibu kandung sendiri.
Utami terkekeh, “Emang nakal dia. Tapi semenjak menikah, Bunda lihat dia sudah jauh lebih baik. Makasih, ya. Ini berkat Mauza juga.”
Meskipun mengiyakan, tapi Mauza masih saja mengajak Sammy berperang. “Tuh, Bunda aja mengakui kalau kamu itu selebor.”
“Yang penting tahan lam-eh aduh biyung!” sekali lagi, bantal mengenai kepalanya sehingga ucapan vulgar itu tersensor.
“Malam ini kalian tidur di sini, ya?” pinta Utami, “nanti Bunda bikinin masakan yang enak-enak.”
Sammy menatap Mauza untuk mencari jawaban.
__ADS_1
Pasalnya lelaki yang sudah menikah, hampir semua keputusannya ada di pihak istri. Meskipun kendali tetap ada ditangannya.
“Jangankan malam ini, sampai besok juga nggak papa,” kata Mauza membuat Utami senang.
“Deal!”
“Deal!”
♧♧♧
Semua berlalu begitu saja seperti tak berbekas. Ke mana saja Mauza dan Sammy selama ini, sekalipun untuk melakukan pengobatan, hampir tidak ada yang tahu. Mereka hanya tahu, Sammy dan Mauza selalu bahagia, selalu ceria dan banyak bercanda sehingga menulari orang-orang terdekatnya.
Menjelang empat bulanan Zunaira, semua berkumpul menjadi satu di rumah Papa Yudha. Umar-Alma, Rayyan-Zara dan anak-anaknya pun turut menginap di sini dan membuat suasana rumah menjadi semakin ramai. Kebetulan, usia Arka dan Arsha sudah lebih dari satu bulan, sehingga sudah boleh di bawa ke mana-mana.
“Cicitku,” ujar Abah Haikal menggendong salah satu anak Ray dengan rasa bangga.
“Sama botaknya sepertimu, Bah,” sahut Yudha karena rambut Arka sudah digundul habis oleh Mommy nya.
“Enak saja, rambutku tebal,” Abah Haikal tidak mau dikatakan botak.
“Rambut yang ada di ketek,” jawabnya tak pernah serius.
Membuat semua orang tertawa.
“Itu pun alah putih saluruahnyo, Abah,” sahut Umi Ros. Wanita tua yang masih terlihat cantik itu sudah sering berada di kursi roda sekarang.
“Orang muda malah senang lagi. Biasanya yang hitam malah sengaja di semir-semir.” Pandangan pria itu menuju ke mata polos yang ada di pangkuannya. Sesekali jarinya menusuk pipi tumpah Arka yang sedang memainkan ludahnya sendiri.
“Alah banjir mulutmu karena kau terus main-main ludah. Apa kau mau susu?”
Bayi kecil itu malah menguap lebar-lebar. Lalu meregangkan tubuhnya. Tak berapa lama, matanya pun terpejam. Rupanya Arka mengantuk.
“Yah, lalok kau rupanya.”
__ADS_1
Meskipun tidur, Abah Haikal tak berniat menyerahkan cicitnya kepada sang menantu. Dia masih rindu karena mereka jarang ke sini.
Keesokan harinya, acara empat bulanan pun di mulai. Zunaira tampak cantik dan serasi dengan Andre dengan balutan dress berwarna biru. Meskipun dress itu terasa longgar, tetapi tetap mencetak bagian tubuhnya yang sudah mulai membuncit.
“Nai empat bulanan di sini, kita di rumah sendiri aja ya, Bang,” bisik Alma kepada Umar.
“Terserah kamu aja mau empat bulanan di mana, Al. Yang penting jangan di planet lain,” katanya membuat Alma spontan mencubit kecil lengan pria itu.
“Kalau ditanya nggak pernah betul jawabannya.”
“Iya sayang, terserah kamu mau empat bulanan di mana. Yang penting kamu senang.” Umar menoleh kepada wanita yang ada di sampingnya, Mauza. “Kamu kapan? Dah di salip banyak orang nih. Ah, payah. Bikinnya kurang mantep kali.”
“Padahal udah pakai gigi dua, Mar,” sahut Sammy tak ingin dibuat serius, karena Umar pun hanya sedang bercanda padanya. Ya, meskipun demikian memang tidak pantas untuk di buat bercandaan.
“Gas pol lah!” ekspresi Umar benar-benar menyebalkan sehingga membuat Mauza tampak murka, “Umar julid ih, dah kayak emak-emak kampung Dungu.”
“Aku begini karena sayang sama kamu, Za. Anggaplah ucapan ku ini cambuk supaya kamu punya dorongan untuk maju.”
“Iya, makasih Abang Umar. Jangan cuma ngomong doang, ya. Kasih duitnya juga kalau bisa.”
“Gampang, lima ribu doang mah aku juga punya.”
“Hihhh!” Mauza gemes hingga giginya mengerat. Hampir-hampir dia melempari wajah Umar dengan kulit jeruk yang baru saja di kupas nya.
Omong-omong soal program, bahkan Sammy dan Mauza sudah mulai melupakannya. Entah kenapa, setelah mendapatkan dukungan dari Bunda Utami, keinginan mereka tak lagi menggebu-gebu seperti dulu. Mereka lebih santai dalam menjalani hidupnya.
Mereka sudah melewati semua masa-masa itu dengan mudah, sehingga terciptalah lapisan hati yang tebal dan membuat mereka menjadi lebih kuat.
Mauza tak lagi menye-menye ketika mendapati pertanyaan atau cibiran soal momongan dari orang-orang yang ditemuinya. Dia sudah cukup tangguh meskipun perasaan sedih terkadang masih kerap muncul.
Tetapi di sinilah kita bisa melihat, bahwa Tuhan itu memang Maha Kuasa. Dia tahu, manusia kuat mana yang bisa Dia timpakan cobaan ini.
Hingga suatu ketika, Mauza mengalami mual dan muntah berkepanjangan. Dan di saat itulah Mauza menyadari, jika dirinya sudah melewatkan jadwal menstruasinya.
__ADS_1
Bersambung.
Aku dah bilang ini menyakitkan, tapi semoga kalian kuat ya. Aku janji happy ending.