
74
“Masih tidur?” tanya Ray melihat Zara yang masih setia bergelung di bawah selimut.
“Aku demam nggak, sih?” Zara bertanya.
Terlebih dahulu Ray menurunkan bag serta dokumen dan barang-barang pentingnya ke atas meja. Bermaksud menyuruh Zara agar dia yang membereskannya nanti, karena dia tidak tahu harus menyimpannya di mana. Baru kemudian dia menghampiri Zara dan duduk di depannya. “Kenapa memangnya?”
“Nggak enak aja rasanya. Agak dingin.” Zara merapatkan selimutnya lagi.
Ray mengeceknya dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi wanita itu, lalu mengangguk. Membenarkan.
“Soalnya semalam pas bangun, selimutnya udah ke mana-mana,” kata Zara lagi.
“Bisa jadi, kamu juga terlalu banyak di dalam ruangan ber AC.”
“Iyakah?”
”Baiknya jendela kamar ini di buka full biar udaranya lebih segar.” Ray berpendapat demikian karena merasa kamar Zara sedikit terasa pengap. Mungkin karena pemiliknya terlalu sibuk atau banyak barang berharga sehingga jarang di buka tanpa pengawasan.
“Aku juga merasa gitu,” ternyata Zara berpendapat sama, “kamar ini udah terlalu banyak barang. Apa sebaiknya kita minta orang untuk mendesign ulang kamar ini?”
“Silakan saja kalau kamu sendiri juga kurang nyaman,” jawab Rayyan, “bersihkan barang-barang yang nggak terpakai supaya hisab kita di akhirat nanti tidak terlalu berat.”
“Hmm, begitu, ya?” Zara terlihat mempertimbangkan, “nggak harus sekarang, kan?”
“Besok saja kalau kita pergi honeymoon. Biar kejutan kalau pulang.”
“Baiklah,” kata Zara akhirnya, “terus sekarang kita ngapain?”
“Keluar,” jawab Ray, “minta bikinin sup sama orang rumah biar tubuhmu lebih hangat.”
“Aku malas makan sayur....” Zara mengeluh. Dia kurang menyukai sayuran. Lain halnya dengan buah-buahan.
“Mulai sekarang dibiasakan. Kalau nggak suka sayur, nanti anak kita juga akan meniru kebiasaanmu.”
“Gampang, kan ada obatnya kalau kurang gizi,” jawab Zara tak ambil pusing.
“Kalau bisa alami kenapa harus pakai obat. Semua obat memiliki efek samping.”
__ADS_1
“Cari yang herbal, lah,” Zara tertawa. Terkadang wanita itu masih sulit mengalah dan menerima masukan. Ya, kadang-kadang. Namun sudah tidak separah dulu.
“Ayo, Ra. Jangan malas.” Ray menarik Zara keluar kamar, lantas mendudukkannya ke ruang keluarga yang ada di lantai itu. Keduanya memanggil ART untuk menyuruhnya membuatkan makanan yang mereka minta, sekaligus menyuruh mereka membukakan semua jendela kamarnya.
Tiga puluh menit kemudian, sup matang. Devi kembali mengantarkannya ke atas. Gadis itu melihat keduanya dengan senyuman yang sulit diartikan. Entah apa yang dipikirkannya, pasti menjurus ke tanda kutip.
“Kenapa senyum-senyum, Dev?” Zara mulai curiga.
“Nggak papa, Non,” kilahnya.
“Bohong dosa, lho!”
Devi malah tertawa, “Semoga dimaafkan.”
Usai Devi pergi, Zara perlahan menyuapkan makanan itu ke mulutnya. “Ternyata rasanya tidak terlalu buruk,” batinnya.
“Kamu dari mana aja?“ tanya Zara kepada Ray yang tengah fokus menatap layar ponselnya sendiri. Wajahnya gelisah seperti ada yang sedang dipikirkan. “Lama banget.”
“Ngosongin apartemen,” jawabnya.
“Apartemen yang pernah kalian tinggali bareng itu?”
Ray mengiyakan.
“Ada beberapa yang aku pindahkan ke rumah Mama, ada juga punya dia yang aku kembalikan.”
Kedua bola mata Zara langsung nyalang mendengar hal itu. “Berarti kalian ketemuan?”
“Nggak, Ra. Semua barangnya aku kirim pakai jasa pengiriman. Lala move.” Kalau pun iya, Ray pasti akan meminta salah seorang menemaninya, sebab perempuan adalah tempatnya fitnah.
“Jadi pengen liat unit apartemenmu.”
“Nggak ada yang menarik,” jawab Ray tersenyum kemudian menjelaskan, “justru aku mau ngosongin unit itu karena mau aku jual.”
Zara mengangguk. Setelah jeda beberapa lama, dia kembali bertanya, “Kalian bener-bener belum pernah punya anak, kan?”
“Kalau pun iya, pasti kami udah bilang dari awal.”
“Ya aku takut aja, kalian bercerai belum lama. Siapa tahu kayak skenario film kebanyakan, bercerai saat hamil. Tar berapa tahun kemudian, si laki-laki baru tahu kalau ternyata dia punya anak dan anaknya sudah besar. Dari sana cerita kembali dimulai, pria itu memperlihatkan penyesalannya dan berjuang untuk mendapatkannya kembali. Akhir cerita, mereka akhirnya bersatu lagi demi cinta dan anak mereka,” papar Zara menceritakan pengalamannya waktu masih sering syuting.
__ADS_1
Rayyan tertawa. Beginilah akibatnya menikahi seorang pelakon yang kenyang dengan lembaran skenario film.
“Hubungan kami merenggang semenjak kecelakaan,” ujar Ray tak sedang ingin menutupi apa pun. Dan secara tak langsung, dia juga mengisyaratkan, bahwa dalam keadaannya yang demikian, mereka tak pernah bercampur lagi.
“Sebenarnya waktu itu, aku masih bisa memperjuangkannya....”
“Tapi?” ucap Zara meminta Ray menjelaskannya lebih lanjut.
“Dia tak memperlakukanku dengan baik dan terus memaksaku untuk mengingatnya.”
Ray menatap ke arah luar saat terkenang waktu lalu. Yakni saat Hamidah sering memaksanya untuk mengingat sesuatu dengan cara kasar. Membentaknya dan mengguncang tubuhnya secara bersamaan. Padahal saat itu, kondisinya sedang lemah di kursi roda dan masih bingung seperti orang linglung.
Ray berani bersumpah hari itu adalah titik terendahnya dalam hidup. Hampir setiap malam, dia terbengong menatap jendela luar dalam keputusasaan. Tak habis pikir, kenapa dia menikahi perempuan semacam itu.
Tidak menolak lupa, Hamidah memang selalu minta maaf padanya. Tetapi besok atau lusa, kejadian ini pasti terulang lagi dan begitu seterusnya mirip ucapan anak-anak bayi yang gemar mengingkari janji. Sebab dan alasan inilah bahwa dia tak berpikiran untuk mempertahankannya lagi.
“Ray?” panggil Zara menelisik bola matanya, “aku pikir kamu mengetahui sesuatu.”
“Aku minta maaf soal berita yang cukup menyudutkanmu,” kata Ray mengakui telah mengetahui kabar berita yang Zara maksud, “maaf telah membawamu ke situasi ini, Ra. Aku nggak tahu kenapa kalau dalam masalah seperti ini ... perempuanlah yang paling banyak di salahkan.”
“Sebenarnya aku marah sama dia,” kata Zara kemudian, “tapi aku pernah membaca perkataan salah seorang Imam Besar, kurang lebih seperti ini: siapa yang mendengar sebuah ucapan yang dia benci lalu diam tidak membalas, maka terputuslah darinya apa yang dia benci tersebut, namun jika dia membalasnya maka dia akan mendengar lebih banyak lagi hal-hal yang dia benci,” paparnya.
Ray mengusap kepala istrinya. Dia membenarkan sebaris kalimat itu sekaligus melengkapi, “Beliau adalah Abdullah bin Muhammad bin Al-Qadli Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman bin Kuwasta. Ia seorang imam yang alim, pemimpin para hafidh, penulis kitab-kitab besar.”
“Ternyata kamu masih hafal semuanya.” Zara tersenyum bangga. “Jadi kesimpulannya? Kita nggak perlu balas dia, kan?”
“Kalau balas memang nggak boleh, tapi meluruskan itu perlu. Hanya saja, kalau kita muncul di saat-saat seperti ini, suasana malah jadi semakin panas.”
“Nah, itu dia yang jadi pertimbangan aku sekarang.” Zara menyandarkan kepalanya di bahu Rayyan.
Hingga tak berapa lama, suasana berubah menjadi hening. Zara tersenyum setelah membaca situasi di sekitar, menatap pria di sebelahnya seolah mengatakan sepi.
Detik berikutnya, Ray merasakan tangan berkulit putih merayap dari dada bidangnya, turun ke bawah, kemudian berhenti tepat di bagian pusar. Bukan berhenti sendiri, melainkan dialah yang menghentikannya. “Tanganmu sangat nakal.”
“Masa, sih? Enggak, ah.” Zara masih saja menggodanya. Melihat itu, Rayyan menaruh kedua tangannya ke bawah tubuh Zara, lalu mengangkatnya dan membawanya ke kamar.
Di tangga, Devi langsung membekap mulutnya agar tak sampai mengeluarkan suara. Tadinya, gadis itu hendak mengambil alat pel yang tertinggal, tapi balik lagi lantaran tak ingin mereka malu dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
Ya Tuhan, mataku ternodai!
__ADS_1
♧♧♧
Bersambung.