
164
“Aku bukan orang terlahir kaya, Al. Aku harap kamu bisa sabar mendampingi aku,” ucap Umar, nada suaranya terdengar lebih luwes daripada yang tadi.
Alma mengangguk. Gadis itu tak mau membuka suara lagi lantaran takut Umar semakin tersinggung, meski sudah ia jelaskan, dia tak bermaksud membuatnya demikian.
Umar membuka jasnya dan menyerahkannya pada Alma. Bermaksud, meminta tolong padanya untuk menyimpannya ke tempat pencucian.
“Kamu udah boleh buka cadar, Al. Ini udah di dalem rumah. Emangnya kamu nggak panas?”
Ya ampun, kok Alma jadi gugup saat Umar menatapnya begini? Jantungnya deg-degan parah. Umar itu sebenarnya ganteng, tapi karena galak jadi agak nyebelin.
“Atau kamu mau aku yang buka?”
Lagi, Umar menawarkan. Ah, iya. Bukannya ini memang tugasnya?
Perlahan, tangan Umar pun terulur untuk membuka cadar yang menutupi sebagian wajah Alma. Namun, pada saat dia sudah menyentuh bagian ujungnya, tangan Umar tertahan oleh tangan si pemilik wajah itu.
“Jangan di sini,” kata Alma melangkah lebih dulu dan Umar pun mengikutinya. Pria itu tersenyum pada saat Alma mengajaknya ke kamar. Tentu setelah meletakkan jasnya ke belakang.
Seperti yang di ucapkan oleh Alma di atas barusan, sesampainya di kamar, Alma pun membolehkan Umar membukanya di sana.
Mereka duduk berhadapan. Dengan harapan penuh, perlahan Umar membuka kain yang menutupi wajah istrinya. Dalam hati dia merapal doa, semoga wajah Alma secantik yang dia harapkan.
Dan ....
Wajah Alma pun terlihat penuh ketika tali yang terikat di belakang kepalanya itu terlepas. Kecantikan yang biasa tersembunyi, kini terlihat nyata. Sialan. Dia tak menyangka Alma seindah itu. Wajahnya hangat dan teduh saat dipandang.
Tenggorokan Umar seakan kering sampai dia kesulitan menelan ludah. Matanya membulat penuh dan mematung selama beberapa lama.
Tak seperti yang dikatakan Mauza pada saat itu. Wajah Alma sangat halus dan terawat meskipun tak terlalu putih karena warna kulitnya cenderung kuning langsat, sesuai rata-rata orang di negara ini. Hidungnya mancung, pipinya sedikit chubby, alisnya tak terlalu tebal tapi berserat di bagian pangkalnya. Kedua bola matanya hitam pekat yang mempunyai bulu mata sangat lentik.
Dan kini pandangan Umar tertuju ke bawah dan berpusat pada satu titik, yakni di bibir yang kemerahan dan sedikit tebal di bagian bawahnya. Dia istrimu sekarang, begitu batinnya bersorak sehingga membuatnya terpanggil untuk mengunjunginya ke sana.
Umar pun memejamkan mata. Mendekatkan wajahnya dan memiringkan kepalanya untuk meraih benda kenyal itu.
Ah, rasanya manis dan candu sekali saat dia bermain-main di sana. Apalagi saat mendengar suara de sahan kecil yang lolos dari bibirnya. Membuatnya ingin berlama-lama berada di sana. Lidahnya menyerap, melu mat, mengu lum dan menjejaki kedalaman bibir yang ranum tersebut.
__ADS_1
Namun, Umar segera menyudahinya pada saat dia mulai merasakan asin dan manis secara bersamaan. Dia menjauhkan wajahnya dan melihat gadis itu meneteskan air mata.
“Maaf ...” ujar Umar tak enak hati. Menyadari bahwa dirinya terlalu buru-buru.
Naluri kelelakian nya yang sudah bangkit kini harus teredam. Umar tak bisa sembarangan menyalurkan. Ia bukan menikahi wanita yang berpengalaman, tetapi seorang gadis yang tak pernah sekalipun berpacaran.
Malam harinya.
Suasana menjadi canggung setelah kejadian siang tadi saat mereka berada di kamar. Tak ada pembicaraan meskipun keduanya duduk di tempat yang sama. Tepatnya di depan televisi yang menyala. Matanya menyorot ke layar, tetapi pikirannya sibuk dengan bayangan masing-masing.
“Bang ....”
“Al ....”
Keduanya menoleh dan memanggil nama lawan bicaranya secara bersamaan.
“Abang dulu,” Alma mempersilahkan.
“Nggak, kamu dulu aja.”
“Kamu dulu.”
“Abang!”
“Ya udah nggak usah dua-duanya kalau gitu,” kata Umar kemudian.
Pasalnya mereka memang tak sedang berkepentingan apapun kecuali hanya ingin berbasa-basi saja, agar suasana tak terlalu hening.
Bingung apa yang harus dilakukan, membuat Umar lantas membaringkan setengah badannya ke sandaran sofa.
Ingin mendekati Alma lagi seperti siang tadi, tetapi takut Alma kembali menangis. Ingin mengajaknya bicara juga bingung, topik apa yang akan mereka bicarakan. Mereka belum terlalu mengenal karena sebelumnya, mereka tak pernah melakukan pendekatan. Padahal demikian boleh saja jika hanya sekadar saling berkabar atau bertanya tentang hobi atau kebiasaan masing-masing.
Jadi, apa yang harus dia lakukan sekarang?
Selang beberapa menit, akhirnya Umar mendapatkan ide. Dia meminta Alma untuk mendekatkan dirinya ke sampingnya. “Sini, Al!” sambil menepuk kursi di sebelahnya.
Alma menurut. Gadis itu menggeser posisi duduknya jadi lebih dekat.
__ADS_1
“Lagi!” titah Umar.
Alma kembali menggeser tubuhnya, tetapi masih dianggap kurang sehingga Umar gemas dan lantas menariknya kemudian agar keduanya saling menempel. Tak jauh-jauhan seperti pasangan yang sedang saling bermusuhan.
“Di suruh geser aja susahnya minta ampun kamu, Al,” ujar Umar setengah kesal.
“Maaf, Bang ... aku nggak pernah dekat sama lawan jenis selain Ais. Jadi masih agak canggung.” Alma berterus-terang. “Abang sendiri pernah?”
“Meskipun iya, aku nggak akan memberitahumu,” tegas Umar. “Karena aku juga nggak peduli sama masa lalu kamu.”
Lagipula apa yang mau diceritakan dari Alma? Dia tak mempunyai masa lalu yang bisa dikenang seperti halnya Umar. Dalam keseharian nya, ia hanya menghabiskan waktunya di rumah bersama Umi, Abi dan Ais kakak tersayang.
Umar menggerakkan kakinya untuk meraih remote televisi. Membuat Alma sempat protes karena kelakuannya yang tak terduga itu.
“Abang kan, punya tangan. Kenapa harus pake kaki? Nggak boleh Abang. Abang bisa suruh aku kalau lagi mager.”
“Ssstt,” Umar memerintahkan istrinya untuk diam. “Kamu suka nonton film apa?”
“Sebenernya aku nggak suka nonton film,” jawab Alma.
“Terus kenapa nyalain TV?”
“Bingung mau ngapain,” lirih Alma. “Aku masih asing di tempat ini. Maaf ya, Bang. Sepertinya aku masih butuh waktu buat adaptasi supaya nggak terlalu bingung lagi.”
Sudah seperti hewan saja pakai acara adaptasi segala pikir Umar.
“Okay, aku yang pilih judul filmnya.”
Seringai-an Umar sebenarnya sempat membuat Alma curiga. Namun, gadis itu membiarkan saja suaminya mengganti chanel televisi yang awalnya menayangkan berita, diganti ke channel lain yang dia ketahui adalah fim romantis. Alma percaya, Umar tidak mungkin menonton film yang aneh-aneh.
Namun beberapa detik kemudian, mulut Alma sontak terbuka pada saat melihat tayangan yang menodai kedua bola matanya. Seorang aktor laki-laki dan perempuan tengah melakukan adegan seperti mereka siang tadi. Bedanya, mereka melakukannya dengan cara yang lebih terlatih. Tak seperti dirinya yang pasif.
“Astaghfirullahaladzim!” Alma refleks menutup mata pria yang sedang tertawa itu saat sang aktor mulai menuruni bibirnya ke bagian bawah.
Umar semakin tergelak melihat Alma kian panik. Aneh sekali pikirnya, padahal matanya sendiri yang butuh perlindungan. Tetapi kenapa kedua tangan wanita itu malah menutupi matanya?
Bersambung.
__ADS_1