Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Sangat-Sangat Kecewa


__ADS_3

105


Zara menggeliat pada pukul setengah enam pagi. Wanita itu mengerjap dan menatap ke sekelilingnya sebelum menyadari, sedang berada di mana dirinya sekarang.


Hampir saja Zara lupa karena nyawanya belum terkumpul sempurna. Dia sedang berada di rumah sakit setelah semalam mengalami pendarahan gara-gara capek dan stres berlebih.


Untungnya kedua janinnya baik-baik saja meski detak jantung mereka sempat melemah. Kini dia sedang dalam masa pemulihan. Harapannya, semoga anak-anaknya selalu baik-baik saja sampai saatnya mereka lahir ke dunia.


“Karena ketidaktahuan Mommy, kalian hampir saja celaka. Maafin Mommy, Nak ... Mommy baru belajar jadi seorang Ibu. Mudah-mudahan ke depannya Mommy lebih bisa dalam menjaga kalian. Terima kasih karena kalian sudah mau berjuang untuk selalu kuat, agar kita bisa selalu sama-sama.”


“Ray ke mana, Mam?” Dia langsung bertanya kepada Maminya yang tengah melipat sejadahnya. Ya, mereka semuanya kesiangan karena semalam tidur terlalu larut.


“Tadi Mami buka HP, Ray kirim pesan, dia lagi pergi ke kantor polisi. Katanya Mauza sudah ditemukan,” jawab Miranda mengabarkannya semilir angin segar. “Ray nggak pamit langsung, mungkin sengaja nggak mau membangunkan mu.”


“Terus gimana kabar Mauza sekarang, Mam?”


“Mami belum sempat menghubungi mereka lagi. Nanti Mami telepon agak siangan, ya?”


Zara mengangguk, hatinya begitu lega. Dia pun meminta tolong pada Mami untuk membantunya menuju ke kamar mandi. Membersihkan diri agar bisa menunaikan kewajiban.


Seperti apa yang dikatakan oleh Miranda, setelah hari beranjak siang, wanita itu menghubungi besannya untuk menanyakan bagaimana kabar Mauza sekarang yang ternyata sudah jauh lebih baik di bandingkan beberapa jam lalu. Di saat yang bersamaan, Ray juga kembali ke ruangan ini.


“By? Akhirnya kamu ke sini juga.” Zara tersenyum saat melihat Ray kembali di dekatnya. “Kamu belum ganti baju?”


“Belum, tapi masih wangi, kok.”


“Asem begini kamu bilang wangi,” kata Zara menutup hidungnya.


“Wangi, lho.” Ray mencium bau tubuhnya sendiri. “Rusak kayaknya hidungmu.”


“Sembarangan!” Zara cemberut. Tak hanya Rayyan, sepertinya hampir semua pria tidak akan mau mengakui dirinya bau tak sedap walaupun kenyataannya begitu. Menyebalkan sekali.

__ADS_1


“Jadi gimana perkembangan status Sammy, Ray? Apa dia sudah bisa dijadikan tersangka?” tanya Ruben.


“Belum apa-apa, Dad. Masih nunggu Mauza sampai dia bisa memberikan keterangan,” Ray menjawab. “Feeling ku sih, ini cuma salah paham aja. Nanti setelah Mauza bisa memberikan keterangan, misalkan memang benar tidak pernah terjadi apa-apa, pasti akan dilepas.”


Miranda pun mengangguk. Dia sudah mendengar semua penjelasannya barusan dari Vita bahwa Mauza tak mengalami kondisi pelecehan s*ksual atau semacamnya. Dia hanya sakit karena kehujanan terlalu lama. Tak ada tanda-tanda aneh di tubuhnya selain sudah berganti pakaian. Namun itu pun sudah ada yang mengkonfirmasi/mengakui bahwa perempuan itulah yang sudah menggantikan bajunya.


“Sudah, ya? Mami kan sudah pernah bilang sebelumnya, mulai sekarang aktivitasmu di kurangi. Kalau kamu memang benar-benar tetap ingin beraktivitas, nanti tunggu kandunganmu kuat dulu. Minimal empat bulan ke atas,” papar Miranda kepada anaknya, “kesehatan cucu Mami lebih penting dari apapun, apalagi kalian. Mami nggak peduli lagi.”


“Ya Allah, Mami. Teganya. Aku anak kandung Mami, lho,” Zara langsung mengemukakan unjuk rasanya pada saat posisinya sebagai anak kesayangan, sedikit-sedikit sudah mulai tergeser.


“Mulai sekarang nggak ada yang lebih penting daripada cucu, termasuk Mike sekalipun. Karena apa? Mereka adalah calon-calon pewaris Papi kamu. Mami wajib sekali menjaga mereka karena mereka adalah satu-satunya amanah atau kebaikan yang masih bisa Mami lakukan untuk beliau. Walau pun hal ini nggak akan pernah bisa menebus semua kesalahan Mami,” papar Miranda secara terang-terangan dan mereka memahaminya, “ngerti kamu, Nak?” tegasnya.


“Iya, ngerti ...” jawab Zara, kemudian wanita itu meraba-raba tempat tidur dan barang-barang di sekelilingnya yang masih bisa dia jangkau.


“Cari apa?” tanya Miranda kendatipun dia sudah tahu apa yang sedang Zara cari. Apalagi kalau bukan setan berbentuk gepeng itu?


“Hp aku mana?”


Nah, benar kan apa yang sedang dia cari?


“Kamu belum boleh pegang Hp dulu sampai bedrest selesai,” jelas Rayyan kepada sang istri.


Zara mengucapkan istighfar dan menarik napas dalam-dalam, “Aku punya banyak notif penting yang belum dibuka ....”


“Udah aku wakilin.”


“Emangnya dari siapa aja?”


“RHS.” (Rahasia)


“Sayang, jangan gitu dong. Aku ini punya banyak urusan dan tanggungjawab yang belum di selesein. Aku bisa kena maki orang nanti ... tolonglah plis, cuma lihat notif aja sebentar.”

__ADS_1


“Jangan khawatir, semua urusanmu sudah aku beres,” jawab Rayyan singkat dan terdengar ambigu di telinganya.


“Pada nyebelin banget sih ....”


“Kamu yang nyebelin, dibilangin susah banget,” sahut Miranda kelihatan sangat gemas. Setahun kemarin kayaknya udah sembuh, nggak ngeyelan, pikirnya. Tapi semenjak hamil, sekarang Zara jadi begini lagi. Overthinking an pula. Astaga.


♧♧♧


Beberapa hari kemudian, Sammy dibebaskan oleh polisi. Tentunya setelah Mauza sembuh dan sudah memberikannya keterangan yang sebenar-benarnya.


Kini dia sudah bisa menghirup udara bebas lagi di luar. Meski keadaan tak lagi sama. Di tangannya, sudah dia terima surat pemecatan resmi dari kantor, yang secara otomatis, harus angkat kaki saat ini juga.


“Aku udah jadi pengangguran sekarang, tapi nggak papa. Masih banyak tempat lain yang mau membuka pintunya untukku,” gumamnya. Kejadian singkat ini sudah mengajarinya banyak hal, agar dia bisa menjadi seorang pria yang lebih berkualitas dan tak lagi mempermainkan perasaan perempuan. Karena perempuan pun punya keluarga yang sudah mati-matian membahagiakan anak-anak mereka.


Sammy menuju ke ruangannya. Di sana, teman-teman mereka menatapnya iba pada saat dia memasukkan barang-barangnya ke dalam kardus untuk dia angkut pergi.


“Maaf, ya kalau selama ini gue ada salah ....” ucap Sammy kepada sahabat baiknya, Damar.


“Iya, gue juga, Sam. Maaf gue nggak bisa berbuat apa-apa sama elu. Gue cuma orang kecil, nggak punya kuasa apa-apa di sini,” kata Damar memeluknya dengan tulus.


“Paham,” ujar Sammy. Dia berkaca-kaca saat meninggalkan ruangan yang sudah setahun terakhir ini menjadi tempatnya mengais rezeki dan bisa bertemu dengan teman-teman baik. Dia bangga kepada dirinya sendiri karena sudah pernah menjadi bagian dari suksesnya seorang Zara. Salah satu wanita hebat yang pernah dia temui.


Sammy pun turun ke lantai satu. Di sana dia tak sengaja berpapasan dengan Zunaira yang entah datang dari mana. Wanita itu tak mengatakan apapun selain menunjukkan wajah yang sangat-sangat kecewa terhadapnya.


“Apa kamu sudah tahu semuanya?” tanya Sammy bertanya lebih dulu setelah sekian lama mereka saling pandang, “kalau belum ... akan aku beritahukan semuanya sekarang.”


“Selamat, kamu sudah berhasil membuatku kecewa.” Hanya itu saja yang Zunaira katakan sebelum gadis itu berlalu.


Dari kata-katanya, tampaknya Nai sudah mengetahui semuanya.


“Maafin aku, Nai!” serunya berharap di dengar oleh gadis itu.

__ADS_1


To be continued


Follow instagramku @ana_miauw. Mari berteman. Baca juga karya2ku yang lainnya ya. Banyak yang bikin kram perut salah satunya kisah siapa, hayo?


__ADS_2