
53
Kabar diterimanya Rayyan sontak disambut bahagia oleh keluarga Al Fatir. Semua orang di sana mengucapkan selamat kepada pria itu. Termasuk Umar yang kini mendekati kakaknya dan berbisik.
“Berhasil kan, rencanamu, Kak. Kubilang juga apa? Cewek emang sukanya dipaksa-paksa.”
Ray tak menanggapi. Sebab ajaran Umar tak ia gunakan seratus persen. Ini murni karena keberuntungannya dan mungkin sebuah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan untuknya. Agar ia bisa memperbaiki kesalahan yang pernah dibuat sebelum itu.
Ajaran Umar sungguh sesat. Dia tidak tahu bahwa ternyata adiknya tersebut adalah playboy yang sangat ulung. Umar sangat pintar mengelabui cewek mana pun yang dia sukai. Selain itu, dia juga kerap nongkrong dan keluar malam secara sembunyi-sembunyi.
Astaghfirullah. Ray bahkan pernah melihat video adik laki-lakinya itu main dan loncat-loncat di kelab yang diiringi dentuman musik DJ. Katanya sih, teman baik nggak bakal menolak ajakan teman. Tapi terlalu baik dalam hal gelap juga seram menurutnya. Masa iya di ajak ke tempat haram juga mau.
Biar pun Ray masih dalam keadaan amnesia, bukan berarti dia tidak tahu apa-apa. Jadi, mulai sekarang dia sudah tidak mau lagi dipengaruhi sama Umar. Sesat.
Umar belum tahu seperti apa galaknya Papa dan Om Alif. Kalau mereka tahu, habislah dia. Hehehe ... tapi tidak apa-apa. Setidaknya Ray sudah punya kartu merah. Dia bisa membongkarnya suatu saat kalau dirinya sedang terdesak.
“Jangan sampai ada yang kelewat ya, Za. Nanti belinya juga harus kualitas yang nomor satu. Ingat perempuan yang mau Kakakmu lamar itu bukan orang sembarangan,” kata Vita kepada putrinya yang sedang membantu mencatat barang-barang seserahan.
Bukannya menjawab iya, Mauza justru mengatakan dalil, “Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Tapi khusus untuk Kak Ray, dia akan dapat semuanya. Masyaallah deh, pokoknya.”
Jeda sesaat, Mauza kembali mengganggu Mamanya yang tengah sibuk membalas pesan seseorang, “Ini pestanya mau berapa malam, Ma?”
“Orang tuh biasanya tanya, mau akad di mana. Bukan malah tanya mau pesta berapa malam, Nak,” jawab Vita menoleh sejenak, “belum kita bicarakan. Nanti keputusannya sama Ibu Miranda. Beliau yang akan mengaturnya nanti.”
“Pasti mewah, masuk tipi.” Mauza mulai berkhayal andai dirinya di wawancarai oleh salah satu media. Dan secara otomatis, dunia juga akan mengenalnya.
“Kurang tahu juga, terserah mereka saja. Yang penting buat Mama ... akad kakakmu nanti lancar dan ini jadi pernikahan yang terakhir buat mereka. Jadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah....”
__ADS_1
“Aamiin....” jawab kedua anak gadisnya.
Sementara di tempat lain, Zara sedang berbicara dengan Sammy. Menyuruh teamnya untuk datang ke rumah karena ada hal yang barus mereka bicarakan.
“Maaf, aku mengganggu waktu kalian malam-malam seperti ini. Ya, tapi mau gimana lagi? Memang harus bicara sekarang, nggak bisa di tunda sampai besok. Mau ngomong di telepon juga takut kurang jelas.”
“Ada masalah apa, Zar?” tanya Sammy menduga-duga, “apa cara kerja kami belakangan kurang oke?”
Zara langsung menyanggah dugaan tersebut, dia tak suka bertele-tele, “Nggak, bukan itu. Aku mau lamaran besok sore.”
“Alhamdulillah....” ucap mereka bersamaan. Kelegaan juga terpancar dari wajah-wajah mereka. Setelah sekian lama, akhirnya mendengar kabar baik seperti ini. Sungguh menakjubkan. Namun ada pula yang sedikit sakit hati. Sammy, pemuda itu mempunyai sedikit ketertarikan kepada atasannya. Tapi hanya sebatas tertarik, menyadari siapa dirinya yang hanya berasal dari kalangan orang biasa.
“Acaranya mau di adakan di mana?” tanya seorang editornya, bernama Damar.
“Nah itu yang mau aku bahas sama kalian. Aku mau mengadakan acara di rumah, sudah pasti repot. Sedangkan Mami aku masih di rawat di rumah sakit. Belum bisa ngapa-ngapain.”
“Ya, kurang lebih seperti itu,” jawab Zara, “tapi tolong usahakan jangan sampai bocor ke publik. Untuk acara lamaran ini, cukup keluarga besar atau orang-orang terdekat aja yang tahu.”
“Konsep seperti apa yang kamu mau, Zar?” tanya Sammy.
“Sederhana aja. Untuk dokumentasinya aku serahin ke kamu semuanya.”
Walaupun tidak disebarkan, keluarga juga pasti ingin menyimpan momen ini, pikir Zara.
“Sederhana kata kamu, beda sama kita, Zar,” kata Sammy membuat mereka semua terkekeh. “Aku yakin pasti nggak sesimpel yang kita pikirkan.”
“Nanti aku kirim konsepnya seperti apa,” kata Zara akhirnya membuat keputusan.
__ADS_1
“Untuk seragamnya gimana, Zara?” sahut Andini bertanya.
“Aku dah bilang tadi sama ... Rayyan. Pakai kostum warna putih biar masuk ke konsep backdrop apa aja.”
“Ciye ... jadinya sama Ustaz Rayyan, uhuyy! Clebek alias cinta lama bersemi kembali,” mereka semua bersorak untuk mengolok atasannya. Huh, berani-beraninya.
“Kalian bikin aku nyesel ngomong jujur,” sesal Zara.
“Nggak masalah. Toh, akhirnya kita akan tahu juga,” sahut Sammy, “untuk MC kamu percayakan sama siapa?”
“Belle Zahir aja. Dia bisa, kok.”
Belle Zahir adalah orang kepercayaannya di Zara.co.
“Ya sudah, kalau begitu,” Sammy menyetujui, “Apa ada kerabat penting atau teman yang ingin kamu undang?”
“Temanku makan teman. Jadi aku nggak punya teman lagi.”
“Ya ampun....” Sammy geleng-geleng kepala meski tak paham teman siapa yang Zara maksud.
Namun baru saja Zara membahas soal teman, orang yang dimaksud malah bertandang ke rumah dan tahu-tahu sudah ada di depan mereka. Entah sejak kapan.
“Zar, kamu dihubungin berkali-kali kok nggak diangkat?” tanya perempuan itu. Dia sudah leluasa di rumah ini karena sudah sangat sering datang. “Kamu lagi sibuk banget, ya? Aku denger Mami kamu masuk ke RS. Makanya aku ke sini.”
▪▪▪
Bersaambung
__ADS_1