
Bab 6.
Zara turun setelah ia sampai di depan rumahnya. Dia pun kembali mengucapkan terima kasihnya karena kembali di selamatkan oleh lelaki ini.
Sesampainya di dalam rumah, dia mencium harum dari jaket yang dikenakan. Wanginya sama seperti tubuh laki-laki itu. Fantasinya cukup liar ketika membayangkan bukan jaket ini yang dia peluk—melainkan tubuh seksinya. Kekar, tetapi tidak terlalu berlebihan dan sesuai porsinya. Wajahnya putih bersih dan memiliki sedikit cambang di dagunya. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi juga tidak terlalu pendek. Bola matanya agak coklat kehitaman, hidungnya mancung. Dan apabila tersenyum, giginya terlihat putih dan tertata rapi.
“Apa dia sudah memiliki pasangan?” gumam Zara tiba-tiba memikirkan perkataan Grace semalam yang memperingatkannya agar dia tak terlalu gampangan dalam melabuhkan hati, “benar juga apa kata Grace. Lagi pula mana mungkin pria setampan dia seorang jomlo. Kecuali kalau dia belok seperti Grace.”
Ponsel berdering menghentikan lamunannya. Ternyata dari orang yang baru saja di ceritakan kejelekannya. Malas mengangkat bunyi telepon, dia pun membalas dengan chat saja.
Zara: ada apa? Kamu mau mengingatkan jadwalku bukan? Aku masih ingat hari ini harus ke mana. Jadi nggak usah wara-wiri diingatin. Memangnya aku nenek-nenek linglung.
Grace: syukurlah kalau kamu masih ingat. Tapi, kenapa mobilmu kau tinggal?
Grace bertanya demikian karena beberapa saat yang lalu wanita ini menyuruhnya.
Zara: aku pulang sama Rayyan.
Grace: oh, ya ampun. Kamu modus ya! (Grace membubuhkan emoticon tepuk kepala).
Zara: nggak, dong. Aku diantar pulang karena aku butuh perlindungan.
Grace: perlindungan gimana?
Zara: ah, hanya masalah kecil, kok. Kamu nggak perlu khawatir. Aku baik-baik saja.
Grace: yakin?
Zara: sangat yakin.
Grace: ya, sudah. Aku nggak bisa jemput atau ambil mobilmu sekarang juga. Soalnya aku masih punya banyak urusan. Jadi sebelum jam satu nanti, kamu pesan taksi saja ke lokasi pemotretan. Soalnya kamu harus make up dulu dan itu nggak sebentar. Jangan sampai telat makan dan jangan sampai minum kopi dulu supaya maag kamu juga nggak kambuh.
__ADS_1
Zara: telat, aku sudah minum kopi satu gelas.
Grace: Nggak papa, katanya kamu pengen cepat mati. Ya, sudah, lanjutkan! Jangan tanggung-tanggung minumnya. Kalau Cuma pingsan kayak kemarin soalnya ngerepotin orang. Terutama aku.
Zara: baiklah. Mulai besok, kamu siap-siap mulai cari kerja sama artis lain. Biar pas aku koit kamu sudah dapat penggantinya.
Grace: vangke! (emoticon kesal).
Siang itu, Zara melakukan pekerjaannya dengan wajah yang lebih bahagia. Mood-nya sangat bagus sehingga pemotretan hari ini berjalan sangat maksimal.
“Hanya butuh beberapa jepretan saja aku sudah mendapatkan hasil yang aku inginkan,” ujar Sang fotografer.
Grace menyahuti, “Ya, memang besar sekali pengaruh orang jatuh cinta.”
“Oh, ya?” pria yang memegangi kamera ini melebarkan mata, ikut bahagia mendengar gadis ini akhirnya mempunyai tambatan hati di usianya yang sudah cukup matang, “apa artismu sudah mempunyai pacar?”
“Bohong!” jawab Zara segera, “kami hanya sekadar teman dan baru bertemu dua kali. Tapi Grace malah menganggapku sudah jatuh cinta.”
“Tapi jaga di anggap tabu. Cinta pada pandangan pertama itu memang ada, lho. Contohnya aku,” kata fotografer lagi.
“Bukan cukup tahu, tapi memang sok tahu,” kata Zara menanggapi pernyataan Grace.
“Spill dong siapa sosoknya!” pinta fotografer.
“Jangan, nanti jadi gosip!” ketus Zara menarik Grace dan memintanya untuk melepaskan kostum yang sudah selesai dipakai.
🌺🌺🌺
Pekerjaan Zara sudah selesai, kali ini Grace yang mengantarnya sampai di depan rumah demi menghindari kejadian seperti kemarin lagi. Gadis itu langsung beristirahat selama beberapa saat untuk mengurai rasa lelah yang menghinggapinya.
Malamnya, dia menuju ke dapur untuk mencari bahan makanan. Di sana, dia mendapati asisten rumah tangganya sedang memasukkan pakaian kotor yang tadi baru saja dipakainya, berikut jaket milik Rayyan.
__ADS_1
“Ini jaket siapa sih, Non?” tanya beliau terdengar sangat penasaran, “pasti milik pacar baru Non Zara, ya?”
“Bukan, Bi. Hanya teman saja,” jawab Zara sembari menyalakan kompor. Dan kali ini, dia memasak sendiri karena orang tua ini tak bisa memasak makanan yang sedang diinginkannya. Demikian tak ada masalah baginya karena dia pun senang berada di depan alat-alat seperti ini. Karena baginya, berkutat di dapur adalah aktivitas yang wajib dikuasai setiap wanita setinggi apa pun derajatnya, demi keberlangsungan rumah tangga mereka.
“Bilang temen-temen, biasanya lama-lama jadi demen,” celetuk Bibi lagi.
“Andai benar begitu, mudah-mudahan dia memang belum ada yang punya.”
Bibi mengaminkan, karena itu juga yang beliau harapkan selama ini dan apa pun yang terbaik baginya.
Usai Zara mengangkat masakannya dan meletakkannya ke atas piring, Zara pun membawanya ke atas meja mini yang ada di depan kompor tersebut. Disusul oleh Bi Yati yang juga duduk di depannya seperti hendak menyampaikan sesuatu. Terbaca dari gelagat wanita tua tersebut.
Dengan percaya diri, Zara pun mulai menyantap makanannya tanpa ragu di depan orang yang tengah berpuasa. Dia sendiri tak pernah berpuasa. Bukan tak mau, tetapi tidak paham bahwa perintah ini wajib dilakukan bagi semua orang yang beragama Muslim.
“Tadi siang Mami ke sini,” ujar Bibi setelah satu suapan baru saja masuk ke dalam kerongkongan. Zara sontak terkesiap dan menghentikan suapan maupun kunyahannya barusan.
“Ngapain Mami ke sini?” Zara bertanya dengan dada yang naik turun menahan rasa kesal yang mendera dalam relung hati setiap membahas orang tua tidak bertanggungjawab nya itu.
“Mau ketemu sama Non, tapi Nonnya nggak ada.”
“Jadi?” ujar Zara meminta beliau untuk menjelaskannya lebih lanjut.
“Mami hanya pesan, besok adik ulang tahun. Jadi Non di suruh ke sana untuk menghadiri acara syukuran kecil-kecilan sekaligus buka puasa bersama.”
“Giliran ulang tahun aku nggak pernah mereka ingat,” kata Zara terlihat risau dan mendadak tak enak makan karena terlihat dibedakan oleh Maminya secara terang-terangan, padahal dia sama-sama anak kandungnya juga. “Jangankan ingat ulang tahun aku, sakit sampai mau mati saja nggak ditengok. Aku mau makan apa, kek, mereka nggak pernah peduli.” Beberapa bulir air matanya jatuh seketika itu juga yang langsung di usap dengan punggung tangan. Tetapi detik berikutnya, dia menegakkan kepalanya lagi dan berusaha menghalau air mata yang akan terjatuh selanjutnya. Aku tidak boleh terlihat lemah, batinnya sembari memaksakan senyum. Senyum yang mengandung banyak sekali masalah dan tekanan.
“Seng sabar ya, Non ... Bibi Cuma bisa menyampaikan, nggak bisa berbuat apa-apa.”
Zara menatap ke bawah dan mengaduk-aduk makanannya karena tak lagi berselera. Bibi Yati jadi merasa bersalah dan tidak enak karena seharusnya dia tak mengatakannya sekarang. Padahal mungkin, majikannya tersebut sedang sangat keroncongan—tetapi, dia malah membahas masalah sensitif seperti ini.
“Maaf ya, Non. Tapi kalau nggak Bibi sampaikan sekarang, Bibi takutnya nanti malah lupa.” Beliau sering seperti ini dan tidak mau mengulang lagi.
__ADS_1
“Ya, nggak papa, Bi. Lebih bagus begitu,” kata Zara menatap kosong dan menerawang jauh ke masa lampau—saat keluarganya hancur semenjak Papi dinyatakan meninggal terkena serangan jantung, kemudian Maminya menikah lagi dengan pria yang di duga selingkuhannya. Terlebih perusahaan peninggalan papinya itu kini dikuasai oleh ayah tirinya dan membuat hidupnya jadi pontang-panting. Zara mencari semuanya sendiri tanpa kepedulian mereka.
Ya, semuanya sudah berubah!