
Bab 20.
Zara tercenung selama beberapa saat untuk mempertimbangkan ajakan Vita barusan. Dia bingung karena merasa tak mempunyai urusan dengan wanita ini. Bahkan, ini adalah kali pertamanya mereka berinteraksi karena sebelumnya hanya sekadar mengenal saja.
“Maaf, Zara. Ini kalau kamu bersedia saja. Kita bisa bincang lain waktu kalau kamu sedang sibuk atau terburu-buru,” kata Vita lagi.
“Baiklah, aku punya waktu, Tante. Tapi hanya lima belas menit,” ujar Zara akhirnya memutuskan.
Vita bersilang pandang dengan suaminya, “Mas, aku izin sebentar, ya. Kamu ke sana sendiri tidak apa-apa?”
“Ya, sudah. Bicaralah kalian.” Yudha melangkah sendiri ke pemakaman anak pertamanya. Kunjungan ini biasa dilakukannya setiap beberapa bulan sekali jika memang mereka sedang sempat.
Vita dan Zara menepi ke sebuah warung makan yang ada di pinggiran TPU. Memesan makan dan minum walau hanya sekadar mengobrol agar Si Penjual merasa senang. Sempat beberapa orang mendekat dan mengajaknya berfoto, namun Zara menolaknya dengan santun.
“Seperti ini, ya, risiko jadi orang terkenal. Tante jadi tahu seorang Zara itu tidak bisa tenang kalau duduk di sembarang tempat,” ujar Vita setelah suasana sudah mulai kondusif, “apa barang kali Nak Zara kurang nyaman duduk di sini? Kita bisa pindah ke tempat lain.”
“Nggak perlu Tante. Di sini saja,” jawab Zara tak kalah ramah.
“Zara ke sini datang sendiri?”
“Iya, Tante. Usai akad tadi, tiba-tiba Zara kangen sama Papi. Tapi berhubung masih ada tamu di rumah, jadi suamiku nggak ikut. Nggak papa, sudah biasa.” Zara beralasan untuk menutupi kejadian yang sebenarnya.
"Hanya akad saja atau mau mengadakan resepsi?"
"Hanya akad saja, Tante. Kebetulan nggak mau banyak orang yang tahu."
Vita mengangguk mengerti. Memahami bahwa setiap orang punya kehidupan yang kadang, tidak ingin orang mempubikasikannya. Seperti anaknya sendiri.
“Seperti apa kata Tante tadi ... ada yang ingin Tante tanyakan.”
“Mengenai apa, ya, Tante?”
“Mengenai anak saya. Rayyan.”
__ADS_1
Muka Zara langsung berubah. Dia tak nyaman saat ditanya tentang nama itu. Benar dugaannya. Ternyata beliau akan membahas masalah anaknya yang bukan urusannya sama sekali.
Kenapa semua orang menyebalkan? Bahkan dia membahas hal sensitif ini di saat semua sudah terjadi dan telah mempunyai pasangannya sahnya masing-masing.
“Kalau untuk itu, maaf Tante. Aku no komen.”
Vita menahan Zara yang hendak beranjak berdiri, “Zara!” membuat Zara kembali duduk di tempatnya.
“Tante ... aku nggak ada urusannya sama anak Tante. Kita hanya sebatas murid dan seorang guru. Itu pun bukan aku yang meminta untuk diajarkan, aku nggak pernah memilih. Mami aku yang mengundangnya datang ke rumah. Di sana pun kami nggak hanya berduaan, ada banyak orang lain karena kajian itu dilakukan pada saat Bulan Ramadan,” papar Zara menjelaskan yang sebenarnya karena tak ingin terjadi sebuah kesalahpahaman yang dapat berbuntut panjang.
Hening. Keduanya terdiam selama beberapa lama menyelami pikiran masing-masing. Sebelum akhirnya, Vita mengatakan sesuatu yang paling menghancurkan dinding-dinding pertahanan Zara.
“Tante baru tahu belakangan bahwa anakku mencintaimu."
Deg!
Tatapan Zara semakin sulit dimaknai. Berubah-ubah. Sebab banyak hal menimpa pikirannya.
"Ya, dia mencintaimu. Itu sebabnya dia tak lebih bahagia dengan istrinya sekarang. Demikian dari kaca mata seorang ibu. Mungkin dia baru sadar saat semua sudah terlanjur.”
Vita membuka tas. Mengeluarkan beberapa lembar foto dirinya yang menggunakan hijab. Zara teringat, foto ini di ambil pada saat sebelum memasuki Bulan Ramadan. Yakni pemotretan untuk mengiklankan produk Muslimah terbaru kala itu.
“Tante tak sengaja menemukan semua ini di dalam laci kamarnya beserta catatan-catatan penting.”
Zara menerimanya dan melihatnya satu-persatu. Ya, Tuhan. Betapa bodohnya laki-laki ini. Apa jadinya jika Hamidah tahu suaminya menyimpan foto-foto perempuan lain di dalam kamarnya? Tak berpikirkah Rayyan dampak dari perbuatan bodohnya tersebut bisa mengguncang dunianya?
“Zara ... ini tidak pernah dilakukannya pada gadis lain. Seorang Ibu lebih mengenal siapa anaknya di banding dirinya sendiri. Dia mempunyai perasaan lebih denganmu, Nak.”
“Lantas apa keuntungannya buat aku, Tante?” tanya Zara begitu Vita selesai bicara, “nggak ada. Justru dengan Tante berbicara seperti ini—hanya akan menambah masalah dalam hidup kami. Kami sudah mempunyai pasangan masing-masing.”
“Tante hanya bingung, kalau kalian saling mencintai, kenapa harus berbohong? Kenapa saling menyembunyikan? Bukankah andai jujur itu lebih baik. Semua sudah terlanjur sekarang.
"Tante memang sempat tidak setuju jika putraku mempunyai hubungan denganmu karena berita itu. Tapi sebagai orang tua, kami pun tak pernah memaksakan kehendak anak-anak kami jika menurut dirinya ... itu yang terbaik.”
__ADS_1
“Tante pikir aku suka sama anak Tante? Nggak Tante. Nggak,” elak Zara tak pandai berbohong. Jika semua orang tahu, dia pernah melakukan percobaan bunuh diri karenanya—dia pasti akan sangat dipermalukan.
“Zara ... dengan gesture tubuhmu yang emosional saat membahas anakku—itu sudah membuktikan bahwa kamu juga punya perasaan yang sama.”
Zara semakin tergugu, “Nggak, aku hanya wanita rendahan yang nggak pantas dikenal oleh laki-laki suci seperti Ustaz Rayyan....”
“Zara?” ucap Vita menghentikan bicara gadis ini, “apa Rayyan yang mengatakannya?”
“Tanyain aja sama dia Tante. Aku takut salah bicara.”
“Jika memang benar seperti itu, tolong maafkan kesombongan putraku, Nak Zara. Walau pun Ray seorang penceramah yang sering dipanggil Ustaz oleh orang-orang yang menganggapnya demikian, dia tetaplah anak muda pada umumnya yang masih tinggi sikap egonya. Dia masih dalam tahap memperbaiki diri.”
Zara terdiam mengusap matanya.
“Mungkin dia hanya emosi sesaat, apalagi setelah mendengar kabar berita terbarumu waktu itu di berbagai media. Tante juga minta maaf karena pada saat itu, sempat termakan berita yang beredar. Tante menyesal dan merasa bersalah setelah tahu kebenarannya.”
“Dia nggak ada hak untuk marah karena kami memang nggak ada hubungan apa-apa. Bahkan kami dekat pun, aku tahu dia sudah punya calon istri,” balas Zara menjedanya sesaat, “sudah nggak papa Tante. Semua sudah berlalu. Kami sudah bahagia dengan pasangan masing-masing. Sebaiknya tutup saja rapat-rapat apa yang kita tahu sekarang ini, aku nggak mau Hamidah sampai tahu dan ini bisa menyakiti hatinya....” Zara nampak tersenyum dengan tulus. Dari sini, Vita bisa mengenali baik hatinya meski gaya bicaranya dinilai cukup tegas dan cenderung apa adanya.
“Masyaallah, ternyata kamu nggak seburuk yang diberitakan media. Kamu punya ruang hati yang lebih besar untuk memaafkan seseorang,” puji Vita tersenyum.
“Karena aku mencintainya, Tante. Aku juga nggak sebaik yang kamu pikirkan. Karena sampai sekarang, aku belum bisa memaafkan mami aku sendiri.”
“Memang benar apa kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Perangai seseorang tidak akan bisa kita ketahui bila belum kenal dekat.” Vita menggenggam tangan gadis cantik ini, “Terima kasih sudah mau memberikan waktumu untuk bincang denganku. Dengan seperti ini, Tante jadi tahu sebenarnya kamu seperti apa,” dan kenapa anakku bisa jatuh cinta denganmu, lanjutnya dalam hati.
“Sama-sama Tante. Aku juga minta maaf kalau ada cara bicaraku yang kurang berkenan di hati Tante.”
Vita mengangguk, keduanya berebut untuk membayar minuman. Hingga akhirnya Zara yang mengalah terhadap orang tua ini. Keduanya bersalaman dan berpelukan sebelum akhirnya berpisah menuju ke mobil masing-masing. Tapi yang membuatnya terkejut—dia melihat Fasad yang ternyata sudah berada di dalam sana.
“Hah, kenapa kamu bisa sampai di sini? Terus udah masuk ke mobil? Pakai apa?” tanyanya memberondong.
“Kamu selalu meninggalkan kunci mobilmu, ponselmu, tasmu, dan semua uangmu di dalam mobil, Ceroboh!”
“Kenapa kamu selalu ada di mana-mana?”
__ADS_1
“Itu nggak penting. Yang penting sekarang kamu pulang. Berkas harus cepat di tanda tangani supaya cepat bisa diproses.”
Bersambung.