Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Pengakuan Si Eks


__ADS_3

Zara meninggalkan Zara.co. setelah semua urusannya selesai. Mulai dari tinjau laporan sampai mengatur pemutusan kerjasama yang rencananya akan diwakilkan oleh Belle Zahir.


Zara sedang tidak ingin bertemu dengan orang itu langsung dalam waktu dekat ini, sebab rasa sebal terhadapnya jelas masih ada, dan dia termasuk orang yang tidak terlalu bisa menyembunyikan kemarahannya apalagi berpura-pura. Itulah mengapa sebabnya ia memilih untuk menghindar.


Zara membahas sisa-sisa pekerjaannya di telepon karena tak enak hati dengan Rayyan yang sudah menunggu terlalu lama di sana. Biar bagaimana pun, Ray juga sama-sama mempunyai banyak urusan setelah ingatannya kembali. Terutama tentang pekerjaannya yang tentu saja adalah harga diri sebagai seorang laki-laki.


“Mulai saat ini produksi dihentikan dan akan dialihkan ke pabrik lain,” kata Zara kepada Andrea; manajer yang bertugas di bagian pergudangan atau stok barang.


“Meski dengan risiko, kurangnya pemasukan karena gudang sudah semakin kosong?” Andrea terdengar memperjelas.


“Maaf, Ndre. Tapi kami sedang mengalami masalah internal, jadi tolong harap maklum.”


“Nggak begitu, Bu. Seharusnya seorang pemimpin seperti Anda harus profesional. Jangan campur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Kan itu, yang sering Anda gaungkan setiap kali kita melakukan briefing,” cetus Andrea beranggapan lain. Sebab menurutnya, tak ada masalah yang serius di perusahaan tempatnya bekerja selama ini. Semuanya lancar jaya. Entah bagaimana nanti setelah kerjasama diputus satu pihak gara-gara masalah pribadi.


“Kok, jadi kamu yang ngatur saya?” tanya Zara tak habis pikir, “terserah saya dong, mau mutus kerjasama atau tutup sekalipun. Saya nggak merugikan kamu, kok. Memangnya pabrik printing di dunia ini hanya Ibu Cici saja?” akhirnya Zara lepas kendali karena Andrea telah bersikap melebihi batasnya.


“Maaf sebelumnya kalau ada kata-kata saya yang kurang berkenan, Bu.”


Ray yang tengah mengemudi lantas berujar sembari mengusap-usap punggungnya, “Sssttt ... sabar.”


Zara hanya menatap sekilas masih dengan raut amarahnya. “Semua udah jelas, ya. Kalau ada yang belum kamu pahami, silahkan lakukan rapat! Diskusikan sama Belle dan manajer keuangan. Mereka sudah tahu apa yang saya mau. Kalau kamu tidak suka, silakan keluar!”


“Sekali lagi saya minta maaf, Bu.” Andrea, bawahan yang selalu menentang itu akhirnya terdengar merendah dan mengalah.


“Nggak papa, jangan seperti itu lagi, Ndre.”


Zara memutus sambungan telepon, dia menoleh sekilas dan menunduk malu karena untuk pertama kalinya, dia kedapatan sedang meluap-luap seperti ini.


“Maaf ....” hanya itu yang mampu Zara katakan. Sebelum kemudian memejamkan matanya untuk menenangkan diri.


Sesampainya di rumah Zara, Ray memutar mobilnya kembali. Dia hanya drop istrinya saja karena harus mengambil beberapa barang miliknya yang ada di rumah Mama mau pun di apartemen.


“Bisa beresin semuanya sendiri?” tanya Zara melongok kan kepalanya di kaca mobil, “mau ditemenin, nggak?”

__ADS_1


“Nggak usah, aku bisa sendiri. Paling hanya mengambil beberapa yang barang yang menurutku penting.”


“Ya udah, ati-ati, ya. Jangan ngebut-ngebut, ingat baru sembuh amnesia.”


Rayyan tersenyum, Zara memang suka sekali menyakatnya.


Zara masuk ke dalam rumah setelah mobil yang Ray naiki melesat meninggalkan pelataran. Di sana, Mike sedang tiduran di ruang tamu. Tampaknya sedang bermain game seperti biasa.


“Mike? Oh Mike?” Zara menggodanya dengan menyandarkan kepalanya ke bahu anak itu.


“Awas ah, nggak temen sama kamu,” cebiknya memalingkan muka.


“Kita kan, kakak adek. Jadi saudaraan, dong. Bukan temenan.”


“Aku lagi main, jangan diganggu.”


“Terus kapan boleh ganggunya? Orang kamu mainan terus.” Zara menegakkan dagu double chin Mike yang disembunyikan karena malu dan gengsi padanya.


“Sana, Kakak sama Om-Om itu aja. Jangan sama aku!” ketusnya.


“Itu, Om yang peluk-peluk sama cium Kakak kemarin,” Mike memperjelas.


“Eh, bukan Om-Om. Sekarang kamu manggilnya Kak Rayyan. Dia itu iparnya Mike, suami kakakmu, gimana, sih.”


“Nggak mau, ah,” tolak Mike lucu.


“Ciye, ada yang cemburu, ciyeee.....” Zara mengacungkan jarinya ke wajah Mike sehingga bocah itu semakin berang.


“Enggaaaakkk!” seru Mike dengan nada memanjang, “Mike bilang enggak ya, enggak! Jangan ledekin terus, Aku lempar HP nya nih!” dia mengancam melempar ponsel miliknya sendiri.


“Lempar aja. Itu HP milik siapa?”


“Hu'uhhh!” Mike masih saja bersungut-sungut. Namun sesaat kemudian dia baru menyadari, rugi banget kalau lempar benda yang ada di tangannya sekarang. Besok-besok, nggak bisa main lagi, dong.

__ADS_1


“Ya, udah, deh. Nggak jadi lempar,” kata Mike akhirnya, “udah sana kamu pergi!” Mike mengusir Zara yang terus-terusan senyum mengejek.


Sembari menunggu Ray kembali ke sini, Zara terus menggoda Mike agar dia kembali ceria seperti biasanya.


Nyatanya, pendekatannya berhasil. Interaksi keduanya lama-lama semakin mencair. Mike sudah tertawa lagi, sudah mau merangkulnya lagi, menciumnya, bahkan minta di gendong. Nggak mikir tubuhnya segede molen penggiling cor-coran semen.


Namun pada saat hari menjelang siang, ada suatu hal yang membuatnya sangat terusik dan kian membuat kepalanya semakin pening. Seseorang tak dikenal mengirimkan direct message berupa link berita dengan judul, “HUBUNGAN KAMI DI UJI DENGAN ORANG KE TIGA”.


Yang baru saja ia ketahui, ternyata tengah trending di aplikasi media sosial bergambar burung warna biru. Gara-gara sibuk, aku jadi kurang update dari kemarin.


Seorang yang mengaku bekas istri Ustaz berinisial REA, secara tidak langsung menyatakan bahwa Zara adalah penyebab utama rusaknya rumah tangga mereka dan merebut REA yang sekarang sudah menjadi suaminya.


“Kami berpisah sekitar kurang lebih enam bulan lalu. Memang benar saya yang menggugatnya di pengadilan. Tapi sayangnya, tidak ada itikad baik dari beliau sendiri, yang saya harapkan bisa mengambil langkah untuk tetap memperjuangkan saya atau memperbaiki hubungan kami,” ujar wanita tersebut dalam sebuah wawancara.


“Mungkin dia masih mencintai seseorang yang hadir di tengah-tengah kami, bahkan di saat kami sudah merencanakan pernikahan. Kalian bisa selidiki melalui jejak digital. Sekali lagi, omongan saya bisa di pegang,” katanya lagi.


Wanita yang Zara kenal Hamidah juga mengatakan bahwa dia meragukan sakit amnesia yang selama ini REA derita.


“Saya memang meragukannya (bahwa beliau pura-pura amnesia), tapi saya berusaha yakin kalau mantan suami saya nggak seburuk itu. Ya, mudah-mudahan dugaan saya salah.”


Pada saat ditanya apa sebabnya, Hamidah kembali menjawab, “Kalau disambung-sambungkan tentu saja akan nyambung. Pasti ada alasannya kenapa dia harus pura-pura. Saya rasa kalian bisa menilainya sendiri. Tapi sekali lagi, itu hanya sebatas dugaan saya saja, saya tidak bisa mengatakan bahwasannya ini memang benar adanya. Dan saya minta maaf untuk itu.”


Terakhir, dia juga menyinggung tentang pernikahan bagaimana mereka saat ini, “Mewah. Nggak seperti saat menikah dengan saya dulu yang apa adanya dan terkesan disembunyikan. Dulu kami hanya melakukan akad saja di sebuah masjid.”


Saat ditanyakan, apa pendapat dia setelah mantan suaminya itu menikah dengan Zara, Hamidah hanya mengatupkan tangan karena tidak bisa berkomentar lebih banyak lagi. Padahal demikian pun sudah sangat melukai hati Zara saat ini sehingga wanita itu merasa sakit hati dan kecewa.


Sesungguhnya tak ada niatan Zara untuk merebut Ray dari perempuan itu. Tapi, dia cukup kesulitan untuk menjelaskannya.


Kenapa dan bagaimana Ray mencintainya, itu suatu hal yang tidak ia ketahui. Karena baginya, cinta tak pernah bisa dipaksakan.


“Kami sudah menutup pandangan, bahkan pernah memberi ruang dan jarak waktu yang sangat jauh sampai nggak pernah berangan lagi. Tuhanlah yang kembali mempertemukan kami, Hamidah....”


Lantas apakah Hamidah juga akan bertanya kepada Tuhan, kenapa semua ini bisa terjadi?

__ADS_1


Ya, kalau bisa lakukanlah!


__ADS_2