Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Tidak Ada Maksud Apapun


__ADS_3

167


Alma memasukkan pakaian kotornya dan milik Umar serta ke mesin cuci. Menambahkan deterjen, pengharum pakaian, kemudian mengoperasikan nya sesuai petunjuk penggunaan. Peluh membasahi pipinya yang memerah. Telah banyak yang dia kerjakan pagi ini setelah Umar pergi.


Baru saja mesin melakukan tugasnya, bel pintu berbunyi nyaring.


“Siapa yang bertamu pagi-pagi, ya?”


Alma menuju ke depan setelah memakai Khimar nya. Dia dibuat terkejut saat mengetahui siapa yang datang. “Oh, Kak Zara? Aku kira siapa. Makanya buka pintunya agak lama.”


Wanita itu berjalan mendekatinya. Ternyata tak sendiri, ada Rayyan dan juga beberapa orang lain yang menggunakan di mobil lain di belakangnya.


“Maaf datang ke sini nggak berkabar dulu,” ujarnya saat keduanya bersalaman.


“Oh iya nggak papa, lagian ini rumah kalian juga.”


“Lho, ini udah jadi rumah kalian. Umar udah kasih DP kemarin. Iya kan, By?”


Yang ditanya hanya mengangguk.


“Kok dari kemarin Abang nggak bilang apa-apa?”


Alma mengajak keduanya untuk masuk ke dalam. Di sana, Zara bertemu dengan Bi Yati yang langsung menghambur ke arahnya. Memeluknya sambil menangis haru.


“Sudah lama nggak ketemu ya, Non. Walah, dah gede aja ini jabang bayinya.” wanita paruh baya tersebut mengusap perutnya.


“Iya, ini sebentar lagi. Doain apapun prosesnya semoga lancar, ya?” Wanita itu berkata demikian karena menurut pemeriksaan dokter, dia tak bisa melahirkan normal.


“Pasti, Non,” jawab Bi Yati. Wanita itu tak berlama-lama membiarkan Zara berdiri. Beliau mempersilakan duduk, tapi hanya Zara dan Alma saja karena Rayyan menuju ke tempat lain untuk melihat-lihat kedalaman isi rumah.


“Rumahnya nyaman sekali,” gumam Rayyan. Pria itu tersenyum membayangkan seandainya dia bisa tinggal di rumahnya sendiri yang tak terlalu besar seperti milik ibu mertuanya. Tapi hanya di huni oleh mereka berdua dan anak-anaknya saja. Namun, dia tidak boleh egois. Zara tak bisa meninggalkan Maminya keluar dari rumah itu meskipun dirinya sangat ingin.


Sementara itu di ruang tamu, kedua wanita sedang fokus mengobrol.


“Sengaja dari rumah, Kak?”


“Tadinya mau ke kantor, tapi aku malah kepikiran kalau aku masih punya banyak barang di sini yang belum diangkut. Nanti ada yang mengurusnya, harus di kemanain barang-barang itu, mau di jual lagi, dikasih ke orang atau di buang? Entahlah terserah mereka,” papar Zara mengutarakan maksudnya.


“Oh, gitu?” Alma menanggapi.


“Jadi aku langsung suruh mereka masuk aja, ya?”


“Silakan, Kak. Monggo.”


Empat orang masuk. Zara meminta Bi Yati untuk menunjukkan tempatnya. Dua kamar di atas mulai di kosongkan.

__ADS_1


“Jadi rumah ini udah di DP, Kak?” Alma ingin mengetahui tentang hal ini lebih lanjut.


“Iya, kemarin ngasih 400 ke aku,” jawab Zara. “Emangnya belum bilang ke kamu, Al?”


“'Belum. Abang belum cerita apapun. Makanya aku pengen tahu dari Kak Zara langsung.”


“Mungkin belum saatnya kali, Al. Atau dia emang sengaja nggak ngasih tahu kamu supaya kamu nggak merasa terbebani.”


Kemudian Zara menceritakan, sebenarnya dia masih sayang melepas rumah ini ke tangan orang lain. Tetapi mengingat Umar adalah adik iparnya maka akhirnya dia berikan. “Lagipula kalau dibiarin kosong juga mubazir. Kata PakSu, ya udahlah kasih aja.”


“Apa Abang masih tersinggung sama ucapan aku kemarin? Kok dia buru-buru DP? Katanya dananya belum ada.”


“Kalau boleh tahu, berapa kekurangan belum dibayar, Kak?” Alma bertanya lagi.


“Satu koma enam,” jawab Zara, “sebenarnya lebih dari itu, karena rumah ini aku lepas sama isi-isinya. Apalagi, di sini daerah yang lumayan elite. Tapi karena kalian adikku, dan aku nggak bisa itung-itungan sama saudara, jadi sekian harga yang kami sepakati.”


Sebenarnya Alma sedikit terkejut mendengar nominal tersebut, tetapi ia berusaha untuk tak menunjukkannya.


“Emm, begini, Kak. Kebetulan aku punya uang simpanan. Jadi mungkin aku bisa sedikit meringankan Umar. Tolong kasih aku nomor rekening bank yang bisa aku transfer ya, Kak.”


“Eh, jangan Al. Kalian harus bicara dulu,” ucap Zara kurang setuju.


“Aku cuma ingin bantu Abang, kasih dia surprise.”


“Tapi nggak bisa, Al. Meskipun kamu istrinya dan merasa ini jadi urusanmu juga, aku tetap harus punya persetujuan dulu dari Umar.”


Beberapa saat kemudian, Zara menerima notifikasi dari pihak Bank. Dan jumlah yang dikirimkan oleh Alma, tak main-main. Gadis itu mengirimkan uangnya 100 juta. Tak heran, Alma adalah anak dari seorang pengusaha pom bensin.


Tak berapa lama Ray kembali. “Kolam renangnya enak. Jadi pengen mandi.”


“Dah kayak penguin aja nggak bisa lihat air,” sahut Zara.


“Masih lama, ya?” pria itu bermaksud menanyakan mereka yang tengah sibuk menurunkan barang-barang.


“Makanya kamu bantuin, By. Biar cepet.”


Ray tersenyum. “Males naik-naik tangga. Takut cepat kurus.”


“Alasan.” Zara menatap horor suaminya yang sekarang badannya lebih berisi karena hidupnya lebih makmur. Doyan makan dan lebih banyak tidur siang jika sedang tidak ada kegiatan.


Beberapa puluh menit berlalu. Akhirnya proses pengangkutan selesai. Mereka semuanya pergi setelah berpamitan kepada dua wanita yang menghuni rumah ini. Kamar atas sudah kosong sekarang. Alma dan Bi Yati bekerja sama untuk membereskannya.


“Ternyata kalau sudah dibersihkan malah lebih enak di sini ya, Bi?” Alma meminta pendapat kepada wanita itu.


“Emang, Mba Al. Dulu Non Zara sama mantan suaminya juga tidur di sini. Soalnya selain ngadep kolam langsung, matahari juga bisa masuk kalau jendela di buka.”

__ADS_1


“Mantan suaminya?” Alma mengerutkan keningnya. Bingung.


“Singkatnya, Non Zara itu pernah menikah sebelum menikah sama suami yang sekarang. Ya, begitu. Bibi takut kalau mau cerita lebih banyak. Takut salah ngomong ....”


Alma mengangguk mengerti. Gadis itu bukan orang yang terkini dengan perkembangan dunia entertainment. Bahkan mengenal Zara pun, baru sekarang-sekarang ini. Jadi dia terkesan tidak tahu apa-apa, apalagi masalah rumah tangga artis.


Hingga hari berganti sore, suara mobil Umar terdengar berhenti di depan rumah. Alma tersenyum senang dan berlari-lari kecil untuk segera menyambut suaminya.


Namun pada saat turun, wajah pria itu terlihat tak bersahabat. Bahkan ketika ditanya pun, Umar tak sudi menjawabnya. Entah apa penyebabnya, Alma tidak tahu. Padahal kemarin, hubungan mereka sudah mulai ada perkembangan. Tapi kenapa tiba-tiba jadi seperti ini lagi?


“Abang itu lagi kenapa?” Alma bertanya dengan suara pelan. Anggap saja dia sedang menjadi airnya disaat bara api sedang menyala-nyala. “Kalau ada masalah, ceritain aja ke aku, Bang. Aku siap dengerin, kok.”


Wanita itu duduk di depannya setelah meletakkan jus dingin yang baru saja dia buat. “Di minum dulu biar adem, Bang.”


Umar masih diam saja. Dia hanya fokus menyimak ponselnya seperti tak menganggap Alma ada.


“Kalau begini terus setiap hari, lama-lama aku bisa makan hati. Sabar kan hati hamba menghadapi sikap menyebalkan suamiku Ya, Rab ....”


Karena tak kunjung mendapatkan respon, Alma pun meninggalkannya. Tak dapat di ukur seberapa malu dan sedihnya di abaikan demikian. Bahkan dilihat oleh Bi Yati juga yang tengah beraktivitas di sekitar mereka.


“Apa begini yang namanya rumah tangga? Kenapa rumit sekali? Apanya yang salah? Kenapa dia nggak bilang apa-apa?”


Batin Alma serba salah.


Alma membuka lemari di kamarnya. Mengeluarkan pakaian ganti sembari menunggu suaminya menyusulnya. Hingga tak berapa lama, pria itu pun masuk.


“Abang mau mandi sekarang, kan?”


Lagi-lagi Umar tak menjawab. Dia langsung menyelonong masuk ke dalam kamar mandi. Tak tahan diperlakukan demikian, akhirnya Alma pun menaikkan nada bicaranya satu oktaf.


“Apa Abang nggak punya mulut untuk bicara?”


Pria itu sontak berhenti dan menoleh.


“Lancang!” balas Umar sangat nyaring.


“Oke, kalau nggak mau aku lancang, kasih tahu aku alasannya. Abang itu lagi kenapa? Lagi sakit gigi, atau sariawan, sampai-sampai Abang nggak mau menjawab satu pun pertanyaan ku. Bilang sama aku, Bang ... ngomong!”


“Ya, aku nggak suka kamu campuri urusanku!” kata Umar menyentak. Matanya menyorot tajam, wajahnya yang dingin seolah bisa membekukan suasana di sekitarnya.


“Urusan yang mana?” Alma bertanya. “Aku nggak pernah ikut campur urusanmu.”


“Kamu pikir aku udah nggak sanggup lagi membayar rumah ini, sampai-sampai kamu mendesak Zara untuk ikut membayarnya?” Umar mengguncang tubuh Alma yang meluruhkan air matanya. Wajah mereka sangat dekat berhadapan.


“Jangan kasarin aku, Bang. Aku cuma mau bantu kamu. Nggak ada niat atau maksud lain,” ucap Alma pelan. Gadis itu sangat sedih, ia tak pernah diperlakukan demikian sebelumnya kecuali hari ini, oleh suaminya sendiri.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2