
163
Acara begitu singkat karena tidak ada resepsi. Dan begitu selesai, semua orang menghambur keluar dari masjid itu menuju ke Hotel terdekat untuk bincang dan makan bersama. Sebelum masuk waktu shalat empat rakaat di tengah hari.
“Nggak nginap lu, Mar?” Sammy iseng bertanya.
“Iya, Mar. Bulan madu lah. Atau ajak-ajak Alma ke pantai, kek. Kan dekat dari sini,” sahut Mauza. “Kita juga mau ke sana, iya kan, Sam?”
“Udah baikan aja kalian? Kirain mau perang besar-besaran?” Umar keheranan melihat mereka berdua yang mudah sekali akur. Padahal kemarin, kedua mata Mauza menggembung seperti bakpao isi. Eh, sekarang sudah lengket lagi. Geli sekali Umar melihat Mauza yang lentur di tangan Sammy seperti permen karet. Hebat banget kinerja dukun pria itu. Nyari di mana coba? Umar penasaran.
“Gimana kalau kita double date? Atau triple date?” Mauza kembali menawarkan. “Nanti kita ajak Zunaira juga. Kalau Kak Ray nggak mungkin, mereka banyak urusannya.”
“Nggak, kalian aja sana. Dikasih hadiah sama Rayyan aja gue tolak,” jawab Umar.
“Kenapa?” tanya Mauza segera. “Huh, sayang amat. Coba tawarin ke kita, pasti nggak akan nolak.”
“Males. Kalau cuma mau tidur mah mending di rumah aja.”
“Dih, nggak tahu ngedate itu apa, ya?” Mauza mencebikkan bibirnya sebal. “Kamu nya mungkin nggak mau, tapi istrimu? Nggak pengertian ya, Al? Sama kayak ini, nih!” Mauza memiting leher suaminya yang menggerutu.
“Peraaaan gue salah terus,” ujar Sammy masih saja tak peka.
Alma yang duduk diam di samping Umar hanya merespon dengan senyum samar. Terlihat dari matanya yang menyipit.
“Nggak usah ya, Al. Aku lagi capek,” Umar meminta pendapat istrinya.
Dan lagi-lagi Alma hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala. Namun kali ini dirinya agak termenung, kenapa sikap Umar seperti itu?
Pria itu kurang menghargai dirinya di depan anggota keluarganya. Tampak egois dan semua dia yang mau. Ya, hanya menurut dirinya sendiri.
Tetapi jika lihat sejarah sebelumnya, harusnya Alma tidak perlu terkejut. Tetapi tetap saja Alma tak biasa.
“Alma ... Ais pamit pulang dulu, ya?” seorang lelaki mendekati Alma. Dia adalah Uwais kakak sulung Almahyra. Biasa dipanggil Ais oleh Alma sedari kecil.
“Oh, iya Ais ....” jawab Alma sontak berdiri. Pun dengan keluarganya yang juga mendekatinya.
__ADS_1
“Ummi sama Abi pulang dulu, Sayang. Sering-sering pulang ke rumah, ya,” kata Zulaikha pada sang anak.
Alma mencium tangan ibunya dan menangis di pelukannya. Bukan cengeng. Hal tersebut wajar, umum, dan sudah biasa terjadi pada seorang pengantin perempuan ketika dia harus meninggalkan keluarganya. Pasti ada rasa sedih yang tiba-tiba muncul, padahal mereka tidaklah ke mana-mana.
“Ngapa nangis? Kan, dia yang minta tinggal sendiri.”
Sungguh, Umar tak menyukai adegan tangis-menangis seperti ini. Bukankah ini pilihannya? Aneh. Seperti mau dibawa pindah ke luar negeri saja, pikirnya.
“Selamat menempuh hidup baru, Sayang. Sekarang kami bukan orang pertama lagi yang harus kamu prioritaskan, tapi suamimu. Taatilah dia. Jagalah kehormatannya dengan cara menjaga dirimu sendiri,” Zulaikha berpesan kepada sang anak yang baru saja melepaskan pelukannya.
“Baik Ummi, insyaallah. Mohon doakan Alma,” jawab Alma mengeringkan air matanya.
“Pasti Sayang.”
“Tanggungjawabku sudah berpindah ke tanganmu, Umar. Jaga dan didik putriku sebagaimana harusnya seorang suami pada istrinya. Sayangi dia melebihi kami mencintainya,” kata Mertua laki-laki terdengar dalam.
Entah kenapa, bulu kuduk Umar terasa meremang setelah diberi sederet kalimat pesan tersebut. Dia takut tak bisa melakukannya.
Umar mengangguk. Belum sempat ia membuka mulutnya untuk bicara, pria itu menepuk pundaknya dan berlalu. Keduanya meninggalkannya dan Alma yang ternyata tengah memandanginya.
“Make up mu ada yang luntur,” tunjuk Umar ke bagian mata Alma yang membuat wanita itu sontak panik.
“Manja!”
Umar meraih tisu dan mengusapnya. Memang hanya ada setitik, tetapi terlihat jelas dan cukup mengganggu penampilan. “Makanya jangan naik terus.” Pria itu menyerahkan bekas tisunya setelahnya. “Nih, kamu buang sendiri.”
“Umar?” panggil suara Vita.
“Iya? Mamoy ...” jawab Umar meniru panggilan khusus papanya kepada sang istri.
“Hei, jangan memanggilnya begitu,” sahut Yudha merasa dirinya yang paling berhak memanggilnya demikian di dalam keluarga ini.
“Sudahlah seperti itu saja diperdebatkan. Nanti ribut lagi kalian berdua. Aku nggak suka,” Vita lantas berang. Tetapi raut wajahnya berubah penuh cinta pada saat dia melihat Alma, “Kami pulang dulu ya, Nak. Sabar-sabar hadapin Umar, ya. Dia memang lumayan ngeselin, tapi sebenarnya baik.”
“Bilang sama kami kalau Umar bersikap keterlaluan sama kamu, biar kami yang adili,” Yudha menambahkan.
__ADS_1
Umar memutar bola matanya. Dia tak suka kedua orang tuanya membuka aibnya di depan umum seperti ini. Malui-maluin aja mereka, hih!
Usai saling berpamitan, ke empatnya berpisah ke mobil masing-masing. Tersisa Rayyan dan Zara karena wanita itu sedang menunggu steak tenderloin pesanan mereka matang. Ya, Zara lagi ngidam. Untungnya bukan yang aneh-aneh dan mudah di dapat.
♧♧♧
Umar dan Alma baru saja tiba di depan rumah yang sudah ditinggalkan selama dua tahun lebih oleh pemiliknya. Namun, masih bersih dan terawat karena ada yang selalu menjaganya, yakni Bi Yati. Asisten rumah tangga setia yang sudah menetap di sana.
Bi Yati sudah menjanda, anaknya juga sudah menikah. Jadi, tidak ada yang harus Bi Yati tunggu selain tinggal di sini. Daripada buang-buang uang untuk mengontrak rumah. Toh, Zara juga tak pernah menuntutnya untuk ini dan itu asalkan rumahnya bersih.
Wanita paruh baya itu menyambut kedatangan sepasang suami istri yang baru saja turun dari mobil. Kemudian, membantu membawakan kopernya ke dalam.
“Kamar kita di mana, Bang?” tanya Alma.
“Yang itu,” Umar menunjukkan kamar yang berada di kamar paling depan.
Dan Alma pun, memasukkan barang-barangnya di sana. Baru setelah itu, Alma berkeliling untuk melihat-lihat seluruh isi rumah.
Rumah ini terdiri dari dua lantai. Terdapat kolam renang kecil di belakang yang hanya berukuran 3x3 meter, ruang tengah dan ruang tamu yang lumayan luas, tempat olah raga yang ada di balkon dan tiga kamar tidur.
Sayang, hanya ada satu kamar yang waras, yakni yang akan mereka tempati. Sebab kamar yang lain dipenuhi banyak sekali barang-barang entah milik siapa. Dan Umar tak pernah mengatakan sebelumnya, akan di mana dan di rumah siapa mereka akan tinggal.
“Kamar kita di bawah, kamu nggak usah sentuh-sentuh barang di atas,” kata Umar memperingatkannya sebelum ia sempat bertanya.
“Sebenarnya rumah ini milik siapa, Bang?”
“Milik Zara. Kenapa? Kamu nggak suka?”
Nada bicara Umar terdengar kurang mengenakkan.
“Bukan gitu ... cuma tanya. Habisnya Abang nggak pernah cerita sebelumnya kalau kita mau tinggal di sini,” ujar Alma menjelaskannya dengan hati-hati.
“Nanti kalau sudah ada uangnya, pasti aku bayar. Jadi kamu jangan khawatir apalagi menganggap kalau kita cuma mau numpang di sini.” Umar meninggalkannya pergi sehingga Alma pun sontak mengejarnya. Takut lelaki yang belum sehari menjadi suaminya tersebut, marah kepadanya karena pertanyaannya itu. Tetapi kenapa dia harus marah? Bukankah pertanyaannya barusan terdengar wajar saja?
“Bang! Maaf kalau aku sudah buat kamu tersinggung. Aku nggak bermaksud ....”
__ADS_1
Alma berhenti bicara saat Umar berhenti dan menoleh padanya.
Bersambung