
“Udah mau nikah, kok, masih kerja aja, Bu?” tanya Belle ketika mendapati Zara baru saja tiba di lantai tiga. Wanita itu kemudian duduk di ruang karyawan yang ada di depan ruang kantornya sendiri.
Di sana ada beberapa deret meja karyawan yang memegang kendali akun Zara.co. sekaligus yang mengurus cashflow perusahaan. Namun sayangnya, keadaan masih sepi. Karena Zara datang terlalu awal. Sedangkan jam masuk adalah pukul delapan hingga pukul sepuluh malam. Terbagi menjadi dua sihft.
“Abis mau ngapain, semua mau di urus sama Mami. Ya udah aku tinggal ongkang-ongkang kaki,” balas Zara setelah meletakkan tasnya di atas meja.
“Lah, katanya kemarin baru masuk rumah sakit?” Belle menarik kursi di depan Zara demi bisa berbasa-basi dengannya. Zara memang sangat dekat dengan semua karyawannya, sehingga mereka tak terlalu sungkan untuk duduk atau sekadar bicara dengan atasannya itu.
“Kalau soal beginian beliau langsung sehat walafiat. Padahal sakitnya nggak bohongan. Kalau dipikir-pikir memang aneh juga,” kata Zara keheranan. Apa betul, semua emak-emak sepanik itu sampai sakit-sakitan kalau anaknya belum menikah di usia terlambat sepertinya?
“Dah sarapan belum, Bu? Aku bikinin sekalian, nih. Mumpung Belle lagi baik.”
“Belum,” jawab Zara, “belum kenyang maksudku.”
“Pantes ini endut, hehe,” Belle menjembil bagian tubuh Zara yang agak berlipat. “Eh, tapi bagusan gini, ding. Laki-laki nggak suka cewek yang terlalu kerempeng. Bingung nanti mau pegang yang mana,” selorohnya.
“Astaghfirullahaladzim,” Zara tergelak setelahnya, “emang apanya yang mau dipegang?”
“Ibu ini polos, atau pura-pura nggak tahu, sih?” tanya Belle tak habis pikir, “kan, Ibu sudah pernah menikah.”
“Tapi, kan ....”
“Ya, paham,” sela Belle memaklumi karena Zara tak pandai bagaimana caranya mengungkapkan. Sedangkan berkata jujur juga sama saja mengumbar aibnya, dan itu tidak boleh.
Namun begitu, Belle tahu maksud arah bicara Zara ke mana. Mengingat track record eks suami sekaligus eks manajer atasannya adalah, laki-laki setengah matang. Demikian memang bukan kabar isap jempol belaka, lantaran Zara sudah mengonfirmasikannya sendiri.
Sebab mau ditutupi serapat apapun, lambat laun semua akan tahu juga pada akhirnya. Namun yang harus digaris bawahi, seseorang tidak perlu berkoar-koar jika memang Tuhan sudah sangat baik menutup aibnya.
“Mau tahu, aku punya banyak tips cara memuaskan suami di ranjang?”
Zara sontak meletakkan satu jarinya tepat di bibir, “Ssstt... jangan keras-keras nanti ada yang denger.” Menoleh ke segala arah untuk memastikan, Zara kembali berujar, “Calon suamiku udah pernah menikah. Biarpun aku anak baru, aku nggak mau kalah sama yang jam terbangnya lebih tinggi. Kasih tahulah sikit....”
__ADS_1
“Banyak juga gapapa,” kata Belle sama sekali tak merasa keberatan. Perempuan yang telah berkeluarga itu pun nyengir, “Si Ibu ini gesrek juga hihi.”
Rencana akan membuat sarapan pun batal karena Zara menariknya ke dalam kantor. Mereka duduk berdua. Zara siap mendengarkan tips yang akan Belle jelaskan.
“Mulai dari mana, ya?” Belle malah bingung. Tapi kemudian, dia pun mulai menjelaskan apa yang dia tahu menurut pengalamannya sendiri, “Ehmm, gini ... akndjsiekdndpepprprmwmwmdbdnx.”
Baru beberapa kata saja, Zara sudah terkekeh geli. Tentu saja ia sangat malu membahas masalah demikian. Tapi harus bagaimana lagi? Dia memerlukannya. Ini lebih baik daripada harus datang ke seksolog. Pasti dia akan lebih malu kalau berita ini sampai terdengar ke telinga masyarakat, belum lagi ... ada harga yang harus dia bayar.
Dan di akhir kata, Belle menyarankannya untuk mulai mengoleksi baju haram.
“Di mana kamu beli?”
“La S*nza.”
“Kita ke sana nanti kalau udah buka.”
“Boleh... boleh....” Belle mengangguk-anggukkan kepalanya penuh arti.
♡♡♡
“Sepertinya semua sudah pas, ya, Kak. Nggak perlu ada pengurangan atau penambahan lagi,” ujar Sang Desainer pakaian tersebut. Dia juga membantu melepaskannya kembali.
“Terima kasih, Bu Ivenna. Karya Anda memang nggak diragukan lagi,” balas Cici tak kalah ramah.
“Sama-sama Kak, Cici. Sebaliknya, saya juga berterima kasih, karena sudah memercayakan kami sebagai perancang gaun pernikahan kalian. Semoga gaun ini bisa menambah kepercayaan diri Kak Cici dan calon suami. Saya juga mendoakan, semoga pernikahan kalian lancar dan bisa menjadi keluarga yang bahagia. Langgeng sampai akhir hayat.”
Cici dan Fasad mengangguk dan mengaminkan. Namun mungkin karena bosan menunggu perempuan-perempuan itu berbincang panjang lebar, Fasad mohon undur diri untuk menunggu di tempat yang disediakan.
“Oh, kamu mau duduk?” ujar Cici memastikan.
“Iya di sana,” tunjuk Fasad di tempat yang dimaksud.
__ADS_1
“Okay, aku sebentar lagi selesai, kok.”
Fasad mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua. Dan untuk mengurangi kebosanannya, Fasad mengeluarkan ponsel untuk sekadar melihat-lihat sosial media. Ya, seperti itu lebih baik daripada melamunkan sesuatu yang tidak jelas.
Jarinya sibuk menggulir layar. Melihat satu persatu postingan yang menarik. Tak jarang, lelaki itu juga akan tertawa jika menemukan postingan yang lucu dan menghibur.
Namun kini jarinya harus berhenti pada satu titik. Matanya menegas saat dia melihat sebuah video yang menayangkan dua orang laki-laki dan perempuan, sedang berada di sebuah ruangan sangat besar. Dua orang itu sangat dia kenal, yakni Zara dan Rayyan.
Keduanya tengah melakukan diskusi dengan seseorang yang di duga adalah pemandu acara. Seraya memperagakan gerakan seperti wedding rehearsal atau gladi resik.
Postingan tersebut dikirim oleh salah satu akun gosip dengan caption seperti ini:
Yang dari kemarin minta tercyduk. Eh, beneran kena cyduk ama capturan hengpon jadul Minceu.
Btw makasih, ya. Karena udah mau bekerja sama membocorkan kabar bahagia ini. Semoga samawa dengan pernikahan keduanya ya, Mbak Z.
Satu lagi eike lupa. Semoga gak ada kutukan mantan di acara nikahannya nanti ya, aamiin.
Rahang Fasad mengeras. Aliran darahnya terasa memanas, satu tangannya mengepal kuat, hingga tak tahan untuk mengumpat kasar, “Baj*ngan!”
“Fasad, kenapa kamu ngomong kasar gitu?”
Sebuah pertanyaan membuatnya menoleh. Cici mendekat dan duduk di sebelahnya, “Siapa yang kamu sebut seperti itu?” dia bertanya lagi, sehingga Fasad menyerahkan ponselnya. Bermaksud menunjukkan gambar yang baru saja dilihat.
“Bisa-bisanya kabar sebesar ini, kamu sampai tak tahu?!” semburnya.
Terlebih dahulu Cici melihat postingan tersebut, sebelum akhirnya ia memahami, bahwa ternyata, Zara juga sama-sama akan menikah seperti mereka.
Beberapa saat kemudian, Cici berbicara dengan tenang, karena dia pikir ... ini hanyalah persoalan sepele, “Apa pentingnya aku harus mencari tahu tentang dia lagi. Kamu udah nyuruh aku berhenti mengetahui apapun tentangnya. Lagi pula aku udah nggak ada urusan. Toh, kita juga akan sama-sama menikah. Seharusnya, kita fokus ke sini saja, Fa.”
Namun sepertinya ada yang salah dengan ucapannya karena setelah dia berhenti bicara, Fasad malah terlihat semakin jengkel.
__ADS_1
Bersambung.
Vote nya jgn lupa ya