Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Nggak Kuat


__ADS_3

98


“Gimana hari pertamamu kerja kemarin, Nai?” tanya Mauza pada saat mereka selesai melakukan sarapannya.


“Iya, Mama juga semalam belum sempat nanyain. Mama sungkan, soalnya semalam Mama lihat Nai sedang capek sekali,” sahut Vita.


“Baik kok, Kak, Ma,” jawab Zunaira menutupi kenyataan yang ada. Dia tidak mungkin mengeluh dengan apa yang sudah menjadi pilihannya karena hanya akan semakin menambah barisan kekhawatiran orang tuanya saja.


“Bu Resti gimana, beliau baik banget kan orangnya?” tanya Mauza lagi.


“Iya, Kak. Bu Resti baik,” lagi Zunaira memaksakan senyum.


“Nah, tuh kan? Aku juga bilang apa. Bu Resti, Bu Belle, bawahannya semuanya humble-humble banget. Mereka suka bercandaan kalau lagi senggang, jadi kita nggak terlalu stres sama kerjaan.”


“Mereka seperti itu hanya sama kamu, Kak. Bukan sama aku.”


Vita tersenyum. Sebagai seorang ibu, dia merasa senang mendengar anaknya mendapat keberuntungan semacam ini. Tidak ada yang lebih membahagiakan baginya selain melihat anak-anaknya bahagia.


Namun, dari sekian banyak obrolan mereka yang menanyakan bagaimana pengalaman Zunaira di hari pertamanya bekerja, mereka sampai melupakan Mauza dan bagaimana keadaannya pasca keluar dari sana. Sehingga pada saat Mauza juga pamit pergi, Vita cepat-cepat bertanya, “Lho, memangnya Kak Za mau ke mana, Sayang?”


“Mauza mau ke rumah Kakak Ipar,” jawab gadis itu membuat Vita menyorot penuh tanya.


Mauza tersenyum lalu menjelaskan, “Ma, Mauza itu bisa dibilang jadi asisten Kak Zara sekarang. Dia butuh orang buat ngurusin semua printilan pekerjaannya selain ngantor.”


“Ma, Nai pergi dulu, ya?” Zunaira terpaksa harus menyela, “udah siang soalnya, takut telat. Assalamualaikum!”


“Waalaikumsalam, hati-hati, Nak!” ujar Vita saat anak bungsunya menghambur keluar. Dia di antar oleh Umar hari ini. Kemudian, wanita itu kembali mengalihkan pandang kepada anak ketiganya, “Mauza belum cerita apa-apa sama Mama, lho.”


“Aku juga nggak tahu, kenapa kakak ipar ingin aku jadi asistennya. Apa karena kasihan atau apa? Tapi aku nggak berusaha buat minta-minta kok, Ma.”


“Mama ngerti, Sayang. Anak Mama yang satu ini tidak mungkin berbuat seperti itu.”


“Atau kalau Mama nggak setuju aku jadi asistennya, aku bisa cari kerjaan di tempat lain aja. Kemarin aku langsung nerima tawaran karena merasa lagi butuh-butuhnya. Maaf ya, Ma. Soal ini, aku nggak ngomong dulu.”


“Nggak papa Sayang. Mama setuju-setuju saja sama apapun pekerjaanmu asalkan itu halal. Mama cuma kaget saja, kok tahu-tahu kamu malah ada di sana karena dari kemarin Mama nggak dengar kabar apa-apa dari kalian. Maaf kalau Mama kurang perhatian padamu. Mama sampai tidak tahu hal-hal seperti ini karena Mama tidak pernah menanyakannya,” ujar wanita paruh baya itu menyesali diri.


“Jangan khawatir, aku baik-baik aja, Ma.” Maiza tersenyum tulus.


“Mama justru tenang kalau ternyata kamu masih ada di sana. Itu artinya anak Mama nggak jauh-jauh dari lingkungan keluarganya. Kakakmu pasti bisa sambil jagain kamu juga, Nak. Tapi lain kali beritahu Mama, ya. Mama merasa jadi orang tua yang gagal kalau hal seperti ini saja kami tidak tahu.”

__ADS_1


“Udah, Mama nggak usah mikir terlalu jauh. Aku nggak ada pikiran kayak gitu sama Mama, kok. Nggak ada yang kurang dari diri Mama untuk aku. Mama itu segalanya, Mama sempurna mendidik aku, merawat aku dan menyayangi aku.”


“Terima kasih, Sayang. Terima kasih ....” Vita memeluk anak gadis yang dulu sering merengek meminta perhatiannya. Yang sering dia abaikan karena sibuk dengan anak-anaknya yang lain.


Tapi kini Mauza sudah menjelma menjadi sosok gadis dewasa yang tangguh, tidak manja, mencintai keluarga dan sangat memedulikan saudaranya dibandingkan dirinya sendiri.


Orang tua mana yang tak merasa bangga?


∆∆∆


Zara dan Mauza menatap lukisan mozaik dan beberapa barang-barang hiasan dekorasi ruangan. Pemberian dari banyak orang yang kemarin di undang khusus di acara grand openingnya. Mereka saling pandang sebelum Zara yang bertanya lebih dulu, “Mau diapain barang hiasan sebanyak ini, Mauza?”


“Kalau dipasang semuanya, malah jadi jelek karena keramean. Tapi kalau nggak dipasang, takut dikira nggak menghargai yang ngasih hadiah ya, Kak,” jawab Mauza punya isi hati yang sama seperti kakak iparnya. “Gini aja, kita pilih aja yang kiranya paling bagus, cocok. Terus sisanya di simpan di gudang, buat ganti-ganti kalau yang lain udah bosan atau rusak. Gimana menurutmu?”


“Ya, ya. Terserah kamu aja, deh.” Zara sedang malas berpikir. Lantas wanita itu duduk, menghela napas sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata. Padahal dia belum ke mana-mana selain pergi ke tempat ini, tapi rasanya sudah sangat lelah sekali. Kadang malah terasa sedikit kram kalau sudah terlalu lama berdiri.


Apa setiap wanita hamil akan mempunyai tubuh yang gampang capek dan berkelakuan aneh sepertinya? Dan yang paling absurd adalah, suka makan makan es batu. “Anak-anakmu ini luar biasa, Ray.”


Tak terbayang besarnya mau jadi apa mereka.


“Kamu cewek-cewek atau cowok-cowok, sih?” Zara mengajak bicara calon bayinya, “atau satu cewek, satu cowok? Ah, Mommy nggak sabar lihat kalian lahir. Pasti lucu-lucu kalau dipakein baju kembar.”


Saat hari mulai siang, Mauza dan Zara bertolak dari store itu untuk menuju ke kantor. Sudah ada banyak sekali laporan yang belum dia tindaklanjuti di mejanya.


“Kan baru dua hari sih, dia kerja. Jadi suruh sabar aja dulu. Semua itu butuh proses, nggak bisa langsung hafal secepat kilat. Nanti ada kok, tahapan-tahapannya,” kata Zara bertanggapan positif.


Lagipula waktu itu Zara sudah mengatakan sebelumnya, bahwa dia belum mempunyai lowongan atau posisi yang pas untuk Zunaira. Tetapi kenapa dia malah terkesan memaksa dan buru-buru? Kalau sudah seperti ini kan repot jadinya.


Mauza yang sedari tadi terdiam kini menyahut, “Biar aku aja yang ngasih dia pengertian, Kak ....”


“Oh iya, iya, Mauza. Silakan!” Zara menanggapi, kemudian gadis itu melenggang dari hadapannya menuju ke ruangan tempat di mama adiknya berkutat.


Dan alangkah terkejut dan kesalnya Mauza ketika dia tiba di ruangan itu. Sebab di sana, ada sosok Sammy berada di samping kubikel Zunaira sambil mengusap bahu adiknya tanpa merasa malu.


Dari yang dia dengar, Sammy memang sedang menenangkan Zunaira. Tetapi tetap saja ini bukan cara yang pantas dilakukan. Selain banyak orang lain yang melihat, apa mereka tak takut akan kutukan Tuhan?


Ah, betapa bodohnya orang yang sedang jatuh cinta.


Deheman Mauza menghentikan keduanya sehingga mereka sontak memusatkan fokus ke arahnya dengan eskpresi kikuk. Selayaknya pasangan yang baru saja kepergok.

__ADS_1


“Kak Za ada di di sini?” tanya Mauza segera.


“Iya, Kakak ipar ada di sini juga soalnya,” jawab Mauza mendekati keduanya, “minggir!” ucapnya pada Sammy, “lagi kurang kerjaan, ya? Makanya nyari kerjaan lain ngusap-usap bahu adikku. Dasar playboy!”


“Jutek banget, bgst,” batin Sammy geram sekali.


“Nggak usah lebay. Gue cuma pegang bajunya doang nggak nyentuh rambutnya apalagi bikin luka kulitnya,” Sammy menjawab, “Miss Lebay!” tekannya sekali lagi sambil mendorong tubuh Mauza yang dengan sekali hentakan, langsung terhuyung mundur satu langkah.


“Resek kamu, ya!” balas Mauza dengan suara lebih keras.


“Lu yang rese. Lu ngambil separuh kerjaan gue. Jadi, mulai sekarang gua mau cari kerjaan sampingan. Yaitu bikin masalah sama elo.” Sammy tersenyum sarkas. “Seru kayaknya.”


“Nggak takut!” tantang Mauza, “berani macem-macem sama aku, berarti kamu juga udah siap nggak dapat restu dari keluarga kami.”


“Sialan!” makinya semakin geram.


“Pergi sana!” seru Mauza, “jangan coba-coba sentuh adek gue lagi. Kalau lu suka sama dia, nggak begini caranya!”


“Ribet!” sela Sammy cepat.


Zunaira yang sedari tadi diam, kini membuka suara untuk membela kekasihnya, “Kak, udah. Sammy cuma kebetulan lewat aja tadi.”


Sammy melambaikan tangannya kepada Mauza, “Dadah Miss Lebay yang nggak cantik.” Pria itu mengulum senyum puasnya lagi saat melihat Mauza semakin kesal padanya.


Mauza menahan perih. Secara tidak langsung, Zunaira lebih membela Sammy yang telah menghina fisiknya daripada kakaknya sendiri.


Usai Sammy pergi tanpa merasa bersalah, Mauza menarik kursi di depan adiknya dan langsung mengatakan apa tujuannya datang kemari, “Ada yang mau Kakak bicarain.”


“Silakan, Kak.”


“Kakak dengar kamu minta pindah posisi?” tanyanya to the point.


Zunaira mengangguk. “Maaf sebelumnya, Kak. Aku nggak bisa melanjutkannya. Aku harus pindah, atau kalau nggak ... aku minta mundur aja ....”


Alasan lain yang belum ia ungkapkan, juga karena banyak staf yang menggunjingnya. Zunaira tak sengaja mendengar semua itu sendiri tadi pagi, ketika mereka sedang berkumpul dan mengira dirinya belum tiba di sana. Padahal, dia sudah berada di pintu masuk semenjak lama hingga hampir menguping semua pembicaraan mereka.


Ini sungguh sangat menyakitkan baginya.


Ternyata dia tak sekuat itu.

__ADS_1


Bersambung.


Votenya mana vote?


__ADS_2