
189
Tidak ada yang mengatakan apapun saat Sammy dan Mauza tiba di rumah. Mereka menyembunyikan masalah ini rapat-rapat agar tak menimbulkan berbagai macam spekulasi dari sejumlah anggota keluarga.
Sammy tidak mau jika kelak, Mauza disalahkan oleh salah satu dari mereka, terutama keluarganya sendiri oleh karena penyakit yang di deritanya. Sebab tidak semua orang dapat memahami, bahwa mereka pun tidak menginginkan hal ini terjadi. Kecuali orang-orang yang mempunyai ruang kepala lebih besar.
Sammy ingat betul penjelasan dokter, bahwa setiap perempuan yang mengidap PCOS bukan berarti mereka mandul. Mereka masih mempunyai peluang untuk hamil, namun dengan catatan tertentu.
Belum tentu pula dirinya juga sehat seratus persen. Bisa saja ada masalah dalam tubuhnya tanpa Sammy ketahui. Dia tidak bisa menyalahkan Mauza seutuhnya selama hasil lab belum keluar. Jadi, pilihan untuk diam adalah keputusan yang paling tepat sebelum semuanya benar-benar jelas dan pasti.
Sammy beraktivitas seperti biasa sembari menunggu hasil labnya keluar. Dia mulai masuk ke kantor pusat lagi setelah dihubungi langsung oleh kakak iparnya, yang mengatakan jika dirinya sedang sangat dibutuhkan.
Sesampainya di sana, Sammy sempat disambut aneh oleh semua orang yang mengenalnya, terutama Damar. Pria itu kebingungan saat mendapati Sammy duduk di sebelahnya lagi dengan membawa peralatan bekerjanya seperti dulu.
“Lu ngapain di sini? Ini tempatnya Ramon,” ujarnya memberitahu Sammy.
Padahal tanpa diperingatkan seperti ini pun, Sammy tahu ini tempat duduk siapa sebelumnya. Dan sekarang, entah ke mana orang itu. Sammy tahu dan tidak mau tahu masalah tersebut yang dapat menyebabkan kepusingan. Yang penting sekarang, dia sudah bisa menempati singgasananya lagi. Haha, rezeki anak soleh emang nggak ke mana.
“Serah gue dong, mau duduk di mana,” jawab Sammy nyengir lebar. Dia memang sengaja tak memberitahu Damar bahwa dia akan masuk ke sini lagi seperti dulu. “Paling seru emang ngerjain orang.” Sammy terus tersenyum misterius.
“Sam, ini bukan waktunya untuk main-main,” kata Damar lagi semakin panik. Dia tidak mau ada security yang datang lantas menyeret pria ini keluar karena telah lancang memasuki sembarangan ruang. Ah, bukan cuma itu. Damar juga takut mereka membuat sahabatnya ini babak belur.
Apakah kekhawatiran Damar, berlebihan? Tetapi Sammy adalah iparnya. Atau mungkin, dia hanya sedang numpang mampir saja untuk bernostalgia?
Tau, ah! Kok Damar jadi pusing?
“Lha, siapa yang mau main-main, orang aku mau kerja,” jawab Sammy dengan wajah yang kurang meyakinkan di mata Damar.
Damar menatap sahabatnya lekat-lekat, “Orang-orang sepertimu sulit dipercaya.”
“Nggak percaya ya, udah.” Sammy tak mau ambil pusing. Dia pun menyalakan perangkatnya untuk mulai mengerjakan tugas. Di hari pertamanya, dia langsung mendapat banyak PR dari atasannya, Belle Zahir.
Damar masih saja tercengang melihat kenyataan ini. Bahkan sampai tiba jam istirahat pun, dia masih saja bertanya, “Kamu serius kerja di sini lagi, Sam?”
“Ya Tuhan, Damar. Iya kali gue bohong. Nggak mungkin juga gue masuk ke sini kalau nggak punya akses,” jawab Sammy setengah kesal.
__ADS_1
“Lu selalu punya akses karena status kamu di sini adalah adik ipar. Mungkin aja sekarang kamu cuma mau mampir, barangkali pengen bernostalgia dengan mantan-mantan tersayang.”
“Enak aja, emang gue cowok apaan. Gue cowok yang setia,” Sammy membanggakan diri. “Aku emang kerja di sini lagi, Damkar! Hei petugas Damkar! Berapa kali coba gue ngomong? Masih kurang jelas?!”
Sammy jadi ngegas dibuatnya. Gemas rasanya jika ia harus menjelaskannya berulang-ulang.
“Beneran?” Kedua bola mata Damar melebar sambil mengguncang tubuh Sammy untuk meyakinkan dirinya sekali lagi.
Membuat Sammy yang sudah terlalu kesal itu melotot, “Lu tanya sekali lagi gue gaplok pakai kursi!” ancamnya sungguh-sungguh. Bahkan kini satu tangannya sudah menarik sudut benda itu.
Damar tertawa. Pria itu kemudian memeluk sahabatnya yang sudah lama di rindukannya. Kembalinya sahabat terbaik di perusahaan yang sama adalah suatu hal yang langka dan membuat perasaannya menjadi lebih bersemangat.
Turun dari lantai itu, Sammy bertemu dengan Andrea yang kebetulan tengah melintas. Pria itu samar tersenyum dan berkata, “Selamat datang kembali.”
“Terima kasih, Pak,” jawab Sammy sedikit menundukkan kepala.
“Itu berlebihan, kita saudara ipar.”
“Di sini kamu atasanku.”
“Aamiin, aamiin. Doakan saja.”
“Permisi, aku mau makan siang. Apa kamu mau gabung?” Andre menawarkan.
“Boleh.”
Tak berapa lama setelahnya, Sammy dan Damar mengikuti ke mana arah lelaki bertubuh tegap tersebut.
“Kok lu nggak takut, sih? Dia kan galak,” Damar bertanya.
“Nggak, ngapain takut. Dia nggak gigit,” jawab Sammy.
Telinga Andrea samar mendengar kedua orang di belakangnya yang sedang saling berbisik. Tetapi pria itu enggan menggubrisnya. Dia sudah terlampau kenyang dengan suara-suara demikian.
Capek sekali kalau harus jadi orang baperan. Terserah mereka saja mau bilang apa tentang dirinya. Andrea tak butuh pengakuan. Sebab Tuhan dan orang-orang terdekatnya sangat mengenalnya, lebih dari siapapun.
__ADS_1
Di restoran.
Sembari menunggu pesanan datang, beberapa kali Sammy mencoba berbasa-basi dengan saudara iparnya. Namun, Andrea masih sama seperti dulu. Dia adalah perwujudan kulkas empat belas pintu.
“Istrimu udah nggak kerja lagi?” ini adalah pertanyaan Sammy yang ke lima.
“Nggak,” jawab Andrea tanpa berniat menjelaskan alasannya lebih lanjut.
Damar hampir tersedak karena menahan tawanya. Pasalnya setiap pertanyaan yang dilontakan oleh Sammy selalu dijawab Andre dengan sangat singkat. Bahkan selama mereka makan pun, pria itu tak mengajaknya bicara andai saja Sammy tak menanyakannya lebih dulu. Padahal dialah yang awalnya mengajak bergabung.
Ya Tuhan, suasana benar-benar seperti kutub Utara. Dinginnya sampai menusuk tulang. Sehingga Damar yang ingin mengajak Sammy bercanda pun, jadi enggan.
“Orang kayak gitu gimana sama istrinya, ya?” Damar kembali berbisik kepada Sammy ketika mereka dimeja makan, sehingga Sammy spontan membungkam mulutnya.
“Itu masalah lain lagi. Nggak usah ditanya.” Ya kali kalau mau hubungan nggak komunikasi dulu, parah amat. Nggak mungkinlah, Sammy membatin.
“Kalian kok pada kuat sih, saudara an sama dia? Yang jadi bawahannya juga pada takut.”
“Ngapain takut? Udah kubilang, dia nggak gigit. Buktinya gue masih hidup.”
Sammy tak lagi menanggapi pertanyaan-pertanyaan aneh Damar. Yang jelas, Andrea yang dia kenal, tak seburuk yang Damar perkirakan. Pria itu sesungguhnya baik dan lumayan religius. Sammy pernah melihatnya beberapa kali memasuki musala dan berdoa dengan khusyuk. Hanya saja dia sangat menjaga mulutnya dari perkataan yang sekiranya tak perlu.
∆∆∆
Sehari berlalu. Setelah lama menunggu, akhirnya Sammy pun mendapatkan kabar, bahwa hasil labnya sudah keluar. Keduanya di sarankan untuk kembali ke rumah sakit untuk segera mengetahui hasilnya.
Tangan Sammy semakin erat menggenggam tangan istrinya pada saat dokter membuka kertas yang akan dia bacakan. Bahkan dari pelipisnya, sudah mulai mengeluarkan keringat dingin. Meskipun keduanya sudah saling menerima, tetapi ketakutan akan banyak hal, tetap saja hadir dalam diri.
“Sebenarnya berat bagi saya mengatakan hal ini, tapi ... saya harus jujur.” Pria berpakaian putih itu menatap pasangan suami istri yang sedang menegang.
Kali ini dokter intens menatap pasien lelaki dan mengatakan, “Ternyata Anda juga mengalami gangguan.”
Ucapan Dokter membuat pandangan Sammy dan Mauza seolah menjadi gelap. Bahkan mereka sudah terpuruk sebelum dokter lelaki itu melanjutkan kalimatnya.
Bersambung.
__ADS_1