
124
“H-hai, Fasad,” ujar Zara menyapa terlebih dahulu setelah beberapa menit situasi terjeda dengan keheningan. Berharap, sapaannya bisa sedikit mencairkan suasana yang semula tegang. “Are you okay?”
Namun Fasad enggan menjawab basa-basinya. Justru kedua bola mata itu semakin tajam kepada Rayyan dan tiba-tiba saja, kedua tangannya menghentak tubuh Rayyan sampai pria itu hampir saja terhempas, andai dia tak kuat menahan dorongannya.
“Apa maksudmu datang-datang langsung seperti ini?” tanya Ray tak habis pikir.
“Neraka untukmu kalau suatu saat kamu menyakiti Zara, ingat itu!” ancam Fasad menunjuk ke kedua bola mata lawan bicaranya.
Setelah tiga bulan lebih mendekam di penjara, pria ini masih saja angkuh seperti dulu. Masih suka membuat keributan tanpa diketahui buntut-buntut permasalahannya. Masalahnya mungkin sepele, tapi marahnya mendarah daging. Pendendam sekali.
“Nggak perlu kamu peringati pun, aku tidak akan melakukannya, dia istriku!” balas Ray tak kalah nyaring dan penuh penekanan pada akhir kalimatnya. Hampir-hampir dia tak bisa mengontrol emosinya saat di tantang oleh pria yang sebelumnya telah menyalahi kodrat itu.
“Aku bisa mengambilnya darimu kalau kau tak menjaganya dengan baik!” ancam Fasad kembali.
“Urusi saja hidupmu sendiri daripada pusing memikirkan istri orang!” sebisa mungkin, Ray menjaga bibirnya tak mengucapkan kata kasar di tengah pertikaian ini. Memalukan kalau ucapan tak pantas sampai terdengar oleh orang-orang di sekitar.
Beruntung koridor sedang sepi, jadi dia tak terlalu khawatir bakal diperhatikan oleh orang yang tengah melintas.
“Brengsek!?” Fasad mencengkeram kerah pakaian yang Ray kenakan, namun harus kembali terhempas karena Ray pun mendorongnya dengan lebih keras.
“Kenapa? Nggak terima?!” seru Rayyan, “itu fakta! Lihat di sana, perempuan yang nggak pernah kamu lihat sedikitpun, seharusnya kamu pikirkan saja dia. Dia sudah berkorban banyak demi kamu! Rela melakukan apapun untukmu, menerima kamu apa adanya, tapi selalu kamu abaikan!” Ray menunjuk Cici yang tengah berdiri dengan uraian air mata.
“Brengsekkkk!?” umpat Fasad sekali lagi.
“Bisamu hanya mengumpat, mengumpat dan terus menyalahkan semua orang, bahkan aku yang jelas tidak ada urusannya denganmu! Apa aku pernah membuat kesalahan padamu?”
“Ya, karena di mataku kamu hanyalah sebuah kotoran!” balas Fasad segera.
“Jaga mulutmu?!” Ray menghentak kuat tubuh Fasad. “Bahkan sebelum hari ini aku tidak pernah mengenalmu?! Kamu membuatku marah!?”
Seumur pernikahan, Zara baru melihat suaminya bisa semarah ini, seegois apapun kelakuannya yang terkadang dia akui sangat menjengkelkan.
Itu tandanya, Fasad sudah sangat keterlaluan.
“Di mana sebenarnya letak otak masyarakat di negara ini, sehingga mereka menyebutmu dengan panggilan seorang Ustaz?” Nada tertawa Fasad terdengar sangat meremehkan Rayyan. “Bagaimana mungkin orang sepertimu mampu memimpin masyarakat luas, sementara membina rumah tanggamu sendiri saja kamu gagal?”
“Kalau kamu tidak tahu ceritanya lebih baik diamlah!” sahut Zara berdiri membela suaminya. “Menjelekkan seseorang nggak akan membuatmu terlihat lebih baik!”
__ADS_1
Fasad berdecih kepada Zara, “Lelaki seperti itu saja kamu bela sampai segitunya. Apa kelebihannya? Apa perlu ku ingatkan lagi? Bagaimana dulu dia merendahkanmu? Bodohnya kamu malah menyerahkan diri. Cih! Matamu itu buta.”
Zara menggeleng, “Lalu apa urusanmu kalau memang kenyataannya begitu?”
“Lihat betapa bodohnya kau, Zara?!”
“Lebih baik aku bodoh daripada pintar dengan cara hidup sama kamu,” balas Zara dengan napas yang tertahan sebab karena rasa sebaknya. Dia gampang sedih oleh karena hal-hal kecil sekarang. “Sudahlah Fasad. Nggak ada gunanya kita menyambung tali permusuhan. Kamu akan jadi seorang ayah sekarang. Fokus saja ke situ. Kalau nggak bisa bersikap baik sama semua orang, minimal kamu bisa bersikap baik sama mereka.” Pandangan Zara mengarah kepada Cici yang juga sama-sama sedang berusaha menahan tangisnya sambil mengusap perutnya.
Telah banyak masa yang Cici lalui selama beberapa bulan ini dengan ujian yang amat berat, belum lagi ... harus merawat Tia Rumana yang sebenarnya bukan siapa-siapanya sebab mereka tak pernah menikah.
Dia ada di sini hanya karena sedang mengandung cucunya dan atas nama kemanusiaan karena Tia sudah tak punya siapa-siapa lagi. Sementara anaknya, ada dipenjara. Kalaulah yang dirusak oleh Fasad adalah wanita lain, siapa yang bisa jamin bahwa dia akan mampu bertahan di sini? Bahkan setelah berkali-kali disakiti?
Entah akan berakhir seperti apa jika nanti pengorbanannya tak juga diterima oleh Fasad. Permintaannya hanyalah kecil, Cici hanya ingin pria itu mengakui anaknya. Karena sekarang, dia sudah tidak peduli lagi dengan pernikahan. Wanita itu sudah berhenti mengharapkannya. Baginya sekarang yang terpenting adalah anaknya. Ya, berdua saja sudah cukup.
Fasad tak lagi bicara. Pria itu kemudian berlalu masuk ke dalam ruang rawat tanpa memedulikan Cici yang masih berdiri termenung.
Zara mendekati Cici, mengusap bahunya berharap ini dapat membantu sedikit menenangkannya. “Kamu yang sabar, ya.”
Cici mengangguk. Bersamaan dengan itu pula, air matanya langsung luruh menyentuh permukaan lantai.
“Aku siap bantu kamu kalau kamu lagi butuh bantuan,” kata Zara lagi menggenggam tangannya untuk memberikannya dukungan. Pun sebagai isyarat bahwa sudah tak ada lagi penghalang di antara mereka. Zara legowo untuk menerima Cici sebagai temannya lagi, jika perempuan itu bersedia.
Pasangan suami istri itu masih berdiri di tempat, sebelum akhirnya Zara menoleh. Menemui pandangan Rayyan dan menanyakan bagaimana keadaannya sekarang pasca berdebat dengan lelaki itu.
“Udah nggak papa, ayo kita keluar.” Ray menggandeng tangan Zara pergi.
“Maaf kalau dia berkali-kali bikin kamu tersinggung,” ucap Zara saat mereka menyusuri koridor.
“Kenapa harus kamu yang minta maaf? Kan, bukan kamu yang salah,” balasnya.
“Kamu nggak akan pernah dipukul dan diperlakukan kurang pantas sama Fasad kalau bukan aku yang menyebabkannya. Dia mengenalmu melalui aku.”
“Udahlah, nggak usah dipikirin. Dia hanya nggak bisa ngungkapin perasaannya sama bahasa yang lebih halus.” Rayyan menoleh dan memandangnya lebih intens, “Dia masih mencintaimu.”
Zara sontak tergelak mendengar Fasad masih mencintainya melalui suaminya sendiri. Terasa agak aneh karena Ray seperti biasa saja. Loh, loh? Bukannya tadi mereka baru saja berantem? Harusnya gimana, sih?
“Kok kelihatannya kamu biasa aja? Nggak cemburu gitu?”
“Ngapain cemburu sama dia? Aku sudah punya segalanya dari kamu. Paling istimewa yang ini,” Rayyan menatap ke bawah, tempat di mana kedua investasinya sedang berkembang.
__ADS_1
“Ih!” Zara geli hingga refleks mencubit punggung suaminya. Keduanya berjalan sambil sesekali bercanda dan tertawa. Sehingga orang-orang yang melihat pun menjadi ikut berbunga-bunga karena ikut merasakan betapa hangatnya cinta mereka.
“Kita langsung ke kantor, kan?” tanya Zara.
“Nggak,” jawab Ray cepat.
“Kok gitu?” tanya Zara menuntut.
“Lagian udah tahu pakai tanya!”
“Kejamnya suamiku!” Zara berhenti. Bibirnya cemberut. “Ntar malem tutup warung, ah.”
“Nggak papa, ada kunci obeng buat buka pintu.” Rayyan terkekeh. Sengaja membuat wanita itu semakin kesal. Seperti ada rasa puas tersendiri baginya jika ia berhasil membuat Zara ngambek ataupun menangis. Dia memang sangat manja padanya. Seperti anak kecil saja.
“Selamat ulang tahun istriku ... barakallahu laka. Semoga Allah balas pengorbananmu menjadi seorang ibu ....”
Eh, Zara sontak melebarkan kedua matanya begitu mendengar ucapan ulang tahun.
“Makasih udah mau jadi teman hidupku. Maaf nggak bisa ngerayain, karena merayakan ulang tahun hukumnya haram. Bukan tradisi kita sebagai seorang Muslim,” ucapnya lalu mengecup keningnya.
“Kok aku sendiri malahan lupa?”
“Nggak masalah, yang penting aku selalu ingat ulang tahunmu.” Rayyan tersenyum. “Sebenernya pengen ngucapin nanti setelah kadonya siap. Tapi ya udah, sekarang aja mumpung momennya lagi pas.”
“Emang kadonya apa?”
“Rahasia.”
“Pake rahasia-rahasiaan segala,” cebiknya.
“Kalau dikasih tahu, nanti nggak surprise lagi, dong, Ra.”
Beberapa saat kemudian, Zara termenung mengingat usianya yang semakin berkurang. “Aku udah makin tua, ya?”
“Tapi nggak kelihatan tua. Kamu cantik dan akan selalu cantik.”
Keduanya berpelukan. Berjanji akan selalu bersama selamanya dan tak saling menyakiti.
Bersambung.
__ADS_1
Season satu tamat.