Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Malah Berantem


__ADS_3

129


Seperti biasa, pagi hari di kediaman Al Fatir adalah tempatnya berkumpul semua anggota keluarga untuk sarapan. Selain baru ada Vita dan Zunaira, ada Zara dan juga Rayyan yang tampak terburu-buru, karena pagi ini, pria itu harus secepatnya berangkat ke lokasi kajian.


“Zara di sini saja kan, Nak?” Vita bertanya kepada menantunya yang juga sama-sama sudah bersiap.


“Nggak Ma, aku mau ikut,” jawab Zara sembari mengoleskan selai nanas ke roti tawarnya. Sebenarnya ada banyak macam makanan di meja, tapi dia sedang ingin makanan yang terasa sedikit asam.


“Zara mana bisa dilarang,” sahut Ray bermaksud menanggapi jawaban istrinya. Selain hobi makan es batu, Zara juga jadi sering mengikutinya sekarang. Bukan kenapa-kenapa, Ray hanya merasa Zara lebih aman di rumah daripada ikut bertualang bersamanya.


Tetapi apa boleh buat? Mungkin karena terbiasa dengan kesibukannya membuat wanita itu jadi merasa bosan andai dia tak melakukan apapun.


Vita kembali menyuara, “Dituruti saja ... nggak lama, kok. Hanya sembilan bulan. Mungkin maunya anak kalian begitu. Ingin selalu dekat sama ayahnya.”


“Tuh, dengerin kata Mama ....” Zara senang karena ada yang bisa mengerti maksud hatinya.


Tak sampai lima menit, sepasang suami istri itu lekas-lekas mengakhiri sarapannya karena waktunya sudah semakin sempit. Belum lagi jika harus terjebak dalam kemacetan.


“Kami pergi dulu, Ma. Sampaikan ke Papa juga. Soalnya nanti kami pulangnya ke rumah Mami.” Zara dan Ray berpamitan. Lantas keluar setelah menyalami kedua orang tua tersebut. Menyisakan Vita dan Zunaira, yang saling pandang.


Vita tersenyum. “Tempatnya lumayan jauh katanya,” ujarnya memberitahu Nai, kenapa mereka harus berangkat sepagi ini.


“Di mana Ma?” Zunaira bertanya.


“Tangerang Selatan.”


“Oh ....”


Tak berapa lama, Umar duduk bergabung. “Hollaaa selamat pagi!” serunya menulari semangatnya kepada yang lain. Lalu langsung menyiduk nasi goreng ke piring sebanyak-banyaknya.


“Kak, inget yang lain ngapa, Kak?” Zunaira menyuarakan protes. “Yang lain juga belum pada turun. Papa juga masih siap-siap.”


“Aku jarang makan,” katanya tak peduli. Umar adalah model orang yang makannya borongan. Dia bisa menahan lapar selama tiga hari, tetapi sekali makan, bisa nambah sampai berkali-kali. Bahkan bisa menghabiskan semua makanan yang ada layaknya orang yang sedang kalap.


Vita memberikan putra keduanya sebuah nasihat, “Kalau mau makan itu berdoa dulu, Umar ....”


“Udah!” jawabnya tak terlalu peduli karena sedang sangat menikmati makanannya. “Oh, no. Ini terlalu enak, melebihi belah duren. Apa karena aku terlalu kelaparan?”


Di pesta kemarin, Umar memanfaatkan kesibukan keluarga untuk kabur. Jadi dia tak punya waktu untuk bersantai dan makan enak di sini.

__ADS_1


“Kapan? Mama nggak dengar.”


“Kemarin.”


Pengakuan Umar membuat Zunaira terkekeh. Dasar!


Lima menit berlalu menyusul Sammy dan Mauza. Pasangan pengantin baru itu turun dan langsung duduk bersisian. Zunaira melihat sekilas cara jalan Mauza yang aneh. Sudah dapat dipastikan, apa yang sudah terjadi semalam dan kenapa kamar mereka begitu berisik.


“Ini nih, yang semalam berisik terus. Untung nggak gue lempar gas melon ke pintu kamar kalian.” Umar tak dapat menyembunyikan kekesalannya lantaran istirahatnya begitu terganggu. Beruntung semalam dia dan Ray sedang malas bangun, kalau tidak ... dapat dipastikan kedua orang itu langsung digarap sampai habis.


Vita memilih diam karena takut menyinggung menantunya. Biar bagaimanapun, Sammy adalah orang baru yang belum mengerti keadaan rumah ini. Dan dia tak ingin Sammy salah paham meskipun kesalahan semalam adalah milik mereka. Ya, setiap orang pasti mempunyai cara masing-masing untuk mengekspresikan rasa bahagianya. Sebab dirinya pun pernah merasakan bagaimana menjadi mereka. Saat bersama Yudha 20 tahunan yang lalu.


“Iya, maaf Mar. Maaf ....” Mauza berusaha merayu Umar supaya kembarannya itu tak marah lagi dengannya.


Sementara itu, Sammy hanya menjadi pendengar lantaran takut salah bicara. Sekilas dia memandang Zunaira yang tampak tenang di tempat duduknya. Lalu mendapatinya mengangkat telepon dari seseorang yang dia kira adalah seorang driver, karena Zunaira menyebutkan nomor rumah. Serta-merta Nai beranjak dari duduknya untuk berpamitan dengan Mama Vita.


“Nggak mau nungguin Papa dulu?” Vita bertanya.


“Tapi taksi aku udah sampai di depan, Ma ....”


“Ya sudah, hati-hati dijalan, ya.”


Gadis itu berlari-lari kecil keluar setelah bersalaman dengan mamanya. “Semuanya, aku duluan!”


Lima menit di mobil, terasa darah segar mengucur dari hidung Zunaira. Dia sedang lelah dan banyak pikiran sehingga kesehatannya agak drop akhir-akhir ini. Zunaira sudah sering mengalaminya semenjak kecil, maka tak heran jika dia demikian.


“Maaf ya, Pak. Ngabisin tisu.” Gadis itu merasa tidak enak dengan Si Pengemudi mobil.


“Nggak papa, Mbak. Tapi kalau nggak enak badan harusnya libur aja atuh.”


Zunaira tak mengacuhkan. Dia justru kebingungan karena bajunya terkena sedikit darah. Sedangkan meminta putar balik juga tidak mungkin, karena tak ingin membuat orang tuanya khawatir.


Setelah mendapatkan ide, dia menghubungi teman sekantornya.


∆∆∆


“Aku ngerasa Zunaira agak beda sama aku, Sam,” kata Mauza saat mereka sedang berdua saja. Menuju ke suatu tempat untuk melakukan honeymoon dadakan.


Mereka baru merencanakannya semalam dan langsung pergi pada hari ini juga. Sebab Sammy ingin memanfaatkan waktu cutinya yang hanya sebentar.

__ADS_1


Sembari fokus mengemudi, Sammy menoleh, “Beda gimana?”


“Kayaknya dia belum bisa move on sama kamu,” Mauza melanjutkan.


“Nanti lama-lama juga move on,” Sammy menanggapi, “apalagi kalau udah nikah sama Andrea. Dia begitu karena masih kosong aja.”


Hening selama beberapa saat, Sammy kembali menanyakan, “Memangnya kamu mau Nai bersikap kayak apa? Aku pikir apa yang Nai lakukan ke kita dari kemarin wajar saja.”


“Kayaknya kamu belum terlalu tahu dia, Sam. Lagian kamu sih. Siapa aja di deketin. Udah suka malah ditinggalin,” kata Mauza lagi yang kali ini langsung membuat Sammy tersulut emosi.


“Terus, kamu nyesel nikah sama aku, Za?”


“Kok kamu ngomongnya gitu?” seketika Mauza jadi ikut sentimen gara-gara Sammy menyambarnya dengan pertanyaan yang cukup mengejutkan tersebut. “Aku pikir nggak ada yang salah sama ucapanku barusan. Siapapun nggak bakal suka di PHP in, Sam.”


Lagi-lagi Mauza mengulangnya dan membuat Sammy semakin tak suka.


“Terus saja, itu yang kamu bahas. Kamu terpaksa nikah sama aku?”


Mauza mengernyit, dia tak paham kenapa Sammy harus marah saat menanggapi unek-uneknya barusan, yang membahas Zunaira agak beda dan menjauh darinya.


“Gitu aja kamu marah. Aneh. Emosian kamu, Sam.”


“Kamu-”


“Apa?” potong Mauza menajamkan mata.


“Begitukah sikapmu sama suamimu, Za? Apa seperti ini hasil didikan dari seorang Pak Yudha?”


“Kan kamu yang mulai. Jangan pernah kamu bawa-bawa nama keluargaku apalagi Papaku, ya!”


“Hanya karena Zunaira beda sama kamu, aku kah yang harus jadi pusat kekesalannya? Belum tentu dia juga marah karena sebab itu. Kalau kamu lebih memberatkan saudaramu, lantas kenapa kemarin kamu terima lamaranku, Mauza?


“Lagipula Nai juga udah punya calonnya sendiri sekarang. Jadi apa yang kamu pusingkan?


“Semua udah terjadi dan kita nggak akan mungkin bisa mengubah kenyataan. Aku udah menyadari kesalahanku dan minta maaf padanya. Apa aku juga harus mengusap-usap kepalanya seperti bayi supaya dia tenang?” urai Sammy dengan panjang lebar agar bisa membuka pikiran Mauza.


“Ah, udah-udah! Berisik!” tukas Mauza membuang mukanya ke samping.


“Hadap sini Mauza! Selesaikan masalah kita?! Jangan main tutup seenaknya masalah yang belum selesai!”

__ADS_1


“Nggak. Aku malas berdebat denganmu.”


Bersambung


__ADS_2