
52
Dunia seolah berhenti berputar selama beberapa saat kedua insan itu menyatukan jantung hati.
Suasana menjadi hening. Bahkan dedaunan pun seolah berhenti bergerak saat siur angin meniup-niup.
Sebab yang mereka rasakan saat ini hanyalah dunia mereka berdua. Dunia yang sunyi tanpa ada seorang pun yang bisa masuk ke dalamnya.
“Nggak seharusnya kita seperti ini ....”
Namun satu menit kemudian, Ray harus melepaskan diri ketika menyadari perlakuannya yang terlalu berlebihan. Andai saja suara lembut itu tak mengusiknya, dia pasti masih ingin menikmati kenyamanan, ketentraman, kelembutan dan ketenangan ini. Suatu hal yang tak pernah Ray rasakan. Dengannya, ia seperti menemukan jalan pulang.
“Maaf, aku hanya terbawa suasana,” ujar Ray sangat tidak enak.
“Pipi kamu merah, bekas tanganku.” Zara menunjuk bagian tersebut tanpa berani menatapnya. Ray menyadari itu karena wanita ini terlihat salah tingkah.
“Kalau khawatir kenapa tadi mukul, Sayang....”
“Berani-beraninya kamu memelukku, terus sekarang memanggilku begitu,” kecamnya.
“Bilang aja suka.” Wajah pria itu setengah mengejek.
“Nggak.”
“Nggak salah.” Ray mengulurkan tangannya, berniat untuk meraih tangan Zara, “yuk, balik ke dalam. Nanti dicariin.”
Namun Zara berusaha menghalau tangan itu, “Jangan coba-coba pegang tanganku!”
“Mana bisa aku pegang, pakaianmu rapet begitu.”
“Alasan.”
“Jadi gimana sekarang, masih mau nggak jadi istriku?”
Pertanyaan Ray sontak membuat Zara gelagapan. Bisa-bisanya Rayyan jadi seorang pria yang sefrontal itu?
Belum sempat Zara menjawab, Ray berkata lagi, “Apa? Mau banget? Ya udah, berarti langsung nikah aja.”
“Ray, kamu? Astaga....”
Ya ampun, Zara semakin sebal. Dia pun meninggalkannya dan berlalu ke dalam. Raut wajahnya memanas. Gadis itu baru kali ini digoda oleh seorang pria secara terang-terangan. Rasanya nano-nano. Cukup menggelikan.
“Nah, itu anaknya!” ucap Miranda begitu Zara kembali ke ruangan bergabung bersama mereka.
“Hayo, lama banget abis ngapain, Kak?” tanya Mauza kepada Rayyan yang duduk di sampingnya.
“Mau tahu aja urusan orang,” sahut Umar. Sementara yang dibicarakan hanya tersenyum-senyum. Pun dengan Zara yang kelihatan lebih semringah, tak semuram tadi seolah bebannya telah terangkat. Apakah sebatas pelukan telah mengubah mood-nya? Atau karena unek-unek yang selama ini terpendam telah dikeluarkan pada tempatnya? Atau karena dia sudah puas menampar wajah Rayyan sampai membekas?
Entahlah.
Tapi Zara berharap tidak ada yang melihat adegan mereka barusan.
“Zara lagi sibuk apa sekarang, Nak?” tanya Vita kepada gadis yang dimaksud.
“Paling cuma syuting-syuting buat endorse aja, Tan. Sama bantu-bantu marketing outlet aku sekarang.”
__ADS_1
“Oh, nggak syuting di TV lagi berarti, ya?”
Zara menggeleng, “Untuk sekarang sih, enggak. Belum pengin terlalu sibuk....”
“Ajarin aku jadi artis, dong, Kak?” celetuk Umar. Dia memang sedang betul-betul sedang ingin mempunyai profesi itu supaya bisa jadi terkenal.
“Mau jadi artis apa?” Yudha bertanya.
“Artis sinetron juga mau kalau ada, mah,” jawab Umar.
“Apa kira-kira peran yang cocok untuk Umar, Kak?” Mauza bertanya kepada Zara.
Namun saat Zara hendak membuka mulut, Umar kembali menyeletuk, “Suami yang soleh.”
Entah kenapa semua orang mendadak mual dibuatnya.
Beberapa menit berlalu. Makan malam telah selesai. Sudah saatnya, mereka membahas masalah inti tentang tujuan dan niatnya kemari.
“Jadi, gimana rencana kita, Bu?” tanya Vita kepada Miranda membuat wanita itu menoleh ke anaknya yang penuh tanda tanya. Semua orang pun mendadak diam. Perhatiannya memusat kepada mereka bertiga secara bergantian.
“Baik, Bu Vita... kita sampaikan sekarang aja, ya.”
Wanita yang dimaksud mengangguk.
“Sayang ...” ujar Miranda kepada sang anak, “Maksud keluarga Prof Yudha dan Ibu Vita ke sini, ialah melamarmu. Untuk putra pertamanya, Ray. Apakah diterima?”
“Tapi Mami bilang ini cuma makan malem,” Zara berbisik menyuarakan protes.
“Masa nggak ngobrol sih ... tentu ada tujuannya, dong.”
“Iya, ini terlalu mendadak, Tante,” jawab Zara sangat tidak enak.
“Nggak papa, pikir-pikir saja dulu. Apa pun jawabannya, kami terima.”
Zara menatap Ray yang tersenyum dan mengangguk.
Vita kembali menyambung, “Malam ini hanya sebatas ngobrol santai aja, Nak ... nanti kalau Zara sudah yakin, mantap menerima anakku, baru setelah itu kami lamar secara resmi. Insyaallah....”
▪▪▪
Zara bangun kesiangan setelah tidur dengan kepala berdenyut. Pertemuan semalam membuatnya terus kepikiran.
Bahkan setelah satu minggu telah berlalu, pun, Zara belum menemukan keputusan yang tepat.
“Mau nerima masih ragu, tapi menolak aku nggak berdaya.”
Sedangkan menggantung jawaban, itu berarti akan menyiksanya lebih lama.
“Aku harus gimana ....”
Lamunan Zara buyar tanpa bekas pada saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Disusul suara Devi yang terdengar memanggilnya dengan nada suara panik.
“Non! Ibu Non! Ibu!” serunya.
Gegas Zara memakai mukena asal-asalan. Memutar kunci dan membukakan pintu. “Ada apa, Dev?”
__ADS_1
“Ibu, Non. Ibu....” Devi terlihat kebingungan menjelaskan.
“Ah, kelamaan.”
Tak sabar, Zara pun berlari ke bawah diikuti oleh Devi di belakangnya.
Tanpa permisi, sebab panik yang melanda, Zara langsung membuka paksa pintu kamar Maminya.
Di sana, dia menemukan Mami yang tertidur dengan bibir pucat. Beliau sedang berusaha di bangunkan oleh Om Ruben.
“Bangun Mir ... bangun. Kita ke rumah sakit, ya.”
Zara menangkap nada kesedihan di sana. Dengan seperti ini, dia dapat melihat besarnya cinta Om Ruben kepada maminya.
“Mami kenapa, Om?”
“Semalam mual-muntah, tadi mengeluh pusing, dadanya juga sakit,” jawab Ruben tanpa menoleh. Pria bertubuh jangkung itu hanya melihat istrinya saja dan terus berusaha membangunkannya. Sepertinya dia terlalu panik sehingga otaknya menjadi buntu. Tak bisa melakukan apa pun.
“Dev, minta tolong ambilin tensi manual, cepet!” titah Zara.
Devi mengiyakan, kemudian membuka-buka laci mana saja untuk menemukan barang tersebut. Hingga lima menit kemudian dia berhasil menemukan benda itu.
“Tensinya tinggi banget, Om,” kata Zara begitu memeriksakannya sendiri, “ini kayaknya salah makan, deh. Om tahu Mami habis makan apa?”
“Om juga nggak tahu.”
“Mami sendiri jangan tegang, jangan terlalu banyak pikiran. Mami harus relaks.”
Miranda bergerak, tapi tidak bisa membuka matanya karena seperti terdorong keluar. Mungkin terlalu pusing.
“Bahaya banget ini, Om. Mami bisa stroke kalau nggak segera ditangani. Kita ke klinik darurat aja, ke rumah sakit biasanya terlalu jauh.”
Oleh karenanya, Devi segera menyuruh sopir untuk menyiapkan mobil. Tak sampai lima menit, mereka sudah jalan menuju ke klinik terdekat. Namun dengan berat hati Michael tidak bisa ikut karena sedang ujian.
▪▪▪
“Ya ... Tuhan. Untung kalian cepat membawanya ke sini. Kalau tidak ....” kata dokter umum begitu selesai melakukan penanganan kepada Miranda. “Sejak kapan pasien mengeluh sakit kepala sama mual?”
“Sepertinya dari semalam, Dok. Tapi istri saya diam aja. Memang beberapa kali saya lihat dia minum obat sama pisang tengah malam, saya pikir karena lapar, ternyata karena dia tahu tensinya tinggi,” jawab Ruben.
“Seharusnya kalau sudah minum obat bisa langsung turun, ya, Dok?” Zara ikut bertanya.
“Kejadian seperti ini bisa saja terjadi, Bu... mungkin karena sudah terlalu tinggi, jadi nggak bisa diatasi sendiri lagi. Untuk sementara, pasien akan dirawat di sini sampai tensinya kembali turun. Tapi mohon kerja samanya ya, Bu. Supaya jangan terlalu banyak pikiran dulu.”
“Banyak pikiran?”
Zara terngiang-ngiang.
Sehingga begitu Zara kembali ke ruang perawatan, dia mengetik pesan kepada sesorang.
0858 777 666 xx: ok. Aku terima lamaran kamu. Minggu ini silakan kamu datang lagi ke rumah bareng keluarga.
0858 777 666 xx: terima kasih sudah menerimaku ❤
“Semoga ini keputusan yang terbaik dan bisa membuat Mami senang.”
__ADS_1