Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Mati Gue


__ADS_3

110


Zara dan Mauza segera ke kantor setelah urusannya selesai.


Kali ini, mereka mereka ditemani oleh Ray yang karena kebetulan, pria itu sedang kosong dari semua kegiatan apapun. Adapun jadwal menjadi pemateri di suatu kelas online, tapi nanti malam. Dan dia sudah mempersiapkan semuanya selepas subuh pagi tadi sebelum dia pergi.


“Aku sama Mauza lagi otewe ke sana, jadi kalian nggak usah ke rumah, ya?” ucap Zara kepada Damar.


“Siap Bu, Bos.”


Beberapa menit kemudian, mereka semuanya sampai di lokasi. Melewati pintu lain, ketiganya disambut oleh para karyawan yang tak sengaja ditemuinya.


“Selamat pagi, Pak, Bu?” sapa mereka.


“Pagi juga ....” jawab ketiganya serentak.


“Aku mau ke warehouse,” ujar Rayyan belok ke arah lain.


“Ya Allah, By. Nggak mau cium aku dulu apa?” protes Zara membuat Mauza seketika memutar bola mata dan mencebikkan bibirnya.


Tuhan, cobaan apalagi ini? Penderitaan jomlo kenapa nggak kelar-kelar yak? Di uji kek gini kok hampir setiap hari.


“Hadap sana, Dek,” titah Rayyan kepada gadis itu yang ditanggapi dengan tatapan sinis.


Rayyan langsung menyambar bibir istrinya begitu Mauza memalingkan muka. Lama dan dalam, seolah bibir Zara adalah laksana air di tengah Padang pasir. Pria itu mengusap air liurnya yang berantakan di bibir Zara sebelum melenggang pergi.


“Untung pakai lipstik matte. Coba kalau pakai lipstik yang glossy, pasti pindah ke sana.”


Mauza mengintip sedikit. Ray sudah pergi. Aman.


“Ayo, Kak!” Mauza menuntun Zara ke lift. Di atas sana, mereka langsung melakukan kesibukannya masing-masing. Zara menuju ke ruang rapat untuk membahas cash flow perusahaan bersama Zunaira, Belle, dan Andrea, sementara Mauza disibukkan dengan deadline-nya bersama tim editor.


“Seperti biasa, saya mau 2,5 persen keuntungan kita di keluarkan untuk Para Amil Zakat,” ucap Zara kepada semua orang yang ada di sana.


“Baik, Kak. Nai catat,” kata Zunaira menimpali, “apa ada lagi yang mau Kakak sampaikan?”


“Nggak ada. Menurut laporan yang aku baca, bulan ini pemasukan dan pengeluaran kita juga sangat baik. Kamu hebat. Kamu sudah pandai mengelolanya.” Zara tersenyum bangga pada adik iparnya.

__ADS_1


“Terima kasih, Kak. Ini juga berkat bantuan Ibu Belle yang selalu sabar mengajariku.”


Belle tersenyum, “Dalam satu tim itu memang harus kerja sama, Bu Nai. Nggak bisa berdiri sendiri-sendiri. Betul kan Pak Andrea?”


Sedangkan yang ditanya hanya tersenyum samar dan terkesan cuek. Zara tak pernah mempermasalahkannya karena memang sudah karakter Andrea seperti itu. Dingin seperti salju.


Justru demikianlah karakter yang dia perlukan di bagian pergudangan. Jujur, tak berpihak pada siapapun dan tegas sehingga ditakuti dan disegani oleh bawahannya supaya mereka tak berani melakukan kecurangan.


“O iya, Bu. Kemarin saya menerima surat kerja sama dari Ibu Cici lagi,” ucap Belle sontak ditanggapi Zara dengan kerutan di dahinya. “Gimana menurut Ibu?”


“Beberapa bulan ini kita udah tenang nggak ada dia. Sekarang muncul lagi,” ujar Zara saat menerima uluran surat dari Belle. “Lagian kita sudah kerja sama dengan pabrik printing lain, kan? Kontraknya saja masih berjalan.”


“Apa tidak sebaiknya ditemui dulu, Bu? Beberapa hari ini, beliau terus menanyakan Anda melalui telepon kantor. Tapi selalu kecewa karena saya bilang Anda tidak ada di tempat. Apa mungkin beliau tidak menghubungi Ibu secara pribadi?”


“Banyak banget chat masuk, Bel. Lagi pula aku juga orang yang cukup malas menyimpan nomor telepon. Suamiku sendiri aja nomornya sampai sekarang nggak pakai nama,” ujar Zara bagaimana adanya, “ya sudah. Nanti aku lihat satu-persatu kalau lagi senggang.”


“Baik, Bu.”


Setelah rapat selesai, dia pun membuka ponselnya dan menyempatkan diri untuk mencari chat-chat yang sudah tenggelam karena banyaknya pesan terbaru.


Sebab sudah beberapa minggu belakangan ini, pabriknya sudah tidak lagi beroperasi. Sedangkan dirinya masih mempunyai banyak tanggungan. Terlebih sebentar lagi dia akan melahirkan dan membutuhkan banyak biaya.


“Serius kalau Cici lagi hamil? Aku baru tahu. Sama siapa? Grace? Eh Fasad?” gumam Zara setelah membaca pesan tersebut.


“Terakhir kali kita ketemu di sel, perutnya masih datar. Eh, tahu-tahu sekarang udah lima bulan aja. Berarti mereka nikahnya udah lebih lama dari aku, dong.


“Tapi menurut Mami, tanggal nikahnya setelah aku?”


Zara berpikir sesaat.


“Tau ah, bodo amat. Pusing amat mikirin urusan orang.”


Kendati demikian, Zara tetap memikirkannya. Cukup aneh memang!


“Ya ampun, untung dulu aku nggak dihamilin. Padahal aku sama Fasad barengnya lebih lama. Sebenarnya Fasad itu normal atau belok, sih?”


∆∆∆

__ADS_1


Pagi ini meja sarapan sedang dalam keadaan penuh karena semua keluarga Al Fatir sedang berkumpul. Berikut Alif, Dara dan anak-anaknya. Pun dengan Zara dan Rayyan yang semalam harus menginap. Lantaran pagi ini, Zara akan pergi ke dokter dengan Mama mertuanya.


Sayang, lagi-lagi Ray tak bisa ikut mengantar istrinya periksa kandungan. Suami macam apa aku ini, begitu dia berpikir.


Sebab pria itu akan pergi dengan Papanya untuk meninjau lokasi pembangunan sekolah anak milik mereka. Yang rencananya akan diresmikan begitu proyek selesai.


Sekolah ini dibangun atas kepeduliannya terhadap anak bangsa. Agar mereka bisa mendapatkan pendidikan dunia dan akhirat yang seimbang dari usia dini: 3-6 tahun. Di sana, ada Sammy yang mengurus semua pembangunannya. Ray mempercayakannya kepada pria itu, selain agar Sammy tak kehilangan pekerjaan yang lumayan. Meski bukan bidangnya, tetapi baginya Sammy cukup bisa diandalkan.


“Zara belum tahu?” tanya Yudha kepada anaknya pada saat mereka memisahkan diri dari kebisingan di meja makan.


“Belum. Biar jadi kejutan kalau sudah resmi,” jawab Ray berharap Papa juga ikut merahasiakannya sementara, “kita langsung berangkat saja setelah ini. Lama kalau menunggu mereka selesai sarapan, Pa.”


“Siapa bilang mereka sarapan? Mereka itu debat, bukan sarapan. Tidak ada yang mau mengalah satupun. Semua orang mau menyela.” Yudha berkata setengah kesal. “Memang tidak terlalu baik anakku bergaul dengan mereka. Lihat saja Mauza sama Umar seperti apa sekarang?”


Ray terkekeh. “Mauza hanya ikut bar-bar aja, Pa. Dia nggak nakal.”


“Lalu Umar? Jangan kamu pikir Papa tidak tahu. Umar sering keluyuran malam-malam.”


“Kirain Papa belum tahu.”


“Sudah. Sedang Papa intai setiap malam biar kepergok. Tidak tahu lewat mana dia kabur. Padahal setiap malam pintu gerbang, ruang tamu, dapur semua sudah dikunci. Awas saja kalau ketahuan pacaran sama perempuan kurang benar. Semua fasilitasnya akan Papa cabut.”


Umar diam-diam menguping. “Aistt... mati gue! Bisa tamat riwayatnya kalau begini.”


“Ngapain kamu nguping?” tanya Alif kepada Umar di dekat pembatas kaca.


“Siapa yang nguping, Om?” balas Umar memasang wajah sebiasa mungkin agar tak dicurigai, “aku menyendiri lagi ngupil.” Umar menunjukkan jarinya yang terkena upil, “Nih, mau?”


“Nah, masukkan lah benda menjijikkan itu ke mulutmu!” Alif pergi ke belakang sambil menyerapah, “Menjijikkan. Semoga kamu segera kualat.”


“Semoga mulai nanti malam Om nggak bisa berdiri.”


Alif mengacungkan jari tengahnya kepada anak sialan itu.


♧♧♧


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2