
“Nggak mungkin ... di sini banyak penjagaan. Kamu nggak akan bisa masuk tanpa undangan ekslusif.” Mata Cici mengedar ke segala arah. Selain melihat banyak orang yang memakai pakaian serba putih, dia juga melihat banyak orang berseragam yang akan mengamankan jalannya acara. Bahkan ia pun tak yakin posisinya aman karena salah satu dari mereka tengah melihatnya dengan tatapan curiga.
“Kalau begitu biar aku di sini supaya bisa mendengar ijab kabulnya,” kata Fasad tertunduk lesu.
“Yang benar saja, kita bisa dicurigai kalau terlalu lama berdiri di sini.” Cici mengira acara ini masih lama dimulai, lantaran saat ini belum terdengar suara apa pun dari dalam tempat acara.
“Ya sudah, kita duduk aja,” Fasad menunjuk kursi tak jauh dari tempat ini.
Mereka pun duduk sambil berselancar di sosial media agar tak terlalu bosan menunggu akad di mulai.
Namun belum lama mereka duduk, terdengar Cici mengeluh pusing seraya memijat kepalanya.
“Aku belum tidur dari semalam.”
“Kenapa?” Fasad menoleh.
“Kamu nggak menghubungiku sama sekali, bikin aku terus kepikiran.”
“Salahmu sendiri, aku nggak pernah menyuruhmu untuk memikirkanku.”
Namun Cici terus berusaha menahan sakit hatinya dan berpura-pura tak tahu diri menanggapi setiap kata-kata Fasad yang sebenarnya amat menusuk.
Cici bertanya lagi, “Pergi ke mana kamu semalam?”
“Bukan urusanmu.”
“Jelas ini menjadi urusanku. Apa kamu lupa? Kemarin kamu bilang, kalau kita akan tetap melanjutkan pernikahan ini demi keluarga karena kamu nggak mau mengecewakan mereka. Apa salah kalau aku kembali berharap?” urai Cici memaparkan, “aku mengikutimu karena aku punya alasan. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa yang bisa berakibat menggagalkan acara pernikahan kita.”
Tak berapa lama, Cici melihat kedua bola mata Fasad memerah dan berangsur-angsur berair.
“Apa yang membuat kamu tetep kukuh memperjuangkan aku?” tanya Fasad tak habis pikir, “sedangkan aku dah jahat banget sama kamu, sama semua orang. Seharusnya kamu tinggalin aku jauh, Ci. Aku udah rusak parah. Nggak ada lagi kebaikan yang tersisa di diriku dan kamu nggak perlu merasa bertanggung jawab soal ini. Biar saja aku mau jadi apa di luar sana. Toh, aku juga dah nggak ada gunanya.”
Dengan Fasad seperti ini, Cici sudah dapat menyimpulkan sendiri bahwa Fasad memang sedang mengalami gejala depresi.
“Sebenarnya ... aku bingung sama apa yang lagi kamu derita sekarang. Aku kira kehidupan kamu itu nggak terlalu buruk. Kamu diciptakan oleh Tuhan dengan tubuh yang sempurna. Nggak ada yang kurang apalagi cacat.
“Meski nggak ada sosok ayah, kamu masih punya ibu yang sangat hebat dan penyayang. Punya pasangan yang mengerti keadaan kamu, dan kamu juga punya ekonomi yang menurutku cukup baik, jika dibandingkan orang-orang kurang beruntung di luar sana,” sesaat kemudian, Cici meminta Fasad untuk menatap kedua bola matanya, “hanya satu hal yang belum kamu punya.”
Dengan segera Fasad bertanya, “Apa?”
“Kamu kurang bersyukur.”
__ADS_1
Fasad tertawa sumbang, “Persetan dengan kata itu. Aku udah berkali-kali mencoba bersyukur, menerima dan memaafkan diri sendiri. Tapi apa setelah itu yang aku dapat? Berkali-kali juga aku merasa kecewa.”
“Sepertinya kamu nggak tahu apa makna bersyukur. Bersyukur itu menerima apapun yang di berikan oleh Tuhan, serta rela menjalani kehidupan yang sudah Dia ditentukan.”
“Gue nggak peduli. Lo nggak usah ceramahin gue!” Fasad kembali ke mode galaknya.
“Fa, plis. Kamu nggak usah pura-pura kuat di depanku. Aku tahu selama ini kamu hanya bersembunyi dibalik tampang kerasmu.”
“Berhenti menceramahiku atau kurobek mulutmu.”
Tak ingin Fasad bertambah marah, akhirnya Cici diam menutup mulut.
Tapi kini kepalanya semakin berputar. Bahkan perempuan itu merasa ada yang akan keluar dari dalam tubuhnya.
“Aku mual, Fa.” Cici berkata demikian sebelum beranjak cepat untuk mencari toilet.
Khawatir, Fasad pun mengejar untuk mengikutinya.
Namun pada saat Fasad hampir tiba, dia justru mendapati seorang wanita sombong yang paling dibenci di depannya, tengah berjalan menuju tempat yang sama.
Fasad mendadak naik pitam. Tubuh wanita sombong itu mengingatkannya pada kejadian lalu pada saat ia harus angkat kaki dari rumah Zara.
Keadaan yang cukup sepi membuat Fasad gelap mata. Matanya nanar. Dia refleks mengambil barang yang paling dekat dan memungkinkan untuk kemudian dihantamkan ke bagian belakang kepala Miranda. Alat itu adalah penyedot debu milik cleaning service yang tergeletak hendak digunakan.
Alhasil, kepala Rayyan lah yang akhirnya terkena hantaman benda keras tersebut. Dua orang terjatuh di lantai dengan posisi duduk.
Merasa bahaya tengah mengancam, Fasad pun kabur. Dia lari tunggang-langgang untuk mencari tempat persembunyian paling aman.
“Aaaaakh! Tolong! Kurang ajar kamu, Fasad! Tolong!” Miranda terus berteriak. Wanita itu sangat panik sehingga mengundang perhatian banyak orang yang mendekat.
“Ray, jawab Mami, Ray. Jawab Mami. Are you okay?” Miranda mengguncang tubuh Ray yang tengah memegangi kepalanya dan meringis kesakitan. “Ya Tuhan, ini gimana?”
Alat penyedot debu itu berserakan. Terbelah menjadi beberapa bagian. Bayangkan, seberapa keras pukulan itu?
“Ibu, Ibu tolong tenang dulu ya, Bu....” seorang perempuan muda mendekatinya. Membantunya agar ia tak panik.
“Tolong menantu saya. Menantu saya sebentar lagi mau akad,” jawab Miranda setengah menangis. Tak pernah menyangka bakal ada di posisi semengerikan ini.
“Iya, Ibu tenang dulu. Kalau Ibu nggak tenang kami yang membantu juga kesulitan.” dia kemudian berbicara kepada korban, “ringankan rasa sakit dengan teknik pernapasan ya, Pak. Saya akan bantu carikan tenaga medis.”
Miranda segera mengambil ponsel untuk menghubungi anak perempuannya. “Cepat kamu ke toilet. Kabarin ke semua orang kalau Ray baru aja dipukul orang. Cepat!”
__ADS_1
“Ada yang tahu pelakunya lewat mana?” polisi yang baru datang langsung bertanya. Tapi juga langsung dimaki oleh Miranda.
“Lalai kalian semuanya! Mengamankan satu orang saja kalian tidak bisa! Cari dia sampai dapat?!”
“Ciri-ciri pelakunya?”
“Orang itu namanya Fasad. Dia pergi ke arah sana. Cek CCTV biar kalian tahu!” Miranda menunjuk arah pintu exit.
“Baik, Bu.” Semua anggota langsung dikerahkan untuk mencari pelaku.
Cici yang pada saat itu masih di ada dalam toilet, terpanggil keluar setelah mendengar keributan. Namun pada saat ia melihat banyak sekali polisi dan dua orang yang ia kenali terduduk di lantai, ia langsung menduga-duga apa yang baru saja terjadi.
“Pasti ini ulah Fasad.”
Nyata. Pada saat ia mencari pria itu ke tempat semula mereka duduk, dia sudah tidak ada.
Tak mau dicurigai apalagi harus berurusan dengan polisi, Cici pun juga segera meninggalkan area dan menutup wajahnya dengan masker. Mengingat ia pasti akan terlibat karena ada sangkut-pautnya dengan Fasad yang merupakan calon suaminya. Celakanya, dia juga datang dan duduk bersamanya.
“Kenapa kamu nyelamatin Mami, Nak? Kenapa kamu nggak biarin aja Mami dipukul tadi? Sebentar lagi kamu mau akad, semua orang nungguin kamu.”
Ray tak kuasa menjawab. Dia masih merasakan pening yang luar biasa pada bagian kepalanya.
“Ray!”
“Ya Allah, Ray!?”
“Ray!?”
Semua keluarga memekik pada saat melihat Ray terduduk memegangi kepalanya.
“Kenapa bisa begini? Bagaimana ceritanya?” tanya Yudha berjongkok menepuk-nepuk pipi sang anak agar dia sadar akan kehadirannya.
“Gimana pun ceritanya itu urusan nanti, yang penting Ray dapat penanganan dulu,” jawab Miranda berang, “mana tenaga medis? Kenapa lama sekali datangnya? Heran, kenapa semua orang sangat lelet?!”
“Minum dulu, Nak.” Vita menyodorkan minum kepada anaknya. Dia berusaha menekan rasa panik dan meyakinkan diri bahwa anaknya pasti akan baik-baik saja.
Ruben meneliti bagian kepala Ray yang ternyata memang terdapat luka dan sedikit berdarah.
“Mauza bawa tisu, Om.” gadis itu mengulurkan benda tersebut.
Zara yang tiba di sana terlambat karena terhalang gaunnya hanya bisa menangis. Panik tentu saja. Tapi lebih besar dari rasa khawatirnya.
__ADS_1
Zara menyarankan Ray untuk dibawa ke rumah sakit terdekat saja biar cepat ditangani. Tapi sayang, Ray menolak ajakan semua orang yang hendak membawanya ke mobil. Pria itu justru mengatakan, “Aku jadi ingat banyak hal....”
Bersambung.