
Bab 28.
“Kak bisa lebih cepat nggak nyatoknya?” kata Zara kepada pegawai salon yang sedang menanganinya, “aku ada urusan penting.”
“Tapi kalau cepat-cepat nanti hasilnya jadi kurang bagus, Kak,” balas pegawai tersebut.
“Nggak papa, soalnya aku harus cepet pergi.”
Pegawai tersebut mempercepat pekerjaannya tak peduli rambut Zara masih berantakan. Oleh karenanya, Zara meminta dia untuk mengikatnya saja agar terlihat lebih simpel dan rapi.
Dalam perjalanan, Zara terus menggumam nama Fasad. Ia hanya takut terjadi apa-apa padanya karena tidak biasa-biasanya Fasad seperti ini.
“Kamu pasti sempat-sempatin balas notif kalau lagi luang. Tapi sekarang—baca pesanku pun enggak, apalagi angkat telepon. Padahal aktif. Fasad ... kamu ini sebenarnya kenapa?”
Tempat yang pertama kali dia datangi adalah rumah sendiri, karena di sanalah kemarin Fasad tinggal.
"Aku harap kamu masih di sana."
Tanpa mengucap salam apalagi memarkirkan mobilnya dengan baik, Zara langsung saja menyelonong masuk.
“Fasad! Fasad!” panggilnya cukup keras, kemudian menuju ke atas, “Fasad, kamu di mana?”
Brak!
Zara membuka pintu kamarnya. Namun sayang, tak ada Fasad di sana bahkan secuil barang-barangnya pun.
“Kamu pergi ke mana?”
Dari belakang, Bi Yati berlarian menemui majikannya yang sudah tak pulang selama seminggu itu. “Non?”
Zara menoleh dan sontak bertanya, “Bi, Fasad mana, Bi? Fasad mana?”
“Mas Fasadnya pulang dua hari yang lalu, Non,” jawabnya segera.
“Kenapa dia nggak ngasih tahu aku dulu?” kata Zara mende sah kecewa, “apa alasannya dia pulang, Bi? Titip pesan nggak buat aku?”
“Nggak, Non. Nggak nitip pesan apa-apa selain pamit aja.”
“Jadi nggak bilang mau balik ke sini kapan, gitu?”
“Mas Fasadnya cuma pamit aja sama Bibi. Terus pergi pakai taksi.”
“Ya sudah, tolong jaga rumah ya, Bi. Aku mau nyusul ke rumah Ibu Tia. Nanti kalau memang Fasadnya pulang ke sini sebelum aku datang, tolong kabarin, ya. Pakai telepon rumah aja.”
“Baik, Non.”
__ADS_1
Zara kembali keluar. Mulai mengendarai mobilnya ke rumah ibu mertuanya.
“Ada-ada aja, ya. Pulang pakai nggak bilang-bilang. Bikin aku cemas tahu, nggak.”
Dua puluh menit kemudian, Zara pun akhirnya tiba di depan rumah ibunda Fasad, yakni Tia Rumana. Setelah menepikan mobilnya dengan baik, Zara segera turun untuk memasuki rumah tersebut. Namun tanpa di duga, Sang Ibunda Mertua justru tidak tahu menahu bahwa Fasad pergi dari rumahnya.
“Lah, tadi kata Bi Yati Fasad pulang, Bu,” kata Zara menanggap ucapan beliau yang katanya juga tak tahu sama sekali.
“Tapi kalau pulang ya, pasti ada di sini. Masa sih, Ibu bohong. Sudah dihubungi belum?”
“Sudah, tapi pesanku nggak dibaca, panggilanku juga nggak di angkat. Aneh, kan, Bu?” Zara kebingungan untuk mencari sendiri di mana Fasad. Tak hanya sampai di sini, dia juga sudah menghubungi teman-temannya agar mereka memberi info kepadanya andai salah satu dari mereka melihat pria itu.
"Zara pamit, mau cari dia lagi, Bu."
"Dia lagi main aja itu, Nak, nggak usah khawatir. Ntar juga balik sendiri kalau udah bosan. Biasalah, anak muda memang suka keluyuran."
"Pikiran kita beda, Bu."
🌺🌺🌺
Dua hari berlalu semenjak hilangnya Fasad secara misterius. Hingga sampai detik ini, belum ada tanda-tanda di mana keberadaan pria itu.
Zara kian bingung. Dia tak bisa lagi beraktivitas, mengerjakan sesuatu apalagi mengenai pekerjaan—karena selama ini, dia selalu bergantung dengan Fasad. Apa pun jadwalnya, ke mana pun dia pergi.
Zara beranjak dari tidurnya, kemudian memakai atasan berwarna putih dan celana jeans longgar berwarna blue light. Setelah memantaskan penampilannya dengan sedikit sentuhan make up, dia pun segera turun, berniat keluar untuk mencari ke tempat-tempat lain yang biasa Fasad kunjungi.
Tring.
Ponsel berdering pertanda pesan masuk.
Mami: gulai yang Mami bawa kemarin sudah dimakan belum? Hari ini Zara mau makan apa, biar Mami masakin.
Zara: jangan yang berlemak-lemak, Mam. Zara takut makannya. Kirimin aku makanan sehat aja. Sayuran atau salad buah.
Mami: okay, nanti Mami ke sana lagi kalau pesanan makananmu udah jadi. Selamat beraktivitas anak Mami, semoga harimu menyenangkan, Sayang.
“Nggak, Mam. Kali ini hariku nggak menyenangkan. Seperti ada bagian yang hilang dari hidupku setelah Fasad pergi.”
Baru saja ia menutup pintu, ponsel kembali berdering. Kali ini adalah panggilan telepon dari Kalila.
“Zar, kamu di mana?” ucapnya begitu panggilan terhubung.
“Ada di rumah. Kenapa? Tumben kamu nelpon,” jawab Zara.
“Iya, ini penting. Aku pikir kamu harus tahu. Kemarin aku denger Fasad lagi cari-cari unit apartemen.”
__ADS_1
“Dengar dari siapa?”
“Ardito.”
“Gak bener ini. Aku dah tanya sama dia, dan dia bilang nggak tahu.”
“Wah, kalau untuk urusan itu, baiknya kamu konfirmasi langsung aja sama orangnya.”
“Okay, makasih infonya, Kalila.”
Setelah panggilan di tutup, Zara pun langsung menghubungi Ardito. Secara kebetulan, pria itu juga langsung mengangkat panggilannya.
“Hai, Zara. Ada yang bisa dibantu?”
“Kasih tahu di mana Fasad!”
“Kamu bisa mengatakannya dengan baik, Zara.”
“Aku nggak mau bicara baik-baik sama orang yang ikut-ikutan menutupi keberadaan suamiku!” semburnya dengan emosi yang meruap-ruap aliran darah, “kenapa kamu bohong? Sudah dua hari ini aku hampir gila mencarinya, kau tahu?!”
“Sorry, Zar. Sebenarnya aku nggak ada maksud untuk ikut campur. Tapi untuk saat ini kupikir dia butuh banget ketenangan. Tolong jangan ganggu dia selama beberapa waktu.”
“Di mana dia sekarang?”
“Zara, plis... kamu jangan egois....”
“Ada hal penting yang harus aku tanyakan, To. Aku harus tahu kenapa dia main pergi gitu aja tanpa dia ngomong sesuatu sama aku. Apa dia sakit jadi nggak mau diganggu? Atau dia lagi ada masalah sama aku? Kita harus menyelesaikannya biar semua ini jelas.”
“Baiklah, kalau kamu memaksa," kata Dito akhirnya mengalah demi perempuan, "datang ke apartemen nuansa. Aku nunggu kamu di lobby.”
Dua puluh menit kemudian, Zara sampai di nuansa. Seperti apa kata Dito barusan, pria itu menunggunya di lobby.
“Dia ada di lantai 21,” ujar Dito mengantarkannya ke lantai tersebut. Tidak ada pembicaraan mereka di lift selain hanya hening yang menciptakan luka. Was-was dengan apa yang sebenarnya terjadi. Zara kebingungan. Kenapa hidupnya sedemikian rumit? Masalah-masalah yang timbul seperti tak pernah ada habisnya—bahkan cepat datang sebelum satu-persatu ia selesaikan.
Setelah sampai di lantai yang mereka tuju, Dito mengetuk pintu. Awalnya, pria itu meminta Zara untuk menyingkir agar Fasad mengira hanya dia saja yang tengah berkepentingan dengannya. Namun setelah pintu dibuka dan dipersilakan masuk, Dito justru memasukkan wanita tersebut ke dalamnya, lalu menutupnya dari luar rapat-rapat.
“Selesaikan masalah kalian!” serunya sebelum pergi.
Kini tersisa dua insan yang saling menatap.
Zara yang penuh tanya.
Dan Fasad yang meradang layaknya seekor singa yang telah terusik ketenangannya.
Zara mengira, Fasad memang sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1