Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Hanya Rasa Kasihan


__ADS_3

Bab 7.


Keesokan harinya, Zara pun menghadiri undangan ulang tahun adiknya yang berada di rumah yang berbeda. Dia datang seperti tak pernah terjadi apa-apa di depan orang-orang demi menyelamatkan reputasinya sebagai seorang aktris, agar tak di cap sebagai anak yang durhaka. Demikianlah yang biasa ia lakukan dari waktu ke waktu.


“Ketahuilah, berpura-pura untuk baik-baik saja itu sangat tidak menyenangkan!” Zara membatin.


Bibirnya berusaha tersenyum meski pahit dia rasakan. Masuk ke dalam rumah, dia pun cepika-cepiki. Bersalaman dan berciuman dengan Mami Miranda layaknya sebuah keluarga normal lain. Benar-benar sandiwara yang sangat sempurna. Sosok ibu yang satu ini tak pernah cacat di depan media dan dikenal sangat menyayangi anaknya. Meski berita buruk putrinya terus saja bermunculan. Seolah-olah dia adalah ibu yang paling pemaaf di dunia.


Zara berusaha menikmati momen ini, mulai dari berkumpul untuk meniup lilin, menyantap hidangan sampai berbincang dengan saudara-saudaranya yang lain. Kebetulan, mereka sangat menghargai privasinya dan tidak mau merusak suasana dengan membahas berita operasi plastik murahan tentang dirinya--yang kemarin sempat tersebar hingga saat ini masih terbilang sangat panas.


Tamu sangat banyak yang terdiri dari berbagai kalangan sampai ruangan besar ini terlihat sangat penuh. Tidak ada yang aneh sebelumnya, hingga akhirnya, dia mencurigai suara seseorang pada saat mereka melakukan salat berjamaah di musala rumah ini. Sebab Zara mengikuti di belakangnya agar terlihat pantas dan patut di mata manusia yang lain. Ya, hanya sekadar demikian.


“Kok suara imam itu mirip suaranya Ray, sih?” batin Zara bertanya-tanya. Tak ingin di dera rasa penasaran, dia pun bertanya kepada wanita di sebelahnya mengenai siapa orang pandai agama yang maminya undang untuk mengisi acara tersebut.


“Mami Miranda mengundang Ustaz Rayyan,” jawab wanita yang dimaksud.


“Rayyan?” Zara mengernyitkan dahi. Apa Rayyan kemarin yang sudah dua kali ia temui?


Dan semua itu terjawab sudah manakala salat tarawih rampung dan semua orang bubar meninggalkan shaf. Bersiap untuk duduk mendengarkan kajian. Menyisakan Rayyan yang duduk bersila menghadap mereka semua dengan menyanding beberapa buku di atas meja kecil.


“Ya Tuhan ... aku sangat tergoda dengan makhluk ciptaan-Mu yang satu ini. Tolong sisakan satu seperti dia untukku.”


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ...” ucap Rayyan begitu semua sudah menata duduknya masing-masing. Dan memulai kajiannya dengan tema Ramadan.


“Oh, baru aku tahu sekarang, jadi dia seorang pengajar?” gumam Zara menyesali kemarin telah memanggilnya tanpa menyematkan sebutan. Ah, Zara sangat malu dan tidak enak sekali kepadanya. “Ya ampun, betapa kurang ajarnya aku, miskah!”


Rasa malu membuatnya segera menyingkir ke dapur umum. Menemui beberapa orang suruhan yang tengah sibuk mondar-mandir membereskan bekas pesta dari dalam sana.


“Kakak!” panggil Michael, adik Zara yang berusia 12 tahun itu. Perbedaan usia yang sangat jauh sekali dengannya. Sebab Miranda hamil lagi di usianya yang telah menginjak 43 tahun. Dan itu membuat Zara benci sekaligus iri sekali dengan kebahagiaan mami dan papi tirinya. Seolah melupakan yang telah mati sebab karena ulah murahan mereka.

__ADS_1


Zara menoleh ketika mendengar panggilan itu dan menatap mata sayu sang adik.


“Kakak kok nggak ikut ngaji?” tanya Michael. Bocah itu memegang tangan Sang Kakak dan menampakkan senyum polosnya. “Atau Kakak mau makan kue?”


“Bukan urusanmu,” jawab Zara singkat dan membuat Michael menatap kecewa kepergiannya.


“Kakak ...” panggil Mikhael yang tak dipedulikan sama sekali. Zara kembali ke musala pribadi rumah ini setelah menyampirkan selendang di kepalanya yang ditumbuhi rambut berwarna pirang. Sebenarnya dia kasihan terhadap Michael, dia hanyalah anak kecil polos yang hanya ingin dekat dengan kakaknya. Tapi jika ia melihat wajahnya, dia seperti melihat wajah menyebalkan ayah tirinya itu.


Kajian tak berlangsung lama mengingat hari sudah mulai malam dan ditutup dengan doa bersama.


Rayyan sendiri beranjak berdiri dan sempat bincang sebentar dengan beberapa orang yang menghampirinya, sebelum akhirnya pria itu berpamitan kepada pemilik rumah.


“Biasanya selain ngisi kajian, Ustaz Rayyan mengajar di mana, Nak?” tanya Mami Miranda sekadar basa-basi setelah Rayyan pamit undur diri.


“Setiap hari Kamis dan Sabtu, saya mengajar di Pesantren dekat sini,” Rayyan menunjuk ke arah selatan dari rumah ini.


“Oh, Pesantren Darussalam?” Miranda memastikan.


“Masih dekat rumah, ya?”


“Memang itu yang dicari supaya tidak terlalu membuang waktu di perjalanan, Tante. Di sini rawan macet.”


Miranda tersenyum menanggapinya.


“Aku juga mau langsung pulang, Mam. Sudah malam,” tiba-tiba Zara menyahut dan tanpa bersalaman, gadis itu melewatinya begitu saja. Kemudian masuk ke dalam mobilnya sendiri yang diparkir secara asal-asalan dan cukup mengganggu ketertiban umum. Ya, suka-suka dia saja. Lagi pula tidak ada orang yang berani menegurnya!


“Saya baru tahu ternyata Kak Zara putri Anda, Tante Mira ...” ujar Rayyan begitu Zara melintas di depan mereka.


“Zara memang anak saya dengan suami pertama, Nak.”

__ADS_1


“Oh....” Rayyan membulatkan bibirnya tanpa ingin bertanya lebih.


“Mohon bantu doakan anak saya, Ustaz. Semoga dia bisa secepatnya mendapat hidayah .”


“Insyaallah, Tante.”


“Apa Ustaz Ray bisa membantu saya untuk mengubahnya. Saya ingin Zara bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Tapi saya kira, saya tidak bisa melakukannya sendiri.”


Rayyan terdiam. Sebenarnya dia tidak bisa menyanggupinya. Tetapi disisi lain, dia juga tidak enak hati untuk menolaknya. Terlebih ini menyangkut untuk kebaikan seseorang. Lantas dengan sedikit keterpaksaan, dia pun mengiyakan, “Bagaimana caranya?”


“Datanglah ke sini setiap minggunya. Ibu juga akan menyuruhnya untuk datang ke sini jika dia sedang tidak sibuk, supaya saya tidak terkesan memaksakan dia. Anak ibu yang satu ini, sedikit keras kepala dan bukan tipe gadis yang mudah menurut apalagi menerima.”


“Insyaallah, saya usahakan. Tapi kalau untuk waktunya?”


“Habis maghrib saja, Nak.”


Rayyan mengangguk dan akhirnya menyanggupi permintaan wanita tersebut. Pria yang baru mulai dikenal penceramah oleh masyarakat luas itu, mulai mengendarai mobilnya ke arah jalan pulang. Namun dijalan, diam-diam Rayyan mengikuti mobil Zara yang belum terlalu jauh darinya untuk memastikan bahwa dia dalam keadaan aman. Sebab lagi-lagi dia sendirian tanpa ada yang mendampingi. Demikian ia meyakini yang dilakukannya hanyalah sebuah rasa kasihan, tak lebih dari itu.


“Sepertinya hubungan anak dan orang tua itu sedang tidak baik,” gumam Rayyan. Dia kembali memutar arah mobilnya setelah gadis itu sampai ke tujuannya.


“Mungkin, ini tujuan Tuhan mempertemukan kita. Semoga hanya sebatas itu, nggak lebih.”


Sebab Zara bukan tipe wanita yang dia dan keluarganya inginkan. Entah seperti apa, tetapi yang jelas, tipenya adalah wanita baik-baik yang mampu menjaga harga dirinya.


***


Bersambung....


Siapa yang vote banyak kemarin, ya?

__ADS_1


terima kasih banyak 🥰😘


__ADS_2