
Bab 40
“Zara! Bisa minta wawancara sedikit saja?” pinta para wartawan yang entah sudah berapa kali di luar tempat pernikahan teman sesama artisnya.
“Sebentar saja, Kak,” pintanya memohon.
Merasa tak enak hati serta tak ingin terus dikejar oleh wartawan, akhirnya Zara membolehkan mereka untuk melempar berbagai pertanyaan.
“Mam, sebentar, ya?” pinta Zara kepada beliau yang selalu menemaninya ke mana pun pergi. Termasuk ke undangan pernikahan ini.
“Jangan lama, Mam tunggu di sana,” Miranda menunjuk beberapa kursi kosong yang disediakan oleh penyelenggara acara.
Zara mengangguk, dia kemudian mengalihkan pandang kepada mereka yang kini sedang bersiap, menyodorkan kamera serta perekam suara untuk menyoroti dirinya. “Ya, sudah, di sini aja, deh. Tapi hanya lima menit, ya.”
“Terima kasih untuk waktunya, Zara,” ucap salah seorang wartawan. Kemudian disahuti oleh yang lainnya, “Langsung aja ya, Kak. Sejak kapan Kak Zara memutuskan untuk berhijab?”
“Oh, ini ... sejak pulang Umrah,” jawab Zara sesaat setelah fokus ke hijab panjang yang dia kenakan.
“Kalau boleh tahu, apa alasannya, Kak?” timpal yang lain, “apa karena Kakak akan menikah dengan seorang yang religius?”
Zara tersenyum, “Alasannya karena ... sebenarnya ini perintah wajib, jadi bukan karena apa pun.”
“Apa tanggapan Zara mengenai desas-desus, bahwa Zara vakum dari dunia hiburan karena sebentar lagi akan menikah?”
“Sebenarnya bukan karena itu. Saya cuma pengen lebih banyak waktu di rumah sama keluarga. Tapi kalau ada yang mendoakan seperti itu ya, aamiin kan saja.”
“Berarti memang sudah ada calonnya, Kak?”
Sudah Zara duga, pertanyaan ini pasti akan keluar dari mulut mereka. Tapi tetap saja dia selalu kebingungan untuk menjawabnya.
“Belum,” jawab Zara lagi-lagi tersenyum, “nanti kalau memang sudah ada pasti dipublikasikan. Nggak akan ditutup-tutupi.”
“Ada patokan umur untuk menikah, Kak?”
“Nggak ...” Zara langsung menyanggah pertanyaan tersebut, “mengalir aja. Kalau misalkan dalam waktu dekat ini memang sudah ada calonnya, udah cocok, yakin, lantas—tunggu apa lagi?”
“Belakangan ini kesibukannya apa, Kak?”
“Alhamdulillah ... banyak,” jawab Zara merasa tak perlu menyebutkannya satu-persatu.
“Kak, ada kabar terbaru bahwa Kakak pernah menikah dengan manajer sendiri, apakah berita itu benar?”
Namun belum sempat Zara menjawab, Miranda memanggilnya untuk segera pergi, “Sayang! Ayo kita pergi. Mohon maaf, ya, teman-teman media semuanya, tapi Kak Zaranya sedang sangat sibuk. Semoga dimengerti.”
Wanita itu mengatupkan tangan kepada beberapa orang yang mewancarai putrinya. Lantas segera pergi dari hadapan mereka.
__ADS_1
“Alasan, pasti karena nggak boleh jawab!”
“Iya, tuh. Padahal tadi dah mau jawab Zaranya.”
Tak sedikit mereka yang menggerutu karena Miranda membawa pergi Zara sebelum menjawab pertanyaan penting mereka. Ah, sungguh sangat disayangkan.
Begitu masuk ke dalam mobil, Miranda langsung berbicara, “Untung kamu nggak sampai keceplosan. Kalau keceplosan nanti bisa jadi blunder.”
Zara tak menanggapi. Tapi dalam hati ia memang membenarkan karena dia memang agak kesulitan menjawab pertanyaan tersebut.
“Tahu, kan, maksud Mami tadi?” Miranda memastikannya.
Detik berikutnya Zara mengangguk.
“Mam takut keadaan kamu yang sudah tenang ini, nanti jadi banyak gosip lagi. Bukan berarti Mami nggak senang kamu pernah menikah sama Fasad, ya. Tapi yang terbaik untuk kalian berdua adalah menutup rapat-rapat status yang pernah terjadi. Sebab Mami yakin Fasad juga nggak akan nyaman masa lalunya dikuliti sama banyak orang.”
“Iya, Mam,” jawab Zara tanpa ingin berkata lebih banyak.
Tapi omong-omong soal Fasad ... Zara jadi teringat mantan suaminya. Terakhir kali mereka bertemu kurang lebih satu setengah tahun lalu. Yaitu pada saat mereka menandatangani surat perceraian.
Di mana Fasad sekarang dan bagaimana kabar pria itu, dia sama sekali tak tahu. Karena Fasad seperti menghilang tanpa jejak.
“Ada beberapa CV taaruf lagi yang dikirim ke rumah, salah satunya putra Habib Munzir,” ujar Miranda memberitahu anaknya yang seperti tak punya cita-cita untuk menikah lagi setelah dirinya berhijrah, “sebaiknya kamu baca satu-persatu nanti. Siapa tahu ada yang cocok.”
Namun sayang, setelah beberapa lama membolak-balikkan berkas tersebut, Zara menutupnya kembali tanpa tanggapan yang pasti. “Nggak, deh, Mam. Belum ada yang klik.”
“Kamu itu nyarinya yang seperti apa sih?” tanya Miranda tak habis pikir, “di situ ada banyak, lho. Ada yang sudah jadi Kompol, dokter spesialis, pengusaha, anaknya Habib, orang kalangan menengah ke bawah juga ada, kalau kamu memang maunya yang biasa aja.”
“Nanti, Zara pikir-pikir dulu.”
“Mikir terus, sampai kapan?” Miranda mulai gemas dengan anaknya, “nunggu yang cocok mah, nggak akan pernah ada yang cocok. Cinta juga nggak bakal hadir kalau kamu nggak berusaha untuk membuka diri. Atau kamu mau balikan lagi sama mantanmu?”
“Mantan siapa?”
“Mantan suamilah.”
Zara hanya mengedikkan bahu. Andai pun mereka kembali bertemu, keadaan pasti sudah tak lagi sama. Jadi ia tak pernah berharap lagi.
🌺🌺🌺
Keesokan harinya.
Zara sedang berada di sebuah ruangan yang terdapat banyak sekali gulungan-gulungan bahan. Melebarkan satu-persatu bahan untuk dia pilih menjadi shawl atau scarf bermotif yang diinginkan.
Dan inilah kesibukannya beberapa bulan belakangan. Berawal karena ingin memakai hijab dari desain sendiri, akhirnya Zara bekerja sama dengan workshop fabric printing dan sudah mempunyai brand sendiri. Dia telah membuka outlet pakaian Muslimah (onfline mau pun online) yang terdiri dari berbagai macam pakaian shar’i wanita. Bahkan bisnisnya kini sudah merambah sampai ke luar negeri dan mempunyai banyak ribuan seller aktif.
__ADS_1
Tidak ada niat sebelumnya. Zara hanya ingin tampil modis meski dia memakai pakaian tertutup. Namun saat dia memposting perubahannya di laman sosial medianya—tanpa sadar dia telah menginspirasi banyak orang untuk berpenampilan sama dengannya. Puluhan ribu orang menanyakan di mana dia membeli produk itu. Demikianlah yang membuat Zara memutuskan untuk membuka usaha tersebut.
Zara memang pernah masuk ke kantor, di dampingi oleh Mami Miranda sendiri dan di gembleng olehnya untuk bisa menjalankan perusahaan almarhum papinya. Tapi baru satu minggu dia bekerja, dia kontak pusing tujuh keliling.
Skill benar-benar sangat di utamakan. Tidak seperti di film-film yang dia bintangi, bahwa seorang bos hanya akan duduk manis, menerima dokumen untuk di tandatangani dan sesekali rapat di tempat-tempat yang mewah. Hmm... ternyata tidak semudah itu ferguso! Boro-boro bisa duduk manis, masih bisa waras saja sudah alhamdulilah.
Menjadi seorang direktur, selain harus memahami aturan hukum dan syarat yang berlaku, dia juga harus mempunyai publik speaking yang bagus, memahami informasi terbaru mengenai kondisi pasar, harga dan lain sebagainya. Huh, ruwet, mumet & jelimet.
Pantas saja Miranda marah besar pada saat dia ngeyel ingin menandatangani surat kuasa. Baru Zara sadari sekarang, kenapa mereka belum memberinya kepercayaan.
Setelah berkecimpung di sana cukup lama, akhirnya Zara mengerti bahwa dirinya memang tak mempunyai bakat. Oleh karenanya, dia memutuskan undur diri dan kembali mempercayakannya pada Om Ruben.
Lagi pula Om Ruben juga tak pernah mengatakan bahwa dirinya keberatan mengemban amanah ini, selagi dia masih bisa melakukannya.
“Aku mau yang seperti ini, tapi mungkin resolusinya kurang jelas,” ujar Zara menunjukkan gambar hasil corat-coretnya semalam kepada pemilik pabrik percetakan sekaligus desainernya.
“Tenang, serahin aja ke Mak Cici desainer.” Perempuan yang pernah berkeluarga tersebut menerima dengan senang hati. Sebab perintah dari Zara adalah pundi-pundi rupiah baginya. Secara tidak langsung, Zara juga pernah menyelamatkannya dari ancaman kebangkrutan. Sungguh amat besar sekali pengaruh seorang Zara kepada banyak orang jika gadis itu menyadarinya.
“Ada lagi yang bisa dibantu, Syantik?”
“Nggak ada sepertinya. Hanya itu saja.”
“Mau ke mana setelah ini?” tanya Cici lagi, “kamu itu selalu rapi, jadi aku nggak bisa bedain. Kamu mau pergi-pergi atau Cuma mau mampir ke sini doang.”
“Pulang, Ci. Banyak kiriman endorse yang belum aku post.”
“Oh, banyak kerjaan, ya?" Cici mengangguk mengerti, "tadinya aku mau ngajak kamu makan bareng di Sushitei.”
“Besok, ya. Tapi nggak janji juga.”
“Okay, deh.”
Zara pamit undur diri. Dia mengemudi sendiri pulang ke rumah. Melakukan foto shoot maupun video shoot dengan timnya untuk mengiklankan sebuah produk. Barulah kemudian hasilnya diproses oleh editor, lalu dikirimkan ke sosial medianya yang memiliki lebih dari 10 juta followers.
“Nanti hasilnya aku kirim ke email, ya?” kata seorang editor sebelum mereka pergi dari taman belakang, tempat mereka melakukan kegiatannya barusan.
“Okay, Sam. Thanks kerja samanya hari ini.”
"Akhirnya selesai juga kerjaanku, jadi aku udah bisa rebahan."
Baru saja Zara membatin demikian, terdengar suara berisik dari ruang tamu. Setelah Zara lihat diam-diam, ternyata maminya sedang menerima tiga orang tamu. Belum jelas siapa orangnya karena terlihat dari dalam, mereka duduk membelakanginya. Tapi dugaannya, mereka adalah sebuah keluarga. Namun bukan itu yang menjadi perhatiannya sekarang, melainkan pembicaraan yang terdengar.
Yaitu ta'aruf.
Ya, ta'aruf lagi.
__ADS_1