
Bab 48
Beberapa menit berlalu. Begitu Ray pergi, security langsung menyuruh karyawan lain yang ada di bagian penjualan, untuk mengantarkan titipan ini ke atas. Di mana atasannya sekaligus Founder Zara.co. ini berada.
“Sekarang, Pak?”
“Tahun depan juga gapapa.”
“Malah becanda!”
“Lah, situ nanyanya aneh. Dah, ini anterin ke atas, mana tahu penting.”
“Dia mah, mana suka dikasih beginian. Kalau suka, dah kawin dari dulu.”
Mereka saling berbisik. Sampai saat ini, ghibah memang masih menjadi perbuatan yang sangat menyenangkan.
“Tadi yang ngasih ganteng.”
“Ganteng doang mana cukup. Musti tajir melintir tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh belokan, tujuh putaran,” ujar perempuan itu menyerocos tanpa henti. Macam emak-emak julid pada umumnya.
“Biasanya orang kaya justru cari yang biasa aja. Soalnya udah saking bingung uangnya mau di ke mana in.”
Setelah menerima buket bunga mawar sangat besar itu dan satu kotak kado berukuran sedang, karyawati tersebut naik ke atas untuk menyerahkannya kepada Zara yang tengah live, duduk di depan tripod, menyapa para penggemarnya.
“Bu, ini ada titipan,” ujarnya membuat Zara menoleh.
“Oh, iya. Terima kasih Bel....” Zara menerimanya, setelah sebelumnya ia mematikan mute. Gadis itu agak bergeser ke sebelah dan meminta Belle menggantikannya sejenak, “tolong bacain komen sebentar, ya. Jawab aja kalau ada yang kamu tahu, tapi bukan di luar tentang produk baru kita.”
“Baik, Bu.” Belle mengangguk sopan.
Zara kemudian membawa buket bunga tersebut ke dalam kantornya. Rasanya sudah sangat sering sekali dia dikirim benda-benda semacam ini. Tapi rasanya berbeda jika orang yang memberinya itu adalah Rayyan. Ada rasa tak percaya dengan gelagat aneh pria yang sebelumnya sangat dingin dan tidak terlalu peduli itu.
“Masih fresh banget. Lumayan bisa buat pengharum ruangan asli.” Dia meletakkannya ke atas meja setelah mencium harumnya. Setelah itu, barulah dia membuka kotak kado yang katanya berisi coklat.
Selembar catatan menutupi coklat setelah tutupnya di buka.
Di sana tertulis; “Selamat hari kasih sayang. Semoga hari-harimu selalu menyenangkan. Kalau berkenan, silakan dipakai.”
Ternyata bukan hanya coklat saja yang Ray maksud, tapi ada benda lain yang berbentuk kotak beludru berwarna merah. Di dalamnya terdapat cincin berlian yang ditaburi banyak permata.
Zara mengurut keningnya, “Tau, ah. Pusing!”
Dia benar-benar mumet memikirkan sekongkolan mereka. Karena Zara yakin ini bukan perbuatan Maminya saja, tapi ada dalang-dalang yang lain. Ya, mungkin saja banyak! Sebab dia tahu keluarga Ray adalah Keluarga besar yang mempunyai banyak anak.
__ADS_1
Tak menutup kemungkinan, dia juga akan mempunyai banyak anak kalau dirinya bersedia menjadi istri Rayyan kelak nanti. Pikir Zara sedemikian jauh.
“Kamu mau punya anak berapa?” Zara berandai-andai suatu hari nanti kalau memang mereka benar berjodoh.
“Lima terlalu sedikit. Gimana kalau tujuh?”
Hah?!
#Pingsan.
🌺🌺🌺
“Udah?” tanya Umar kepada kakaknya begitu dia masuk ke dalam mobil.
Ray mengangguk tak lama berselang, “Hanya seperti itu?”
“Masih banyak lagi cara meluluhkan hati wanita. Tapi, jangan terlalu sering karena justru bisa dianggap lebay. Cewek nggak suka cowok yang terlalu agresif. Mereka suka yang dingin-dingin manja.” Umar mengajari Ray layaknya kepada teman sendiri. Pria yang usianya dua tahun lebih muda itu bersyukur karena penyakit amnesia ini telah mendekatkan mereka yang semula agak berjarak.
“Kenapa cewek terlalu membingungkan?” Ray tak habis pikir dengan segala pemikiran mereka, para wanita.
“Ya, mereka memang makhluk yang sangat-sangat aneh. Kita harus pintar-pintar bermulut manis.”
“Mereka suka kita makan gula?”
Rayyan terkekeh, “Setelah ini kita mau ke mana?”
“Ke salon. Kamu harus ganteng maksimal.”
“Kami belum mau ketemu sekarang, Mar.”
“Acara makan malamnya, kan, besok. Aku anterin mumpung sempat.”
“Setelah ini, boleh aku belajar menyetir?”
“Ya, tentu saja. Kakak memang harus bisa semuanya supaya kalau menikah nanti nggak merepotkan orang lagi.”
“Thanks Umar.”
“I’ts Ok.”
Seperti yang sebelumnya di rencanakan. Keduanya ke salon terlebih dahulu untuk potong rambut dengan model gaya terbaru, barulah kemudian Umar membawanya ke lapangan khusus latihan. Tak butuh waktu lama hingga Ray mahir melakukannya, karena dia masih sedikit mengingat step by stepnya.
Namun pada saat mereka pulang, Umar langsung dijewer oleh Mama. Mama memang orang yang paling paham kelakuan random anak-anaknya. Dan kalau dipikir-pikir, di keluarga ini memang tidak ada yang lebih nakal daripada Umar.
__ADS_1
“Siapa yang suruh Kakak potong rambut seperti ini?”
“Ampun, Maa! Ampuun!” pria itu mengaduh kesakitan. Dia mengira telinganya saat ini sudah memerah. “Tolong lepasin dulu.”
Atas permintaan anaknya yang hampir menangis, Vita pun melepaskannya. Dia meneliti rambut anak pertamanya yang sudah berganti warna abu-abu. Beberapa detik kemudian, dia menggelengkan kepala. Apa-apaan ini? Kok ada-ada saja ulah anaknya. Ide dari mana, dari siapa?
“Ray udah nolak tadi, Ray juga nggak mau warna yang ini, tapi Umar maksa. Katanya ini model terbaru,” meski Rayyan lugu, tapi kalau sampai di salahkan, dia juga tak akan mau.
“Nah, kan!” Vita memelototi anak keduanya, “tanggung jawab, nggak?”
“Kan, bagus. Keren. Lihat artis-artis jaman sekarang suka rambut yang warnanya begini. Cocok, kok, Ma.”
“Cocok di mananya? Ini kayak kakek-kakek yang udah ubanan.” Vita lantas menoleh ke belakang, memanggil anak perempuannya, “Zunei! Zunei!”
“Iya, Mama ... Sebentar!” serunya dari dalam. Agak lama dia keluar, mungkin memakai hijabnya terlebih dahulu.
“Ada ap—Astaghfirullahaladzim!” Zunaira melotot terkejut seperti melihat setan saat mendapati penampilan terbaru kakak pertamanya.
“Ya, ini, Umar yang ngajarin,” kata Vita menjawab semua keterkejutan Zunaira, “bantuin Kak Ray hitamin rambutnya lagi, Nak.”
“Katanya nggak boleh nyemir rambut pakai warna hitam.”
“Ini pengecualian. Tapi kalau mau cari aman, pakai aja yang warna dark brown.”
“Iya, Ma!” gadis itu mengejek Umar sebelum masuk menggandeng Ray untuk melakukan perintah mamanya barusan.
Sementara itu di tempat lain, Cici tengah bersama seorang pria. Mereka tengah berbicara saling tatap dan saling menguatkan.
“Makasih informasinya ya, Ci.”
“Iya, sama-sama. Zara baik-baik aja, kok. Kamu nggak perlu khawatir. Yang penting kamu cepat sembuh. Supaya kita bisa cepat menikah.”
“Makasih udah mau menerimaku apa adanya. Cuma sama kamu, aku bisa lebih percaya diri.” Fasad tersenyum dan mem*lin jari-jari mereka.
Cici menganggukkan kepalanya. “Kapan kamu ke Jakarta?”
“Mungkin beberapa pekan lagi.”
“Aku tunggu.” Cici tersenyum penuh pengharapan.
Mereka sudah menjalin hubungan selama satu bulan ini. Berawal dari Fasad meminta bantuan wanita ini untuk menjadi mata-matanya, akhirnya mereka jadi dekat dan saling suka.
Tia sudah tahu dan mungkin tak lama lagi ... mereka juga akan menikah.
__ADS_1
Bersambung.