
81
“Apa begini, ya? Rasanya menikah. Pasti ada aja masalahnya,” Zara terdengar mengeluh. Wanita itu mengusap-usap bahu telanjangnya yang terasa dingin sebelum ditutup oleh kedua lengan kokoh yang melingkupinya.
Zara memang mempunyai postur tubuh yang tinggi, tapi tetap lebih mungil di bandingkan dengan Rayyan yang hanya bisa dia saingi sampai batas telinga. Tak heran, meski usia Zara empat tahun lebih dewasa, namun tak ada yang mengira jika keduanya mempunyai selisih sejauh itu. Mereka tampak seumuran.
“Setan itu paling membenci pernikahan,” kata Rayyan menanggapi istrinya agar bersabar dalam menghadapi ujian-ujian pertama pernikahan mereka.
Tidaklah bohong, hal tersebut memang benar adanya. Hal ini dikarenakan ketika seseorang menikah maka semua yang dilakukan olehnya adalah ibadah.
“Oleh karena itu, misi terbesar setan adalah menceraikan pasangan suami istri,” sambungnya lagi, “dan dengan cara apa saja.”
Zara membalikkan tubuhnya agar saling menghadap, “Ternyata sabar itu susah, ya.”
Ray menganggukkan kepala sebelum akhirnya mereka kembali saling mendekap. Semilir angin mengantarkan mereka pada malam yang sangat romantis ini.
Masalah Hamidah sudah mulai redam meski video pernyataannya masih sering muncul di beranda halaman sosial media. Akan tetapi, malah muncul lagi masalah lain. Namun keduanya berharap agar semua masalah ini segera terselesaikan dengan baik tanpa adanya keributan.
“Bikin sayembara aja apa gimana, nih, Pi?” Miranda mengajukan pendapatnya kepada sang suami saat mereka berada di kantor, “aku khawatir sama kamu, sama anak-anak, sama diri sendiri yang udah bikin masalah sama dia.”
“Aku pun bingung,” jawab Ruben tak kalah peningnya, “kita udah kehilangan banyak uang untuk mencarinya. Tapi sampai sekarang belum ketemu juga.”
“Capek aku, Pi ....” isaknya.
“Sabar ... sabar ....” Ruben memeluk istrinya yang tak kuasa lagi menahan tangis. “Kita harus lebih banyak berdoa.”
“Aku nggak akan bisa maafin diriku sendiri kalau ada sesuatu terjadi sama keluarga kita.”
“Sst, jangan terlalu menyalahkan dirimu. Dia pun bersalah karena tidak mau koperatif sama hukum.”
“Aku menyesal karena nggak bisa menahan bibirku buat berkata kejam. Seandainya dulu aku nggak ngomong kelewatan sama Fasad, pasti kita akan aman-aman aja sekarang.”
“Tapi andai seperti itu, Zara sama Rayyan nggak bakal jodoh, Mir. Apa yang terjadi saat ini sudah garis takdirnya. Sebenarnya pelaku sendiri pun jelas-jelas sangat bersalah. Kalau dia mencintai putri kita, dia akan bertahan di sini. Bukan malah menyimpan dendam dan membalasnya dengan cara seperti ini,” papar Ruben, “benar apa yang dikatakan oleh orang-orang, Fasad memang sakit.”
“Kita harus apa sekarang?”
“Yang paling penting sekarang adalah, jaga diri dan anak kita baik-baik.”
__ADS_1
...∆∆∆...
Sammy: kamu ada di mana, Nai?
Begitu pesan yang Zunaira terima dari seorang pria di seberang. Terlebih dahulu Zunaira menoleh ke segala arah, mencari aman untuk membalas pesan tersebut.
Zunaira: aku di rumah, Kak.
Sammy: di rumah terus. Nggak bosen apa?
Zunaira: Mama nggak ngebolehin aku pergi.
Sammy: padahal aku pengen ngajak kamu jalan.
Zunaira: jalan? Ke mana?
Sammy: biasa. Anak muda ya, nonton, ngafe, makan nongkrong di tempat-tempat estetik.
Zunaira: nggak ah. Aku nggak berani. Nanti aku bisa dimarahin sama Papa.
Zunaira: bukan gitu ... tapi dengan cara seperti inilah mereka menjaga anak-anaknya.
Sammy: tapi caranya terlalu berlebihan. Banyak kok, anak gadis jaman sekarang yang dibiarkan bebas. Kalau memang dasarnya dia cewek baik-baik, mereka nggak akan berbuat macam-macam. Contohnya temenku, Anandita. Dia sering keluar juga tapi nggak pernah keluar jalur busway.
Zunaira terkikik. Malah bahas jalur busway segala, pikirnya. “Aneh banget, sih wekk!”
Zunaira: nggak ah, aku tetep nggak mau keluar sama temen laki-laki kecuali sama Kakak Umar!
Zunaira mempertegas kalimatnya agar Sammy tak berani ngomong macam-macam lagi dengannya.
Sammy: it's okay kalau kamu nggak mau keluar gapapa. Tapi aku yang main ke rumahmu, ya!
Zunaira: eh, jangan!
Zunaira langsung mengetik balasan dengan cepat untuk mencegah laki-laki itu sampai berani main ke rumah.
Zunaira: Mama nggak suka kalau ada temen laki-laki main ke rumah kalau nggak ada maksudnya.
__ADS_1
Sammy: biar aku bisa kenalan sama Mama kamu. Emangnya segalak apa, sih, mereka sampai kamu sebegitu takutnya? Kan jadi penasaran. Tantangan sendiri buat aku bisa meluluhkan hati mereka.
Zunaira: Kak, plis aku nggak mau dimarahin Papa sama Mama, lho!
“Zunaira!” panggil Vita membuat gadis itu buru-buru meletakkan ponselnya ke bawah bantal.
“Iya, Ma!”
“Lagi ngapain? Mama panggil-panggil dari tadi kok, nggak dengar? Minta tolong bantuin Kakak masak, Sayang. Kasihan Kak Za sendirian.”
Zunaira menurut. Dia pun gegas ke dapur untuk membantu Kakaknya memasak. Namun karena terus diperhatikan, Zunaira terpaksa tidak bisa menyelamatkan benda berharganya.
“Duh ... bisa ketahuan Mama, nih....” batin Zunaira sedang ketar-ketir.
Setelah Zunaira sampai di bawah, Vita segera menggeledah sofa yang baru saja di duduki oleh Zunaira, lalu mengambil benda yang selama ini menyita banyak perhatian putrinya itu.
Vita pun menguncikan diri di ruang kerja suaminya agar lebih leluasa saat membuka benda privasi ini. Bukan apa-apa ... dia hanya tak mau terjadi apa-apa pada anaknya. Lebih parahnya, ia sampai tak tahu identitas pria tersebut.
Dia membuka DM-nya dan langsung menemukan pesan terakhir yang dikirim oleh Zunaira. Beberapa menit yang lalu. Kemudian membaca satu-persatu semua isi pesannya.
Benar saja. Ada hal kurang menyenangkan yang dia baca dari akun yang bernama @Sammy_yunchen. Sebab secara tidak langsung, pria ini telah mempengaruhi putrinya. Agar Zunaira juga seperti gadis-gadis lain yang cenderung bebas.
“Wah, nggak bener ini.” Vita berdecak sambil menggelengkan kepalanya. “Begini caramu mendekati anak gadisku?”
Vita langsung menyimpan nama pemuda itu yang menurutnya sudah berbicara keterlaluan.
“Kamu mengomentari cara mendidik kami yang katanya berlebihan. Hei, setiap orang tua pasti punya cara sendiri-sendiri dalam mendidik anak mereka. Harusnya kamu hargai itu,” gumam Vita mendadak naik pitam.
Wanita itu pun heran. Memangnya orang tua mana yang tega membiarkan anak gadisnya berkeliaran bebas dengan laki-laki tanpa status yang sah?
“Aku nggak bisa jamin anak muda-anak muda jaman sekarang bisa menjaga dirinya. Kalau ada apa-apa, lantas siapa yang mau tanggung jawab?”
Untuk itu, Vita memutuskan, “Aku harus ketemu sama pemuda ini. Sembarangan.”
Wanita itu mengembalikan ponsel Zunaira ke tempat semula. Biar anaknya mengira bahwa ia tak pernah membuka ponselnya.
Bersambung.
__ADS_1