
96
Miranda mengeluarkan cetakan es batu dari dalam kulkas ketika menantunya mengatakan bahwa anaknya kembali meminta es batu. Pasalnya secara kebetulan, wanita itu sedang berada di sana mencari sayuran sehat untuk di masaknya siang ini.
“Nggak bisa berhenti ngemut es batu dia?” Miranda sangat keheranan dengan kebiasaan baru Zara sekarang. Aneh, tapi nyata.
“Berhenti kalau sedang lupa,” jawab Rayyan.
Ray berlalu setelah mendapatkan es batu di gelasnya. “Makasih, Mi.”
“Ya!” jawab Miranda, sejurus kemudian wanita itu memanggil Devi yang baru saja melintas ke belakang. Hingga tak butuh lama, orang yang dimaksud pun muncul di depannya.
“Iya, Bu?”
“Tambahin air ke sini,” Miranda menunjukkan cetakan es batu itu padanya, “kalau bisa jangan sampai kosong, ya. Majikanmu lagi suka es batu soalnya.”
Devi tersenyum, “Ngidam kok es batu. Kalau saya jadi orang kaya, saya ngidamnya mau naik jetpri.”
“Sama ini ...” kali ini Miranda menunjuk beberapa bungkus sayuran segar kepada gadis di depannya, “... bahan-bahan yang mau dimasak sekarang. Kamu siangin aja semuanya, saya mau bikin capcay basah biar Zara bisa makan banyak macam sayuran sekaligus.”
“Oke, Bu. Ada lagi yang mau saya siapin?”
“Itu saja dulu, nanti lainnya saya beli di luar.”
“Mi ....” panggil Mike dari arah atas langsung menubruk Maminya, “tolong bikinin jus alpukat dong!”
“Ya, nanti Mami bikinin.”
Karena terdengar berisik dari arah luar, lantas Mike bertanya, “Emang ada tamu, Mi?”
“Ada, Si Moza adeknya Kak Ray.”
Penasaran, Mike pun melongokkan kepalanya dan hal ini disadari oleh Mauza seketika.
“Eh, hai Ndut?” gadis itu melambaikan tangannya.
“Huh, sok kenal,” jawab Mike ketus sambil bersedekap. Rupanya dia lebih suka dipanggil ganteng daripada panggilan Ndut seperti tadi yang baru saja ia dengar.
__ADS_1
“Mike?” bola mata Zara menyorot memberi adiknya peringatan. “Siapa yang ngajarin begitu? Santun sama orang yang lebih tua.”
“Iya, ganteng-ganteng kok galak banget, ya ampun.”
“Sini, kamu! Minta maaf dulu sama Teh Mauza!”
Rupanya Mike takut dengan kemarahan kakaknya. Sebabnya, dia mendekat dan mengulurkan tangannya kepada Mauza. “Maaf, Teh,” ucapnya terdengar terpaksa.
“Sama-sama, jangan galak-galak nanti nggak ada cewek yang suka.” jawaban Mauza yang disertai dengan nasihat pendek itu seketika dibantah oleh lawan bicaranya.
“Siapa bilang? Aku udah punya pacar, kok.”
“Lho? Kirain belum punya. Kan, Mike masih kecil.”
“Emangnya Teteh? Udah tua, masih saja jomlo!”
Pernyataan berbentuk cibiran Mike barusan membuat suasana yang tadinya mencekam jadi penuh tawa. Padahal Zara sedang pura-pura marah, tapi kali ini dia mengaku kalah. Ia tak bisa menahan gelak tawanya lagi sekarang, oh adikku ... sialan kamu.
Pun dengan Mauza. Seberapa malunya jelas tak dapat di ukur. Niat ingin menyadarkan Mike agar tak terlalu jutek, malah dia sendiri yang kalah telak.
“Mam, Mike bilang udah punya pacar nih, Mam!” Zara berteriak mengadu.
“Kalian juga pacaran,” balas Mike tak mau kalah.
“Kita sudah menikah. Sudah boleh pacaran. Kalau Mike sekolah dulu, belajar dulu sampai kuliah, kerja, baru boleh menikah. Supaya bisa pacaran seperti kita.” Ray menunjuk Zara dan juga dirinya.
Seperti biasa, walaupun masuk di telinganya, kata-kata Ray selalu jadi angin lalu. Karena setelahnya Mike berlari ke belakang sambil berteriak, “Mami jusnya mana?”
Setelah Mike dipastikan sudah berlalu, Zara kembali berujar mengutarakan rasa tidak enaknya, “Dia mah sama semua orang begitu, sama kakak iparnya aja sampai sekarang belum akur. Maaf ya, Za. Jangan dimasukin ke hati ....”
“Nggak Papa, namanya juga masih anak-anak,” Mauza memaklumi.
“Seharusnya sih sudah bukan anak-anak.”
Mike memang agak sedikit salah didikan karena kecil, hari-harinya lebih banyak bersama dengan baby sitter dan gadgetnya daripada orang tuanya sendiri yang super sibuk membangun dunia.
Namun bagi Rayyan, meskipun dia tahu, pria itu tak bisa berkomentar apa-apa. Sebab selain ini ranah sensitif yang bisa menciderai hubungannya dengan mertua, ia tak mau merasa paling benar sendiri. Semua orang mempunyai alasan kenapa ini bisa terjadi dan belum tentu ia pun dapat melakukannya.
__ADS_1
Dua jam berlalu. Setelah mereka selesai berdiskusi, semua orang di sana berangkat ke lokasi grand opening terkecuali Ruben karena seperti biasa, pria itu berada di kantor.
Saat tiba, mereka sempat terkejut karena ternyata suasana sudah sangat ramai oleh pengunjung. Padahal acara bisa dikatakan masih lumayan lama di mulai.
Dalam keadaan demikian, Ray beserta sejumlah security menghalau orang-orang yang hendak mengerubungi istrinya. Sampai wanita itu tiba di tempat yang aman.
“Aku selalu percaya kalau Bu Zara pasti selalu datang tepat waktu,” ujar Belle begitu menemui orang yang paling penting di acara ini.
“Iya, dong Bell ... harus itu.” Zara menuju ke belakang stage bersama Belle untuk menemui timnya yang akan membawa jalannya acara. Mereka terlebih dahulu melakukan briefing dan berdoa bersama agar acara ini dapat berjalan lancar sebagai mana mestinya.
Sementara itu, Miranda, Mike, Mauza dan Ray memilih untuk menunggu kedatangan keluarganya di depan.
“Kok Mama sama Nai belum datang, ya, Kak?” tanya Mauza kepada Rayyan karena sampai sekarang mereka belum melihatnya, “sebentar lagi di mulai, lho!”
“Coba kamu telepon mereka sekarang,” titahnya.
Oleh karenanya, Mauza menjauhkan diri dari sana untuk menghindari keramaian.
Namun karena sibuk melihat layar ponsel untuk mencari kontak Mama, Mauza sampai tak sengaja menabrak tubuh harum nan tegap di depannya, “Eh, astaghfirullahaladzim!”
“Kalau jalan itu hati-hati,” ucapnya membuat Mauza sontak menganga karena orang yang baru saja ia tabrak adalah Sammy. Si cowok yang mempunyai style ala-ala Korea dan hampir tak pernah lepas kamera jika dia sedang bekerja.
Eh, kalau dilihat lebih deket, cakep juga ternyata dia, wey! Pantesan Si Zunaira sampai terSammy-Sammy.
“Kamu tuh yang harusnya hati-hati. Udah tahu aku lagi lihat ke bawah, kamunya malah masang badan, minggir dong,” balas Mauza malah menyalahkan balik.
“Inilah definisi kalau cewek memang selalu benar,” bisiknya di dekat telinga.
Mauza langsung mendorong dada pria di depannya, “Nggak usah deket-deket juga dong, ngomongnya!” bikin repot perasaan orang aja, lanjutnya dalam hati. “Sudah sana pergi!”
“Aku emang ada urusan sama kamu, Say,” jawab Sammy.
“Urusan apa?” tanya Mauza segera.
“Mana Zunaira? Suruh dia ke sini.” Sammy memang belum tahu kalau gadis itu nantinya akan datang.
“Izh, mau nyari kesempatan rupanya,” cibir Mauza semakin sebal dengan cara pria ini mendekati adiknya.
__ADS_1
“Plis hubungi dia, cuma kamu yang bisa aku mintai tolong,” pinta Sammy penuh harap. Pria yang sering ditemuinya selama lima hari ini, ternyata punya pita suara juga. Padahal di tempat kerja, jika pun mereka berpapasan, jangankan menyapa, melihat pun seperti enggan.
“Iya, entar juga ke sini. Tungguin aja,” jawab Mauza lantas berlalu meninggalkan Sammy yang tersenyum dan menyerukan terima kasih.