Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Tolong Ibu, Nai


__ADS_3

139


Zunaira mencelos saat di katakan bahwa dialah penyebabnya. Sedangkan selama ini Andre sendiri juga tidak pernah mau muncul untuk melakukan penyelesaian.


Nai tak mau disalahkan seratus persen. Tak adil baginya karena menurutnya, dia tak pernah melakukan apapun kepada pria itu apalagi menyebabkannya undur diri. Nai hanya mengatakan, ia sedang membutuhkan waktu.


“Sebenarnya saya juga kurang suka kalau ada yang mempunyai hubungan khusus di kantor, karena akan seperti ini akibatnya. Kalau lagi jatuh cinta, pekerjaan bisa lancar jaya. Tapi kalau sudah putus, dua-duanya mogok dan sangat mempengaruhi pekerjaan. Ini sudah berkali-kali terjadi,” kata Belle lagi.


“Saya nggak sedang menyalahkanmu, tapi kalau atasan kita, Bu Zara sudah mendukungnya karena Anda adalah anggota keluarganya, kita mau apa?” ujarnya disertai dengan rentangan tangan. “Nggak menutup kemungkinan, nanti juga ada bibit-bibit lain yang meniru apa yang Anda lakukan, Bu Nai ....”


“Tapi saya bukan pacaran, Bu. Kami mau serius. Pak Andre sama keluarganya sudah ke rumah,” kata Zunaira mencoba membela diri.


“Itu di pandangan kamu, atau kita,” Belle menunjuk dirinya dan Nai juga, “tapi lain di mata bawahan. Mereka mengiranya ya, kalian itu pacaran. Sebelumnya juga begitu, waktu Ibu Nai masih sama Sammy. Maaf ... kalian memamerkan kemesraan di sini dan itu dilihat oleh teman-teman kita yang lain.”


Nai tertohok dengan penjelasan yang Belle katakan. Ternyata sejauh itu mereka memperhatikannya. Ah, ini terdengar sangat buruk. Bagaimana kalau orangtuanya tahu? Memalukan!


Secara tidak langsung, Belle juga mengingatkan agar Nai tak bersikap seenaknya, walaupun dirinya bagian keluarga pemilik perusahaan ini.


“Kita ini atasan, tindak-tanduk kita di tiru oleh mereka. Kalau kita peringatkan mereka pada kesalahan yang sama, pasti jawabannya, ah, Si Ibu ini juga begitu, kok. Kenapa kita nggak boleh? Kita kehilangan wibawa kan, pada akhirnya?” papar Belle dengan uraian panjang.


Zunaira terdiam. Orang ini selain tegas, dia tidak bisa dibantah. Lagi pula sudah jelas, semua itu adalah kesalahannya.


Aku adalah contoh yang buruk, batin Zunaira berulang-ulang. Seharusnya dia tidak melakukan hal tercela tersebut. Sayangnya, Nai gampang jatuh terlalu dalam dengan kubangan perasaannya sehingga terkadang, sulit untuk mengontrol diri. Untuk mendapatkan apa yang dia mau.


“Saya minta maaf, Bu Belle ... saya nggak akan mengulanginya lagi,” kata Zunaira setelah beberapa saat.


“Kenapa harus minta maaf? Saya jadi seperti sedang menghakimimu,” Belle tersenyum, “kita ini satu lingkup, saya nggak sedang memarahimu, tapi sedang sama-sama mengingatkan. Sebaliknya, kalau saya ada kekeliruan, Ibu Nai pun berhak menegurnya.”


Belle meminta Zunaira untuk menegakkan kepalanya dengan cara menggenggam tangannya, “Hei, stay positif. Jangan takut kepada siapapun, hal-hal seperti ini di kantor itu sudah biasa. Jangan dijadikan beban.”


“Saya hanya merasa bersalah, Bu.” Nai tersenyum samar.


“Sudahlah, lupakan! Banyak lagi yang harus kita bahas.”


Keduanya kembali berbincang. Utamanya adalah untuk membicarakan masalah pekerjaan.


...∆∆∆...


Zunaira mendapat pesan dari Zara ketika dia menemui jam makan siang. Wanita yang sedang berada di Tanah Suci tersebut menanyakan tentang hubungannya dengan Andrea, dan bagaimana acara lamarannya yang wanita itu ketahui, sudah terjadi.

__ADS_1


Zunaira pun membalas, bahwa acaranya dibatalkan tanpa ia sebutkan apa yang menjadi penyebabnya.


Membaca hal itu, Zara sontak membalasnya dengan panggilan.


“Ya, Kak?” Zunaira menempelkan ponselnya di telinga.


“Bener kamu nggak jadi ... maaf, lamaran?”


Zunaira mengiyakan dan menganggukkan kepala meskipun Zara tak bisa melihatnya.


“*Apa pengunduran diri Andrea yang dikirim ke aku beberapa jam lalu ada hubungannya sama batalnya acara kalian*?”


“Mmm... bisa jadi, Kak. Aku juga belum tahu persis karena kami belum bicara. Hubungan kami sedang merenggang. Seharusnya kami bisa cepat menyelesaikannya. Tapi ... nggak tahu kenapa, kadang aku juga bisa egois,” jelas Nai yang menurut Zara seperti berbelit-belit.


“Maksudnya gimana sih, Nai? Kalian lagi ada masalah?”


“Iya, dan masalahnya cukup besar.”


“Aku nggak perlu tahu kali, ya? Yang penting selesaikan masalah kalian secepatnya. Aku nggak mau Andre keluar. Bisa kacau perusaahan kita kalau nggak ada dia,” kata Zara tegas.


“Okay, Kak.”


Dan lagi-lagi dia merampungkan pekerjaannya secepat kilat karena harus segera pergi menemui Andrea di rumahnya.


Namun, pada saat dia memesan taksi, Nai dikejutkan dengan nomor baru.


Sifatnya yang selalu dipenuhi dengan keragu-raguan, membuatnya tak kunjung mengangkat panggilan itu.


“Kalau nggak penting dia nggak mungkin telepon lagi,” gumamnya membiarkan saja bunyi telepon tersebut.


Beberapa menit berlalu, dering ponsel memang berhenti. Tetapi pada saat dia hendak kembali memesan taksi, nomor tersebut kembali memanggil. Dan terus melakukannya sampai akhirnya Nai menyerah.


“Hallo, assalamualaikum, Nai.”


Tunggu-tunggu!


Dari suaranya, sepertinya ... Nai kenal.


“Nai, kami dengar suara Ibu kan? Ini Ibunya Andrea.”

__ADS_1


Ah iya, Nai baru ingat.


“Ya Allah, Bu? Nai kira siapa, jadi ....”


“Nak, tolong Ibu Nak,” sela beliau segera. Dari suaranya terdengar sangat panik dan ngos-ngosan seperti karyawan yang sedang dikejar deadline. “Andrea mau terbang ke Semarang. Ke rumah Budenya. Tolong gagalkan dia, Nak. Tolong Ibu ... Ibu nggak mau kehilangan dia lagi. Tolong Ibu Nak ... tolong ...” ujarnya sangat memelas.


Tapi apa alasannya? Nai hendak bertanya demikian, namun di urungkan karena hanya akan membuang-buang waktu saja. Dia ingin segera mendengarkan alasan yang lain.


“Penerbangannya jam berapa, Bu?” tanya Nai segera.


“Jam dua, sebentar lagi.”


“Baik, Bu. Nai segera nyusul ke Bandara!”


♧♧♧


“Jadi ini alasanmu mengundurkan diri? Bahkan kamu nggak mencoba untuk menemui aku dulu sebelum kamu kabur ke sana.


“Kamu itu laki-laki kan? Kenapa hanya segini saja batas kamu memperjuangkanku?


“Katanya kamu mencintaiku? Apa kamu berbohong juga seperti yang biasa kamu lakukan?”


Air mata Zunaira mengalir deras tatkala menginjakkan kakinya ke Bandara yang dituju.


Langkah kecilnya tertatih-tatih menuju ke lokasi keberangkatan.


“Mas Andre plis ... jangan pergi dariku. Kamu hanya salah paham,” isaknya terdengar sangat lirih. Bahkan tangannya bergetar saat akan mengambil ponselnya dari dalam tas. Dan sialnya, ponsel itu malah terjatuh hingga tutupnya terlepas dan mati.


“Udah hampir jam dua, lagi. Arrhhh!”


Di tengah-tengah kesusahannya, dia mendengar pengumuman agar semua penumpang dengan jadwal keberangkatan ke Semarang pada jam itu, untuk segera melakukan boarding.


“Mas Andre ...” napas Zunaira semakin sesak. Darah segar kembali mengucur di hidungnya seperti yang biasa dia derita. Membuatnya tak sanggup lagi berdiri dan pasrah karena tak bisa lagi berjuang.


“Aku mencintaimu, Mas Andre ....” ujarnya mengakui perasaan yang selama ini dia ragukan. Entah sejak kapan perasaan itu mulai hadir. Yang jelas, selama beberapa hari ini Nai selalu merindukannya. Ya, selalu.


Bersambung.


kalau ada typo komeng aja langsung ya. Seperti biasa aku gak cek ulang. Karena.... sedang sybuk di RL

__ADS_1


__ADS_2