
Bab 19.
“Kamu lihat dia?” tanya Fasad bermaksud menanyakan Rayyan. Mobil sudah mulai keluar dari area gerbang. Meninggalkan gedung besar bertingkat tersebut. “Dia melihatmu tadi, tapi dari kaca mataku, dia bukan sekadar melihat.”
“Nggak peduli,” jawab Zara tak sama dengan isi hatinya. Matanya menatap ke jalanan yang timpa panasnya matahari. Namun panasnya, melebihi apa yang dirasakan saat ini.
“Di sudah menjadi seorang suami, yang kelak akan menjadi seorang ayah. Sementara kamu? Kamu sendiri masih saja merasa rugi.
“Nggak ada yang menyuruhmu untuk menyukainya, Zara. Jangan lanjutkan kebohodohanmu itu!”
“Lanjut ke mana setelah ini?” Fasad bertanya lagi.
“Kalau surat-surat sudah beres, kita ke butik. Aku nggak punya kebaya buat nikahan kita.”
“Butik yang mana?”
“Butik langganan aja.”
“Aku yakin mereka nggak bisa mengerjakan permintaanmu dalam waktu satu minggu, Zar. Tolong jangan sampai kamu tekan mereka, ya.”
“Nggak kita beli yang udah ada saja.”
“Mami kamu belum dikasih tahu?”
“Aku malas kasih tahu mereka, cukup kasih kabar aja nanti kalau kita sudah sah.”
Fasad memejamkan mata dan menarik napas dalam. Mencoba membentengi dirinya agar selalu berada di dalam batasnya dan tahu diri. Sebab Zara hanya menggunakannya sebagai batu loncatan saja. Tidak lebih.
__ADS_1
•••
Hari pernikahan semakin dekat membuat Zara semakin dilema dan tak tentu arah. Dan untuk menghilangkan kebosanannya, dia mencoba untuk mendatangi kelab malam.
Namun setelah sampai di sana, beberapa potongan ceramah yang Rayyan sampaikan beberapa waktu lalu pada saat masih sering bersamanya, menghantui pikiran. Sehingga membuatnya ragu untuk keluar dari dalam mobil.
“Sesungguhnya hal yang paling besar yang dapat menyebabkan hati seseorang menjadi lemah dan hina adalah perbuatan dosa dan maksiat. Karena sesungguhnya dosa dan maksiat dapat mencabut akar-akar keimanan dan dapat menimbulkan kerusakan dan kejahatan," paparnya menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, “dan ia (dosa dan maksiat), merupakan faktor utama yang menyebabkan seseorang tidak taat kepada Allah SWT. Ada pun tempat yang dimaksud adalah semua tempat yang pernah digunakan atau ditempati ketika seseorang melakukan maksiat dalam keadaan sendirian.”
Pada waktu itu, Zara duduk bersila di depan Rayyan yang hanya dibatasi meja kecil saja, berisikan beberapa buku dan alat tulis. Zara pun terus memperhatikan, sesekali menatap wajah sempurnanya yang tengah serius menjelaskan pelajaran yang dimaksud. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang mengerti bahwa mata itu tak hanya sekadar menatap. Tetapi juga mengagumi.
Sekilas, memang tidak ada yang aneh. Tetapi lain bagi yang melihat karena keduanya tampak sangat serasi seperti pasangan suami istri yang tengah belajar bersama—terlebih dengan pakaian yang mereka kenakan. Karena tanpa disadari, keduanya kompak memakai jubah berwarna hitam.
Tanpa Zara ketahui. Belakangan ini Miranda sangat kecewa karena rencananya menjodohkan keduanya, kini telah gagal. Miranda mengira kegagalan ini terjadi karena kabar berita prostitusi tersebut. Selama beberapa lama dia mengurung diri lantaran sangat malu kepada semua orang dan merasa gagal dalam mendidik anaknya.
Sangat disayangkan, padahal berita itu belum tentu benar.
Di sana, ia mulai memesan minum. Dalam kesendiriannya, dia memeluk dirinya sendiri sembari menangis pilu. Beruntung, suasana tampak sepi dan ia mengambil tempat duduk paling ujung, sehingga tak ada yang menyadari bahwa sosok ini adalah dirinya.
“Pi ... aku rindu pelukanmu yang hangat. Usapanmu yang menenangkan. Suaramu yang menentramkan, bahumu yang nyaman, ketegasanmu melindungiku dan cintamu yang tak tertandingi,” ujarnya kepada sosok berkaca mata yang terpampang di layar ponselnya, “aku nggak tahu harus seperti apa, Pi. Aku lagi hilang arah. Aku sama sepertimu, Pi. Masih belum bisa menerima kenyataan.”
Kalaulah bisa, mungkin dia lebih baik menyusul papinya ke sana. Tapi setelah berkali-kali berpikir, ini terlalu enak bagi Si Pebinor. Karena kalau dia mati, secara otomatis harta papinya akan berpindah ke tangannya. Huh, enak sekali penjahat di dunia ini. Kapan kena azabnya? Perasaan hidupnya enak terus!
•••
Minggu yang sebenarnya tidak Zara tunggu-tunggu itu akhirnya tiba juga. Padahal, dia sama sekali tak mengharap pernikahan ini yang dia rasa hanya sebuah keterpaksaan saja. Entah bagaimana kelanjutan rumah tangga ini nanti. Dia tidak tahu karena ia sendiri tak pernah bermimpi bersanding dengan sahabatnya sendiri.
“Dulu, aku pernah membayangkan bisa bersanding dengan laki-laki seperti ... ah, lupakan!” Zara menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan wajah Rayyan yang kerap muncul di mana pun dia berada. Layaknya makhluk halus.
__ADS_1
Zara sudah memakai kebaya lengkap dengan balutan hijab sederhana. Fasad pun demikian. Memakai pakaian, peci dan terlihat memelihara sedikit cambangnya selama beberapa hari ini untuk menambah kesan maskulinnya.
“Aku Fasad,” batinnya berulang-ulang.
Tidak ada yang hadir kecuali penghulu dan para saksi yang merupakan orang terdekat Fasad dan Zara sendiri. Pun tidak ada yang boleh mengambil gambar, apalagi menyebarkan kabar berita ini ke media. Mengingat, 'apa' tujuan pernikahan mereka yang sesungguhnya.
“Baik, Mas Fasad, Mbak Zara, apa kalian sudah siap?”
“Siap, Pak,” jawab keduanya serentak.
“Kalau begitu, silakan ikuti saya.”
Suasana begitu hikmat saat mendengar penghulu membaca doa. Apalagi, pada saat Fasad menjabat tangan lelaki tersebut dan membalasnya dengan lantang. Bulu kuduk pun terasa merinding hingga mengeluarkan bintik-bintik keringat. Hanya Fasad sajalah yang tahu bahwa dia menjalankan pernikahan ini dengan sungguh-sungguh. Entah apa penyebabnya. Tetapi acap kali melihat Zara menangis, hasrat melindunginya selalu timbul semakin besar. Mendobrak jati dirinya sehingga merasa kembali menjadi lelaki seutuhnya.
“Bagaimana saksi? Sah?” tanya Penghulu yang dijawab segera oleh para saksi dengan kata ‘sah’ secara serempak.
Namun pada saat Penghulu mulai membacakan doa penutup, datang tiga orang memasuki ruangan. Yaitu Miranda, Ruben dan Michael. Membuat semua orang terkesiap. Tak terkecuali sepasang pengantin baru tersebut.
“Sebegitu sepelekah artinya kedudukan seorang ibu bagimu, Zara? Sampai kau menikah pun, kau tak mau melibatkan aku untuk masuk ke dalamnya,” ujarnya dengan luapan amarah. Ya, baru kali ini Zara melihat maminya sangat marah, karena biasanya, dia tak melihat ekspresi seperti ini selain merendahkan diri dan menunjukkan rasa bersalah.
“Biar aku hina. Akulah orang yang melahirkanmu, meregang nyawa demi mengantarkanmu hadir ke dunia,” sambung Miranda lagi dengan napas tersengal, “masa lalu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun. Semua tahu itu kecuali kau!”
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan likenya, komen dan share agar lebih banyak yang baca cerita ini.
follow my ig @ana_miauw untuk informasi terbaru dari aku termasuk visual-visual mereka, ya!
__ADS_1