
131
Vita mematikan televisi. Semua chanel sangat membosankan baginya. Wanita itu berdecak dan melamun kan sesuatu. Ternyata dia sangat sangat kesepian setelah ditinggalkan oleh Mauza.
Mauza adalah tempatnya mencurahkan rasa. Sifatnya yang terbuka dan keluasan hati yang dia miliki membuat Vita merasa bebas berekspresi dan tak perlu merasa sungkan saat berbicara bersamanya. Berbeda dengan anaknya yang lain, yang ketika bicara ... dia harus ektra hati-hati dalam memilih kata.
Memang tak semua anak mempunyai kepribadian sama. Dan dia juga tidak sedang bermaksud membedakan satu dan yang lainnya. Tetapi bagi Vita, semua anak-anaknya mempunyai kelebihannya masing-masing yang bisa dia banggakan.
Rayyan yang lebih sering mengalah terhadap semua adik-adiknya karena mamanya lebih sibuk dengan mereka daripada dirinya, namun dialah yang paling sabar dan paling perhatian pada orang tuanya.
Lalu Umar yang keras wataknya, namun dibalik itu dia adalah sosok yang sangat tegas, pekerja keras dan bertanggung jawab. Dan mungkin, sedikit absurd.
Kemudian Mauza yang cerewet, terkesan blak-blakan dan apa adanya. Dengan begini, ia jadi sering gampang akrab dengan orang baru. Namun dibalik itu, dia selalu lebih memikirkan orang lain dibanding dirinya sendiri.
Dan yang terakhir Zunaira. Si pendiam dan lebih suka memendam perasaan untuk menjaga hati orang lain, tak peduli dirinya pun sebenarnya perlu diperhatikan.
Dia sangat mengenali empat anak-anaknya itu melebihi dirinya sendiri. Tidak ada yang paling disayang apalagi paling dianaktirikan. Semuanya dia rangkul. Meski terkadang tanpa sadar, dia menunjukkan perbedaan di dalam sudut pandang masing-masing hati, walaupun tak pernah bermaksud seperti itu.
Hal tersebut sangatlah wajar. Mereka hanya manusia biasa dan tempatnya salah, tak sempurna seperti Dia, Sang Maha Keadilan.
“Ini baru ditinggal setengah hari, coba kalau lebih ... atau dibawa Sammy pindah ke Bekasi misalnya.”
Oleh karena itulah, Mauza tak pernah di izinkan untuk tinggal di rumah Zara selama dia bekerja di sana. Tak peduli harus capek pulang-pergi.
“Pelan tapi pasti, anak-anakku pasti akan pergi ....” Kedua bola mata wanita itu berair. Dia begitu nelangsa. Mungkin seperti inilah yang akan di alami oleh para orang tua lain saat menginjak masa tuanya.
“Waktu, kenapa kamu berlalu begitu cepat?” Vita menyentuh foto keluarga yang terpampang di dinding.
Foto itu seakan menyedotnya ke masa lampau. Tepatnya dua puluh tahun lalu saat Ray masih ada di sekolah dasar, si kembar yang baru saja memasuki sekolah playgroup, dan Zunai yang masih ada di dalam gendongan.
Wanita itu telah lama kehilangan suasana rumah yang berisik dan berantakan dengan mainan anak-anak.
Dia rindu memegangi sendok bayi untuk menyuapi mereka.
Dia rindu mengejar mereka yang menolak saat akan digantikan pakaian.
Dia rindu membacakan dongeng untuk mereka.
Dia rindu mengantar dan menjemput anak-anaknya ke sekolah.
Dia rindu menjadi guru untuk mereka dalam mengejakan PR-nya.
__ADS_1
Dia rindu menemani mereka bermain di wahana permainan.
Dia rindu menemani mereka masuk ke toko mainan.
Dia rindu tidur dalam satu ranjang yang sama meski harus berdesak-desakan.
Ya, dia rindu ... rindu semuanya.
Semua itu terlalu singkat untuknya dan terlalu sesak untuk dibayangkan.
Mendengar telepon berdering membuat Vita gegas menoleh, meneliti ponselnya.
“Oh Si Kakak ....” Vita menempelkan ponselnya ke telinga setelah dia bisa menguasai dirinya lagi.
“Waalaikumsalam, ada apa, Kak?”
“Mau tanya, kira-kira acara lamaran sama pernikahan Nai kapan, Ma?”
“Kita udah ngobrol bareng Pak Ibra sama istrinya kemarin, rencananya lamarannya minggu ini. Tapi kalau nikah kemungkinan, insyaallah bulan depan. Masih kami tentukan tanggalnya. Memangnya kenapa, Kak?”
“Kami mau berangkat ke Mekkah minggu depan. Jadi maaf, kami nggak bisa datang.”
“Ya udah kalau gitu. Ray cuma mau ngabarin itu aja. Semoga acaranya lancar.”
“Aamiin. Kalian juga hati-hati di jalan. Kabari kalau mau berangkat.”
♧♧♧
Dua hari berlalu semenjak Andrea menonaktifkan ponselnya. Dua hari pula dia tak masuk kerja.
“Benar-benar aneh,” gumam Zunaira pada pagi hari saat dia tiba di ruangan Andrea. Sengaja datang ke sini untuk memeriksanya.
Nai pun heran dan bertanya-tanya sendiri: Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi dengan pria itu? Apa dia ikut sakit juga?
Tapi omong-omong, kenapa dia jadi memikirkan Andrea terus-menerus? Apa berarti Nai sudah merasakan rindu kepada pria itu? Yang berarti adalah tanda suka.
Secepat itukah hatinya beralih? Padahal tidak ada sesuatu yang spesial yang pernah dilakukan oleh Andrea. Karena setiap ada di dekatnya, Nai justru selalu kaku perut.
“Apa aku coba telepon dia sekali lagi?”
Setelah dipikir-pikir, Zunaira pun melakukannya. Dia duduk di kursi, membuka ponselnya dan mencari kontak nomor Andrea yang dia dapatkan dari kartu nama yang pria itu berikan. Saat diminta untuk Miss call terlebih dahulu agar di kemudian hari, mereka bisa saling terhubung.
__ADS_1
Tut ... Tut ....
Panggilan tersambung.
“Eh, ternyata udah aktif. Sejak kapan?”
Loh, tapi kok ada bunyi ponsel berdering dan suaranya semakin dekat. Disusul dengan derap langkah kaki orang dewasa.
Zunaira mengangkat wajah. Dia terperanjat. Pria yang tingginya hanya dia capai sebatas dagu itu memandanginya. “Mas Andrea?!”
Andrea menaikkan satu alisnya. Dia bertanya, “Kenapa?”
“Kamu yang kenapa?” tanya Nai tak habis pikir. Untuk pertama kalinya dia jadi orang yang cerewet karena saking gemasnya terhadap laki-laki kurang bicara tersebut. “Dua hari ini kamu nggak datang. Kamu juga nggak mengaktifkan ponselmu. Kok malah tanya aku?”
“Ada yang sakit.”
“Lalu apa hubungannya denganmu? Sampai matiin ponsel segala.”
“Karena aku juga sakit,” jawab Andrea singkat.
“Sakit apa?”
“Sakit hati.”
“Ngarang!” cebik Zunaira semakin kesal karena mendapat jawaban yang tak lazim di telinganya, “udah sana balik!”
Andrea semakin mengerutkan dahinya. Baru saja datang, dia sudah di suruh balik lagi. Apa maksudnya?
“Udah sana kerja!” imbuh Nai karena Andrea masih ada di tempatnya. “Ayo, tunggu apa lagi? Aku masih sebal sama kamu.”
“Nai?” sela Andrea agar wanita itu lekas-lekas sadar dengan apa yang dikatakan olehnya.
Zunaira terdiam, dia memberanikan diri untuk menatap pria bertubuh tinggi itu di hadapannya. Dia masih bersikap angkuh pada saat itu sebelum kenyataannya dipatahkan.
“Ini ruangan ku,” jelasnya membuat wajah Nai sontak berubah pias. Gadis itu menatap sekeliling sebelum akhirnya ngacir pergi seraya menahan malu.
Dia ke sini hanya untuk mengeceknya saja tadi. Kenapa ruangan ini malah diakui miliknya? Padahal jelas-jelas ruangan mereka berbeda.
Andrea menggaruk kepalanya setelah Nai benar-benar pergi. Dia juga tersenyum. Senyum yang sebelumnya tak pernah tampak semenjak kebahagiaannya direnggut.
Bersambung.
__ADS_1