
Kurang lebih setengah jam, Zara dan Miranda membujuk Mike agar dia berhenti menangis. Namun sampai sekarang, belum ada tanda-tanda bahwa bocah itu mau berhenti. Oleh karenanya, Zara membawanya ke kamar yang Miranda tempati agar tangisan anak ini tak mengganggu kenyamanan banyak orang.
“Kalau Mike begini terus, gimana Kakak bisa tahu apa yang Mike mau,” ucap Zara setengah frustasi, “ayo ngomong, Mike mau Kakak gimana supaya Mike berhenti nangisnya.”
“Nggak ta-hu!” jawabnya keras tapi terbata-bata.
“Ini gimana sih, Mam?” Zara meminta pendapat pada Miranda yang sepertinya juga sudah sangat lelah dengan perilaku anak super mengesalkan ini. Sudah besar, tapi masih saja kolokan.
“Udah biarin aja, entar kalau capek juga berhenti.”
“Tapi kita belum makan, Mam. I'm hungry....”
“Ya udah tinggal aja.”
“Mami!?” sahut Mike membentak. Dia tak suka Maminya yang terkesan tidak memedulikannya. “Kalau Mami pergi aku banting semua barang-barang hotelnya!”
“Banting aja semua, emangnya Mami pikirin. Tapi jangan kaget kalau nanti polisi dateng ke sini langsung borgol tangan kamu.”
“Mamiii?!!” tangis Mike malah semakin keras.
“Berisik tahu, nggak!” kata Miranda, “ayo cepat omong kamu maunya apa? Jangan bikin orang kesel. Mami ini bisa darah tinggi kalau stress. Mau kamu Mami cepet mati?”
“Mam, jangan omong sembarangan!” sergah Zara membuat Miranda terdiam. Zara mencoba kembali mendekati Mike dan mengusap rambutnya, “Sini Kakak peluk....”
“Nggak mau! Nggak mau!”
Meski berontak, namun Zara tetap menarik Mike ke pelukannya dan tetap di posisi demikian sampai tangisan Mike berangsur-angsur menghilang. Lantas dengan sendirinya, Mike tertidur karena kelelahan.
Dengan sekuat tenaga, Zara dan Miranda bekerjasama mengangkat tubuh gembul Mike agar dia bisa mendapat posisi tidur yang benar.
“Satu jam lebih kita ngurusin anak ini,” gumam Miranda, “capek Mami, Nak.”
“Yang sabar, Mam... udah jadi sifatnya begitu. Mau diapakan.”
Keduanya pun kembali turun saat Ruben naik ke atas untuk menggantikan mereka menjaga anaknya.
“Sebentar ya, Pi. Kami laper,” Miranda minta izin.
“Ya, makanlah kalian!” jawab Ruben sebelum menutup pintu.
__ADS_1
“Mike itu cuma minta perhatian dari kamu,” kata Miranda saat mereka berdua menyusuri koridor yang mengarah ke lift, “karena dia pikir setelah kamu menikah pasti ada yang berubah.
“Dia pengennya kamu tetep kayak dulu yang perhatian sama dia. Nemenin dia ngerjain PR, main game bareng, nonton bareng, bahkan tidur bareng. Tapi mungkin sekarang kan, sudah nggak bisa terlalu intens. Sebab udah ada suami yang akan lebih kamu prioritaskan.
“Wajarlah kalau Mike masih kangen sama kakaknya. Dia baru ngerasain tinggal serumah sama kakaknya setahun belakangan ini.”
Rasanya memang terlalu sebentar mereka bersama. Hari ini pasti akan terjadi ... dan siap-tidak siap mereka harus rela.
“Udah, nggak usah dipikirin, dia cuma belum terbiasa aja.” Usapan dipundak Zara adalah sebuah isyarat seorang ibu yang yakin bahwa semua akan baik-baik saja.
Saat keduanya tiba di bawah, restoran sudah sepi. Terpaksa Miranda dan Zara hanya makan malam berdua saja.
“Mami bilang tadi sama Daddy supaya duluan aja makan malamnya. Takutnya kelamaan nungguin kita. Kasihan mereka udah pada laper, capek mau cepat istirahat,” Miranda menjelaskan.
“Nggak papa, Mam,” kata Zara menanggapi.
...°°°...
1\2 jam kemudian.
“Dah ... Mami cabut, ya!” Miranda melambaikan tangannya pada saat mereka harus berpisah. Unit kamar Zara lebih dekat dengan kamar Miranda yang jauh di ujung sana. “Tidurnya jangan kemaleman supaya nggak kesiangan solat subuh,” katanya lagi.
Tap.
Zara sudah berada di depan kamar. Sudah pasti Ray sedang menunggunya di sana untuk malam pertama mereka. Entah kenapa ... Zara begitu yakin tidak ada istilah hari esok walaupun rasa lelah menderanya. Ah ya, ampun. Dia merasa dadanya berdetak lebih cepat saat membayangkan apa yang akan terjadi.
Kling.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dari nomor yang belum ia beri nama. Dengan tujuan, agar ia bisa cepat menghapal nomor ini.
0858 777 666 xx: kenapa nggak masuk-masuk?
Begitu yang dia baca. Karena tak membawa akses kartu, dia pun membalas:
Zara: tolong bukain pintunya.
Klek.
Pintu terbuka.
__ADS_1
Menampakkan sosok Rayyan yang sudah memakai baju piyamanya. Ini pertama kalinya dia melihat Ray memakai baju seperti itu dan mungkin akan menjadi pemandangannya setiap malam-malam nanti.
Zara sudah membuka mulutnya hendak membuka suara. Tapi tak sampai terjadi karena Ray lebih dulu menarik tangannya ke dalam. “Jangan terlalu lama di luar.”
Begitu keduanya masuk, Ray langsung mengunci pintu. “Ganti bajumu, gosok gigi, cuci kaki,” titahnya.
“Kalau aku nggak mau?” Zara mencoba mencairkan suasana yang sebenarnya dilakukan untuk menghibur dirinya sendiri.
“Paksa,” jawabnya.
Zara segera meletakkan bag nya ke lemari dan masuk ke dalam kamar mandi sebelum pria nekat itu benar-benar memaksanya.
Ray sendiri sudah menyalakan lilin, mematikan lampu utama hingga menyisakan lampu tidur saja. Menyemprotkan parfum ke pergelangan tangannya dan menyiapkan peraduan mereka senyaman mungkin. Ia hanya tak ingin mengecewakan istrinya di malam pertamanya.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya Zara keluar dari kamar mandi. Perempuan itu hanya memakai kimono saja dan menggerai rambut indahnya seperti tadi yang cukup membuat imannya tergoda. Bahkan kata-kata paling indah pun rasanya tak ada yang bisa menggambarkan bagaimana kecantikan yang ada di depannya saat ini.
Pupil mata Rayyan membesar dan tubuhnya langsung bereaksi pada saat langkah Zara mendekatinya dan mengalungkan tangannya di leher. Tak ingin dia merasa sia-sia, Ray pun membalasnya dengan melingkarkan tangannya ke pinggang.
“Kamu perginya lama sekali,” Rayyan menyinggung tentang Mike, “kangen.”
“Tolong maafin Mike, ya.”
Ray mengangguk dan tak mempermasalahkannya karena menurutnya, tidak ada yang lebih penting daripada membahas masalah lain di malam yang amat menyenangkan ini. “Bisa kita mulai sekarang?”
“Ini pertama kalinya untukku.” Zara mengungkapkan ketakutannya dengan kalimat tersebut.
“Aku tahu caranya.”
“Harus dong. Parah sih, kalau nggak tahu caranya.”
“Nyindir terus, nih,” kekeh Rayyan mulai mendaratkan bibirnya ke bagian-bagian yang dia kehendaki. Yang dalam sekejap, langsung mengurangi peningkatan sensitivitas cahaya dan kaburnya penglihatan keduanya.
“Ada yang ngintip nggak?” tanya Ray yang sontak terkena pukulan kecil dari sang istri.
Lutut Zara mulai lunglai, ia bahkan mengira bahwa dirinya bisa saja terhuyung andai Rayyan tak menahannya dengan kedua lengan kokohnya. Ray yang mengetahui itu lantas berkata, “Kita pindah ke sana,” tunjuknya ke arah ranjang.
Detik itu juga, lilitan tali yang ada di pinggang Zara terlepas dan teronggok begitu saja. Ray baru mengetahui sisi lain dari istrinya ini yang ternyata cukup nakal dan berani.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan hadiahnya yak🥰😘