
Keduanya tersenyum dan saling memaafkan diri masing-masing. Lantas, menceritakan kenapa Ray bisa bercerai dengan istrinya.
“Tepatnya, satu setengah tahun yang lalu. Pada saat kami mengadakan makan malam ...” Vita mulai mengisahkan, “ada kata-kata anak perempuan saya yang tak sengaja menyinggung Hamidah. Kami sangat memahami dia, dan mengakui kalau anak kami sangat bersalah, karena tidak seharusnya dia mengatakan ucapan sensitif itu meski niatnya hanya untuk bercanda. Biasa ... anak muda suka iseng.” Vita tersenyum mengingat betapa badungnya anaknya sendiri, yaitu Mauza. Padahal mereka di didik dengan cara yang sama. Tapi entah kenapa sifatnya malah mirip seperti orang sebelah. Dara dan Alif, adik iparnya.
“Kami sudah berusaha minta maaf ... tapi sepertinya dia masih belum bisa menerima sehingga terjadi percekcokan. Ya, berawal dari situ, Ray dan Hamidah bertengkar. Hamidah pergi dan Ray berusaha mengejarnya. Namun nahas, di perjalanan balik arah, Ray kecelakaan.”
Vita melanjutkan, Ray kritis selama satu minggu. Dia bahkan dirawat sampai dua minggu lamanya di rumah sakit, sampai akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter. Namun dia kehilangan ingatannya sampai hampir 80%. Ray hanya mampu mengingat keluarganya saja dan orang-orang terdekatnya yang sering membersamainya semenjak kecil. Sementara istrinya sendiri tidak diingatnya sama sekali.
Ray dan Hamidah tinggal bersama mereka selama masa pemulihan. Hamidah setia menemani suaminya dalam menjalani fisio terapi, terapi okupasi dan juga pengobatan berjalan. Walaupun aktivitas bicara dan fisiknya masih terbatas. Kabar baiknya lagi, para korban juga lebih memilih jalan damai daripada membawanya ke jalur hukum.
Namun selang beberapa bulan, Hamidah mengatakan bahwa dia menyerah. Wanita itu mengeluh karena tak bisa menghadapi Rayyan lagi yang tak kunjung bisa mengingatnya apalagi memperlakukannya sebagai seorang istri. Ada pun lainnya yakni berupa materi dan biologis yang sangat dibutuhkannya.
Lebih parahnya, wanita itu bahkan tak mau mengakui bahwa dialah penyebab dari semua masalah. Padahal sebelum mereka pergi, jelas-jelas semuanya melihat, keduanya terlibat perdebatan panas.
Namun begitu, keluarga Rayyan segera dapat memahami, mungkin Hamidah ketakutan akan banyak hal jika dia mengatakan yang sejujurnya.
Keduanya resmi bercerai satu tahun kemudian. Bukan Ray yang melakukan, tapi Hamidah sendiri menggunakan pengacara.
Kyai Mohd. Noor. pada saat itu sangat kecewa dengan kabar yang tak menyenangkan ini. Tapi beliau tak bisa mengatakan apa pun lantaran lebih mempercayai putrinya sendiri yang seolah-olah berlaku seperti dialah wanita yang paling tersakiti. Padahal kenyataannya, tak sepenuhnya demikian. Agaknya, beliau tidak mengetahui anaknya sendiri yang mempunyai sifat agak kurang beres.
“Jadi seperti itu, ya, ceritanya?” Miranda menanggapi semua cerita wanita di sampingnya barusan, “sangat-sangat dramatis sekali.”
“Ya, Bu Miranda. Maaf, kami malah jadi ... curhat. Sebenarnya nggak ada maksud apa pun apalagi supaya merasa iba kepada kami,” balas Vita berharap Miranda mengerti keadaannya, “terus terang, kami pun tak sedang merasa paling benar. Kami mengakui kesalahan kami yang mungkin kurang pandai dalam mendidik anak-anak. Maklum, kami manusia biasa yang banyak sekali kekurangan.”
Kali ini Yudha menyahuti, “Sekali lagi, atas nama anak saya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada Bu Miranda, Pak Ruben dan Nak Zara, jika ada perkataan anak saya yang kurang berkenan. Meskipun dulunya dia dianggap oleh orang-orang adalah pemuda yang gemar menyebarkan syiar Islam—tapi di sisi lain, dia tetap jiwa muda yang masih tinggi rasa egonya. Tolong dimaklumi.”
Miranda dan Ruben tersenyum, seraya Miranda menjawab, “Kami memakluminya. Karena setiap orang, pasti tak akan bisa luput dari kesalahan.” Mereka berkaca dari masa lalunya.
“Apa itu berarti anak saya masih mempunyai kesempatan?” Vita menatap semuanya secara bergantian. Namun mereka tak menyadari bahwa Rayyan sudah pergi dari mereka semuanya. Dia menuju keluar karena pening sekali mendengarkan seluruh isi pembicaraan mereka yang secara tak langsung tengah menyalahkannya.
“Emmm, gimana, ya, Pi?” Miranda bertanya kepada suaminya.
Namun Ruben hanya tersenyum, menyerahkan semua keputusan kepada Sang Istri. Lagi-lagi, karena merasa tak berhak mengikutcampuri urusan mereka mengingat siapa dirinya.
Penasaran, Vita pun bertanya lagi, “Apa Zara sudah punya calonnya sendiri?”
__ADS_1
“Belum juga sebetulnya,” jawab Miranda, “tapi kalau memang Ray mau meminangnya. Ya, silakan berjuang.”
“Rayyan ke mana ... lagi,” gerutu Vita menoleh ke sana kemari mencari ke mana anaknya menghilang.
“Keluar tadi, nanti juga balik,” jawab Yudha enggan memusingkannya. Biar dia dengan kebebasannya mencari tahu yang ada di sekitar. Supaya ingatannya perlahan bisa segera kembali.
“Cuma ya, itu. Mungkin agak sulit karena anak saya sangat keras kepala, meskipun kemungkinan pasti ada....” sambung Miranda.
“Tak masalah kalau anakku ... Ray sudah pernah berkeluarga?” Vita bertanya lagi sekaligus mengingatkan mereka mengenai status anaknya sekarang.
“Anak saya juga janda, Bu!” sela Miranda tertawa, “coba ngomong dari dulu, tar saya nikahin waktu sama-sama masih ting-ting. Ya, kan, Pi?”
Semuanya tergelak tawa mendengar selorohan Miranda.
“Sebaiknya jangan mempermasalahkan status. Tidak enak sama nenek-nenek yang menikah sama berondong,” timpal Yudha yang lagi-lagi membuat mereka semua tertawa keras.
Miranda sama sekali tak mempermasalahkan. Untuk apa menyombongkan diri bahwa anaknya masih suci dan tak pantas untuk didapatkan oleh seorang duda? Atau bahasa kasarnya, bekas orang lain.
Syarat menikah tak harus perjaka atau pun perawan.
Menikah bukan tentang perkara hubungan seksual saja, tapi banyak hal yang harus mereka pahami.
“Besok ada kesempatan di Restoran Ampera, kalau putramu mau menemui anak saya,” kata Miranda di detik-detik terakhir perbincangan ini. Mereka pun bertukar nomor telepon agar bisa saling terhubung kapan pun mereka mau.
Sehingga malamnya, sebelum benar-benar beristirahat, Vita terlebih dahulu mengajak anak pertamanya untuk mengobrol tentang pertemuan besok. Pun jika Ray memang berniat mengejar Zara kembali.
Off.
🌺🌺🌺
Keesokan harinya Zara pergi ke outlet Zara.co untuk melakukan pemotretan hijab keluaran terbarunya. Tak hanya itu, dia juga melakukan shooting video tutorial memakai hijab itu untuk kemudian dibagikan ke sosial media.
Dalam sekejap, postingan itu sudah dibanjiri oleh ribuan komentar warganet yang rata-rata mengeluarkan kata-kata pujian. Tak sedikit juga mereka yang menanyakan harga, yang kemudian Zara arahkan ke link online shop miliknya.
Sedangkan di gudang besar, sudah berkumpul banyak karyawan yang mulai melakukan packing membludak. Pesanan demi pesanan mereka terima tanpa jeda. Demikianlah tugasnya hari itu. Tak lupa, Zara juga membagikan momen tersebut ke sosial medianya agar dia selalu mengingatnya di lain waktu. Sebab menurutnya media sosial adalah memori terbaik.
__ADS_1
Bukan bermaksud pamer, Zara hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain kendati masih sering disalah artikan. Sah-sah saja andai orang lain juga ingin memposting hal yang sama karena mereka punya hak. Andai pun ada yang tak suka, pola pikirnyalah yang seharusnya diperbaiki. Mungkin ada yang salah dalam pikirannya yang selalu iri, benci dan dengki.
“Seneng banget, deh, lihat semangat kalian,” ujar Zara kepada semua orang yang tengah sibuk bekerja.
“Jangan lupa bonus buat healing, Bu!” seru salah seorang karyawan, “nginep semalam juga gapapa.”
“Okay, ke mana?”
“Ke Bogor?” Zara sejenak berpikir, “ya, bolehlah,” sambungnya kemudian.
“Yuhuuuuu!!” seru mereka bersamaan.
Notif pesan berbunyi, membuat Zara mengalihkan fokusnya sejenak dari mereka. Kemudian membacanya yang ternyata dari nomor asing.
0858 666 777 xx : aku di luar.
“Di luar? Siapa?”
Penasaran, Zara pun membuka gorden atas untuk mengintipnya ke bawah. Tepatnya di area parkir depan outlet.
“Rayyan?” Pekiknya dalam hati. “Dari mana dia tahu nomorku, dan posisi aku di sini?
“Ini pasti kerjaan Mami!” Zara menduga-duga.
Pria itu mendongak ke atas dan mengangkat buket bunga yang dibawanya tinggi-tinggi. Sebelum kemudian kembali berpesan;
0858 666 777 xx : bunganya aku titipin ke security. Sama coklatnya juga. Selamat hari kasih sayang.
Ray menyematkan gambar hati di belakangnya.
Zara pun heran, Entah siapa yang mengajarinya jadi genit begini.
“Ih, lebaaayy!”
Tak sadar, Zara berteriak sehingga mengundang perhatian banyak orang yang ada di sana yang menyorakinya dengan selorohan.
__ADS_1