
173
Umar menatap gadis itu yang sedang tersenyum manis. Dia pun mendekatkan bibirnya untuk mencium kening Alma, kemudian menautkan jari-jari mereka.
Jantung Alma berdesir. Gadis itu tersanjung diperlakukan sedemikian lembut oleh Umar setelah sekian panjangnya pertengkaran mereka sebelumnya, sampai membuat keduanya berpisah ranjang.
Oleh karena itu, Alma pun bertanya, “Abang begini nggak karena lagi ada maunya aja, kan?”
“Fitnah kamu, Al,” jawab Umar agak kecewa karena ketulusannya justru dianggap pura-pura.
Tetapi jika dipikir-pikir, pantas Alma menganggapnya begitu. Sebab dari kemarin dia bawaannya emosi melulu kepada istrinya. Padahal yang dipermasalahkan hanyalah persoalan sepele. Perkara biasa yang sebenarnya sangat bisa diselesaikan baik-baik dan tak perlu sedrama itu disikapinya. Ya, dia semacam perempuan yang sedang mengalami gejala PMS.
“Ya, siapa tahu.” Alma melempar lagi dugaannya tersebut. Dan kalau pun memang benar mendasar. Alma juga sudah tidak peduli. Biarkan dia menerima sendiri konsekuensinya.
“Kita mulai semuanya dari awal, ya? Aku janji nggak akan marah-marah lagi dan nggak akan kasar lagi sama kamu.” Umar mengangguk, meminta Alma untuk mengiyakannya.
“Janji nggak akan banting-banting pintu juga kayak kemarin.”
“Iyaaa, nggak percayaan amat.”
“Awas kalau omdo!”
“Apa itu omdo?” Umar tak tahu.
“Omong doang.”
“Oh ....”
Dan kali ini ajakan Umar disambut baik oleh gadis itu. Membuat jantung Umar semakin bergemuruh pada saat Alma mulai berani lebih dulu melabuhkan bibirnya ke pipinya, keningnya, dan yang terakhir ke bibirnya. Penuh dengan perasaan dan cinta.
Jam terus berputar. Beberapa puluh menit sudah berlalu. Keduanya sudah tidak ingat apa-apa lagi selain mendapati tubuh mereka yang sudah sama-sama polos.
Entah siapa yang memulai dan siapa yang memintanya lebih dulu. Mereka terlanjur larut dalam balutan syahwat yang sudah begitu membara dan mendamba sentuhan satu sama lain.
__ADS_1
Tiba saatnya penyatuan, Umar sampai lupa jika dia menikahi wanita yang masih gadis. Pria itu hanya menyadari saat dirinya sudah terbenam di tempat yang begitu sesak, bersamaan dengan suara Alma yang memekik tertahan.
“Pelan-pelan, Bang. Ini sakit, jangan main tusuk aja,” ringis Alma. Sudut matanya berair akibat menahan perih yang akhirnya di usap oleh Umar dengan ibu jarinya.
“Sorry, Al. Aku lupa,” Umar terkekeh. Mengharuskan pria itu berhenti sejenak dan melakukan apa yang bisa dia lakukan demi menyamarkan rasa perih yang Alma rasakan. Barulah setelah reda, dia kembali melanjutkan tugasnya sampai tiba ke tepian.
Pria itu meracau, mengerang dan menghentak kuat setekah berhasil meraih sesuatu yang harus dia dapatkan. Apa yang selama ini terasa begitu sesak, kini tersalurkan sudah. Berganti menjadi kelegaan yang mengubah batinnya menjadi lebih tenang. Lepas dahaga.
Benih telah tersiram. Berharap apa yang ia tanam akan tumbuh menjadi anak-anak yang baik dan indah seperti ibunya. Tak seperti ayahnya yang sudah terlanjur rusak. Demikian Umar berharap.
Umar mengecup kening Alma dan mengucapkan rasa terima kasihnya karena telah memberikan kehormatan yang dia jaga selama ini. Pria itu pun ambruk di dada gadis itu dengan napas yang tersengal.
“Aku sayang kamu, Al,” demikian pengakuannya sebelum mereka tertidur dalam keadaan yang begitu suka cita.
♧♧♧
Alma tersenyum malu pada saat ia harus keluar dengan dari kamar mandi dengan rambut yang tergulung handuk.
Umar yang menyaksikan itu juga sama lemahnya. Seketika dia terbayang apa yang dilakukannya tadi malam.
“Kamu nggak usah ke mana-mana hari ini. Di kamar aja,” katanya memahami Alma karena semalam, gadis itu berulang kali meringis sakit.
Alma terdiam. Dia sama sekali tak membantah karena kondisinya sekarang masih lemas. Dan setelah menunaikan kewajiban, Alma pun kembali berbaring.
Entah terkena benturan dari mana pula, hari ini Umar sepenuh hati melayaninya. Memanjakannya dengan memberikan apapun yang Alma minta. Meskipun setiap kali harus berakhir dengan mengotorinya lagi.
“Kalau begini kapan sembuhnya, Bang,” ringis Alma namun tak kuasa menolak ajakan suaminya yang masih sangat penasaran betapa manisnya rasa bercinta.
Umar menunjukkan jari damainya, “Aku janji ini yang terakhir, nanti malem engga. Tapi di ganti besoknya.”
“Sama aja bohong.”
Umar pun mencukupkan hasratnya pada hari itu. Bukan karena untuk melunasi janji, tetapi karena kondisi Alma yang tiba-tiba saja demam. Menggigil.
__ADS_1
“Biasanya kamu minum obat apa?” tanya Umar pada Alma yang dia gulung dengan selimut tebal. Sudah mirip seperti kue lemper.
“Parasetamol aja,” jawab Alma. Namun setelah berulang kali diberikan, panas di tubuh Alma tak kunjung menurun.
Tak hanya itu, Umar juga memberikannya air kelapa muda, tetapi entah kenapa hasilnya tetap nihil. Tubuh Alma masih saja demam dan malah bertambah parah.
Tak ingin terjadi apa-apa pada Alma, Umar pun membawa istrinya segera ke rumah sakit. Dokter menyarankan agar Alma di rawat di sana sampai kondisinya membaik.
Umar segera menghubungi mamanya pada saat Alma sudah mendapatkan kamar rawat inap.
Hingga tak berapa lama, wanita itu pun datang menyusul dengan membawa berbagai macam barang yang Umar titipkan.
Vita datang sendiri karena suaminya sedang berada di luar. Sedangkan yang lain juga sama. Ia hanya mengatakan, kemungkinan mereka juga akan menyusulnya segera.
“Makanya jangan maksa, Umar,” ujar Vita menasihati anak keduanya yang tahu, bahwa ini semua terjadi karena ulah nakalnya. “Parah kamu. Bisa dimarahin Ummi kalau sampai mereka tahu.”
“Aku mana tahu akibatnya begini, Ma,” Umar membela diri berharap kata-kata itu dapat menyelamatkannya.
“Semua permainan itu ada aturannya, jeda dulu selama beberapa waktu kalau yang satunya sudah terdengar mengeluh. Jangan malah semau-maunya sendiri. Sampai Alma demam begitu.”
Umar diam saja. Seolah membenarkan semua perkataan mamanya barusan.
“Ketahuan kan, sekarang. Kamu zolim sama istrimu, Mar kumarrr!” Satu telinga Umar ditariknya sangar keras sehingga wajah Umar ikut merah menahan sakit.
“Aaa! Sakit Mama, sakiiit! Aw! Sakiiit, ugh sakit, sakit sakit!”
“Rasain kamu biar tahu rasa! Mama tahu Alma nggak bisa melakukannya jadi biar Mama wakilin!”
“Aww! Aww! Ampun, Ma ampun!”
“Nggak ada ampun lagi buat kamu!”
Bersambung.
__ADS_1