
Brak!
Seorang lelaki yang usianya hampir sama dengan Fasad melemparkan selembar kertas ke atas meja sehingga membuat pemiliknya sedikit terlonjak.
“Apa ini?” tanyanya dengan nada sinis. Pria itu tak lain adalah Ardito. Undangan itu sampai hari kemarin di rumahnya, yang kemudian membuatnya terpanggil untuk datang ke sini. Meminta kejelasan.
“Nggak bisa baca?” tegas Fasad.
“Nggak ada angin, nggak ada hujan. Tahu-tahu lo mau nikah minggu depan. Lo bilang hanya akan menikah kalau udah sembuh seratus persen. Tapi, buktinya?” kecam Ardito masih dengan posisi berdiri, “pembohong! Omonganmu nggak bisa dipegang, Fa! Taik, lo!”
“Gue udah sembuh!” tekannya.
“Gue yakin ada maksud dibalik semua ini. Karena Cici termasuk temen baik Zara selama lo gak ada!”
“Anj*ng!” umpatnya melempar batang rokok keluar rumah.
“Lo dah nyakitin banyak orang, Fa.”
“Nggak usah ceramah, nggak usah ikut campur urusan gue.”
“Nggak ada perubahan dari diri lo, Fa. Yang ada lo malah semakin parah.”
“Gue udah sembuh!” ulangnya sekali lagi.
“Dengan cara lu begini aja udah cukup membuktikan kalau lu masih sakit.” Ardito menaik keras kerah baju Fasad ke atas dengan tatapan menghujam, “Kasih tau gue, apa yang mau lu rencanain lagi dengan pernikahan ini?”
“Bukan urusanmu!” balas Fasad tak kalah meradang.
“Jangan sampai kamu menyakiti Zara lagi hanya karena kamu dendam dengan maminya!” duganya sangat tepat. Tapi sesaat kemudian Ardito tertawa dan menghempaskan kerah Fasad kembali secara kasar, “tapi sayang ... Zara udah mau nikah sama orang lain. Dan sepertinya rencanamu gagal.”
Ardito menertawakannya lagi membuat Fasad semakin panas membara. “Jangan sampai lu gagalin pernikahan ini dan mempermalukan Cici hanya karena rencanamu sudah gagal. Atau ....”
“Atau apa maksudmu?” sela Fasad tak sabaran.
“Atau kamu memang banci!” sembur pria ini, “banci tetap banci.”
“Brengsek!”
“Banci tetap banci!” Ardito mengulang tanpa rasa takut sehingga perlawanan Fasad pun tak dapat dihindari. Keduanya terlibat perkelahian singkat sebelum akhirnya Fasad berhasil dibekukan menggunakan trik kuncian.
Ardito kemudian beranjak meninggalkannya sembari mengancam, “Gue orang pertama yang akan datang kalau sampai lu berani nyakitin dan mempermalukan Cici,” tunjuknya pada selembar kertas bertuliskan undangan, “biar pun Cici lo anggap murahan, tapi dia masih termasuk sepupu gue. Dan gue nggak akan segan-segan habisin orang yang udah berani mengusik orang-orang terdekat gue! Mengerti!?”
♡♡♡
Saat hampir sampai di rumah, Zara terkejut ketika mendapati rumahnya di kepung oleh banyaknya wartawan. Bahkan ada salah satu yang tengah meliput keadaan rumahnya dengan mewawancarai seorang security. Zara belum tahu, apa gerangan yang sedang terjadi. Perasaan, belakangan ini dia tak lagi pernah berbuat ulah atau keonaran.
“Lha, kok banyak wartawan di sini, Pak?” tanya Zara kepada sopir Mami yang sedang mengantarnya.
Dan mulai sekarang, Zara memang sudah tidak diperbolehkan lagi pergi seorang diri. Miranda tak ingin mengambil risiko jika terjadi apa-apa pada putrinya menjelang pernikahan seperti ini. Seorang ibu akan memikirkan anaknya meliputi segala sesuatu. Bahkan sebelum sang anak sendiri tahu, bahaya apa yang akan mengancam.
“Wah, nggak tahu, Non,” jawab Heru sang sopir yang sontak membelokkan mobilnya ke arah lain menghindari mereka. Heru tahu majikannya tersebut kurang suka dikejar-kejar seperti ini untuk wawancara. Terkecuali memang kemauannya sendiri.
Tak bisa memutuskan ke mana akan menepi, Heru bertanya, “Kita ke mana dulu ini, Non?”
__ADS_1
“Kita ke Cafe V&Y aja,” Zara menjawab.
Heru menurut dan segera mengarahkan mobilnya ke tempat yang dituju.
Sementara Zara sendiri menghubungi maminya.
“Ya Allah, Nak. Dari tadi Mami telepon kenapa nggak diangkat-angkat, Sayang?” ucap suara dari seberang begitu telepon tersambung.
“Aku baru tahu malahan kalau Mami dah telepon dari tadi,” jawab Zara.
“Emang hapenya kamu taruh mana?”
“Ada di tas. Tapi emang aku silent, sih....” Zara terkekeh, “tadi di sana wara-wiri bunyi telepon dari orang yang nawarin asuransi, pinjaman dll, jadi aku silent. Takut ganggu warga sekitar.”
“Pantesan.”
“Terus, Mami ngapain telepon aku?”
“Ini, di depan banyak banget wartawan yang nungguin kamu pulang. Salah satu dari mereka minta wawancara sebentar, katanya.”
“Itu juga yang mau aku tanyain, Mam. Bohong banget mereka bilang sebentar, ntar kalau aku nongol di situ pasang badan, sampai kaki kram juga nggak bakal berhenti ditanya-tanyain.”
“Kamu di mana sekarang, Sayang?”
“Tadi kita dah mau sampe depan rumah, tapi begitu lihat banyak orang, kami mundur lagi.”
“Terus sekarang mau ke mana?” Miranda mengulang karena belum mendapat jawaban.
“Kirain kamu dah tahu. Ini, lho, berita nikahan kamu dah ada yang nyebarin. Nanti buka aja di lovagram, dah Mami tag kok. Biar kamu nggak usah cari-cari lagi.”
“Oh ya ampun, sudah aku duga. Pasti karena ada hempon jadul,” ujar Zara tertawa, “terus nanti aku pulangnya gimana?”
“Di situ aja dulu, ada Pak Heru juga. Kamu bisa minta tolong sama dia. Nanti kalau mereka dah pada pulang, baru Mami kabarin lagi.”
“Kalau nginap?”
“Kebangetan kalau sampai nginap. Tapi kalau emang bener begitu ya, kamu tungguin aja di sana sampai besok.”
“Teganya Mami, ih. Aku juga lapar kali, Mam.”
“Di sana kan, ada banyak makanan.”
“Tapi aku tetap lebih suka masakan Mami yang enak-enak.”
“Halah, sama aja!”
“Kirimin aku makanan ngapa, Mam....”
“Yang bener aja, masa ngirim makanan ke Cafe. Mang tempat itu punya nenekmu?"
“Mami lupa kayaknya, ini punya calon mertuanya aku, lho.”
“Baru calon, belum deal. Makanya punya kepala jangan dipenuhin sama Ray terus, jadi nggak eror.”
__ADS_1
“Aku nggak eror kok, Mam. Cuma rada stres doang, hihi.”
Telepon diputus saat pembicaraan sudah ngawur ke mana-mana. Seperti yang tadi di rencanakan, Zara berhenti di Cafe V&Y. Tempat yang pernah menghancurkannya dulu. Namun kini mengukir indah menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Beberapa menit duduk dan memesan kopi, Zara mendapat pesan.
0858 777 66 xx: udah sampai belum. Kenapa belum berkabar?
Gegas Zara membalas pesan karena Rayyan pasti tengah mencemaskan nya.
Zara: belum. Aku di sini (mengirimkan foto menu yang ada di meja, sekaligus lokasi)
0858 777 66xx: bukannya pulang malah ada di Cafe nya Mama. Tahu gitu tadi bareng aja.
Zara: nggak jadi pulang. Ternyata banyak wartawan di rumah.
0858 777 66 xx: aku tahu.
Tahu dari mana?
0858 777 66xx: kalau mau istirahat tinggal bilang aja ke mbaknya, minta tolong antarin ke atas, di sana ada kamar. Kecil, sih. Tapi lumayan nyaman. Dulu aku sering tiduran di sana.
Zara langsung melebarkan mata. Curiga kalau selama ini Ray hanya pura-pura amnesia. Tak suka bertele-tele, dia pun segera bertanya lagi;
Zara: eh, kok kamu udah ingat yang dulu-dulu? Jangan-jangan???
0858 777 66 xx: jangan suudzon. Memang ada beberapa yang udah aku ingat. Termasuk tentang kita (dibubuhi stiker saranghaeyo)
Zara: ngegombal aja terus. Siapa yang ngajarin? Perasaan dulu kayak es batu Negeri Kanada.
0858 777 66 xx: Zara yang ngajarin.
Zara: apaan? Enggak pernah aku gitu. Kamu aja yang ganjen.
0858 777 666 xx: jangan bikin gemes, nanti aku bisa nyusul ke sana.
Zara: susul aja kalau berani.
0858 777 666 xx: nantang nih, ceritanya?
Zara tak membalas lagi. Dia tak sedang bersungguh-sungguh menantang Ray agar pria itu pergi menyusulnya. Namun tanpa di duga, kurang lebih sepuluh menit kemudian, pria itu sudah ada di sini. Berdiri menjulang di hadapannya.
Zara membuka mulutnya karena merasa tak terduga. Dia baru sadar setelah tangan kokoh mengusap kepalanya yang berbalut hijab.
“Kaget?”
•••
Bersambung.
Mungkin beberapa bab ke depan akan berisi tentang kebucinan yang HQQ.
Dijamin akan mual berjamaah.
__ADS_1