
147
Sebulan berlalu setelah acara lamaran Andrea dan Zunaira terjadi di Cafe. Maka persiapan pernikahan pun, sudah selesai dilakukan. Keduanya hanya tinggal menanti hari itu tiba, yang rencananya akan dilakukan esok hari di salah satu gedung hotel yang ada si kawasan Jakarta Timur.
Zunaira selalu berdebar jika mengingat apa yang akan terjadi besok. Hari bahagianya bersama Andrea. Suatu keberuntungan dalam hidup, memang cuma satu, bisa menikah dengan orang yang kita cintai. Hidup bersama dengannya. Selamanya.
“Sesuai sama nama Cafenya. Cafe Kenangan yang menciptakan kenangan yang indah. Kamu adalah saksi bagaimana kami kembali dipersatukan.”
Caption yang baru tertulis oleh Zunaira tersebut langsung di unggah ke media sosial oleh Si Pemilik. Yang beberapa menit kemudian mendapatkan balasan dari seseorang.
“Semoga bahagia,” tulis akun @Sammy_yunchen.
Zunaira sedikit membelalak saat dia membaca. Tak menyangka bahwa Sammy mau mengomentari caption nya setelah berapa lama mereka tak pernah lagi saling berinteraksi.
Ah, Nai canggung. Dia terlalu bingung, apa kata-kata yang tepat untuk membalas saudaranya itu. Nai takut ada kesalahpahaman di antara mereka.
Namun karena tak mau dinilai sombong, Nai pun akhirnya membalas sekadarnya.
“Aamiin,” seperti itu yang tertulis.
Tak berapa lama, muncul lagi komentar dari akun lain yang hanya mengirimkan gambar satu gambar hati merah untuknya. Siapa lagi kalau bukan Si Dingin?
“Begini doang?” Nai cemberut. Dia tidak tahu bagaimana hubungan mereka nanti setelah menikah. Apa Andrea akan tetap dingin begini? Oh, tidak. Pasti akan sangat kaku sekali berhadapan dengannya.
Nai gregetan. Dia pun membalasnya dengan mengirimkan pesan.
Zunaira: begitu aja komentarnya? Mang nggak bisa dipanjangin lagi?
Beberapa saat, Andrea membaca, lalu mengetikkan pesan.
Mas Kulkas: apa Sayang?
Zunaira: tau ah! (menambahkan emoticon cemberut).
Mas Kulkas: sampai ketemu besok.
“Begini ya, nikah sama pria yang sudah pernah menikah?” Zunaira bergumam sendiri. “To the point.”
Terus terang, Zunaira adalah seorang gadis muda yang masih suka bercanda. Masih selalu ingin di rayu dengan kata-kata yang manis. Namun sayang, sepertinya tipe lelaki seperti Andre tak akan bisa mewujudkan keinginannya. Selain perbedaan usia mereka sangat jauh, mungkin pria itu juga sudah kenyang duluan pacaran dengan mantan-mantannya! Dan sekarang, sudah waktunya dia hidup serius. Huh, nggak asik.
“Tahu gitu aku nyari yang berondong. Ups!” Zunaira langsung menutup mulutnya sendiri dan menarik ucapannya kembali, “nggak boleh nyesel, Nai. Apapun yang dikasih Tuhan itu yang terbaik untukmu. Dia jodohmu sekarang, jadi harus terima apa adanya. Siapa tahu nanti lama-lama dia bisa berubah.”
Sementara di kamar lain, tengah terbaring sepasang suami istri di ranjangnya. Hari masih terlalu pagi untuk melakukan aktivitas sehingga mereka gunakan kesempatan itu untuk bermalas-malasan. Keduanya menatap layar ponsel masing-masing.
“Sam!” panggil Mauza meletakkan ponselnya. Meminta pria itu menoleh. “Sam!”
Karena Sammy tak kunjung menoleh, Mauza menyerukkan kepalanya ke samping pria itu. Agar bisa melihat apa yang sedang Sammy lakukan sehingga dia mengabaikan panggilannya.
Sammy memang sedang fokus bermain game, namun alangkah terkejutnya Mauza saat melihat notifikasi balasan di atasnya yang menampakkan akun Zunaira.
“Kalian komen-komenan?” tanya Mauza negative thinking.
“Nggak usah gitu roman mukanya. Kami cuma sekedar balas-balasan komentar aja. Kalau nggak percaya lihat aja sendiri,” balas Sammy. Dia pun segera memainkan gamenya lagi tanpa mempersoalkan pertanyaan ini lebih lanjut. Yang tanpa Sammy sangka-sangka, menjadi bibit permasalahan di antara mereka di pagi hari ini.
__ADS_1
Karena semenjak saat itu dia menemukan keanehan pada istrinya. Mauza yang biasanya cerewet berubah jadi dingin padanya. Menatap seperlunya dan hanya mau bicara saat dia bertanya saja.
Sammy pun heran. Dalam benaknya bertanya-tanya, apa ini ada hubungannya dengan persoalan tadi?
“Za, jaket aku mana?” Sebenarnya Sammy sudah tahu di mana letaknya, tetapi dia sedang ingin mencari topik agar gunung es bisa lekas mencair.
Mauza meletakkan jaket Sammy ke atas ranjang, berikut tas yang hendak suaminya bawa naik motor. Semua sudah siap di sana untuk menghindari di tanya-tanya lebih.
“Za?”
“Hem.”
“Mauza!”
“Semuanya udah siap. Apa lagi yang kurang?” Mauza berkata tanpa mau bertatap muka padanya. Tampak jelas sekali bahwa Mauza tengah menghindari kontak mata dengannya.
“Mauza?!” panggil Sammy dengan nada yang lebih tinggi. Rahangnya pun mengeras. Kesal karena Mauza tidak mau menghargainya sedikitpun setelah berbagai usaha sudah dia lakukan.
Tak tahan diperlakukan demikian, Sammy mendekati Mauza. Memegang kedua bahunya dan mendekatkan wajahnya tepat berhadapan. “See my eyes, Mauza!”
“Nggak!” tolaknya cepat.
“See my eyes!” Sammy mengulanginya dengan lebih tegas. Dia terus melakukannya sampai akhirnya Mauza mau menatapnya.
Kemudian sesenggukan.
“Kamu itu kenapa sih?” tanya Sammy tak habis pikir, “nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba kamu ngambek begini. Kan, kamu pernah bilang sendiri, kalau ada apa-apa itu cerita supaya bisa di selesaikan masalahnya. Sekarang bilang, kesalahan aku itu apa? Biar bisa aku perbaiki.”
“Ya Allah Mauza ...” Sammy mende sahkan napasnya ke udara. “Gara-gara perkara se sepele itu aja kamu jadi begini. Kamu cemburu?”
Mauza tak menjawab selain bibirnya yang semakin monyong dan matanya berair.
“Jangan sampai orang rumah dengar ini, Za. Nggak enak,” ujar Sammy mengusap pipi Mauza dengan jarinya.
“Masa cemburu nggak boleh?”
“Ya nggak boleh, kalau cemburumu berlebihan. Memangnya aku berbuat apa?”
“Tuh buktinya Nai bilang kenangan-kenangan.”
“Makanya dibaca baik-baik, Maemunah! Dia itu bikin caption buat calon suaminya. Bukan buat aku. Hihh, capek gue punya bini kok, gini amat curigaannya!” Sammy gemas sendiri saat menjelaskannya. “Lagian mana mungkin Nai berani berbuat segila itu sama suami kakaknya sendiri. Dah gila apa?”
Penasaran, Mauza pun membuka lagi ponselnya untuk meneliti postingan tersebut. Setelah dilihat secara jelas, Mauza balik badan. Haduh, malunya sampai ke ubun-ubun. Ternyata caption tersebut ditujukan kepada Andrea dan di balas langsung pula oleh pria yang dimaksud, dengan gambar hati.
“Udah ngerti sekarang? Ngerti dong!”
Pertanyaan Sammy membuat Mauza tersenyum. Sialan. Sammy bahkan mengejeknya sekarang.
“Kenapa? Takut suamimu yang ganteng ini nyeleweng?”
“Nggak!” elak Mauza.
“Kalau mau nyeleweng juga pikir-pikir kali, masa iya mau sama orang serumah. Dah sama-sama punya pasangan lagi. Bisa dibilang nggak waras aku, Za. Lagian kenapa sih, kamu kok sensitif banget. PMS ya?”
__ADS_1
PMS? Sejak kapan Mauza PMS?
Nggak pernah tuh Mauza mengalami gejala PMS. Mauza tidak pernah menunjukkan perubahan-perubahan yang berarti jika ia mendekati tamu bulanannya. Wanita itu ibarat kerbau yang tak terlalu perasa dengan rasa sakit.
Apa aku hamil? Batinnya mengira-ngira?
“Dah, yuk! Temenin aku sarapan. Aku mau langsung berangkat, soalnya mau cari tempat rapat buat kakakmu sama rekannya nanti di sana,” ajak Sammy. “Dah nggak usah mikir gitu lagi, lebay an jay!”
“Bisa nggak jangan ngomong anjayani-anjayani? Tar kalau ada yang denger dikasusin, lho?”
“Semua-muanya aja mau dikasusin, di dendain. Tar lama-lama semua warga negara ini bisa masuk ke penjara.”
Dan mereka pun turun bersama. Kebetulan sudah ada kedua orang tuanya dan Umar di sana.
“Gimana Umar? Apa kamu sudah siap ketemu sama perempuan yang Papa maksud?” tanya Papa kepada anak curut itu.
Tak berapa lama, Umar mengangguk. Anggukkan yang terlihat dipaksakan.
“Besok gadis itu mau datang sama Abi nya memenuhi undangan kita. Sekalian mau memperkenalkan kalian. Namanya Almahyra.”
“Iya, Pa,” Umar mengangguk.
Dari ekspresinya Umar terlihat keberatan. Tetapi, dia tak kuasa lagi melawan orang tuanya. Hidupnya bergantung pada mereka. Takut semua kartunya diblokir lagi dan semua fasilitasnya dicabut.
“Ciye, Umar mau dijodohin sama Alma,” sahut Mauza setelah duduk di sampingnya. Sedangkan Sammy di sebelahnya lagi.
“Berisik, lo!” kata Umar penuh ancaman.
“Aku kenal sama orangnya, Mar. Dia itu teman kuliah aku,” bisik Mauza sama sekali tak takut. Namun berhasil memancing penasaran di hati Umar.
Sehingga saat semua orang telah pergi dari meja sarapan, Umar pun menunggu-nunggu momen yang tepat untuk bertanya pada kembarannya. “Gimana cewek itu?”
“Ceweknya baik sih, Mar. Tapi maap-maap, ya. Aku harus jujur supaya nanti kamu nggak terlalu kaget. Alma itu dulu biasa aja. Gendut lagi. Mukanya hitam!” ujarnya sangat meyakinkan.
Mendengar hal itu Umar melotot. Dia tak percaya bahwa papaya tega menjodohkannya dengan wanita sejelek itu. Apakah ini sebabnya sehingga dia memakai cadar? Yaitu untuk menutup wajahnya yang hitam?
“Sehitam apa?” Umar bertanya lagi. Dia percaya saja dengan pernyataan Mauza.
“Ya hitamlah pokoknya, soalnya dia itu dulu suka panasan. Suka kegiatan yang ada di luar lapangan, jadi mukanya gosong, belang lah! Tau deh, sekarang kayak apa.”
Mauza terus mengompori.
Ya ampun, Umar jadi semakin tak berselera. Bahkan hanya untuk sekadar berkenalan dengannya pun, rasanya tak sudi. Tetap cantikan Sarah ke mana-mana kalau gitu. Luar dalam lagi.
Lha, kok pikirannya jadi ngeres?
Umar mengacak rambutnya frustasi. Kenapa apes banget nasib gue, batinnya terus merutuk.
Bersambung.
Kita kerjain Umar yok!😂
Eh, hari Senin ini ya? Votenya jangan lupa ya!
__ADS_1