Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Bisakah Kita Bicara?


__ADS_3

Bab 20.


Suasana mendadak tidak menyenangkan. Tak ingin semua orang yang datang mendengar permasalahan keluarga ini, Fasad berbisik kepada teman-temannya yang lain untuk membantunya membubarkan acara. Namun sebelum itu, dia terlebih dahulu berpesan agar mereka kembali nanti sore untuk melanjutkan penandatanganan berkas-berkas pernikahan. Sebab saat ini, dia dan Zara belum bisa melakukannya.


“Maaf ... nggak seharusnya kalian melihat pemandangan buruk seperti ini,” ucap Fasad kepada semua orang, “sepertinya kami butuh waktu untuk menyelesaikan masalah kami.”


“Tidak apa-apa, Mas Fasad. Kami tidak akan ikut campur,” jawab salah satu perwakilan.


“Jo, tolong bawa ibuku sama Mike ke atas,” perintah Fasad pada seorang teman. Ini tak baik di dengar oleh anak kecil dan ibunya pikirnya. Kemudian mendampingi Zara yang tengah beranjak dari duduknya mendekati ibunya. Lantaran tak ingin terjadi sesuatu yang tak di inginkan.


“Kenapa? Kamu merasa penting dalam hidupku?” tanya Zara. Matanya menyorot tajam namun sulit dimaknai, “ke mana saja kamu selama ini? Kenapa baru sekarang minta dilibatkan dalam hidupku?”


“Zara, Mami adalah ibu kandungmu, hormatilah dia,” Ruben angkat bicara.


“Nggak usah diingatin lagi, Om. Aku nggak lupa.”


“Mami menyayangimu, Zara.” Ruben berkata lagi.


“Nggak, kalau dia menyayangiku, dia nggak akan buat Papiku mati. Karena kalianlah aku harus kehilangan seorang ayah di saat aku masih sangat membutuhkannya. Kalian telah memisahkan aku darinya!” kali ini air mata Zara mencuat. Melebur dengan rasa emosionalnya.


“Jangan bahas yang lain dulu, Nak ....” kali ini nada bicara Miranda terdengar rendah, “kenapa kamu menikah tanpa memberitahu kami?”


“Jangan alihkan pembicaraan, Mam.”


“Ya, kami menyadari kesalahan kami. Oleh karena itu aku tak pernah bosan untuk meminta maaf. Merendahkan diri di hadapanmu untuk mendapatkan satu kata itu. Tak peduli aku orang yang lebih tua.”


“Lalu kenapa Mami nggak mau tinggalin laki-laki ini? Dia sudah banyak mengubah kedirian Mami.” Sambil menunjuk Ruben yang berdiri di samping Miranda.


“Aku sudah menyakitimu, haruskah aku menyakiti Mike lagi, Nak?”


“Itu bukan alasan. Kamu lakukan ini karena kamu cinta buta sama dia.”


Fasad mencoba menyentuh tangan Zara dan memberinya kode agar Zara tak bersikap terlalu berlebihan. Namun ditepis kasar olehnya. Dalam keadaan demikian, memang tidak ada seorang pun yang bisa mengontrol emosi Zara. Dia terlalu kuat untuk ditaklukkan. Susah diberi pengertian.


Miranda menggelengkan kepala, “Mami tidak seburuk yang kamu pikirkan ....”


“Begitu juga dengan aku. Aku nggak seburuk yang Mami pikirkan. Aku butuh dirangkul, bukan dijauhi. Aku juga butuh dikasihi, disayangi dan diperhatikan semasa remaja. Tapi apa yang aku dapat? Mami biarkan aku liar dan tenggelam dalam pergaulan yang sebenarnya sangat menyiksa. Bukan seperti itu yang aku mau, Mam.”

__ADS_1


“Biarkan Mami menebus kesalahan Mami, Nak.”


“Sudah terlambat. Usiaku sudah hampir kepala tiga. Aku bukan kanak-kanak lagi yang harus dilindungi dan dimanja-manja oleh orang tuanya. Masa itu sudah lewat.”


“Sayang ....”


“Nggak, Mam ... aku nggak mau bohongin diri sendiri dengan berpura-pura baik saja sebelum aku benar-benar bisa menerima.”


“Zar,” sela Fasad. Menatap semuanya secara bergantian, “kendalikan diri kamu, jangan sampai kamu sembarangan ngucap.”


Kali ini Zara mau mendengar ucapan Fasad. Lantas menatapnya sekilas dan berjalan cepat mengambil kontak dan pergi dari rumah.


“Selalu begitu kalau aku ajak bicara!” ucap Miranda bersungut-sungut.


“Sabar, Mir ....” tak ada yang bisa Ruben lakukan kecuali menenangkannya. Dia pun tak bisa marah, menyadari kesalahannya sendiri.


Kini pandangan Miranda tertuju kepada laki-laki di depannya, yang dia ketahui sebelumnya adalah seorang banci. Aneh memang, kenapa anaknya justru mau menikah dengan seorang pria setengah matang seperti ini di saat pria-pria normal—banyak yang mengejarnya.


“Aku tidak tahu harus berkata apa padamu. Tapi andai boleh berterus terang, aku tak suka kau menjadi menantuku.”


Deg ....


“Mir, plis. Jangan buat suasana menjadi lebih kacau lagi. Sudahlah. Masalahmu hanya dengan anakmu. Bukan dia.”


“Aku yakin dia yang sudah mempengaruhi anakku karena ada sesuatu yang ingin dia dapatkan.”


“Itu nggak benar, Tante. Justru aku ingin menolongnya.” Fasad mencoba membela diri meski dugaannya takkan bisa di terima.


“Nggak percaya.”


Fasad memahami. Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Mereka sama-sama keras kepala dan susah diberi tahu. Perempuan bebal! Pasti banyak kotorannya. Batinnya merutuki mertuanya sendiri.


°°°


Kesedihan mengantarkan Zara ke sebuah Taman Pemakaman Umum (TPU) yang ada di Pondok Rangon. Yakni ke tempat peristirahatan terakhir papinya, Almarhum Purnawirawan.


Samar, ia berdoa sedikit yang ia bisa agar orang tuanya itu diberi ampunan, jalan yang terang serta amal dan ibadahnya diterima oleh Sang Maha Kuasa.

__ADS_1


“Aku nggak tahu harus ke mana lagi ... jadi lagi-lagi aku ke sini, Pi. Jangan bosan, ya. Aku lagi ada di dalam fase nggak percaya sama semua orang kecuali diri sendiri.”


Zara berbicara layaknya ia berhadapan dengan orang yang masih hidup. “Hari ini aku sudah menikah lho, Pi. Zara sudah jadi seorang istri. Istri pura-pura tapi ....


“Dosa nggak sih, Pi?


“Ini demi Papi, biar uang Papi nggak dinikmati sama pebinor itu. Maafin Zara ya, Pi. Zara Cuma mau memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi milik Zara. Meski cara ini mungkin salah.”


Cukup lama Zara berada di sana sebelum akhirnya, dia menyerah karena hari sudah mulai terik. Panas matahari seakan membakar kulitnya hingga terlihat mencuat kemerahan.


"Zara pulang dulu. Besok-besok Zara ke sini lagi. Janji."


Namun pada saat ia keluar, dia malah justru berpapasan dengan sepasang suami istri yang baru saja turun dari mobilnya.


“Lho, Zara, Mas?” ucap perempuan paruh baya itu yang dia ketahui adalah Vita, ibunda dari Ustaz Rayyan Eshan Altair.


Sedang yang di ajak bicara hanya menangguk dan samar tersenyum.


“Zara sedang syuting? Kok pakai baju pengantin ke pemakaman?”


“Nggak Tante ... aku memang habis menikah,” jawab Zara berterus terang.


“Oh ya? Tante malah baru tahu. Suamimu mana?”


“Ssst,” lagi-lagi Yudha menyenggol agar istrinya tak kelepasan bicara. “Kami doakan semoga pernikahanmu bahagia. Sakinah mawadah warahmah.”


“Aamiin ... makasih, doanya, Prof. Kalau gitu saya pamit dulu assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab keduanya serentak.


Tetapi pada saat Zara mulai melangkah pergi, Vita kembali menahannya dengan cara menggenggam tangannya. Membuat Zara sontak menoleh dan menatap beliau penuh tanya.


“Zara, apa kamu sedang mempunyai waktu luang?” tanya Vita.


Zara mengedipkan matanya berulang kali. Seakan tak percaya bahwa wanita itu mengajaknya berbicara.


“Ada hal penting yang ingin Tante tanyakan,” imbuhnya.

__ADS_1


 •••


Bersambung.


__ADS_2