
Bab 38.
“Kamu mau makan apa, biar aku ambilkan?” Rayyan bertanya begitu mereka tiba di dalam kamarnya yang dia tinggal semenjak menikah. Beruntung, tidak ada lagi jejak-jejak gambar Zara yang tertinggal karena Vita telah menyingkirkannya. Sehingga Rayyan bisa bernapas lega dan tenang jika Hamidah meneliti isi kamar ini.
“Aku udah nggak napsu makan,” jawab Hamidah dengan suara parau. Sesekali dia membersihkan hidungnya yang terasa menyempit akibat tangis yang tertahan.
Ray mengikuti istrinya duduk di pembaringan. Sementara satu tangannya meraih remote control untuk menyalakan AC karena ruangan ini sedikit terasa panas.
“Ya udah, nanti aja. Istirahat aja dulu sebentar biar suasana hati kamu jadi lebih baik,” kata Ray berusaha sabar. Sebab ia tak mengerti apa kemauan sang istri yang sebenarnya. Perempuan baginya memang sulit di mengerti.
“Kamu mau ke mana?” tanya Hamidah segera saat melihat suaminya tersebut beranjak berdiri.
“Mau lanjutin makan malamku yang tadi tertunda gara-gara kalian. Mubazir buang-buang makanan, dosa,” ujarnya berusaha menampakkan senyum. Bohong besar kalau dia tak terluka. Ray termasuk tipe lelaki yang gampang terenyuh akan suatu hal. Bukan lemah, tapi dia belum terlalu mengenal keras dan tumpulnya dunia luar. Sebab Yudha dan Vita mendidiknya dengan kelembutan dan penuh kasih sayang.
“Bisa-bisanya kamu masih kepikiran soal makanan setelah istrimu ini dipermalukan di depan keluarganya sendiri?!” sembur Hamidah dengan mata seolah menyala. Membuat Rayyan tertegun selama beberapa lama karena saking terkejutnya dengan perubahan sikap istrinya.
“Lalu aku harus apa?” tanya Ray tak habis pikir, “kamu minta aku juga ikut-ikutan marah juga sepertimu?”
“Sedikitnya kamu punya rasa simpati, Kak. Aku di hina di depan adik-adikmu yang lain, sedangkan kamu diam saja tanpa kamu bela. Kamu anggap aku ini apa di sini?”
Ray tersenyum geli, “Wah, sepertinya kamu berlebihan. Nggak ada mereka menghina kamu, Hamidah. Mereka cuma ngomong biasa.”
“Apa seperti ini sebenarnya sifat semua laki-laki? Nggak punya rasa peka sama sekali atau memang nggak punya perasaan?”
“Aku kakaknya, aku tahu mereka nggak punya maksud negatif. Mauza juga sudah minta maaf tadi. Kamu mau dia seperti apalagi? Bersujud di kakimu?”
Hamidah terdiam.
“Pendendam sekali kamu jadi orang. Hanya masalah sepele saja kamu sampai segitunya, gimana kalau punya masalah besar? Pasti akan runtuh dunia ini.”
“Sudah kubilang bukan karena itu, kenapa tadi kamu diam aja? Atau kamu lebih suka istrimu ini terus disudutkan?”
“Yang menyudutkanmu siapa?” tanya Ray akhirnya ikut meninggi, “bahkan Papa menyalahkan keduanya! Salah kalau Papa menasihati kamu? salah?!” pria itu mengguncang bahu istrinya dan berujar dengan penuh penekanan, “sudah menjadi kewajaran orang tua menasihati anak-anak mereka. Kecuali kalau mengajak yang tidak benar! Apa yang beliau ucapkan supaya kamu tahu! Supaya kamu paham bahwa ketersinggunganmu itu berlebihan!?”
“Kamu kasar, aku nggak suka!” seru Hamidah menghempaskan tangan Rayyan.
__ADS_1
“Kamu pikir aku juga suka dengan sikap menyebalkanmu seperti ini?” Ray menantangnya kembali, “aku pun ilfeel!” cetusnya dengan penekanan.
Deg....
Hamidah sontak bergeming. Tak menyangka seorang Rayyan bisa mengeluarkan kata-kata itu kepada dirinya, istrinya sendiri.
Sementara yang dia ketahui, ilfeel adalah kata modern untuk sebuah perasaan yang menunjukkan rasa jijik, muak atau kecewa pada sikap seseorang.
Jadi dia jijik dan muak denganku? Batin Hamidah merongrong perih.
“Kalau kamu jijik, kamu muak sama aku, aku bisa pergi, kok,” kata Hamidah setelah bisa menguasai diri.
Melihat istrinya yang beranjak dan meraih tas membuat Rayyan seketika menghentikannya, “Siapa yang mengatakanmu begitu? Jangan mengada-ada, Hamidah. Jangan membuat masalah ini jadi lebih luas. Permasalahannya hanya kamu tersinggung oleh Mauza. Nggak usah merembet ke mana-mana.”
“Kamu tadi bilang ilfeel, sama aku, kan?” Hamidah menegaskan.
“Nggak bisa bedain jijik sama ilfeel?" tanya Rayyan menahan tangannya, "Aku bilang seperti itu pun karena ada alasannya.”
“Lepas, aku mau pergi!” Hamidah menghempaskan tangannya dengan sangat keras hingga kaitan mereka terlepas.
“Apa?” potong Hamidah, “cerai?” tantangnya. Padahal bukan seperti itu yang Ray maksud, tetapi dia akan menghukumnya dengan mengembalikannya sementara waktu kepada Kyai Mohd. Noor. Mengatakan yang sebenarnya, agar beliau mengerti bagaimana sikap putrinya selama ini.
“Nggak, kamu salah sangka,” jawab Ray sesaat setelah jeda keheningan, “aku bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Nggak peduli kamu seperti apa, yang jelas kamu sama keluarga kamu itu sama aja. Sama-sama nggak punya perasaan.”
Hamidah mulai memesan taksi yang kebetulan langsung dapat di lokasi yang sangat dekat.
“Kemarikan ponselmu!” titah Rayyan berusaha merebutnya, tapi tak berhasil.
“Aku tetap mau pergi, Kak. Katanya kamu ilfeel sama aku.”
“Ya Allah ... terbuat dari apa otakmu ini, Hamidah? Kenapa kamu sama sekali nggak bisa menyerap penjelasanku? Apa yang salah denganmu?” de sah Rayyan tak tahu harus memberikannya pengertian seperti apalagi. Siapa pun laki-laki di dunia ini, andai punya istri yang sikapnya sepertinya, dia jamin tidak akan bisa mati tua. Karena demikian sama saja si perempuan tersebut sedang membunuhnya secara pelan-pelan.
“Omong apa, sih? Nggak nyambung.” Kini Hamidah menempelkan ponsel ke telinganya, “Ya? Oh, sudah dekat? Baik, saya keluar, Pak.”
__ADS_1
“Sudah kubilang jangan pergi tanpa izinku?!”
Namun kerasnya suara Ray yang memekakkan telinga tak di dengarkan olehnya. Wanita itu tetap pergi tanpa memedulikan kejaran suaminya.
🌺🌺🌺
Spontan Yudha dan Vita berlari keluar kamar dengan tergesa. Di saat yang bersamaan, mereka melihat semua anak-anaknya tersebut juga melakukan hal yang sama.
“Ada apa ini?” Yudha bertanya kepada mereka semua yang ada.
“Aku dengar tadi dari kamarku, Kak Ray berantem sama istrinya,” jawab Zunaira karena kamar mereka bersebelahan. Gadis itu memakai mukena yang terlihat asal-asalan lantaran sama-sama keluar dengan tergesa.
“Aku juga dengar, Pa,” sahut Umar.
Yudha mengucap kata istigfar, “Sampai sekeras itu mereka berantem?”
“Ini pasti gara-gara aku,” Mauza kembali merasa bersalah, ekor matanya berair hendak meloloskan tangis. Namun sebelum itu, Vita segera mendekap putrinya.
“Sssh ... bukan seratus persen salahnya anak Mama. Anak Mama ini baik, tadi cuma lagi khilaf aja.” Vita berusaha memberikan kata penenangan.
“Maafin Mauza, Ma. Maafin Mauza ....” gadis itu berkata lirih.
“Jangan cengeng. Mama yakin mereka bisa menyelesaikan masalahnya.”
“Coba ceritakan, cerita awalnya seperti apa?” tanya Yudha kepada anak-anaknya, “Zunaira, Umar, Mauza?”
Umar menjawab, “Kami nggak lihat langsung, Pa. Tapi setelah denger keributan di dalam kamar, mereka keluar, Kak Ray manggil-manggil Kak Hamidah sambil ngejar. Nggak lama setelah itu, aku denger Kak Ray nyalain mobil terus pergi,” paparnya. “Dugaanku, Kak Hamidah itu marah, pergi pakai taksi online, tapi Kak Ray berusaha nyusul dia.”
“Gimana ini, Mas?” sahut Vita setelah Umar selesai bicara.
“Apa perlu aku susul, Ma, Pa?” Umar memberi pendapat.
“Memangnya kamu tahu, mereka pergi ke mana?” jawaban berbentuk pertanyaan Papa Yudha malah membuat Umar semakin pusing.
Umar menduga-duga kemungkinan, “Ya, siapa tahu mereka pulang ke rumah Abinya atau ke Apartemen.”
__ADS_1
“Baiklah kalau kamu mau ke sana, Papa mau ikut sekalian mau bertemu sama Kyai Mohd. Noor,” kata Yudha akhirnya memutuskan. Sebab, dia merasa besannya harus mengetahui masalah ini.