
“Kak, aku takut ...” ucap Mike berulang kali pada saat mereka berada salah satu ruang di kantor polisi, “kita ke mobil aja, yuk! Mike belum selesai makannya.”
“Makan mulu yang dipikirin,” jawab Zara gemas dengan isi kepala adiknya, “jangan berisik, nanti dimarahin sama Pak Pol.”
“Jangan lama-lama, ya!”
“Nggak ... mungkin sebentar lagi urusan Kakak selesai,” jawab Zara meraba sebuah kemungkinan meskipun ia sendiri tak tahu kapan kepastiannya. Sebab dia harus menunggu kedatangan satu-satunya anggota keluarga Fasad, yaitu Tia Rumana.
“Bagi minumnya, Dek ...” pinta Zara kepada sang adik. Lalu diulurkannya susu yogurt yang rasanya manis dan asam itu. “Sebenarnya aku nggak minum-minuman kemasan kayak ini, tapi ya sudahlah. Terpaksa. Haus.”
Selang beberapa menit kemudian, ponsel berdering yang layarnya menampakkan panggilan dari sang suami.
“Waalaikumsalam,” ucapnya menjawab salam dari seberang.
Helaan napas Ray begitu jelas terdengar di speaker ponsel ini, “Ya Allah, aku khawatir sekali membaca pesanmu. Baru pergi sebentar saja sudah seperti ini kejadiannya.”
“Maaf, tapi aku nggak punya cara selain memukulnya. Kalau teriak, yang ditakutin malah kabur. Hanya ide itu yang terlintas.”
“Gimana keadaan dia sekarang?” Ray seperti enggan menyebut namanya.
“Fasad sudah sadar. Aku juga sudah menemuinya. Tapi sepertinya dia marah sekali, jadi nggak mau ngomong apalagi lihat muka aku.”
“Keadaanmu sendiri?”
“Aku baik-baik aja. Kamu jangan khawatir.”
“Mike mana? Aku mau bicara.”
Zara menyerahkan ponselnya kepada adiknya. Anak itu sempat menolak dan memberengut karena gengsi, tetapi Zara tetap menempelkan ponselnya ke telinganya agar Mike mau mendengarkan kakak iparnya bicara.
“Mike, kamu jagain Kakak. Awasi jangan sampai jatuh. Ada dua bayi di perut Kakak, okay?” ujar Ray membuat Mike sontak menoleh. Bertanya-tanya lewat matanya.
Tapi kini anggukkan kepala Zara menjadi jawaban pasti atas rasa penasarannya.
“Dua?”
“Iya, dua. Kamu udah mau jadi Om sekarang. Itu tandanya kamu udah besar. Jadi jangan kolokan lagi.”
Namun Mike tak peduli dengan istilah kolokan sialan yang juga sering sekali di dengarnya itu. Entah dari Mami, Papi, Kakak, dan masih banyak yang lainnya..
“Kok aku nggak tahu?” Mike bertanya lagi karena memang belum ada yang memberitahukannya sebelumnya.
“Kakak juga baru tahu kemarin.”
“Tapi kenapa masih kecil?” Mike menatap ke arah perut kakaknya. Dia pikir, orang hamil akan berperut besar seperti yang sering ia lihat. Apalagi isinya lebih dari satu.
__ADS_1
“Iya emang masih kecil,” baru juga bikin, sambungnya dalam hati. Zara tak mungkin menyuarakannya karena tak mau telinga bocah koloian ini sampai terkontaminasi.
“Mike?” panggilan suara dari Rayyan menyela pembicaraan mereka.
“Iya, Mike denger,” jawabnya masih saja terdengar kaku, “udah, ah.”
Zara terkekeh. Dia kemudian menempelkan ponselnya lagi ke telinganya sendiri, “Nggak suka dia.”
“Mike nggak bilang gitu,” sahut Mike segera.
“Suka nggak jadi Om?”
Mike samar tersenyum, tapi sebelum benar-benar terlihat oleh Kakaknya, dia segera berbalik badan.
“Ray? Aku matikan dulu teleponnya, ya. Nanti aku sambung lagi.”
“Cepat pulang. Jangan terlalu lama disitu.”
“Iya, mungkin sebentar lagi.”
“Aku usahakan pulang lebih cepat.”
Setelah panggilan ditutup, Zara menghubungi Maminya yang sudah berulang kali misscall dan mengiriminya pesan.
“Iya, Mam?” ucap Zara begitu telepon tersambung padanya, “tenang, jangan khawatir. Semua aman, kok.”
Zara pun menceritakan kejadiannya secara singkat, “Tadi waktu pulang dari sekolah, Mike minta beli minum, Mam. Ya udah, kami mampir ke minimarket. Eh, pas mau bayar ke kasir, ada orang itu. Nggak mau pikir panjang, aku langsung pukul aja pakai botol yang kemasannya lumayan berat. Beling kalau nggak salah. Aku nggak punya cara lain apalagi teriak, takutnya dia kabur lagi.”
“Ngeri banget Mami dengernya. Cepet pulang, kamu jangan capek-capek. Ingat, ada calon pewaris kerajaan di perutmu sekarang.”
Zara tergelak. Kerajaan Tuyul?
“Oh, iya, Mike mana?”
“Mike ngantuk kayaknya. Ini udah mulai nyender-nyender di bahu. Nanti kalau tidur aku tinggal aja.”
“Kakak?!” sembur Mike begitu ia mendengarnya.
Zara tertawa. Di saat yang bersamaan itu pula, Zara bertemu dengan sosok yang dia tunggu-tunggu. Tia Rumana. Rupanya beliau ditemani oleh Cici yang senantiasa menggandeng tangannya.
Kedua wanita itu mendekat. Namun agaknya, ekspresi Tia terlihat tak biasa. Beliau tampak membawa amarah semenjak masuk ke dalam ruangan ini, tepatnya semenjak beliau melihatnya.
Membaca hal tersebut, Zara langsung memasang sikap waspada. Takut kalau-kalau Ibu Tia sampai berbuat hal yang tidak diinginkan. Meski dalam hatinya meyakini bahwa mereka akan baik-baik saja mengingat di mana posisinya sekarang ini.
“Sudah puas kamu?” begitu yang pertama kali Tia katakan.
__ADS_1
“Maksudnya?” tanya Zara tak habis pikir.
“Puas sudah memasukkan anakku ke dalam jurang paling dalam di hidupnya!?”
“Kok Ibu malah marah? Fasad masuk ke sini karena perbuatannya sendiri. Dia harus bertanggung jawab, menebus kesalahannya dengan cara menjalani hukuman,” papar Zara dengan segenap kesabaran.
“Bu ... jangan seperti ini, tahan emosi Ibu ....” Cici berupaya mencegah amarah calon mertuanya itu.
“Tidak bisa! Anak saya jadi seperti ini karena dia! Semua gara-gara wanita ini?!” tudingnya dengan jari menelunjuk tepat di wajah Zara.
“Hei, ada apa ini teriak-teriak?” tanya seorang sipir mendekat, “dilarang ada keributan di sini kalau tidak mau kami amankan!”
“Harusnya kamu yang dipenjara, bukan anak saya. Sudah dicintai anak saya sepenuh hati sampai berkorban waktu dan banyak hal, malah seperti ini balasannya! Dasar tidak tahu di untung!” lanjut Tia tak peduli dan membuat Zara langsung terhenyak.
Memangnya apa yang Zara lakukan?
Fiks wanita ini salah paham. Fasadlah yang menceraikan dan meninggalkannya selama ini di saat Zara sudah mulai membuka hati dan secara tidak langsung juga telah mengungkapkan perasaannya. Dengan kata lain, ingin tetap bersama.
“Kamu akan sadar kalau sudah merasakan akibatnya! Biar Tuhan yang membalas! Dasar penunggang agama! Penjual agama!?”
Deg!
Apalagi ini? Agama seperti apa yang dia jual?
“Bu, sudah! Tujuan kita ke sini hanya untuk menemui Fasad ....” Cici mengajak calon ibu mertuanya masuk ke dalam. Dia meminta salah seorang sipir untuk mengantarkannya menemui pria pengecut itu.
“Maaf, Zar. Tolong dimaklumi, beliau sedang sangat emosi, jadi aku nggak bisa membantahnya,” lirihnya kepada Zara tanpa mendapat tanggapan apapun, “aku janji akan meluruskan kesalahpahaman ini kalau keadaan beliau sudah kembali tenang.”
Zara tidak harus percaya bukan? Bisa jadi keberpihakan Cici padanya saat ini hanya untuk tujuan tertentu. Tak lain adalah untuk memancing agar keduanya bisa bekerja sama lagi.
“Dari kemarin ke mana aja? Kenapa baru sekarang kamu berniat menceritakannya? Nunggu kami bertikai dulu? Atau cuma mau cari simpati?”
Oh, betapa buruknya pikiran orang yang sudah pernah dikhianati. Karena untuk kembali percaya lagi setelah adalah hal yang sangat sulit. Orang yang dikira paling sabar pun belum tentu bisa melakukannya.
“Kak ....” ucap Mike memutuskan tautan matanya pada kedua sosok perempuan yang baru saja melintas. Zara kemudian menoleh dengan mata yang basah, “Apa, Mike?”
“Pulang, yuk!” ajaknya menggandeng tangan, “aku takut ....”
“Ya, ya. Kita pulang sekarang!”
Zara dan Mike keluar. Tadinya ia memang berniat untuk berbicara empat mata dengan Ibu Tia. Sekadar ingin menyampaikan permintaan maaf dan dukungan atas apa yang baru saja terjadi pada anaknya. Namun sepertinya itu sudah tidak perlu lagi, pasalnya sikap Tia yang biasanya sabar itu kini sangat di luar dugaan. Sadis.
“Aneh. Orang anaknya salah kok, dibela. Kenapa nggak dibiarkan dia ditangkap untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya? Pantas saja besarnya jadi banci, pengecut. Tuailah hasil didikanmu itu, Ibu Tia!”
Bersambung.
__ADS_1
Sebenarnya aku tuh punya novel fantasi yang nggak masuk pasaran pf hijau sama Oren. Kalian suka novel fantasi romantis nggak sih? Kalau iya aku terbangin di sini aja.
Kalau suka komen ya!