Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Masa Lalu Sarah


__ADS_3

144


“Sarah! Sarah!” seru Umar. Pria yang biasanya bersuara lembut kepada kekasihnya tersebut, kini berubah menjadi garang setelah mengetahui Sarah telah membohonginya.


Wanita itu sengaja bersembunyi darinya di saat beberapa hari Umar sangat kehilangannya. Merana karenanya hingga semua pekerjaannya dia abaikan. Bahkan dia telah berani melawan orang tuanya demi wanita itu!


“Sarah! Keluar kamu!?” seru Umar menendang pintu kamarnya. Tapi sayang, Sarah tak berada di sana. Namun dari pencariannya di kamar itu, dia menemukan alas seprai yang sudah sedikit acak-acakan. Pertanda, ada orang yang telah meniduri ranjangnya.


Dan dugaannya semakin kuat manakala Umar membuka kamar mandi. Sebab dia menemukan lantai dan wastafel yang kering. Ah iya, bukan hanya itu. Ada handuk dan pakaian dalam wanita yang terlihat masih basah tergantung di sana.


“Pengecut kamu, pengecut!”


Meyakini bahwa Sarah masih ada di sekitar sini, Umar kembali menyelusuri seluruh sudut ruangan. Pria yang gagah dan berperut sixpack itu menuju ke ruang tamu, kamar tamu, kamar mandi bawah, lantai dua, tempat jemuran, dan terakhir ke balkon.


Umar berhenti dan berdiri di sana dan menatap ke bawah, tepat ke jalan raya. Matanya begitu jeli mengawasi kendaraan atau pejalan kaki yang lewat.


“Kabur ke mana lagi kamu?!”


Beberapa menit di sana, Umar kembali turun untuk kembali meneliti dapur. Di sana, dia menemukan lagi bukti-bukti bahwa wanita itu masih tinggal di sini. Umar melihat makanan yang belum lama di simpan di kulkas. Ditandai dengan bentuknya yang belum sepenuhnya beku.


“Brengsek!” umpatnya.


Kesal, marah dan dongkol membuat Umar melampiaskannya pada kursi kayu di depannya. Dia menendangnya sampai patah.


Sementara di tempat lain, seorang wanita muda berlari ketakutan dan menangis tak tentu arah. Dia tak membawa apapun selain handphone dan tas kecilnya yang hanya berisi kartu-kartu penting miliknya saja.

__ADS_1


Napasnya terengah, keringat membanjiri wajahnya yang cantik jelita. Dia adalah Sarah. Wanita malang yang dicintai oleh Umar.


“Nggak, aku nggak boleh ditemukan oleh Umar,” gumamnya masih sambil berlari. “Aku nggak pantas buat dia.”


Sarah masih terus berlari hingga akhirnya, dia berhenti di sebuah taman Cempaka. Dia masuk ke dalamnya yang sangat luas, berharap Umar tak mencarinya sampai ke sana.


“Sepertinya hari ini aku nggak bisa pulang lagi.” Seperti beberapa hari kemarin, batinnya melanjutkan.


Sarah menjatuhkan dirinya di teras ibadah. Dia melihat beberapa anak-anak yang sedang bermain bola tak jauh darinya. Matanya berkaca-kaca, membayangkan anaknya pun besarnya sudah hampir sama, seperti salah satu dari mereka.


“Axel ... kamu lagi ngapain, Sayang. Mum pengen ketemu.”


Sayang, Sarah tidak akan pernah bisa bertemu dengannya. Axel sudah mempunyai ibu baru sekarang. Damian, mantan suaminya, sudah tak mengizinkan Sarah bertemu dengan Axel lagi.


Kedua bola mata Sarah semakin menderas pada saat mengingat bagaimana dia harus meninggalkan bayi kecilnya. Sesuai perjanjian yang tertulis di surat kontrak. Bahwa Sarah harus segera pergi dari sana, apabila anak yang di kandungnya telah lahir. Bahkan air susunya pun tak boleh diberikan sehingga terkadang, Sarah terpaksa menyusui bayinya secara diam-diam.


Selain rumah dan rukonya belum terjual. Sarah terhalang oleh rasa rindunya kepada Axel. Dia ingin bisa tetap melihatnya meski secara diam-diam. Satu lagi, dia juga masih mencintai Damian. Bukan Umar.


Umar memang kekasihnya, tetapi enam bulan menjalani hubungan, pria itu belum berhasil menggeser posisi Damian dalam hatinya. Ada pun rasa sayang, tetapi itu hanya sedikit. Tak lebih besar daripada rasa sayangnya kepada mantan suami.


Umar hanyalah pria yang tak sengaja ditemuinya di Cafe. Ada insiden kecil yang membuat mereka saling berkenalan, lalu berlanjut ke jenjang berikutnya.


Waktu itu ... Umar mendapati dirinya berteriak, pakaiannya basah karena tak sengaja tersiram kopi panas oleh salah satu waiters yang melayaninya. Oleh karenanya, Umar membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa karena air panas itu mengenai kulitnya. Dari sanalah benih-benih cinta Umar mulai tumbuh.


Setelah keduanya saling bertukar nomor telepon, Umar menanyakan kondisinya setiap hari dengan dalih, ia bertanggung jawab untuk itu lantaran ini terjadi di tempat usaha yang dikelolanya.

__ADS_1


Mereka saling bertemu hingga akhirnya beberapa minggu kemudian, keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan.


Umar mendatanginya hampir setiap malam. Bukan tanpa sebab Sarah menyuruhnya datang di waktu-waktu tertentu. Siangnya, Sarah memang selalu di kantor, sibuk atau tak sibuk, dia akan tetap stay di sana. Sedangkan Umar, dia juga mempunyai pekerjaan sendiri yang jelas tak mungkin ditinggal demi menemuinya.


Sarah menghargai Umar. Dia tak mau pekerjaan Umar jadi terganggu karenanya. Dia mempunyai keluarga yang begitu mengharapkannya. Keluarga yang Sarah tahu, bukan keluarga sembarangan.


Sarah tak pernah mengira sebelumnya bahwasannya, Umar adalah putra dari Prof. Yudha Al Fatir, anak dari KH. Haikal Al Fatir. Dan mempunyai menantu aktris sekaligus seorang pengusaha yang cukup berpengaruh di negara ini.


Setelah mengetahui semuanya, bagaimana mereka yang begitu agamis, nyali Sarah langsung menciut. Dia merasa tak pantas untuk Umar dan dia pernah katakan ini berkali-kali kepada pria itu. Namun Umar yang keras kepala tak pernah mau mendengarkannya. Justru setiap perkataannya yang menentang selalu berakhir menjadi perdebatan. Dia tak kuasa melawan watak keras Umar.


Umar selalu bilang padanya, bahwa orang tuanya tak pernah memandang kasta. Tak peduli dengan siapapun dirinya. Tetapi tetap saja, Sarah tak percaya diri.


Umar seorang bujangan. Dia cukup baik meskipun kadang cara bicaranya mengesalkan.


Sedangkan dirinya?


Dirinya hanya seorang janda. Dan yang lebih buruknya lagi, Sarah adalah ibu pengganti yang menjual anaknya hanya demi uang supaya bisa hidup lebih enak. Cepat kaya. Apalagi yang lebih buruk dari itu? Dia adalah seumpama seorang pela cur. Wanita murahan yang tak pantas masuk di keluarga besar Umar.


Belum sempat dia membuat dirinya menjadi percaya diri, Sarah dibuat semakin terkejut lagi. Malam itu, Umar dan Papanya datang ke rumah dan memintanya untuk menikah besok.


Sarah takut. Sarah takut tak bisa menjadi seperti mereka. Sarah takut mencoreng nama baik mereka. Sarah takut aibnya yang selama ini sudah ditutup rapat-rapat, di bongkar oleh orang yang tak menyukainya. Dia tahu, keluarga mereka tak luput dari pantauan media. Ya, Sarah takut. Sarah takut semuanya.


Tak ada jalan lain untuk menghentikan Umar selain dia yang pergi. Meskipun Sarah tahu, ini menyakitinya. Sarah benar-benar tak menyangka, sedalam itu Umar mencintainya.


Sesungguhnya, Sarah sangat merasa bersalah karena secara tak langsung, dia telah mempermainkan perasaan Umar. Tetapi menurutnya, demikian jauh lebih baik. Sarah berharap, kelak Umar dapat menemukan jodoh yang sepadan dengan keluarga mereka.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2