Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Aku Pun Mual Melihatmu


__ADS_3

Bab 26


Pukul dua belas siang, akhirnya Zara tersadar meski kepalanya masih terasa berputar. Hal itu tak luput dari perhatian Miranda, sebab wanita yang telah berusia kepala lima tersebut masih setia menunggunya dari semalam.


“Ssshh ...” desisnya sambil memegangi kepala.


“Syukurlah, kamu sudah sadar, Sayang. Minum dulu, Nak.” Miranda yang ada di sampingnya, sontak menyodorkan gelas berisikan air kelapa.


“Mami?” ujar Zara begitu matanya terbuka sempurna. Bertanya-tanya lewat matanya, kenapa tiba-tiba ia berada di sini, siapa yang telah membawanya pulang, dan di mana Fasad yang selalu menemaninya. Dia belum ingat kejadian secara menyeluruh.


“Iya, ini Mami. Minum dulu supaya pusingnya lebih reda. Ini bisa mengurangimu mabuk alkohol. Mami nggak bisa melarang kamu pergi ke mana pun, termasuk ke club malam. Tapi sebaiknya, kalau ke mana-mana jangan sendirian. Menghindari kejadian semalam terulang lagi. Bawa kendaraan sedang dalam keadaan mabuk itu berbahaya. Bahaya untuk banyak orang apalagi diri sendiri.”


Terlebih dahulu Zara meneguk minum tersebut. Barulah kemudian dia bisa mengingat semuanya, “Siapa yang bawa Zara pulang?”


“Ada seorang polisi menghubungi kami bahwa kamu kecelakaan, lalu kami jemput di tempat.” Sambil menyentuh kening Zara yang sudah membiru meski tak lagi bengkak seperti mulanya.


“Sebelah situ terasa nyeri, Mam,” tunjuknya pada bagian yang sedang Miranda sentuh, “lehernya juga susah digerakin.”


“Iya, sepertinya ini terbentur dashboard atau kaca bagian samping. Kalau lehernya, mungkin terlalu mengentak pada saat menabrak. Untung kamu selalu pakai sabuk pengaman, jadi nggak cedera lebih parah. Semalam kami nggak ke rumah sakit karena Mami kira kamu nggak papa. Tapi kalau ada kamu rasain sekarang, kita bisa ke rumah sakit segera untuk di rontgen.”


“Tapi nanti aja ke rumah sakitnya, Zara mau makan dulu sekarang. Laper.”


“Sebentar, Mami ambilkan di belakang. Mami sudah masak yang enak-enak, spesial buat kamu.” Miranda menuju ke dapur dan kembali beberapa menit setelahnya membawa satu nampan berisi makanan hangat. “Ini sup krim kepiting jagung. Kesukaan anak-anak Mami.”


Meski kepalanya masih terasa sangat pusing, mulut Zara selalu terbuka untuk menerima suapan dari maminya. Sepertinya dia sudah sangat kelaparan karena sedari kemarin, belum ada makanan berat yang masuk selain kopi dan kentang goreng.


“Setelah ini Mami gantiin kamu baju.”


Zara mengangguk. Membuat Mira tersenyum bahagia saat Zara mau menuruti perkataannya dan berbicara dengan suara lebih lembut.


Miranda memang tak menyukai Zara minum-minuman beralkohol. Tetapi mungkin inilah cara Tuhan kembali mendekatkan mereka, meski dengan cara yang tak biasa.


“Kakak!” seru Mike begitu membuka pintu kamar yang kini Zara tempati, “yeay, Kakak tidur di rumah!” anak kecil gendut yang masih memakai seragam tersebut melompat ke atas ranjang, memeluk dan mencium pipi kakaknya dengan sangat antusias.


“Jangan terlalu keras, Kakak lagi sakit lehernya.”


“Kalau gitu Kakak sakit terus aja, biar tidur di sini,” celetuknya sangat enteng.

__ADS_1


“Jangan konyol, kamu pikir sakit itu enak?” sahut Zara kali ini yang mendapat gelak tawa dari semua orang. Termasuk Ruben yang berada di ambang pintu. Ya, hanya di sana karena ia merasa tak pantas untuk duduk bergabung. Dikhawatirkan malah merusak momen mereka yang baru saja membaik. Menyadari siapa dirinya adalah biang dari semua masalah.


“Kakak tidur di sini, dong! Ajarin aku kerjain PR. Stepin aja yang ngerjain PR kakaknya.”


“Dih, kapan pinternya kalau kayak gitu. Itu namanya curang.”


“Tapi katanya boleh?”


“Siapa yang bilang?”


“Kata orang,” jawab Michael serampangan, kemudian melepaskan tasnya dan mengeluarkan sesuatu, “aku punya banyak coklat.”


“Ssst, Kakak masih makan sup krim. Nggak enak dicampur coklat. Nanti aja makan coklatnya kalau Kakak sudah selesai makan,” lerai Mira melarang keluguan Mike. Perusuh sekaligus penghangat suasana.


“Pantas saja kamu makin gendut, coklat terus!” cibir Zara merebut coklat dari tangan Mike yang bentuknya seperti roti, punya banyak lipatan, “Mi, jangan biarin dia bawa coklat terus dong, Mi. Lama-lama dia bisa obesitas.”


“Mami nggak bawain dia coklat.”


“Mike ambil di kulkas kalau Mami tidur,” jawab Mike tak sadar telah berterus-terang, “eh keceplosan,” dia refleks menutup bibirnya dengan kedua tangan setelah menyadari pengakuannya.


🌺🌺🌺


“Kalau cedera leher gini harus ke klinik mana, Pih?” tanya Miranda dalam perjalanan.


“Ke bagian Rehabilitasi medik. Biasanya supaya lebih jelas, dokter akan melakukan CT scan atau MRI supaya lebih mudah menentukan penanganan.”


Miranda menoleh kepada putrinya yang menyandar di jok mobil dengan memakai bantar leher. Tampak meringis karena merasa sakit saat digunakan sedikit menunduk untuk mengambil ponselnya. “Zara mau apa, biar Mami bantu.”


“Nggak usah, Zara Cuma mau baca pesan.”


Zara membuka ponselnya yang sudah ia abaikan selama beberapa jam. Tampak beberapa pesan dan panggilan masuk, dan yang paling banyak adalah dari Fasad.


Fasad: aku dapat kabar kamu kecelakaan dari Kalila.


Fasad: Zara angkat dong panggilanku. Kalau nggak bisa kamu bisa kirim pesan. Kasih tahu aku kamu masih hidup apa enggak.


Fasad: kalau kamu dilarikan ke rumah sakit, rumah sakit mana? Kasih tahu aku. Aku mau nyusul.

__ADS_1


Fasad: eh, gila, ya. Baca pesan gue napa Zarottt!! Vangsyat.


Fasad: fakkk! Zara Fakk!


Fasad: (foto menunjukkan jari tengah dan emoticon marah sebanyak mungkin.)


Kalila: Zar, gue denger berita barusan, elu katanya kecelakaan sepulang dari kelab? Kabarin gue nanti kalau lu sempet, ya. Moga lu baik-baik aja.


Yangseku: gosip tai lagi, kamu nyetir sambil mabok sampai nyusruk selokan katanya. Mudah-mudahan kamu selamat, sehat dan nggak kurang suatu apa pun.


Dan masih banyak lagi pesan-pesan dan panggilan lainnya hingga notifikasinya terlihat penuh.


Malas untuk membalasnya satu-persatu, Zara cukup mengirimkan jawaban lewat status media sosialnya.


Aku baik-baik saja. Maaf dan terima kasih karena belum bisa membaca/membalas semua pesan teman-teman


Ponsel kembali diletakkan ke dalam tas, sebelum ia menyandarkan kepalanya lagi ke kursi. Menunggu selama beberapa menit hingga mereka tiba depan rumah sakit.


🌺🌺🌺


Antrean cukup lama pada saat itu karena Zara harus menunggu dua orang yang datang terlebih dahulu. Barulah tiba gilirannya untuk diperiksa.


Tepat seperti apa yang dikatakan Ruben pada saat mereka di mobil tadi, bahwa Zara dibawa ke ruangan lain untuk diperiksa menggunakan alat. Yaitu MRI untuk memperlihatkan gambaran tulang dan jaringan yang lebih jelas. Sehingga penentuan diagnosis bisa lebih mudah.


Namun ternyata hasilnya cukup baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena tulang Zara normal. Tidak ada patah, retak atau sebagainya. Zara hanya merasa nyeri saja karena terentak keras pada saat terjadinya tabrakan. Oleh karena itu, dokter hanya menyarankannya fisio terapi dua kali dalam seminggu, serta memberikannya obat-obatan tertentu.


Beberapa jam kemudian, akhirnya Zara selesai menjalani pemeriksaan. Zara duduk nyaman di atas kursi roda di dorong oleh maminya karena perjalanan dari lantai tiga menuju ke lobby cukup panjang.


“Tolong bayarin administrasinya ya, Pi. Mami tunggu di sini aja bareng anak-anak,” ujar Miranda memutuskan untuk duduk di depan farmasi.


Namun pada saat mereka duduk, secara kebetulan mereka justru bertemu dengan Hamidah dan Rayyan di sampingnya.


“Eh, ada Ustaz Rayyan, Mi,” ujar Michael yang diangguki oleh Miranda meski dia sudah melihatnya lebih dulu.


“Kita bisa pindah ke tempat lain saja, Sayang.” Miranda tahu wajah tak nyaman putrinya. Paham apa yang pernah terjadi di antara mereka kedua.


“Nggak usah, Mam. Kita di sini saja. Jangan bikin Om Ruben nanti cari-cari kita,” jawab Zara tak memedulikan sekitar.

__ADS_1


“Kak, sepertinya aku mual lagi.” Terdengar suara Hamidah agak keras terdengar seperti sebuah tindakan yang di sengaja.


“Ya, aku pun mual melihat wajahmu,” batin Zara begitu mereka cepat-cepat pergi, “dia pula yang nggak kuat lihat aku, padahal aku baik-baik saja.”


__ADS_2