Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Keputusannya Adalah?


__ADS_3

106


Zunaira melemparkan tubuhnya di ranjang setelah seharian ini lelah menegakkan punggungnya di kursi kerja.


Belum sempat melalukan apapun, bahkan masih dalam keadaan sepatu terpakai, gadis itu sudah terbaring dalam linangan air mata. Sebak di dadanya selama beberapa hari belakangan ini membuat tubuhnya menjadi lebih kurus. Tak enak makan, susah tidur, sulit tersenyum, dan sulit berpikir jernih. Begitulah efek patah hati pertama kali yang sedang di deritanya.


Tahu bahwa orang yang kita cintai lebih mencintai orang terdekat kita adalah patah hati yang paling serius. Namun urusan hati manusia, memangnya siapa yang bisa memaksa?


Demikian ia ketahui di saat mendengar papa berbicara dengan mama beberapa waktu lalu. Bahwa Sammy tak kunjung datang untuk melamar Zunaira karena Sammy justru lebih menyukai anaknya yang lain, yakni Mauza.


Tanggapan ini telah mematahkan prasangka nya bahwa Mauza telah berkhianat. Karena dia pun tidak tahu bahwa Sammy menyukainya apalagi berusaha mendekati. Namun tetap saja, berita ini telah menimbulkan efek buruk di dalam hatinya.


“Sammy menjelaskan semuanya denganku pada saat aku berada di kantor polisi,” kata Yudha pada waktu itu, “kalau boleh, Sammy justru minta izin untuk menikahi kakaknya.”


“Ya Allah ... kenapa bisa panjang gini urusan anak kita ya, Mas? Seenaknya saja Sammy bicara seperti itu sama kamu setelah dia menyakiti anak kita yang lain. Keterlaluan. Tidak punya perasaan kah anak itu?”


“Dia mengaku cinta sama Mauza setelah belakangan ini sering bersama di luar,” kata Yudha mengatakan apa yang dia ketahui dari Sammy langsung. Anak itu mengatakan sejujur-jujurnya padanya karena tak ingin ada kesalahpahaman lagi.


“Menurutmu gimana, Mas?” tanya Vita tak kalah bingung, “masalahnya nama Mauza juga sudah terlanjur jelek. Belum tentu juga Mauza bisa menemukan jodohnya setelah ini. Harusnya aku percaya kalau Allah itu Maha Adil. Tapi entah kenapa, kalau aku boleh jujur, aku ingin Sammy yang menghalalkannya daripada orang lain yang belum tentu tulus menerima masa lalunya. Sebab banyak sekali risiko yang Mauza tanggung setelah berita dia tersebar. Aku khawatir, suaminya kelak akan mengungkit-ungkit aibnya yang sudah lalu kalau mereka mengalami suatu masalah ....”


“Ya, aku tahu,” sela Yudha, “hari minggu nanti dia akan datang ke sini agar semuanya bisa terdengar lebih jelas. Kita akan minta pendapat sama semua anggota keluarga bagaimana baiknya.”


“Gimana dengan anak kita yang lain?” Vita mengkhawatirkan Zunaira.


“Pasti perlahan dia akan menerima. Ini hanya soal waktu saja. Sekalian dia belajar bahwa tidak semuanya bisa dia miliki. Ada kalanya Zunai harus mengalah sama keadaan, mengalah sama saudara-saudaranya yang lain supaya mereka bisa mendapat kesempatan yang sama.”

__ADS_1


“Maaf kalau aku terlalu memanjakannya.” Vita melingkarkan tangannya ke punggung Yudha dan meminta maaf berkali-kali padanya karena kesalahannya dalam mendidik anak-anak mereka.


“Ini kesalahan kita berdua. Bukan hanya kamu saja,” balas Yudha tak ingin istrinya berkecil hati.


Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Zunaira dari flashback beberapa hari lalu yang terekam jelas di kepalanya. Mama mengatakan dari luar agar dirinya menyegerakan mandi karena sebentar lagi mereka akan kedatangan tamu. Zunaira sudah tahu siapa orangnya dan di telah siap menghapus semua lanjutan tentang kisahnya yang baru saja dimulai.


“Maafkan aku Ya Rabb, aku telah menjadi manusia yang lalai. Mengejar urusan cinta hingga aku hampir melupakan-Mu. Dzat yang seharusnya lebih aku cintai. Benar apa kata pepatah, berharap pada manusia adalah patah hati paling disengaja. Aku pasrahkan diriku untuk menjalani setiap hukumanku, Ya Rabb ....”


Zunaira merintih dan menangis di lantai sembari menumpahkan keluh kesahnya.


♧♧♧


Semua anggota keluarga berkumpul pada saat tamu yang di harapkan telah datang. Dengan seluruh keberanian yang dimiliki, Sammy datang seorang diri untuk menyelesaikan masalahnya.


Kali ini tak ada Zara di sana karena wanita itu masih menjalani bedrest di rumahnya.


Sebelum mereka duduk di sini, Ray sudah mewanti-wanti adik lelakinya, Umar, agar pria itu tak sampai berbuat kekacauan di sana. Sebab Umar selalu mendadak naik pitam jika dia melihat wajah Sammy di hadapannya.


Pertama-tama yang Sammy lakukan adalah meminta maaf, karena telah lancang membuat kekacauan di keluarga ini yang sebelumnya aman dan damai.


Kedua, dia menyampaikan terima kasihnya karena telah diberikan kesempatan oleh Yudha masuk ke dalam rumahnya. Dengan tujuan untuk meluruskan kesalahpahaman di antara mereka. Agar masalah yang sedang mereka alami, cepat rampung dan semua orang di keluarga besar ini, bisa kembali melanjutkan hidupnya masing-masing. Terutama, Mauza, Zunai dan tentu saja dirinya sendiri.


“Saya harap kalian berbesar hati memaafkan saya tanpa adanya sisa dendam, karena saya pun begitu,” kata Sammy menarik napas dalam, serta merta dia juga menjelaskan, “kalau kalian beranggapan bahwa hanya anak kalianlah yang jadi korban, kalian salah besar karena saya justru lebih banyak mengalami kecelakaan sebelum datang ke sini.


“Sebab selain saya mengalami patah tulang hidung ...” dia menunjukkan bagian hidungnya yang dibebat perban akibat pukulan Yudha pada saat itu, “saya juga terpaksa kehilangan pekerjaan.

__ADS_1


“Padahal, saya sangat mencintai pekerjaan saya sebelumnya dan tentunya kalian juga tahu, bagaimana sulitnya mendapat pekerjaan di luaran sana. Belum lagi harus menanggung rasa malu karena dianggap kriminal. Tapi tidak apa-apa, karena ini hasil dari kecerobohan saya sendiri.” Sammy tersenyum kecut mengingat serangkaian kesialan yang di alaminya.


“Baiklah, kita bahas yang lain sekarang,” ujar Yudha berusaha menjadi penengah, “kami sekeluarga juga minta maaf sama Sammy kalau kamu harus mengalami ini semua.”


Sammy mengangguk, “Nggak papa semua sudah terjadi, Om.”


“Namun ada hal yang harus kamu tahu, walaupun kamu tak terbukti melakukan hal yang tidak-tidak kepada anak saya, Mauza. Tapi namanya sudah terlanjur hitam. Kamu pasti lebih paham, apa yang terjadi kalau seorang perempuan sudah pernah mengalami kejadian sial ini karena saya pun pernah mengalaminya,” papar Yudha yang dengan cepat dapat dimengerti oleh semua orang yang ada di sana. Bahwa menikahnya Yudha dengan Vita adalah karena insiden semacam itu sehingga timbullah tuduhan dan fitnah yang sangat menyudutkan.


“Jadi kesimpulannya, saya mau anak saya kamu nikahi. Ini demi kebaikannya. Demi keluarga kami juga,” sambung Yudha yang sontak disela oleh anak perempuannya, Mauza.


“Papa!” Mauza menggelengkan kepala. Dia amat kecewa dengan keputusan tak terduga papanya itu. “Papa kok nggak bilang-bilang dulu sama Mauza?”


“Ini demi kebaikanmu, demi masa depanmu,” jawabnya dengan berat hati karena kali ini, ia harus bisa bersikap egois kepada anaknya yang lain.


“Nggak Pa ...” ingin rasanya Mauza mengatakan secara gamblang kenapa dia bisa menolak. Tetapi melihat wajah Zunaira yang sedemikian ditundukkan, lidahnya terasa kelu dan hatinya terasa kebas. Bagaimana mungkin dia menikah dengan laki-laki yang dicintai oleh adiknya sendiri?


“Bagaimana Sammy?” tanya Yudha lagi kepada pria itu.


Sammy langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Demikian semua pandangan orang-orang yang tertuju ke arahnya.


“Kalau Om mau saya menikahi Mauza, saya siap. Saya akan bertanggung jawab sebagaimana mestinya menjadi seorang imam untuk putri Om. Tapi soal ini, saya kembalikan lagi kepada Mauza, apakah dia mau?” kata Sammy setelah terdiam beberapa saat.


“Mauza, bagaimana denganmu? Kami hanya akan menunggu jawabanmu.”


“Maaf, Pa ... Mauza lebih percaya sama jodoh itu di tangan Allah. Mauza nggak akan khawatir nggak bakal dapat jodoh setelah ini. Tapi bukan dengan Sammy karena ada perasaan lain yang harus Mauza jaga,” paparnya dengan jelas membuat Zunaira langsung cabut dari tempat.

__ADS_1


__ADS_2