Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Tes Jadi Menantu


__ADS_3

“Gimana nih, Bro?” tanya security kepada satu pekerja lain yang ada di sana, saat Mauza memintanya untuk membiarkan dia pergi bersama seorang pria.


“Gua takut dipecat. Anak muda jaman sekarang mah, nggak ada yang bisa dipercaya omongannya. Apalagi tampang cowoknya selenge an gitu.”


Lawan bicaranya itu juga menggaruk kepalanya. Sama-sama bingung. “Iya, gimana ya?”


“Keknya setelah gua perhatiin, cowok itu pernah dateng ke sini juga sebelumnya. Tapi ....”


“Tapi apa?”


“Tapi ribut gitulah. Gua kurang tahu gimana jelasnya. Intinya Abah Haji nggak suka kalau cucunya dia pacarin. Mungkin karena yang gua bilang tadi, tampangnya agak slenge an.”


“Wah bahaya ini, nanti kalau ada apa-apa kita bisa kena!”


Setelah dipikir-pikir ... Yudha memang lebih baik tahu dari sekarang daripada nanti setelah sesuatu terjadi. Sebab mereka-lah orang pertama yang paling disalahkan, lantaran sudah berani meloloskan anaknya pergi.


Dengan segera, kedua orang pekerja itu menghubungi Yudha. Pasalnya mengganggu ke dalam sana langsung sepertinya tidaklah memungkinkan. Mengingat sedang ada acara apa di dalam sana.


“Ya, kenapa?” tanya Yudha dari sambungan telepon.


Security tersebut langsung melapor, “Mauza barusan pergi sama cowok yang gayanya ala-ala Korea itu, Pak Yudha.”


“Pantesan tidak ada Mauza sama Sammy di sini. Sudah lama perginya?”


“Baru lima menitan, Pak Yudha.”


“Masih bisa kekejar. Tolong pantau anak saya! Kamu baru boleh mendekat kalau Sammy berbuat macam-macam.”


Orang itu segera menyalakan mesin motornya untuk mencari mereka berdua, hingga akhirnya dia menemukan motor Sammy di area taman. Tidak ada yang mencurigakan. Mereka hanya bercanda biasa. Mauza tetap terlihat tegas dan sangat menjaga dirinya pada saat Si Pria mencoba bermain-main dengannya.


“Mauza aman, Pak Yudha. Sekarang mereka sudah dalam perjalanan pulang.”


Seperti itulah hasil laporan yang Yudha terima sehingga dia bersiap menunggunya di depan pintu samping. Pria itu keluar saat mendengar bisik-bisik perdebatan mereka berdua karena Sammy terus saja mengikuti anaknya.


Yudha berdiri memalang dengan tangan yang terlipat. Matanya menyalang tajam mengagetkan keduanya.“Baru dikasih sinyal sedikit saja sudah berani bawa anakku kabur lagi. Kebangetan memang Si Semut itu.”


♧♧♧


“Masuk, Mauza!” titah Yudha kepada anak perempuannya.


“Tapi katanya Sammy mau pingsan.”


Sempat-sempatnya gadis itu memikirkan Sammy?!


Yudha tak peduli dan tetap menitahkan anaknya untuk masuk.

__ADS_1


“Iya, Papa sayang, iya.”


Mauza mencium pipi papanya saat melintas. “Pantesan aku cantik, ternyata karena Papanya ganteng,” ujarnya tersenyum sambil mengusap-usap wajah papanya yang datar.


Perlakuan Mauza kepada papanya membuat Sammy berandai-andai, “Mau diwakilin nggak, Om? Adek juga mau.”


“Mauza, Papa bilang masuk ....” kesabaran Yudha sudah hampir habis.


“Oke, aku masuk.” Mauza memang sempat masuk, tetapi sebentar kemudian dia keluar lagi dan berdiri di belakang Papanya secara diam-diam. Siapa sih yang nggak penasaran? Mauza juga pengen nguping apa yang mau Papa omongin sama Si Semut.


“Kamu suka sekali membawa kabur anakku,” ujar Yudha mengintimidasi Sammy. Ada perasaan sesal karena tidak dia nikahkan saja mereka dari dulu. Toh, sama saja kalau begini jadinya. Tetapi setelah dipikir panjang, keadaannya sekarang sudah berbeda.


“Maaf, Om. Hanya ingin mengajaknya ngobrol sebentar.”


“Tetap saja tidak boleh! Bukan begitu caramu meminta Mauza dariku. Harus ada akadnya dulu.”


“Tapi nggak harus sekarang juga kan, Om? Aku harus ngomong dulu sama Bunda.”


Tidak ada tahu selain Tuhan, jika Sammy sedang mengalami basah karena keringat dingin. Berhadapan dengan penegak hukum sekalipun, rasanya tidak separah ini.


Halah, Mauza malah cuma liatin doang sambil melet-melet di belakang Papanya. Sialan!


“Ya, bicaralah dengan mereka. Aku beri kamu waktu satu malam. Besok, kau dan keluargamu sudah harus ada niatan baik.”


Kali ini Yudha mengajukan pertanyaan paling penting kepada seorang pejuang restu di depannya, “Tahu syarat nikah apa saja?”


Sammy menjawab dari sedikit pengetahuan yang dipelajarinya, “Wali dari perempuan, mahar, akad, dan saksi, Om.”


“Apa saja kewajiban suami?”


“Singkatnya: makan, pakaian, pendidikan, tempat tinggal, perhatian.”


Satu hal yang Yudha ragukan, “Bisa mendidik anakku?”


“Saya yang mau belajar dari Mauza, Om,” jawab Sammy berterus-terang.


“Ya sudah, itu saja sudah cukup. Pulanglah segera. Sampaikan kabar ini kepada orang tuamu. Aku merestui kalian.”


“Terima kasih, Om!” seru Sammy ngibrit menaiki motornya dan pulang dengan membawa sejumput kebahagiaan.


Sementara yang ditinggalkan kini balik badan. Tapi ...? Loh, kok Mauza masih ada di sini.


“Tadi Papa bilang apa?” tanyanya menatap anak perempuannya yang tengah meringis.


“Masuk, Pa,” jawabnya tanpa merasa bersalah. “Tadi udah masuk, tapi penasaran jadi aku keluar lagi.”

__ADS_1


“Alasan!”


“Jangan marah-marah terus, dong, Pa. Percayalah sama anakmu ini. Sebelum aku kecewa padamu.”


“Tidak terbalik? Papa yang kecewa padamu. Lagi-lagi Papa dengar kamu kabur. Apa itu tidak mengesalkan?”


“Pasti ada yang ngadu, nih.”


“Tidak penting siapa yang sudah mengadu. Intinya perbuatanmu ini tidak dibenarkan. Kamu tidak bisa jadi contoh yang baik untuk adikmu.” Yudha berlalu.


“Pa! Papa!” panggil Mauza dan sempat berusaha mengejar. Tapi berhenti saat dia ditatap sedemikian aneh oleh semua orang yang ada di sana.


Dari satu-satunya orang, Zunaira lah yang ingin dia lihat. Namun gadis itu seperti menghindari kontak mata dengannya.


Mauza berniat untuk kembali bergabung dan berusaha menebalkan mukanya dari rasa malu. Tetapi pada saat dia mendekat, Zunaira justru memohon diri untuk meninggalkan tempatnya.


“Zunai!” Mauza mengejarnya hingga ke atas.


“Aku mau ke kamar dulu, Kak,” jawabnya terus saja berjalan.


“Ini nggak seperti yang kamu pikirkan, aku bisa jelasin,” kata Mauza ingin menjelaskan sesuatu padanya. Padahal mungkin itu tidak perlu. Tapi demi Tuhan, entah kenapa Mauza tak ingin Nai bersikap lain padanya.


“Nai, dengerin penjelasanku dulu.”


Akhirnya Zunaira mau berhenti dan menoleh, “Terus kalau dijelasin apa untungnya juga buat aku, Kak. Kalau kalian akan menikah, bukankah itu rencana baik?” gadis itu tersenyum.


“Kami nggak pernah ada hubungan apa-apa. Jadi jangan merasa merebutnya dariku. Aku saja yang terlalu jauh mengartikan perhatiannya waktu itu. Sekarang aku dah ngerti, kok. Bahwa nggak semua lelaki yang mendekati kita, berarti suka sama kita dan ingin menikahi kita.”


Kalaupun ada yang harus disalahkan, seharusnya dia menyalahkan si laki-laki yang asal menclok ke sembarang perempuan serupa kelakuan kucing jantan. Begitu yang ada dipikiran Zunaira, meski kadang sering berubah lagi. Wajar jika dia demikian, sebab baru pertama kalinya gadis itu mengenal cinta.


“Nai, kamu marah ya?” desak Mauza karena Zunaira tak senyaman yang biasa dia lihat. Tingkat kepekaan Mauza cukup tinggi sehingga mudah baginya untuk membedakan.


“Untuk apa aku marah? Jangan aneh-aneh, deh, Kak. Aku senang kalau Kak Za menikah. Mungkin Sammy memang jodohmu. Semoga pernikahannya lancar, ya!” Zunaira memaksakan senyum.


“Nai!” Mauza menarik lengan adiknya hingga gadis itu mau menatap matanya untuk mencari kebenaran. Kalau mata Nai kering, lantas kenapa dia buru-buru masuk ke dalam kamar? Bukankah acaranya belum selesai?


“Kak Za ini apa-apa an, sih. Berlebihan banget, deh. Aku juga udah punya calon sendiri kali ....”


Mauza melepaskan tangannya. “Bohong, kamu nggak pernah cerita.”


“Tanya aja sama Papa kalau Kak Za nggak percaya.”


“Siapa orangnya?” Mauza masih mencari kepastian. Dia belum percaya seratus persen karena bisa saja, Zunaira hanya memberinya sebuah jawaban penenang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2