
174
“Nah, itu Mama!” ujar Mauza kepada suaminya pada saat kedua orang itu menyusul.
Mereka menghampiri kedua orang yang sedang saling bertegang urat. Satunya menjewer telinga, sedangkan yang satunya lagi berteriak ampun-ampun sampai wajahnya memerah. Tak tanggung-tanggung, sang ibu juga menjambak rambutnya serta.
“Ini bisa dilaporin KDRT loh, Ma.” Umar masih mengerang kesakitan.
Mereka baru berhenti ketika mendengar dua orang; Mauza dan Sammy mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam,” jawab Vita sontak melepaskan tangannya dari kepala anak curut itu.
“Makasih, Za. Aku utang budi sama kamu,” ucap Umar merasa mendapatkan penyelamatan dari kembarannya.
“Lebay kamu, Mar,” Mauza membalas. Dia dan suaminya duduk di samping Vita.
“Nggak ada kabar dari Zunai, Nak?” Vita langsung bertanya.
“Zunai masih sibuk kayaknya. Dia kalau sibuk nggak pegang hp,” jawab Mauza, “ceritain dong, kenapa Alma bisa sampai di rawat?”
“Ya, gara-gara ini, memangnya siapa lagi?” Vita mengarahkan pandangannya pada sang anak yang baru saja lepas dari jeratan hukumnya.
“Maksudnya?” Mauza tak mengerti dan meminta mamanya untuk menjelaskannya lebih lanjut.
Vita membisik di telinga putrinya sehingga membuat Umar semakin kesal.
“Dih, ghibahin aku. Tiati, pahala kalian lagi ditransfer sama malaikat buat aku.”
“Masalahnya kalau bicara langsung takut ada yang denger, Mar. Ini aib, masa di sebar,” Mauza tak kalah menjawab.
Vita menjauhkan diri setelah bercerita. Sontak Mauza langsung melongo. “Ya ampun, kamu bikin aku pengen nyubit kamu juga, Mar. Tapi nyubitnya pakai tang!”
Sammy yang di sebelahnya hampir tersedak saat dia menahan tawa. Mau heran, tapi ini Mauza dan Mar-Kumar.
Beruntung, hari itu suhu tubuh Alma bisa turun. Wanita itu sudah bisa membuka matanya lagi setelah sebelumnya terus tertutup. Sebab merasakan sakit yang tak terkira di seluruh tubuhnya meskipun ia tak tahu persis, di bagian mana tepatnya.
“Syukurlah kalau kamu sudah sadar, Al,” ucap Umar yang senantiasa duduk di sampingnya.
“Ini di rumah sakit?” Alma bertanya.
“Iya, kamu sudah dirawat setengah malam,” jawab Umar.
Kini pandangan Alma beralih kepada sang mertuanya yang sedang tersenyum ke arahnya. “Mama?”
__ADS_1
Vita melangkah lebih dekat, menahan tubuh menantunya yang hampir saja bangkit, “Ssst, baring aja, Nak. Nggak perlu bangun. Gimana, apa yang Alma rasain sekarang?”
“Selain dingin, badanku sakit semua,” lirih Alma menjawabnya. Sedangkan tangannya bergerak untuk merapatkan selimut yang dia pakai.
“Ini semua gara-gara kamu!” lagi, Vita hampir menggetok kepala batunya jika saja Umar tak sempat menghindar. Pandangan Vita beralih kepada Alma dan berubah melembut lagi, “Sebentar, Mama panggilkan dokter, ya?”
Alma mengangguk. Membiarkan Vita menekan bel yang ada di atas kepalanya. Hingga tak berapa lama, seorang perempuan berseragam putih masuk ke dalam bersama suster pendampingnya.
Alma pun diperiksa dan diberikan saran agar lebih banyak beristirahat. Mengurangi semua pekerjaannya agar tak sampai kelelahan seperti ini lagi.
“Untuk yang lain gimana, Dok? Nggak ada masalah sama istri saya, kan?” Umar bertanya.
“Nggak ada, Pak. Semuanya aman. Ibu Alma hanya butuh istirahat, rajin minum obat-obatan yang saya resep kan, makan-makanan yang sehat, dan minum air yang cukup.”
Ucapan dokter membuat Umar yang awalnya panik kini bisa bernapas lega. Akhirnya, dia bisa memejamkan matanya sejenak, setelah begadang hampir dua malam. Kemarin dan hari ini.
“Terima kasih, Dok,” ucap Mauza mewakili semuanya.
“Sama-sama semuanya.” Dokter dan pendampingnya pamit undur diri meninggalkan ruangan.
“Ini buat pelajaran ya, Umar. Jangan sampai kamu mengulanginya lagi,” Vita memberikan anak lelakinya itu peringatan. Namun entah di dengarnya atau tidak. Karena Umar sudah berbaring miring membelakangi. Memamerkan pantatnya yang tidak sengaja tersingkap. Untungnya putih, nggak hitam seperti pantat panci hajatan tetangga kampung sebelah.
“Umar ini bener-bener nyebelin, ya?” sahut Mauza menatap Alma, “Al, kamu panjangin usus ya. Sabar-sabar hadapin Umar. Bukannya minta maaf atau ngapain, kek. Malah tidur. Nggak nyadar diri banget.”
“Oh, iya. Kamu mau nelepon Ummi Zul, nggak? Nanti aku hubungin.”
“Nggak usah, Za. Nggak enak kalau ngabarin beliau pas aku lagi sakit begini. Biar beliau tahu aku lagi sehat aja,” dengan lembut Alma menolak. Ini demi menjaga nama baik suaminya. Jangan sampai, Umar disalahkan nantinya.
“Serius?“ Mauza memastikan, “harusnya sih, mereka tahu keadaanmu sekarang. Tapi ya sudah kalau maumu begitu.”
“Ya, aku serius,” Alma meyakinkan.
Kali ini Vita yang merawat menantunya itu. Bergantian dengan Mauza. Mulai dari menyuapinya, membantunya ke kamar mandi, dan memberikan apapun yang Alma butuhkan. Sebagai ganti anak lelakinya yang malah tertidur pulas di sana.
“Berapa malam memangnya Umar begadang?” Vita tak habis pikir.
♧♧♧
Berapa hari kemudian, akhirnya Alma diperbolehkan pulang oleh dokter. Dia sudah sehat seperti sedia kala. Hanya saja, dia masih mengalami lemas dan sakit punggung karena sudah terlalu lama baring di brankar rumah sakit.
“Ingat pesan Mama tadi ya, Umar!” Vita kembali memperingatkan anaknya pada saat mereka hendak menuju ke bagian administrasi.
“Iya, nggak percayaan amat sama anak sendiri,” balas Umar tak suka terus-menerus diperingatkan seperti itu. Sudah seperti kakek-kakek linglung saja, Umar berpikir.
__ADS_1
“Berapa total biayanya, Kak?” tanya Umar pada saat nomor antreannya dipanggil.
“Delapan juta ....”
What? pria itu sempat terkejut mendengar biaya yang harus dia bayarkan. Hanya pasang infus dan numpang menginap saja mahalnya nggak main-main. Padahal nggak ngambil kamar yang VIP.
Umar menyerahkan kartu debitnya, kemudian memasukkan pin. Anggap saja ini hukuman untuknya yang telah bertindak semaunya sendiri tanpa memikirkan Alma juga. “Kapok aku wis kapokk.”
“Udah?” Alma bertanya pada saat pria itu kembali menghampirinya di ruang tunggu.
“Udah yuk, pulang!” jawab Umar, “Mama mana?”
“Beliau duluan, mau mampir ke supermarket katanya.”
“Oh, belanja?”
“Iya.”
“Kamu mau aku beliin apa?” Umar mencoba menunjukkan perhatian kepada istrinya.
“Aku mau dibeliin burger di MD. Kayaknya enak aku lihat di iklan tadi pagi.”
“Ok, kita ke sana sekarang.”
Keduanya masuk ke dalam mobil, bertolak dari gedung rumah sakit itu.
Sesampainya di tempat yang dituju, Umar pun memesan menu secara drive thrue. Cukup lama mereka mengantre, sebelum akhirnya mereka mendapatkan pesanannya.
Awalnya semua terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang aneh. Keduanya pun bercanda tawa dan beromansa ria di mobil itu dengan saling menggoda satu sama lain. Bahkan, Umar berencana mengulang kisah mereka nanti di rumah andai saja Alma tak mengingatkan suaminya tersebut.
Sampai akhirnya, mereka merasakan mobil mereka tersuduk dari belakang. Terasa begitu keras sehingga membuat tubuh mereka terguncang.
“Penyok mobilku, Al,” Umar berdecak. “Kenapa ada acara begini segala?”
“Sabar, Bang. Jangan pakai emosi. Kalau memang benar ada yang harus ganti rugi, kita bisa bicarakan dengan cara baik-baik,” Alma berusaha meredam amarah suaminya.
Namun, Umar tak peduli. Pria itu sudah murka. Umar lantas turun untuk menghampiri mobil di belakangnya dan mengetuk sisi kemudi.
“Brengsek!?” tetapi makian lain yang akan dilontarkannya tertahan pada saat melihat seorang pria menurunkan kaca mobil tersebut. Yang ternyata adalah sosok Damian.
Dan yang membuatnya lebih heran lagi, bukanlah sosok Sarah yang ada di sampingnya, tetapi wanita cantik lain yang jauh lebih muda. Lalu di mana Sarah?
Bersambung.
__ADS_1