
Cici baru saja keluar dari kantor kepolisian setelah diperiksa selama beberapa jam. Pantatnya saja sampai terasa kebas karena terlalu lama duduk.
Tak hanya itu, dia juga diminta bekerjasama dalam kasus pencarian Fasad. Untuk melapor jika dia menemui atau pun menghubunginya.
Cici menutup pintu rumah rapat-rapat, lalu menyandarkan punggungnya di belakang pintu. Seketika itu pula air matanya menganak sungai. Meratapi kesialan hidupnya yang sesaat langsung berubah, semenjak dirinya memilih untuk menerima lamaran Fasad yang mula-mula hanya seorang teman biasa.
“Aku maaf, Zar ....”
Cici merasa berdosa kepada Zara karena sudah lancang menjadi mata-mata dan membocorkan semua rahasianya kepada Fasad. Padahal yang dia bela, hanya sebatas modelan lelaki seperti itu.
Entah keistimewaan dan kelebihan apa yang Fasad miliki, sehingga dengan mudahnya Cici terbuai oleh rayuannya. Bahkan sampai rela melayaninya layaknya seorang istri pada suaminya.
Cici hampir tak bisa membedakan, apakah dia yang sudah teramat rindu bersuami, atau memang benar-benar cinta?
Fasad hanya mengatakan dia tertarik dan ingin menikahinya. Cici hanya perempuan bodoh yang tentu saja percaya ada lelaki yang serius seperti dia. Sebab ia meyakini laki-laki yang baik, tak akan mengajaknya pacaran.
Namun apa yang dia dapat setelah itu?
Ternyata ia menelan garam.
Fasad menikahinya karena ingin balas dendam dengan Miranda melalui dirinya. Agar Zara sakit hati karena orang terdekatnya berkhianat. Yang secara otomatis, bisa membuat Miranda juga ikut menderita.
“Tapi sayangnya rencanamu membuat Miranda menyesal sudah gagal karena yang terjadi malah justru sebaliknya. Akhirnya ... kamu marah kepada semua orang dan kamu benci sama dirimu sendiri. Ah, Ya, Tuhan ... kenapa aku harus menaruh hati pada orang sakit jiwa seperti dia?
“Omong-omong soal menikah, apa kami masih bisa mereka melakukan pernikahan?”
Tanggal pernikahan empat hari lagi. Tapi Fasad sedang ada di dalam masalah yang besar. Di mana keberadaan Fasad sekarang pun, Cici sama sekali tak tahu.
Memikirkan itu membuat Cici semakin sakit kepala.
“Aku harus minta maaf sama Zara tentang kejadian ini.”
Lantas kemudian, Cici pun memberanikan diri untuk mengetik pesan.
Cici: hai Zara....
Cici: selamat menempuh hidup baru. Semoga samawa.
Cici: aku ngucapin dari sini karena kamu nggak ngundang aku ke acara pernikahanmu. Tapi tadi pagi, kami tetep dateng, kok. Fasad bilang, dia cuma pengen lihat kamu bahagia.
Cici: meskipun aku tahu, kedatanganku sama Fasad malah membuat suasana jadi kacau-balau. Dia lepas emosi karena mungkin belum terlalu bisa mengontrol emosi. Aku janji sama kamu, bukan? Untuk mengubahnya, mengobatinya sampai dia sembuh. Ya, sih... nggak seharusnya dia berkeliaran bebas karena bisa membahayakan orang lain. Tapi kamu tahu kan, gimana orangnya? Fasad keras kepala.
Cici: aku janji insiden ini nggak akan terulang lagi di mana pun. Aku sendiri dan atas nama Fasad, aku minta maaf yang sebesar-besarnya, karena hampir aja bikin pernikahan kalian batal. Semoga keadaan Rayyan baik-baik aja dan mohon doanya agar Fasad cepat ditemukan. Supaya dia bisa kembali menjalani pengobatannya.
Zara: sekali lagi selamat berbahagia, Zar.
Cici: semoga kebaikan hatimu bisa membuatmu berubah pikiran untuk mencabut laporan ini. Kasihan, Zar. Fasad sakit. Dia bukan seperti kita pada umumnya dan kamu tahu itu.
Cici: thank u. Semoga kerjasama kita bisa berlanjut dan tetap profesional.
Di Hotel GH.
Zara mendengar ponselnya berdering beberapa kali. Dia yang baru masuk ke unit kamarnya langsung membuka bag untuk mengeluarkan benda tersebut.
__ADS_1
“Delapan pesan,” gumamnya menatap layar. Namun begitu melihat nama Si Pengirim, dia langsung menutupnya kembali. “Males, ah.”
“Hayo, dari siapa?” tanya Ray menaruh curiga.
“Nggak penting.”
“Apa yang lebih penting?”
“Yang lebih penting ganti baju sekarang, kita belum salat ashar.” Zara duduk di depan cermin untuk melepas kerudungnya tanpa ragu apalagi malu. Toh, Ray sudah pernah melihat sebelumnya.
Ray berdiri di belakangnya untuk memperhatikan istrinya lebih dekat. Dia berkomentar pada saat rambut Zara tergerai bebas. “Rambutmu masih sama, kirain berubah jadi warna kuning.”
“Ngaco, ih,” kekeh Zara, dia membiarkan Rayyan mengelus dan mengacak-acak rambut halusnya secara random. Sementara dirinya tetap fokus menghapus make up nya dengan kapas pembersih.
“Apa kamu tahu, apa yang pertama kali ingin kulakukan setelah ijab kabul?”
“Selebrasi?”
“Betul, tapi dengan cara memelukmu. Sayangnya nggak bisa. Banyak orang yang ngeliatin kita terus.”
“Sekarang udah bisa.”
Ray memeluknya dari belakang. Kemudian mencium pucuk kepalanya berkali-kali. “Sayang banget sama yang satu ini.”
Zara tak bisa menyembunyikan senyumnya. Tak perlu menunggu sampai selesai, dia pun segera melemparkan kapas, kemudian balik berdiri agar bisa memeluknya dengan sempurna.
Keheningan panjang menjeda pembicaraan mereka berdua. Tak ada lagi pergerakan apa pun selain memeluk rasa nyaman yang tak pernah ada duanya.
“Maaf sudah meninggalkanmu terlalu lama,” Rayyan mengusap-usap punggung Zara dan kembali mengatakan, “aku terbawa emosi waktu mendengar kamu terkena kasus prostitusi. Terus-terang aku marah sekali, Ra. Aku belum sadar kalau kemarahan itu disebabkan oleh karena bentuk rasa cemburu. Aku mencintaimu semenjak saat itu.”
“Demi Allah, aku nggak pernah melakukannya....” Zara merenggangkan pelukan demi bisa melihat manik mata Ray dan membiarkan dirinya tersesat di sana, “aku bisa membuktikannya kalau aku masih suci.”
Ray tersenyum lega, “Ya, aku percaya.”
“Biarpun kamu bilang percaya, aku harus menjelaskan semuanya.”
Zara menjelaskan bahwa dirinya dijebak karena banyak orang yang tidak menyukainya. Sangat wajar. Sebab ia sedang naik daun pada zamannya dan membuat mereka mereka kalah tersaingi.
“Tujuan mereka memang berhasil. Karir dan nama besar aku hancur saat itu. Tapi bukan soal itu yang aku ratapi, Ray. Aku nggak peduli. Karena yang lebih menyakitkan justru penolakanmu.”
Rayyan hanya mengangguk. Pria itu tak mengatakan apa pun selain mendaratkan kecupan di kening. Sebuah isyarat untuk menandakan bahwa Zara adalah miliknya sepenuhnya.
Keduanya terlebih dahulu melakukan salat ashar berjamaah. Sebelum kemudian mengurai lelah dengan baring sejenak sembari menunggu waktu maghrib tiba.
“Kakimu masih sakit?” Ray memecah keheningan saat mereka ada di dalam satu selimut yang sama. Menonton televisi yang ternyata tengah menayangkan kabar pernikahan mereka berdua.
“Nggak,” jawab Zara. Matanya fokus menatap layar dengan sebal. “Berita ginian cepet banget tersebarnya.”
Tiba-tiba Ray menarik remot TV dari tangan Zara untuk mematikannya.
Zara sontak menoleh dan menyuarakan protes, “Aku belum selesai nontonnyaaa!”
“Mending waktunya dipakai buat istirahat.”
__ADS_1
“Yakin?” Zara menatapnya penuh selidik.
“Sebenarnya kurang yakin.”
Ray menyingkap selimut yang menutupi tubuh Zara sampai ke bawah dagu.
“Dingin atuh, Akang!” Zara berusaha meraih selimutnya, namun kesulitan karena Ray menahannya.
Ehm. Sebenarnya alasannya bukan itu. Hanya saja, dia masih malu untuk menampakkan baju terbukanya di depan orang, setelah selama setahun lebih ini dia tutup sempurna.
“Mau lihat.”
“Nanti aja, deh. Siniin selimutnya.”
“Ya, tapi sekarang bikinin teh anget dulu. Aku haus, pengen yang manis-manis,” Ray berkilah, “nanti boleh tidur lagi pakai ini.” Ray menunjuk selimut, serta-merta ia menggunakan dalil sebelum Zara membantahnya, “Menolak perintah suami itu dosa.”
Takut dikutuk malaikat, akhirnya Zara pun mengalah dan beranjak. Terlihat dia hendak meraih sarung Rayyan yang terletak di ujung tempat tidur, namun ditarik juga dan disembunyikan Ray di belakang punggung.
“Kok, gitu?” bantal guling melayang hampir mengenai tubuhnya andai Ray tak sigap menangkap.
“Salah sendiri pakai baju ginian siang-siang!”
“Cepet bikinin!”
Wajah Zara memberengut. Dengan sangat tidak ikhlas, dia mencolokkan teko listrik untuk menjalankan perintah Sang Tuan Muda.
Dan rasa penasaran Rayyan kini terjawab sudah karena apa yang kini tersembunyi terpampang jelas di depan mata.
Dress di atas lutut berwarna kecoklatan itu berhasil mengekspos lekukan bagian dada, pinggang sampai lututnya yang putih bersih tanpa noda.
Zara benar-benar pintar merawat diri dan sisi sensualitas yang hanya dia persembahkan untuk dirinya.
“Apa kepalamu masih terasa sakit?”
Entah berapa lama Ray terbengong, karena tahu-tahu Zara sudah berada di sampingnya sekarang. Meletakkan tehnya di atas nakas.
“Kepala yang mana?” Ray menjawab dengan pertanyaan.
Zara tertawa. Ya ampyun, memangnya dia punya kepala berapa?
♡♡♡
Bersambung.
Untuk info update, visual zara dll ada di my ig ya, sila di follow aja @ana_miauw. Dm aja kalau minta folback.
Love u.
Ana
Yuk kenalan!
Aku suka bagi2 gift kalau lagi gabut
__ADS_1