Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Apa Kamu Punya Musuh?


__ADS_3

80


Rayyan adalah orang yang paling tidak bisa mengonsumsi obat-obatan sejenis obat kuat, perang sang, penambah stamina dan semacamnya.


Pengalaman ini dia dapatkan dari pernikahan sebelumnya pada saat Hamidah memberikannya tanpa resep Dokter. Di tandai dengan munculnya efek samping seperti yang sekarang ia rasakan yaitu: sakit kepala, gangguan pencernaan, gangguan pandangan, jantung berdebar kencang, hingga tubuhnya berkeringat.


Namun atas izin Tuhan, Rayyan sampai di rumahnya dengan selamat.


“Pak, tolong parkirkan mobil saya,” titahnya pada seorang security.


Memperhatikan majikannya tersebut sedang tak karuan, orang itu pun bertanya, “Ustaz Ray gapapa? Kok keringatan sampai basah begini?”


“Saya butuh minum,” jawab Rayyan masih berada di ambang batas kesadaran.


“Mi-minum?” jawabnya tergagap. Karena urgent, security itu sembarang mengambil gelas asalkan bersih. Lalu menuangkan air galon di posnya untuk secepatnya diberikan.


Rayyan segera menenggak minum itu sampai tandas. Karena minum banyak air putih ditengarai dapat sedikit menetralisir efek kerja obat yang masuk ke dalam tubuhnya.


“Terima kasih, Pak.”


“Apa perlu saya antarkan ke atas, Ustaz?”


“Nggak usah. Beritahu sama orang rumah, supaya sementara jangan ada yang naik ke atas.”


“Baik, segera saya sampaikan.” Orang itu sontak menutup mulutnya agar tak terlalu banyak bertanya. Karena Ray sepertinya tak bersedia untuk dia interogasi.


Beruntung di lantai bawah, Ray tak menemui orang-orang sehingga ia tak terlalu membuang waktunya.


“Ra! Bukain pintu!” Ray memutar handle dengan keras karena pintu dikunci dari dalam. Suatu kebiasaan wajib jika Zara sedang membersihkan diri.


Zara membukakan pintu. Wanita itu gegas membuka pakaian suaminya dan segera mengguyur tubuhnya di kamar mandi.


Namun ternyata efek kerja obat ini sangatlah kuat hingga rasa panasnya tak kunjung mereda. Sebab hanya mendinginkan dengan cara seperti ini saja tak akan cukup.


“Tapi ingat, aku nggak mau kamu pakai cara kekerasan,” Zara memberikan syarat untuk kebaikan dirinya.


Baru sekali ini, mereka bercinta dengan begitu menggebu. Ray adalah seumpama hewan buas yang haus dan kelaparan setelah sekian lama berpuasa.


...♧♧♧...


“Kamu belum cerita, kenapa kamu sampai begini,” ucap Zara pada saat malam harinya. Dan mereka telah bersih dari segala hal, hingga sudah bisa turun untuk melakukan makan malam yang sebenarnya sudah sangat terlambat.


Tentu saja demikian karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Miranda, Mike dan Ruben sudah mendahului mereka beristirahat setelah seharian lelah bekerja.

__ADS_1


“Nanti aja ceritanya,” jawab Rayyan seolah enggan menjawab.


Zara pun heran kenapa Ray menutupinya. Namun kemudian rasa penasarannya terjawab manakala melihat Devi melintas untuk mengeluarkan makanan lainnya. Ya, pasti karena gadis itu. Terkadang, memang ada saja tipe-tipe pekerja yang kepo seperti dia yang membuatnya kurang nyaman.


“Udah, Dev. Ini aja sudah cukup,” ucap Zara bermaksud menghentikan Devi.


“Tapi udangnya belum aku angetin.”


“Nggak usah.”


“Oh, iya, Non.”


“Kamu nggak usah nungguin kita. Nanti kalau ada makanan yang perlu masuk kulkas biar aku yang masukin. Kamu ke belakang aja kalau mau istirahat.”


Lagi-lagi Devi mengiyakan. Dia pun segera gegas dari ruangan itu karena majikannya sedang tidak mau diganggu.


“Ayo cerita, mumpung udah nggak ada orang,” desak Zara agar Ray mau mengaku.


Siang hari tadi sebelum Ray berangkat, pria itu sempat mengabari istrinya. Bahwa dia akan pulang lebih malam karena hari ini, dirinya menjadi narasumber di sebuah acara talkshow interaktif yang berlokasi Hotel Mercure. Namun pada kenyataannya, baru pukul tujuh malam, dia sudah sampai di rumah dengan keadaan tidak baik-baik saja.


“Sebenarnya dari awal nggak ada yang mencurigakan. Salahku, selalu percaya kalau semua tempat itu aman,” jelas Rayyan akhirnya mau membuka suara, “tapi anehnya setelah briefing, minum kopi, jadi seperti ini ....” Rayyan menyebutkan apa saja yang dia rasakan setelahnya.


“Harusnya kamu laporin kejadian ini ke panitia,” ujar Zara berpendapat.


“Kalau gitu kamu bisa tanyakan siapa yang membuatnya.”


“Sudah, Ra. Bahkan panitia dan keamanan pun ikut membantu menggeledah ke bagian pantry ... tapi nihil. Mereka nggak ada yang mengaku sampai disumpah pun.”


Zara menghela napas, “Tolong jangan pergi sendirian lagi. Mulai sekarang kamu harus punya driver sendiri,” pinta Zara demi keamanan suaminya.


Suasana jadi hening selama beberapa saat.


“Apa sebenarnya motif pelaku?” tanya Zara.


Rayyan menggeleng, “Tapi mungkin sesuai sama kinerja obat itu. Mereka ingin aku gelap mata dan melecehkan seseorang.”


“Jawab jujur! Kamu nggak sampai ....” tuding Zara waspada.


“Aku masih waras, Ra!” jawab Rayyan agak meninggi, “bahkan aku rela mempertaruhkan nyawaku demi bisa sampai di sini. Untuk kamu.”


“Maaf ....” Zara menunduk bersalah, “maaf kalau tuduhanku berlebihan. Aku hanya takut. You mean so much to me, and you are the one I’ve always wished for.”


(Kamu sangat berarti untukku dan Kamulah yang selalu aku harapkan.)

__ADS_1


“Jangan khawatir, saat ini ...” Rayyan menggenggam tangannya erat-erat, “you are my one and only.”


(Kamulah satu-satunya untukku.)


Zara mengangguk percaya.


“Apa ada orang yang kamu curigai?”


“Aku nggak pernah punya musuh,” jawab Rayyan segera.


“Kemungkinan besar adalah orang yang sama.”


Rayyan memastikan, apakah mereka mempunyai pikiran yang sama? “Maksudmu, orang yang memukulku?”


Zara membenarkan, “Saat ini hanya dia yang aku curigai. Jadi kita harus tetap waspada di mana pun.”


“Sudah sampai di mana proses pencariannya?”


“Nggak tahu. Masih DPO,” jawab Zara, “aku takut.”


“Jangan khawatir, ada aku di sini....”


Zara mengangguk. Matanya basah. Ia tak mau salah satu anggota keluarganya sampai terluka karena andai begitu, ialah yang akan menjadi orang paling merasa bersalah. Karena akulah orang pertama yang membawanya masuk ke dalam keluarga ini.


Sementara di tempat lain ... seorang laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi dan kulit wajah sawo matang, baru saja membuang topeng wajah bertekstur kulit dan sarung tangannya ke pembakaran sampah.


Dia mendengkus kesal seraya menendang drum bekas hingga terpental lantaran rencananya tak berhasil.


Niat ingin merusak Rayyan di acaranya, gagal karena pria itu ternyata lebih kuat daripada yang dia pikirkan.


Dia bekerja sama dengan salah satu pihak panitia untuk mencampurkan obat tersebut ke dalam minuman yang dihidangkan untuk Rayyan. Dengan tujuan, agar pria itu melecehkan atau mempermalukan diri di depan umum. Tentu setelah membayar harga yang pantas untuk si pelaku.


Jelaskan! Apa saja yang tidak bisa dibeli di dunia ini?


Tidak ada.


Bahkan hampir semua orang tak sadar, bahwa mereka sebenarnya telah diperbudak oleh karena satu nama, "uang".


Terhitung dua hari ini, ia mengintai keluarga Miranda dan orang-orang terdekatnya agar hancur bersama. Dia juga terpaksa bekerja sama dengan semacam komplotan preman bayaran untuk mencari perlindungan dan keuntungan pastinya. Sebab sel penjara tengah mengancamnya dan hanya orang-orang inilah yang mampu menjamin kehidupannya saat ini.


“Cabut dulu laporan kalian kalau mau teror ini berhenti,” ancamnya penuh kebencian.


Bersambung.

__ADS_1


Mau lanjut nggak?


__ADS_2